Logo

Artikel

Universitas KH. A. Wahab Hasbullah

Berwawasan global dan berkarakter Islami

KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA HOMESCHOOLING BERKEPRIBADIAN INTROVERT PADA MATERI OPERASI IRISAN DAN GABUNGAN DUA HIMPUNAN

 

Fitri Umardiyah

fitriumardiyah@gmail.com

 

Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keadaan yang muncul di homeschooling  dimana terdapat  siswa yang dapat menjawab soal secara tertulis namun kurang dapat menjawab soal secara lisan. Komunikasi secara lisan erat kaitannya dengan kepribadian karena kepribadian mempengaruhi cara orang berkomunikasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan komunikasi matematis siswa Homeschooling berkepribadian introvert pada materi operasi irisan dan gabungan dua himpunan. Indikator untuk melihat komunikasi matematis pada materi operasi irisan dan gabungan dua himpunan terdiri atas tiga hal yaitu 1) menyatakan irisan dan gabungan menggunakan bahasa atau diagram atau simbol matematika, 2) menyatakan peritiwa sehari-hari yang berhubungan dengan irisan dan gabungan dua himpunan menggunakan bahasa atau diagram atau simbol matematika, 3) memberikan alasan dari jawaban yang telah dibuat. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui pemberian tes kepribadian, observasi, tes tulis dan wawancara. Berdasarkan hasil pemilihan subjek, terpilih lima siswa introvert.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mengungkapkan ide tentang konsep irisan dan gabungan dua himpunan menggunakan simbol/lambang matematika berupa diagram Venn dan notasi pembentuk himpunan. Siswa menyatakan peristiwa sehari-hari yang berhubungan dengan irisan dan gabungan himpunan melalui diagram Venn. Siswa mengevaluasi jawaban dengan memberi alasan terhadap jawaban yang dibuat. Siswa homeschooling berkepribadian introvert lebih banyak mengemukakan idenya melalui tulisan. Siswa butuh pancingan terus menerus agar bersedia mengungkapkan ide secara lisan. Siswa dapat menggambar diagram Venn dan membuat notasi pembentuk himpunan, namun kurang bisa menjelaskan maksud diagram Venn secara lisan dan kurang lancar dalam mebaca simbol pada notasi pembentuk himpunan. Siswa dapat memberikan jawaban dan alasan tertulis namun kurang bisa memberikan alasan secara lisan terhadap apa yang ia jawab.

Kata Kunci: komunikasi matematis, homeschooling, introvert, materi operasi irisan dan gabungan dua himpunan

 

Proses belajar mengajar merupakan penentu keberhasilan dalam mencapai tujuan pendidikan. Siswa yang belajar diharapkan mengalami perubahan  baik dalam bidang pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, nilai dan sikap. Akan tetapi tidak dapat dipungkiri setiap siswa memiliki karakter dan gaya belajar yang berbeda sehingga hasil belajarnya pun berbeda. Oleh sebab itu, sering muncul pembelajaran-pembelajaran yang menfasilitasi siswa sesuai dengan kadar kemampuan pemahaman dan hasil belajarnya. Selain itu, muncul pula alternatif lain berupa sekolah yang mengutamakan karakter, bakat dan minat siswa. Hal ini dikarenakan setiap siswa memiliki kemampuan berbeda.

Salah satu pendidikan alternatif yang sekarang sedang ramai dibicarakan adalah homeschooling. Homeschooling semakin diakui keberadaannya ketika pemerintah memberikan kebijakan bahwa pendidikan yang dilakukan keluarga dan lingkungan termasuk dalam pendidikan jalur informal. Beberapa anak mampu berkembang optimal di sekolah, namun sebagian mengalami kegagalan. Menurut Korkmaz (2013), faktor yang mempengaruhi seseorang beralih ke homeschooling adalah faktor perbedaan gender , faktor sosial, dan faktor ekonomi.

Seiring digalakkannya pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan keaktivan siswa, pembelajaran didesain dalam diskusi kelompok. Dengan pembelajaran kooperatif, siswa tidak hanya mengomunikasikan ide-idenya sendiri melainkan juga mengomunikasikan ide dengan teman yang lain. Akan sangat berbeda jauh dengan sistem pembelaran di homeschooling yang lebih mengutamakan belajar individu “satu guru-satu siswa”. Proses interaksi berpikir siswa homeschooling hanya dengan guru. Siswa mendapat perhatian khusus dalam pembelajaran. Adakalanya dengan perhatian khusus yang diberikan dapat meningkatkan kemampuan siswa, namun disisi lain muncul suatu problematika tentang proses komunikasi dalam pembelajaran.

Seringkali guru merasa kesal terhadap siswa yang susah diatur, siswa yang banyak bertanya, siswa yang bersikap dingin, siswa yang tidak pernah bertanya, ataupun siswa yang bersikap keras hati, dan sebagainya. Kekesalan guru tersebut pada dasarnya disebabkan oleh ketidaktahuan guru terhadap tipe kepribadian para siswa, sehingga guru merasa kesal dengan sikap siswa yang tidak sesuai dengan keinginan guru, kemudian memarahi, tanpa memahami, dan tanpa memberikan solusi yang sesuai dengan kepribadian dan kebutuhan siswa (Suhadianto: 2009).

