Universitas KH. A. Wahab Hasbullah

Day: May 3, 2026

Haflatul Wada’ 2026 Jadi Momen Simbolis Penguatan Sinergi UNWAHA dan MMA Bahrul Ulum

Jombang – Dalam suasana bahagia para lulusan Madrasah Muallimin Muallimat (MMA) 6 Tahun Bahrul Ulum Tambakberas Jombang pada Haflatul Wada’ 2026, menjadi ruang penting bagi penguatan sinergi antara Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang dan MMA Bahrul Ulum. Momen tersebut ditandai dengan penegasan kerja sama Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) secara simbolis, Minggu (3/5/2026), di Gedung Serbaguna (GSG) KH. Hasbullah Sa’id Tambakberas. Kegiatan simbolis ini menjadi penanda komitmen kedua lembaga dalam memperluas akses pendidikan tinggi bagi alumni madrasah berbasis pesantren. Kehadiran UNWAHA dalam Haflatul Wada’ juga mencerminkan kedekatan perguruan tinggi dengan ekosistem pendidikan pesantren, khususnya dalam mendampingi alumni untuk melanjutkan studi ke jenjang pendiidikan tinggi. Rektor, Prof. Dr. Ir. H. Gatot Ciptadi, DESS, IPU, ASEAN Eng., menyampaikan bahwa Haflatul Wada’ bukan hanya menjadi ruang pelepasan peserta didik, tetapi juga momentum strategis untuk membuka jalan masa depan pendidikan alumni MMA. “Momentum Haflatul Wada’ ini menjadi simbol bahwa perjalanan pendidikan para santri tidak berhenti di madrasah. UNWAHA hadir untuk memberikan ruang, dukungan, dan kesempatan agar alumni MMA dapat melanjutkan pendidikan tinggi dengan lebih mudah dan terarah,” ujarnya. Dalam kerja sama tersebut, UNWAHA memberikan sejumlah dukungan, antara lain dana pengembangan sebesar Rp10.000.000 untuk MMA, beasiswa bebas SPP selama masa studi bagi tiga mahasiswa S1 dan satu mahasiswa S2, kuota 25 penerima Beasiswa KIP, serta Beasiswa Generasi Muda NU yang disetarakan dengan Beasiswa NU Gelombang 1. Selain itu, seluruh alumni MMA yang akan melanjutkan studi ke UNWAHA memperoleh fasilitas bebas tes, kecuali untuk jalur Beasiswa Tahfidz Qur’an. Alumni MMA yang mengambil jalur Beasiswa NU juga cukup melampirkan surat keterangan dari MMA tanpa perlu surat rekomendasi dari kantor atau pengurus NU. Melalui momentum Haflatul Wada’ 2026, UNWAHA Jombang menegaskan komitmennya sebagai perguruan tinggi berbasis pesantren yang terus membuka akses pendidikan tinggi bagi generasi muda Nahdlatul Ulama. Sinergi ini diharapkan menjadi jembatan keberlanjutan pendidikan santri dari madrasah menuju perguruan tinggi. Red: Ibrahim

