Universitas KH. A. Wahab Hasbullah

Isra Mi’raj: Penghiburan Rasulullah dan Peneguhan Perintah Sholat

Jombang – Peristiwa Isra Mi’raj merupakan salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah Islam. Tidak hanya dipahami sebagai perjalanan fisik Rasulullah SAW, tetapi juga sebagai perjalanan spiritual yang sarat dengan pesan ketauhidan, ibadah, dan pembentukan akhlak umat Islam.

Dosen Pendidikan Agama Islam Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang, Bapak Muhammad Fodhil, S.Pd.I., M.Pd., menjelaskan bahwa secara lughowiyah Isra berarti perjalanan, sedangkan Mi’raj bermakna naik. Secara istilah, Isra Mi’raj adalah perjalanan malam hari yang dilakukan Rasulullah SAW bersama Malaikat Jibril dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, kemudian dilanjutkan hingga Sidratul Muntaha.

Lebih dari sekadar perjalanan luar biasa, Isra Mi’raj terjadi pada fase kehidupan Rasulullah SAW yang penuh dengan ujian dan kesedihan. Sebelum peristiwa agung tersebut, Rasulullah mengalami kesedihan yang mendalam akibat wafatnya orang-orang terdekat yang selama ini menjadi pelindung dan pembela dakwahnya, mulai dari kedua orang tua, kakek, paman, hingga istri tercinta, Sayidah Khadijah.

“Isra Mi’raj memiliki dua sisi penting. Pertama sebagai bentuk penghiburan Allah kepada Rasulullah, dan kedua sebagai jalan turunnya perintah sholat,” ujar beliau. Dalam situasi duka yang beruntun itulah, Allah memberikan kebahagiaan kepada Rasulullah melalui sebuah perjalanan spiritual yang luar biasa.

Puncak dari peristiwa Isra’ Mi’raj adalah diterimanya perintah sholat. Terdapat keunikan ketika Rasulullah SAW mencapai Sidratul Muntaha. Pada titik Mustawa, Malaikat Jibril tidak dapat melanjutkan perjalanan dan berhenti. Hal ini menunjukkan kemuliaan Rasulullah SAW, sekaligus menjadi isyarat bahwa manusia yang mampu menundukkan hawa nafsu melalui ibadah memiliki derajat yang sangat tinggi di sisi Allah SWT.

Peneguhan Perintah Sholat dan Gambaran Umat Nabi Muhammad SAW

Pada awalnya, Rasulullah menerima perintah sholat sebanyak 50 waktu dalam sehari. Namun atas nasihat Nabi Musa AS, Rasulullah kembali menghadap Allah SWT hingga perintah tersebut diringankan (reduksi, red) menjadi lima waktu.

“Dalam beberapa kitab, di antaranya Hasyiyah Al-Bajuri, dijelaskan bahwa Rasulullah bolak-balik menghadap Allah SWT hingga sembilan kali sebelum ditetapkan sholat lima waktu,” jelas Fodhil.

Selain perintah sholat, dalam perjalanan Isra’ Mi’raj Rasulullah juga diperlihatkan berbagai gambaran tentang keadaan umatnya kelak. Di antaranya adalah seseorang yang kepalanya dihancurkan berulang kali sebagai balasan bagi mereka yang meninggalkan sholat, serta sekelompok orang yang menanam lalu memanen dengan cepat sebagai gambaran pahala sedekah yang dilipatgandakan.

“Rasulullah juga diperlihatkan gambaran orang-orang yang lebih memilih makanan busuk daripada yang baik sebagai simbol perbuatan perselingkuhan, serta mereka yang memotong lidah sendiri sebagai balasan bagi orang yang gemar menasihati namun tidak mengamalkan,” imbuhnya.

Dosen PAI ini juga menjelaskan bahwa Isra Mi’raj sering dianggap sebagai peristiwa yang tidak masuk akal jika dilihat dengan pemahaman awam. Namun jika dikaji lebih dalam, termasuk melalui pendekatan sains, peristiwa ini justru semakin menguatkan keimanan.

“Malaikat Jibril yang diciptakan dari cahaya, dalam perspektif sains memiliki kecepatan luar biasa, sehingga perjalanan tersebut dapat terjadi dalam waktu yang sangat singkat,” terangnya.

Peristiwa Isra Mi’raj pada akhirnya menjadi pengingat bahwa sholat adalah fondasi utama ibadah dalam Islam.

“Lebih dari itu, Isra Mi’raj mengajarkan bahwa di balik ujian dan kesedihan, selalu ada kasih sayang Allah SWT yang mengangkat derajat hamba-Nya menuju kedekatan spiritual yang lebih tinggi,” pungkasnya.

Red: Ibrahim

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Artikel Terbaru
Pengumuman Terbaru
Agenda Terbaru
Berita Terbaru
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x