Siswa introvert mengacu pada siswa yang yang memiliki kecenderungan tingkah laku serta sifat-sifat yang tertutup, dan kurang suka bersosialisasi. Eysenck (dalam Feist, J. dan Feist, G., 2010:413) mengemukakan individu yang termasuk dalam tipe introvert adalah individu yang selalu mengarahkan pandangannya pada dirinya sendiri. Seluruh perhatian diarahkan kedalam hidup jiwanya sendiri. Tingkah lakunya terutama ditentukan oleh apa yang terjadi dalam pribadinya sendiri. Sedangkan dunia luar baginya tidak banyak berarti dalam penentuan tingkah lakunya, sebab itu individu dengan tipe ini kerapkali jarang mengadakan kontak dengan lingkungan sekelilingnya.

Dalam pembelajaran, guru harus sering mendekati siswa yang pemalu dari waktu ke waktu dengan cara yang lembut, dan berpengaruh agar mereka memperoleh rasa percaya diri (Hanley , 2005). Siswa harus mendapat perhatian dari guru sesuai dengan porsi kebutuhannya. Dengan begitu siswa yang berkepribadian introvert akan merasa terpenuhi rasa kenyamanan dalam belajar dan tidak minder terhadap teman yang lain. Homeschooling dapat enjadi alternatif bagi siswa introvert karena pembelajaran berlangsung dengan sestem satu guruuntuk satu siswa sehingga siswa introvert mendapatkan perhatian yang penuh.

Komunikasi matematis merupakan hal yang sangat diperlukan untuk mempelajari bahasa dan simbol-simbol matematika. Selain dari itu, komunikasi matematika juga dapat melatih siswa untuk mengemukakan pendapat secara jujur, fakta dan rasional. Berbagi ide dan wawasan dilakukan dengan maksud memperdalam pemahaman matematika siswa (Brendefur dan Frykholim, 2004). Dalam pembelajaran, siswa sering kali menuliskan pemikirannya dengan bahasa mereka.

Materi himpunan dipilih karena merupakan materi mendasar yang menjadi dasar dasar dari materi lainnya. Himpunan disajikan dalam beberapa cara, seperti menyatakan dengan kalimat, notasi pembentuk himpunan dan mendaftar anggota-anggotanya. Dengan menyajikan himpunan dalam bentuk notasi matematika maka akan tampak komunikasi matematis siswa dalam menuliskan simbol-simbol matematika. Pada materi himpunan terdapat suatu hubungan antara menyatakan bahasa sehari ke dalam simbol matematika.

Materi yang akan dijadikan bahan penelitian difokuskan pada operasi irisan dan gabungan dua himpunan. Pada materi operasi irisan dan gabungan dua himpunan terdapat konsep yang menggunakan simbol matematika yaitu berupa notasi himpunan, diagram venn sebagai salah satu representasi himpunan, dan penerapan operasi irisan dan gabungan dalam kehidupan nyata. Dengan materi tersebut dapat dilihat komunikasi matematis yang meliputi penggunaan simbol matematis dan penerapan dalam kehidupan nyata.

Komunikasi matematis dapat dilihat melalui indikator yaitu menyatakan irisan dan gabungan menggunakan bahasa / diagram / simbol matematika, 2) menyatakan peritiwa sehari-hari yang berhubungan dengan irisan dan gabungan dua himpunan menggunakan bahasa / diagram / simbol matematika, 3) memberikan alasan dari jawaban yang telah dibuat. Pada proses komunikasi matematis, terdapat dua cara siswa menyampaikan idenya yaitu secara tertulis dan lisan. Komunikasi matematis tulis dapat dilihat melalui pekerjaan siswa sedangkan komunikasi matematis lisan dilihat melalui interaksi antara guru dengan siswa.

 

METODE PENELITIAN

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif . Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif. Penelitian ini bermula dari penggalian data berupa informasi dalam bentuk cerita rinci atau asli yang diungkapkan apa adanya sesuai dengan bahasa dan pandangan subjek penelitian. Hal yang dideskripsikan dalam penelitian ini adalah komunikasi matematis siswa homeschooling berkepribadian introvert pada materi operasi irisan dan gabungan dua himpunan melalui subjek penelitian. Pendeskripsian ini ditelusuri melalui observasi terhadap subjek penelitian dalam pembelajaran matematika. Pendeskripsian ini juga dilakukan dengan memberikan tes tulis dan melakukan wawancara terstruktur kepada subjek penelitian.

Peneliti berperan sebagai perencana, pengumpul data (observasi, proses pembelajaran, pemberian tes, dan pelaksanaan wawancara), penganalisis data, dan pelapor hasil penelitian. Pada penelitian ini, peran peneliti bersifat observasi partisipatif karena peneliti sebagai observer sekaligus sebagai guru. Dengan kata lain, peneliti menjadi insrumen utama dalam penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di Homeschooling Primagama Malang, Jl.Candi Mendut Barat C17 Kota Malang.

Instrumen pendukung dalam penelitian ini meliputi tes kepribadian, lembar observasi, tes, dan pedoman wawancara.

  1. Tes kepribadian
  2. Lembar observasi
  3. Tes
  4. Pedoman wawancara

Pada proses pengumpulan data,peneliti melakukan tahap 1) pemilihan subjek penelitian, 2) observasi pembelajaran, 3) pemberian tes tulis, 4) pelaksanaan wawancara. Subjek yang dipilih adalah siswa Homeschooling  Malang kelas VII yang berkepribadian introvert. Siswa kelas VII di Homeschooling Malang belum mendapatkan materi himpunan pada semester ganjil karena kurikulum di Homeschooling  Malang masih menggunakan Kurikulum 2006. Subjek memperoleh materi himpunan pertama kali pada saat penelitian dilakukan.