Menyejahterakan Pendidik = Menguatkan Masa Depan Indonesia

Oleh : Khotim Fadhli, M.Pd.Dosen Fakultas Ekonomi UNWAHA Jombang Pendidikan adalah proses panjang membentuk manusia. Di dalamnya, seseorang belajar berpikir jernih, memahami kehidupan, menghargai orang lain, bekerja sama, bertanggung jawab, dan membangun masa depan. Karena itu, mutu pendidikan tidak cukup diukur dari megahnya gedung, lengkapnya teknologi, atau seringnya kurikulum berganti. Pendidikan yang baik selalu bertumpu pada satu kekuatan utama, yaitu pendidik yang bermutu, berintegritas, dan sejahtera. Guru dan dosen memiliki posisi yang sangat strategis dalam kehidupan bangsa. Mereka bukan hanya penyampai materi, melainkan pembimbing, pengarah, pendamping, sekaligus teladan bagi peserta didik. Dari ruang kelas hingga ruang kuliah, guru dan dosen ikut membentuk cara berpikir, karakter, dan masa depan generasi muda. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 menegaskan bahwa guru dan dosen merupakan tenaga profesional yang memiliki fungsi, peran, dan kedudukan strategis dalam pembangunan nasional bidang pendidikan (Republik Indonesia, 2005). Namun, di balik peran besar tersebut, masih ada persoalan yang belum selesai. Banyak guru dan dosen bekerja dengan beban berat. Mereka menghadapi tuntutan administrasi, target kinerja, kebutuhan adaptasi teknologi, serta tekanan sosial yang tidak sederhana. Pada saat yang sama, kesejahteraan mereka belum sepenuhnya merata. Sebagian pendidik memang telah memperoleh penghasilan yang lebih layak, tetapi sebagian lainnya, terutama guru non-ASN, guru honorer, dosen muda, dosen tetap yayasan, dan dosen di perguruan tinggi kecil, masih menghadapi keterbatasan ekonomi. Wajah Pendidikan Indonesia: Bergerak Maju, tetapi Masih Punya Pekerjaan Rumah Pendidikan Indonesia saat ini sedang berada dalam masa perubahan. Salah satu perubahan penting adalah penerapan kurikulum yang diarahkan agar pembelajaran lebih fleksibel, berfokus pada materi esensial, serta mendorong peserta didik menjadi pembelajar sepanjang hayat yang berkarakter Pancasila. Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 menjelaskan bahwa kurikulum merupakan pedoman penyelenggaraan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, 2024). Arah perubahan ini penting karena pendidikan tidak bisa lagi hanya mengandalkan hafalan. Peserta didik perlu dilatih berpikir kritis, kreatif, komunikatif, kolaboratif, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Mereka akan hidup dalam dunia yang dipengaruhi teknologi digital, kecerdasan buatan, perubahan ekonomi, krisis lingkungan, dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Dalam situasi seperti ini, guru dan dosen tidak hanya dituntut mengajar, tetapi juga perlu menjadi fasilitator pembelajaran yang mampu menumbuhkan daya pikir dan karakter peserta didik. Meski demikian, tantangan pendidikan Indonesia masih besar. Hasil PISA 2022 menunjukkan bahwa skor siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata OECD dalam matematika, membaca, dan sains. Dalam matematika, siswa Indonesia memperoleh skor 366, sedangkan rata-rata OECD adalah 472. Dalam membaca, Indonesia memperoleh skor 359, sedangkan rata-rata OECD adalah 476 (Organisation for Economic Co-operation and Development [OECD], 2023a). Angka ini menunjukkan bahwa masih banyak siswa mengalami kesulitan memahami bacaan, menggunakan penalaran matematika, dan menerapkan pengetahuan sains dalam kehidupan sehari-hari. Persoalan literasi dan numerasi tidak bisa dianggap kecil. Keduanya merupakan fondasi penting bagi masa depan seseorang. Jika kemampuan dasar ini lemah, peserta didik akan lebih sulit melanjutkan pendidikan, memasuki dunia kerja, dan bersaing dalam ekonomi modern. Karena itu, peningkatan mutu pembelajaran harus menjadi prioritas. Namun, upaya ini tidak boleh hanya dibebankan kepada siswa. Guru membutuhkan pelatihan yang bermutu, waktu yang