Peneliti melakukan observasi di Homeschooling Malang untuk mencari informasi adanya siswa introvert. Peneliti mengadakan tes kepribadian kepada siswa kelas VII untuk mengetahui kepribadian ekstrovert-introvert. Tes kepribadian yang digunakan diadaptasi dari angket JEPQR-S (Junior Eysenck Personality Questionare Revised- Short form). Berdasarkan hasil tes kepribadian, dipilih siswa yang berkepribadian introvert. Berdasarkan informasi dari kepala sekolah Homeschooling Primagama Malang, seluruh siswa kelas VII tidak ada yang tuna wicara. Informasi tersebut sebagai dasar bahwa siswa yang menjadi subjek penelitian dapat diteliti komunikasi matematis lisannya. Langkah yang dilakukan setelah memperoleh data valid dari lapangan adalah melakukan proses analisis data. Aktivitas dalam analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teknik pengecekan keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan triangulasi teknik dan triangulasi sumber untuk mengecek keabsahan data.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. Hasil Pengembangan Instrumen

Peneliti mengembangkan instrumen sebelum melakukan pengambilan data. Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah tes kepribadian, lembar observasi, dan pedoman wawancara. Peneliti mengembangkan instrumen pada bulan Januari-Februari 2016. Instrumen yang dibuat peneliti terlebih dahulu divalidasi ke para ahli sebelum digunakan untuk penelitian di lapangan.

Subjek dalam penelitian dipilih berdasarkan hasil tes kepribadian. Tes kepribadian yang digunakan diadaptasi dari angket JEPQRS (Junior Eysenck Personality Questionare Revised- Short form). Tes terdiri atas 24 soal dimana 12 item untuk menguji kebohongan siswa dan 12 item untuk mengetahui tingkat ekstroversi. Proses adaptasi angket JPEQRS mempertimbangkan tiga faktor yaitu kebahasaan, usia siswa, kondisi lingkungan di Indonesia.

Item kebohongan terdapat pada nomor 2,4,6,8,10,12,14,16,18, dan 20. Item ekstraversi terdapat pada nomor 1,3,5,7,9,11,13,15,17,19,21, dan 23. Setiap jawaban “iya” diberi skor 1 dan jawaban “tidak” diberi skor 0, kecuali pada item bertanda * diberi skor yang berkebalikan. Apabila skor kebohongan  maka subjek tersebut terindikasi bohong dan harus mengulang tes. Jika skor pada item ekstraversi  maka siswa tersebut termasuk siswa cenderung introvert.

Peneliti melakukan observasi terhadap performa subjek pada pelaksanaan pembelajaran. Peneliti menggunakan lembar observasi sebagai pedoman hal apa saja yang harus diobservasi. Untuk keperluan tersebut, peneliti mengembangkan instrumen lembar observasi. Sesuai dengan indikator komunikasi matematis tulis dan lisan, peneliti mengembangkan lima aspek untuk mendukung kegiatan observasi pembelajaran yaitu sebagai berikut.

  • Cara siswa menyatakan himpunan dalam diagram Venn
  • Cara siswa menyatakan himpunan dalam notasi pembentuk himpunan
  • Tindakan siswa ketika ia butuh bantuan
  • Cara siswa menyampaikan respon terhadap pertanyaan guru
  • Cara siswa memberikan alasan  terhadap jawaban yang dibuat

Masing-masing aspek dilengkapi dengan rumusan performa siswa. Observer dapat memberi tanda pada performa yang muncul. Apabila ada kejadian di lapangan yang diluar dugaan, observer dapat menambahkan keterangan pada kolom catatan.

Tes tulis diberikan kepada subjek untuk melihat komunikasi matematis tulis siswa pada materi operasi irisan dan gabungan dua himpunan. Peneliti mengembangkan tes tulis dengan memperhatikan tiga hal yaitu indikator komunikasi matematis, materi himpunan, dan karakteristik Homeschooling. Instrumen tes tulis yang dibuat peneliti divalidasi oleh satu dosen ahli dan satu guru Homeschooling. Kriteria validasi meliputi beberapa aspek yaitu kebahasaan, kesesuaian dengan konsep matematika, kesesuain dengan karakteristik siswa.

Wawancara dilakukan dengan tujuan mengetahui komunikasi matematis lisan siswa. Pertanyaan wawancara harus sesuai dengan fokus penelitian. Oleh karena hal tersebut, peneliti membuat pedoman wawancara sebagai acuan dalam memberikan pertanyaan kepada subjek penelitian. Pedoman wawancara memuat item pertanyaan yang dapat mengungkap indikator komunikasi matematis lisan dan sesuai dengan materi. Pengembangan pedoman wawancara memperhatikan lima hal sebagai berikut.siswa. Pengembangan pedoman wawancara memperhatikan empat hal sebagai berikut.

  • Kepribadian introvert
  • Kemungkinan jawaban muncul
  • Pertanyaan pelacak apabila siswa tidak bisa menjawab
  • Pertanyaan lanjutan
  • Bisa mengungkap komunikasi lisan (sesuai indikator)

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini tersaji pada lampiran.

  1. Hasil Pengambilan Data

Subjek penelitian merupakan elemen penting dalam sebuah penelitian. Peneliti melakukan pemilihan subjek dengan memberikan tes kepribadian kepada siswa Homeschooling kelas VII pada 18 Februari 2016 pada saat mereka berkumpul di kantor untuk mengikuti kelas psikologi. Siswa yang mengerjakan tes sebanyak 11siswa.

Sistem penskoran terbagi menjadi dua, yaitu untuk menilai kebohongan dan tingkat ekstroversi. Skor kebohongan yang ≥ 6 mengindikasikan bahwa siswa bohong dan tes harus diulang. Skor ekstroversi yang < 6 menunjukkan bahwa siswa mempunyai kepribadian introvert. Hasil tes kepribadian di sajikan dalam tabel 1. Siswa yang dipilih sebagai subjek penelitian adalah siswa yang tidak bohong dan memiliki kepribadian introvert dengan skor relatif rendah sebanyak lima siswa.

Tabel 1. Hasil Tes Kepribadian

No

Siswa

Skor

Kesimpulan

Skor Kebohongan

Skor Ekstroversi

Bohong/

Tidak

Ekstrovert/

Introvert

1

Siswa 1 (YW)

5

3

Tidak Bohong

Introvert

2

Siswa 2

4

5

Tidak Bohong

Introvert

3

Siswa 3

4

5

Tidak Bohong

Introvert

4

Siswa 4

7

3

Bohong

-

5

Siswa 5

5

9

Tidak Bohong

Ekstrovert

6

Siswa 6 (JS)

5

2

Tidak Bohong

Introvert

7

Siswa 7

4

8

Tidak Bohong

Ekstrovert

8

Siswa 8 (RC)

4

2

Tidak Bohong

Introvert

9

Siswa 9 (VA)

4

3

Tidak Bohong

Introvert

10

Siswa 10 (EA)

4

2

Tidak Bohong

Introvert

11

Siswa 11

4

4

Tidak Bohong

Introvert

Keterangan :  Siswa yang terpilih sebagai subjek penelitian adalah siswa yang bertanda merah. Subjek akan disebut sesuai dengan inisial

 

Setelah subjek terpilih, peneliti mengobservasi siswa selama pembelajaran, kemudian peneliti melakukan wawancara untuk mengungkap lebih mendetail tentang komunikasi lisan.

  1. YW

YW belum bisa menggambarkan diagram Venn dengan sempurna. YW tidak membuat kotak dan tidak menuliskan semesta himpunannya. Penamaan  diagram Venn masih belum konsisten karena terkadang menggunakan huruf kapital, huruf kecil, bahkan digunakan bersamaan. YW menyertakan tanda titik didekat bilangan untuk  menunjukkan anggota himpunan.

Membuat notasi pembentuk himpunan merupakan hal yang sulit bagi YW.  Dia masih perlu diingatkan untuk membuat kurung kurawal sebelum menuliskan himpunan. YW jarang menggunakan simbol-simbol matematis seperti lebih sering menggunakan kata “elemen” daripada simbol   . YW sering terbalik dalam menuliskan simbol irisan dan gabungan dan terbalik dalam menggunakan kurang dari dan lebih dari.

YW masih kurang peka dalam menyadari apa yang ia bingungkan terhadap materi irisan dan gabungan dua himpunan. Dia mengetahui kalau dia merasa ada sesuatu yang hilang dalam skemanya, namun kurang cepat dalam menyadari. YW memberitahu guru bahwa dia kebingungan dan meminta diulang dari awal.

Cara YW memberikan respon terhadap pertanyaan guru adalah dengan cara bertanya balik kepada guru karena belum mengerti secara jelas tentang maksud pertanyaan sekaligus untuk meyakinkan bahwa persepsi yang dia tangkap adalah benar. Setelah merasa pertanyaan jelas, YW meminta waktu untuk berpikir dulu kemudian menjawab. Apabila guru menanyakan alasan dari jawaban yang YW buat, YW belum bisa memberikan alasan lengkap karena YW selalu merasa jawabannya salah. YW merasa kurang percaya diri dalam menjawab pertanyaan dari guru.

Hal lain yang muncul dalam observasi adalah YW mendadak seperti orang gagap ketika berbicara. Hal tersebut terjadi apabila YW merasa kurang nyaman dan pikiran sedang “ngeblank”. YW sebenarnya memilik semangat tinggi untuk belajar namun karena memiliki kekurangan menjadikan dia kurang percaya diri.

Berdasarkan hasil wawancara, peneliti mendapatkan informasi lebih mendalam tentang YW. YW masih kurang peka dalam menyadari apa yang ia bingungkan terhadap materi irisan dan gabungan dua himpunan. Dia mengetahui kalau dia merasa ada sesuatu yang hilang dalam skemanya, namun kurang cepat dalam menyadari. YW memberitahu guru bahwa dia kebingungan dan meminta diulang dari awal.

Cara YW memberikan respon terhadap pertanyaan adalah dengan cara bertanya balik kepada guru karena belum mengerti secara jelas tentang maksud pertanyaan sekaligus untuk meyakinkan bahwa persepsi yang dia tangkap adalah benar. Setelah merasa pertanyaan jelas, YW meminta waktu untuk berpikir dulu kemudian menjawab. Apabila guru menanyakan alasan dari jawaban yang YW buat, YW belum bisa memberikan alasan lengkap karena YW selalu merasa jawabannya salah. YW merasa kurang percaya diri dalam menjawab pertanyaan dari guru.