cukup untuk menyiapkan pembelajaran, fasilitas yang mendukung, serta lingkungan kerja yang menghargai profesionalitas mereka. Selain itu, pendidikan Indonesia juga masih menghadapi persoalan pemerataan. Badan Pusat Statistik menerbitkan Statistik Pendidikan 2025 yang memuat indikator proses dan capaian pendidikan berdasarkan Susenas Maret 2025 serta data registrasi sekolah tahun ajaran 2024/2025. Di dalamnya terdapat informasi mengenai jumlah sekolah, kondisi ruang kelas, sanitasi sekolah, dan guru (Badan Pusat Statistik, 2025). Data semacam ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kurikulum, tetapi juga dengan fasilitas, lingkungan belajar, tenaga pendidik, dan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Indonesia dapat belajar dari negara lain di Asia Tenggara. Singapura, misalnya, menjadi salah satu negara dengan capaian pendidikan terbaik dalam PISA 2022. Kementerian Pendidikan Singapura menyatakan bahwa Singapura menjadi sistem pendidikan dengan kinerja tertinggi dalam membaca, matematika, dan sains dari 81 sistem pendidikan yang berpartisipasi (Ministry of Education Singapore, 2023). Keberhasilan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Singapura menempatkan guru sebagai profesi strategis. Guru dipilih, dilatih, didampingi, dan diberi jalur pengembangan karier yang jelas. Vietnam juga memberi contoh menarik. Dengan tingkat pembangunan ekonomi yang tidak setinggi negara maju, Vietnam mampu menunjukkan hasil belajar yang kuat. Pada PISA 2022, Vietnam memperoleh skor 469 dalam matematika dan 462 dalam membaca, mendekati rata-rata OECD dan lebih tinggi daripada Indonesia (OECD, 2023b). Dari Singapura dan Vietnam, Indonesia dapat mengambil pelajaran bahwa pendidikan tidak cukup diperbaiki dengan mengganti kurikulum atau menambah perangkat teknologi. Kurikulum dan teknologi memang penting, tetapi keduanya hanyalah alat. Kunci utamanya tetap manusia: guru yang memahami peserta didik, dosen yang mengembangkan ilmu, kepala sekolah dan pimpinan kampus yang mendukung, keluarga yang terlibat, serta pemerintah yang memastikan kebijakan berjalan adil dan konsisten. Guru dan Dosen: Ujung Tombak yang Tidak Boleh Dibiarkan Kelelahan Guru dan dosen adalah orang-orang yang berada di garis depan pendidikan. Kurikulum sebagus apa pun tidak akan bermakna jika tidak diterjemahkan dengan baik oleh guru di ruang kelas. Kebijakan pendidikan setinggi apa pun tidak akan terasa manfaatnya jika tidak dijalankan oleh pendidik dalam pertemuan sehari-hari dengan siswa dan mahasiswa. Karena itu, membicarakan mutu pendidikan berarti juga membicarakan mutu, beban kerja, dan kesejahteraan guru serta dosen. Beban kerja guru hari ini sangat luas. Guru menyiapkan perangkat pembelajaran, mengajar, menilai, mengelola kelas, membimbing siswa yang mengalami kesulitan, berkomunikasi dengan orang tua, mengikuti pelatihan, mengisi laporan, dan menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik. Di banyak tempat, guru juga harus menangani persoalan karakter, kedisiplinan, kesehatan mental siswa, hingga kegiatan teknis sekolah. Semua itu membutuhkan energi, waktu, dan ketenangan batin. Dosen pun menghadapi beban yang tidak ringan. Mereka mengajar, meneliti, menulis karya ilmiah, membimbing skripsi, menguji mahasiswa, melakukan pengabdian kepada masyarakat, mengikuti kegiatan akademik, memenuhi tuntutan akreditasi, menyusun laporan kinerja, dan menjalankan berbagai tugas institusi. Regulasi terbaru tentang profesi, karier, dan penghasilan dosen juga menegaskan bahwa pengelolaan profesi dosen mencakup karier, kinerja, promosi, serta penghasilan berupa gaji dan penghasilan lain (Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, 2025). Beban tersebut sebenarnya merupakan bagian dari profesi pendidik. Namun, beban itu dapat menjadi masalah jika tidak diatur secara manusiawi. Guru dan dosen tidak hanya membutuhkan tuntutan, tetapi juga dukungan.