YW lebih nyaman apabila menjawab pertanyaan dengan menulis. YW lebih sering menggunakan kalimat verbal daripada simbol matematika. Pada saat wawancara, YW lebih sering memangdang pada kertas jawabannya daripada memandang wajah peneliti. Ketika YW menjawab pertanyaan juga sambil melihat ke arah kertasnya. Peneliti sudah memancing YW untuk mengutarakan pendapat secara lisan, namun YW mengatakan bahwa yang ia tulis sudah cukup jelas.

 

  1. RC

RC merupakan siswa introvert yang rajin. Dia fokus mendengarkan pelajaran yang disampaikan oleh guru. Kekurangannya ialah RC cenderung diam ketika guru mengajak berinteraksi. RC lebih sering menjawab pertanyaan guru dengan cara menulis lalu menunjukkan kepada guru.

Cara RC menyatakan himpunan dalam diagram Venn cukup benar. RC membuat diagram Venn dengan terlebih dahulu membuat kotak, lingkaran, kemudian menamai lingkaran sesuai dengan nama himpunan.  Pengisian anggota himpunan dengan bilangan yang disertai tanda titik. Pada saat menyatakan himpunan dalam notasi pembentuk himpunan, RC menyatakannya dengan cukup benar juga. RC menggunakan simbol matematika seperti  dengan benar. Penggunaan operator “<, >, ≤, ≥” sudah benar. Kekurangannya adlh RC terkadang menuliskan “bilangan asli” daripada atau .

RC merupakan siswa yang cukup paham dengan kemampuannya. Ketika ia menemui kesulitan maka akan langsung bertanya pada guru. Ia bertanya dengan menunjukkan tulisannya dan berkata “bu yang ini saya bingung”. Pada saat yang sebaliknya yaitu ketika guru memberikan pertanyaan kepada RC, ia langsung merespon. Apabila RC merasa pertanyaan dari guru sulit, ia akan meminta berpikir dulu krn tidak mau dibantu secara langsung.  RC cukup tanggap dalam menerima respon namun respon yang disampaikan jarang melalui ucapan. RC lebih suka untuk menulis jawaban dari pertanyaan guru daripada menjawab secara lisan.

Hal lain yang terlihat pada saat pembelajaran adalah RC selalu meletakkan tas dipangkuan dan mendekapnya. RC merasa tidak percaya diri sehingga berusaha menutup diri. Ketika guru mencoba menatap wajah RC maka RC akan refleks untuk menunduk.

RC percaya bahwa yang ia tulis sudah lengkap dan mewakili yang ia maksud. RC berusaha menulis selengkap mungkin karena RC kurang berkenan jika banyak ditanyai dan menjawab secara lisan. RC sangat serius dalam mengerjakan soal yang diberikan tapi kurang percaya diri untuk menyampaikan pendapatnya secara lisan.

Peneliti menggali kemampuan RC dalam memberikan alasan terhadap jawaban yang dibuat. Lagi lagi, RC memberikan penjelasan lengkap dalam tulisannya. Apabila diminta untuk mengungkapkan secara lisan, RC hanya menjawab sepotong-sepotong. RC kurang tanggap apabila diajak berinteraksi melalui lisan. RC menyampaikan ide-idenya melalui tulisan. Hingga wawancara usai, RC tidak melepaskan tas yang ia peluk. Jika dianalisis sekilas, RC terlihat kurang percaya diri sehingga menggunakan media tas untuk membuat ia percaya diri. Sikap RC ketika wawancara sama ketika pembelajaran berlangsung yaitu merangkul tas.

  1. JS

Pada materi himpunan, JS lebih suka menjawab soal dengan menggunakan diagram Venn daripada dengan notasi pembentuk himpunan. Diagram Venn yang dibuat oleh JS tidak sempurna karena tidak ada nama himpunannya, tidak ada kotaknya, tidak ada titik sebagai penanda anggota himpunan. Ketika JS disuruh menuliskan himpunan dalam bentuk notasi, dia hanya membuat inti dari himpunan itu. Misal ada , JS hanya menuliskan  karena JS tidak mau terikat aturan seperti tanda kurang karawal dan sebagainya. JS menganggap yang penting sudah ada .

Tindakan yang dilakukan oleh JS ketika butuh bantuan adalah bertanya pada guru secara lisan dan tertulis tentang apa yang tidak ia mengerti. Intensitas pertanyaaan yang disampaikan secara lisan sangat jarang. JS lebih sering mengungkapkan ketidakmengertiannya dengan cara menunjuk sesuatu yang telah ia tulis dan memberitahukan bahwa yang ditunjuk merupakan hal yang tidak ia mengerti.

Pada saat guru memberikan pertanyaan, JS lebih suka memberikan respon dengan cara menulis. JS hiperaktif dalam perilaku tetapi sangat minim percakapan. Kelebihan JS adalah ia sangat percaya diri sehingga ketika ditanya alasan menjawab pertanyaan maka ia akan merasa yakin bahwa jawabannya benar namun kurang suka jika ditanya mengapa.

Peneliti melakukan wawancara dengan JS dalam keadaaan yang kurang kondusif. JS bersembuyi dibawah kolong meja sambil tiduran dan main HP. JS memang siswa yang kurang peduli dengan dunia sekitar. Ia asyik dengan dunianya sendiri. JS masih bisa kooperatif dengan menjawab pertanyaan, namun butuh waktu untuk menunggu JS bersedia menjawab.

JS merupakan siswa yang kurang suka apabila diatur termasuk dalam menjawab soal. JS lebih suka apabila menyatakan himpunan dalam diagram Venn. JS kurang berkenan apabila disuruh menjawab dengan notasi pembentuk himpunan yang lengkap. Kalimat andalan yang dilontarkan JS ketika malas menjawab adalah “yang penting intinya sama”. JS membatasi interaksi dengan peneliti sehingga JS lebih banyak menyampaikan ide dengan menulis.

  1. EA

Cara belajar EA sungguh unik. EA seperti berbicara sendiri ketika dia berpikir. Dia tidak mau diganggu dengan pertanyaan ketika ia berpikir sambil berbicara. Ia merasa bisa fokus ketika berpikir dengan cara seperti itu. EA memiliki emosi yang labil. Ketika ia tidak mau belajar, maka dia akan mengamuk hingga memukul. Akan tetapi jika EA dalam kondisi nyaman maka dapat diajak berkomunikasi dengan enak. EA merupakan siswa yang tidak mau terikat aturan yang baginya ribet.

Pada materi irisan dan gabungan dua himpunan, EA terlihat paham ketika dijelaskan. EA bisa menjawab pertanyaan pertanyaan yang diberikan oleh guru, namun EA hanya mengambil intinya saja. Seperti pada materi menyatakan himpunan dalam diagram Venn. EA hanya membuat lingkaran, nama himpunan, dan anggotanya. EA tidak memperhatikan contoh diagram Venn seperti yang dibuatkan oleh guru. EA mengatakan bahwa yang penting adalah isinya (anggota himpunannya).

Cara EA menyatakan himpunan dalam bentuk notasi juga berbeda dengan yang diajarkan oleh guru. EA belum konsisten dalam membuat kurung kurawal, dan simbol semesta himpunan misal himpunan bilangan asli dinyatakan dengan kalimat verbal “bilangan asli”

EA akan bertanya pada guru ketika merasa kesulitan. Cara EA bertanya adalah dengan menunjuk satu bagian dan berkata “ini bagaimana?”. EA akan menunjukkan respon jika diberi pertanyaan pancingan terlebih dahulu. EA merespon melalui lisan atau tertulis sesuai kondisi “mood”nya. EA selalu meminta waktu berpikir sambil berbicara sendiri ketika berpikir.

EA merupakan tipe anak yang cukup “ngeyel” sehingga kurang berkenan menerima saran dari orang lain. Hal ini terlihat ketika guru meminta EA memberikan alasan terhadap jawaban yang dia buat. EA yakin bahwa jawabannya benar dan “ngeyel” pokoknya begini. Ketika guru memberikan saran perbaikan terhadap jawaban tersebut, EA memperbaiki jawaban namun dengan wajah yang kurang berkenan.

EA aktif menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peneliti namun melalui tulisan. Ketika peneliti diam tidak memberikan pertanyaan pancingan, EA tidak berinisiatif bertanya maupun menyampaikan idenya. EA bermain dengan duanianya sendiri seperti coret-coret kertas, melipat-lipat, dan lain-lain. Ketika peneliti memberi pertanyaan berupa soal, maka EA hanya akan menunjukkan jawaban tertulis tanpa menjelaskan. Peneliti memberi pertanyaan pancingan agar EA bersedia sedikit demi sedikit untuk menyampaikan pendapatnya secara lisan. Berikut cuplikan percakapan peneliti dengan EA ketika meminta EA memberikan alasan dari jawaban yang ia buat.

EA memberikan alasan dengan sangat yakin meskipun ia tidak menggunakan diagram Venn untuk mengecek kebenaran pernyataan. Ketika memberikan alasan, EA sambil berbicara sendiri dan menuliskannya. EA jarang melakukan kontak mata dengan peneliti ketika menjawab. Jawaban secara lisan yang disampaikan oleh EA terkesan bukan menjawab pertanyaan namun terlihat seperti menggerutu.

  1. VA

Suasana sangat hening ketika terjadi kegiatan pembelajaran antara VA dengan guru. VA lebih banyak menulis dan melihat buku dihadapannya. VA juga jarang memulai untuk bertanya kepada guru. VA sangat pendiam ketika pembelajaran berlangsung. Ketika ditanya oleh guru, VA baru terpancing untuk bicara. Pandangan VA terlihat kaku seperti tidak berani untuk menatap, takut berbicara, dan ragu untuk menjawab.

VA cukup memahami materi irisan dan gabungan dua himpunan. Diagram Venn yang dibuat oleh VA masih kurang tepat karena dia belum memberikan nama pada himpunannya. Untuk menentukan irisan dua himpunan, VA mendaftar anggota terlebih dahulu kemudian melingkari anggota yang sama.

VA tidak mengalami kesulitas ketika harus mengubah himpunan dalm bentuk notasi. VA mengetahui bahwa untuk membuat notasi pembentuk himpunan harus diawali dengan kurung kurawal. Simbol dan operator yang digunakan juga sudah benar. VA tidak mengalami kesulitan ketika berinteraksi melalui tulisan yang dia buat, namun ketika guru menanyakan suatu hal secara lisan terlihat bahwa VA kurang nyaman.

Tindakan yang dilakukan VA ketika ia butuh bantuan adalah dengan memberitahu guru bahwa dia belum paham dan meminta dijelaskan dari awal karena ia tidak tau manakah yang ia bingungkan. Ketika guru memberikan pertanyaan pada VA,  ia sering menanyakan ulang redaksi pertanyaan. Hal ini terjadi karena ia kurang fokus apabila diajak berinteraksi secara lisan. Setelah VA paham dengan maksud pertanyaan dari guru, VA meminta waktu berpikir dan menjawab pertanyaan tersebut secara tertulis.

Guru memulai interaksi dengan VA melalui pertanyaan-pertanyaan pancingan karena jika tidak ditanya maka VA akan diam saja. Ketika VA menjawab soal dan guru menanyakan alasan terhadap jawaban yang dibuat, VA menjelaskannya lewat tulisan yang ditunjukkan kepada gurunya. Alasan yang diberikan VA terkadang logis terkadang kurang, tetapi VA percaya bahwa jawaban itu benar. VA yakin dengan kemampuan sendiri meskipun terkadang keyakinannya itu salah.

VA cukup cuek dengan apa yang terjadi disekitarnya. VA sering bertanya kembali kepada peneliti tentang pertanyaan bahkan jawaban. VA mempunyai keraguan tinggi terhadap jawabannya sendiri sehingga setiap dia ragu maka dia kan langsung bertanya dengan bilag “begini ya?” sambil menunjuk jawabannya.

VA cukup kooperatif untuk diajak berinteraksi dan berdiskusi ketika dia sangat nyaman. Ketika wawancara memasuki pertanyaan mengenai cara VA memberikan alasan terhadap jawaban yang dibuat, VA mulai tidak nyaman karena sangat mengantuk. VA sudah mulai malas untuk berinteraksi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peneliti. Berikut cuplikan wawancara peneliti dengan VA pada sesi VA mengantuk.

VA memberikan alasan dengan menggunakan logika. VA tidak membuat diagram Venn untuk menunjukkan bahwa pernyataan peneliti salah. Va menjawab dengan pernyataan yang cukup singkat namun terlihat yakin dengan jawabannya. Di sisi lain, VA menjawab singkat karena kurang nyaman dengan keadaan dan sedang mengantuk sehingga terlihat seperti malas untuk menjawab panjang lebar.

 

  1. Pembahasan Data Penelitian

Komunikasi matematis merupakan proses dimana siswa mengomuni­kasikan ide dari pikiran mereka sendiri ke dalam tulisan, gambar, atau menyampaikannya kepada orang lain. Pada materi operasi irisan dan gabungan dua himpunan, komunikasi matematis mencakup tiga indikator yaitu 1) menyatakan irisan dan gabungan menggunakan bahasa / diagram / simbol matematika, 2) menyatakan peritiwa sehari-hari yang berhubungan dengan irisan dan gabungan dua himpunan menggunakan bahasa / diagram / simbol matematika, 3) memberikan alasan dari jawaban yang telah dibuat. Pada proses komunikasi matematis, terdapat dua cara siswa menyampaikan idenya yaitu secara tertulis dan lisan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mengomunikasikan ide melalui tulisan dan secara lisan. Berdasarkan hasil observasi selama pembelajaran, tes tulis, dan wawancara,  siswa mengemukakan ide berupa jawaban pada kertas dan mengemukakan ide berupa pertanyaan secara tertulis dan lisan. Siswa mengemukakan jawaban secara lisan apabila ditanya secara terus menerus. Siswa lebih memilih menuliskan jawaban apabila tidak ditanya secara lisan. Hal ini sesuai dengan pendapat Ernest (2004:50) yang menyatakan bahwa terdapat dua jenis komunikasi matematis pada saat pembelajaran yaitu komunikasi verbal (lisan) dan komunikasi nonverbal (tulisan).

Siswa introvert memiliki kecenderungan untuk menutup diri dan menyukai beraktivitas sendiri dibandingkan bersama-sama. Aktivitas menulis merupakan aktivitas yang sering mereka lakukan karena tanpa harus selalu berinteraksi dengan orang lain. Siswa introvert yang cenderung kurang suka bersosialisasi akan jarang pula berkomunikasi secara lisan dengan orang lain. Siswa memberikan respon ketika ditanya saja. Mereka kurang memiliki insiatif untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu. Mereka merasa perlu bicara ketika hal penting saja.

Pada saat pembelajaran, siswa introvert lebih suka diam dan fokus memperhatikan tetapi mereka bukan tipe yang mudah mengutarakan pendapatnya atau bertanya secara lisan. Hasil tersebut sesuai dengan pendapat Burtavede dan Mihaila (2011) yang menyatakan bahwa ketika siswa introvert mengalami kesulitan belajar, mereka cenderung diam. Peneliti menemukan fenomena bahwa subjek sering diam ketika tidak bisa. Mereka cenderung hanya memberi isyarat bingung ketika mereka butuh bantuan. Hal lain yang ditemukan adalah siswa bertanya secara tertulis dengan cara menuliskan pertanyaan lalu menunjukkan kepada guru. Dalam hal ini, siswa introvert sulit untuk mengungkapkan ide berupa pertanyaan atau tanggapan secara lisan.

Siswa introvert yang memilih sekolah di Homeschooling dapat memperoleh pembelajaran khusus sesuai kebutuhan. Siswa diperhatikan secara penuh karena sistim pembelajaran adalah privat. Dengan pembelajaran privat, diharapkan siswa introvert dapat lebih terbuka. Pada kasus  penelitian ini, siswa belum dapat terbuka dan mengemukakan ide secara lisan meskipun siswa hanya berhadapan dengan guru. Hal tersebut dikarenakan kepribadian intovert bukan hanya mempengaruhi sifat namun mempengaruhi pola pikir siswa. Untuk menjadikan siswa introvert menjadi lebih terbuka dan dapat mengungkapkan ide secara lisan dibutuhkan pendekatan yang ekstra. Hal ini sesuai dengan penelitian Thomas Hanley (2005) yang menyatakan bahwa guru harus sering mendekati siswa yang pemalu dari waktu ke waktu dengan cara yang lembut, dan berpengaruh agar mereka memperoleh rasa percaya diri. Butuh waktu yang lama bagi individu introvert untuk dapat menerima dengan terbuka terhadap apa yang disampaikan oleh guru.

 

Tabel  1. Perbandingan Komunikasi Matematis antar Subjek

Subjek

Komunikasi Matematis Tulis

Komunikasi Matematis Lisan

CR, AE dan AV

  • Menggambar diagram Venn untuk menyatakan himpunan
  • Mengetahui bagian dari diagram Venn yang merupakan irisan atau gabungan dua himpunan
  • Menyatakan notasi pembentuk himpunan dengan benar
  • Menggunakan diagram Venn untuk menyatakan peristiwa sehari-hari yang berhungan dengan irisan dan gabungan dua himpunan
  • Memberikan alasan yang dapat diterima dalam mengerjakan soal penerapan irisan dan gabungan dua himpunan dalam kehidupan sehari-hari.
  • Mengungkapkan ide secara lisan apabila peneliti memancing dengan pertanyaan pancingan terus menerus.
  • Kurang dapat menjelaskan  diagram Venn secara lisan
  • Kurang lancar dalam  membaca notasi pembentuk himpunan
  • Kurang dapat menjelaskan hubungan peritiwa sehari-hari yang berhubungan dengan operasi irisan dan gabungan dua himpunan secara lisan
  • Apabila peneliti memberikan soal, subjek cenderung menjawab “ya begitu” sambil menunjuk tulisannya
  • Cenderung “ngeyel” dan sulit menerima masukan dari orang lain

 

 

WY dan SJ

  • Menggambar diagram Venn kurang lengkap
  • Mengetahui bagian dari diagram Venn yang merupakan irisan atau gabungan dua himpunan
  • Menyatakan notasi pembentuk himpunan dengan kurang tepat
  • Menggunakan diagram Venn untuk menyatakan peristiwa sehari-hari yang berhungan dengan irisan dan gabungan dua himpunan
  • Memberikan alasan yang kurang lengkap

 

 

 

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian terhadap siswa homeschooling berkepribadian introvert pada materi operasi irisan dan gabungan dua himpunan, diperoleh kesimpulan bahwa  siswa mengungkapkan ide tentang konsep irisan dan gabungan dua himpunan menggunakan simbol/lambang matematika berupa diagram Venn dan notasi pembentuk himpunan. Siswa menyatakan peristiwa sehari-hari yang berhubungan dengan irisan dan gabungan himpunan melalui diagram Venn. Siswa mengevaluasi jawaban dengan memberi alasan terhadap jawaban yang dibuat.

Siswa homeschooling berkepribadian introvert lebih banyak mengemukakan idenya melalui tulisan. Siswa butuh pancingan terus menerus agar bersedia mengungkapkan ide secara lisan. Hal ini dipengaruhi oleh kepribadian intorvert yang mereka miliki. Individu bertipe introvert membutuhkan waktu yang lama untuk dapat mengemukakan pemikirannya kepada orang lain. Siswa dapat menggambar diagram Venn dan membuat notasi pembentuk himpunan, namun kurang bisa menjelaskan maksud diagram Venn secara lisan dan kurang lancar dalam mebaca simbol pada notasi pembentuk himpunan. Siswa dapat memberikan jawaban dan alasan tertulis namun kurang bisa memberikan alasan secara lisan terhadap apa yang ia jawab.

Berdasarkan hasil dan temuan penelitian, peneliti memberikan saran sebagai berikut.

  1. Siswa homeschooling yang berkepribadian introvert memerlukan perhatian khusus agar ia bersedia mengungkapkan pemikirannya. Siswa dapat mengungkapkan ide secara tertulis namun kesulitan mengungkapkan ide secara lisan. Berdasarkan fenomena tersebut, perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai penyebab siswa kesulitan mengungkapkan ide secara lisan sekaligus upaya apa yang dapat dilakukan agar siswa homeschooling berkepribadian introvert dapat mengungkapakan ide secara seimbang secara tertulis dan lisan.
  2. Pada penelitian, siswa menggunakan gerakan (gesture) sebagai bantuan ketika mengungkapkan ide. Oleh karena itu, peneliti berharap adanya penelitian lebih lanjut yang menghubungkan antara komunikasi, kepribadian, dan gesture.

 

DAFTAR RUJUKAN



Komentar


blog comments powered by Disqus
    • Statistik Pengunjung
    • Browser :
    • Operating System : Unknown Platform
    • Server process time: 0.0558 secs.