Universitas KH. A. Wahab Hasbullah

Tag: KKN UNWAHA 2017

Stick dan Sirup Kates di KKN Tanjungwadung

Papaya atau dalam bahasa Latin disebut dengan Carica Papaya sangat mudah ditemui di desa Tanjungwadung, Kabuh. Hampir di setiap pekarangan rumah warga, dapat dijumpai tanaman pepaya. Tidak hanya di pekarangan, buah yang asalnya dari Meksiko ini juga berjajar di sepanjang persawahan, membentuk pagar hidup. Pepaya yang tumbuh subur di desa Tanjungwadung berwarna kuning cerah dan tidak terlalu manis meskipun sudah masak. Jika dibiarkan terlalu lama di pohon, daging buah pepaya menjadi lembek dan rasanya lebih hambar. Karena itulah ketika jenis pepaya California dikenal masyarakat desa Tanjungwadung, pepaya lokal tidak lagi bernilai. Mereka membiarkan buah pepaya lokal matang di pohon hingga jatuh dan membusuk. Kadangkala buah pepaya mereka manfaatkan sebagai pakan burung meskipun tidak terlalu banyak. Pepaya lokal yang tidak banyak dimanfaatkan inilah yang kemudian dilirik oleh para mahasiswa KKN UNWAHA yang ditempatkan di desa Tanjungwadung. Inovasi yang mereka lakukan adalah menyulap pepaya lokal desa Tanjungwadung menjadi sirup dan stick. Resep sirup pepaya mereka dapatkan dari internet. Akan tetapi yang mereka dapatkan bukanlah resep asli dari sirup pepaya. Yang didapat selama pencarian data adalah sirup dari buah-buahan lainnya yang kemudian mereka terapkan pada pepaya. Sirup pepaya ini mereka namakan dengan SiTes atau Sirup Kates. Nama Kates sendiri adalah sebutan pepaya dalam bahasa Jawa. SiTes memiliki dua varian, yaitu varian kental dan varian biasa. SiTes kental, harus dicampur dengan air terlebih dahulu sebelum dapat dinikmati. Sementara varian biasa dapat diminum secara langsung, tidak perlu dicampur apapun. SiTes kental dapat disajikan dengan diseduh air panas ataupun air dingin. Sedangkan SiTes biasa lebih nikmat ketika disajikan dalam keadaan dingin. Harga semua varian SiTes adalah 5.000/botol. Dengan bahan yang didapatkan secara gratis dari masyarakat, para mahasiswa mendapatkan keuntungan yang berlimpah. Terlebih rasa SiTes bersahabat di lidah dan banyak disukai. Pemasaran via medsos membantu mereka mendapatkan pesanan hingga ke luar kota. Banyak dari para konsumen yang kembali memesan untuk kesekian kalinya. Ide awal dari pembuatan Stick Kates adalah ampas pepaya sisa pembuatan sirup yang sayang jika dibuang. Para mahasiswa kemudian mencari resep tentang pembuatan stick melalui internet. Sama seperti sebelumnya, yang didapat adalah resep pembuatan stick dari bahan-bahan lain dan kemudian mereka terapkan pada ampas pepaya. Beberapa kali percobaan dilakukan sehingga jadilah Stick Kates yang digemari banyak orang. Harga tiap bungkusnya adalah 3.000. Stick Kates ini masih belum memiliki varian rasa yang beragam. Para mahasiswa masih mempertahankan cita rasa asli dari pepaya lokal. Kemampuan para mahasiswa dalam mengolah pepaya lokal yang tidak dimanfaatkan oleh masyarakatnya desa Tanjungwadung, mereka ajarkan melalui kegiatan pelatihan ibu-ibu PKK dan kegiatan lainnya. Diharapkan, masyarakat desa Tanjungwadung dapat memanfaatkan kekayaan lokal sehingga kualitas perekonomian mereka lebih meningkat.

Nugget dan Es Krim Jamur di KKN Genenganjasem

Masyarakat desa Genenganjasem dikenal karena budidaya jamur tiram putih, baik yang masih berbentuk baglog ataupun jamur yang sudah siap diolah. Baglog adalah media tanam bagi jamur yang digunakan sebagai bahan produksi jamur. Istilah baglog sendiri terdiri dari dua kata, yaitu bag yang berarti kantung dan log yang berarti kayu gelondongan. Hal ini dikarenakan bentuk baglog yang silinder, mirip kayu gelondongan yang disimpan dalam kantung. Pada umumnya, masyarakat Genenganjasem menjual baglog dan jamur mentah di pasar atau dikirim ke daerah-daerah sekitar. Kisaran harga baglog yang mereka jual adalah 2.500/biji, sementara harga jamur mentah sekitar 15.000/kg. Para mahasiswa UNWAHA yang ditugaskan disana mencari peluang dari jamur tiram putih yang mudah didapat dan dengan harga terjangkau karena langsung mengambil dari produsen. Bahan mentah tersebut kemudian mereka olah menjadi nugget dan es krim, sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi. Resep pembuatan nugget jamur berasal dari para mahasiswa sendiri. Mereka melakukan beberapa kali percobaan hingga ditemukan resep yang sesuai. Harga yang diberikan untuk nugget jamur adalah 5.000/kotak. Dalam satu kotak, berisi 8 potong nugget. Tidak disangka, respon positif pun mereka terima dari berbagai pihak. Tidak hanya itu, nugget jamur juga menuai banyak pesanan. Es krim jamur yang digagas oleh para mahasiswa, sebagian besar masih menggunakan tepung es krim instan dibandingkan tepung jamur. Hal ini bukan karena ketidakmampuan mereka dalam menghasilkan tepung jamur. Keterbatasan alat dalam membuat tepung jamur menjadi kendala. Sementara jika menggunakan cara konvensional, memakan banyak waktu. Meskipun demikian, masyarakat sangat antusias terhadap inovasi yang dilakukan oleh para mahasiswa UNWAHA. Mereka bahkan terkejut mengetahui bahwa jamur yang biasanya hanya digunakan sebagai lauk, bisa diolah menjadi es krim yang bernilai jual jauh lebih tinggi. Terbukti dengan harga 3.500/cup, es krim jamur tetap menjadi primadona. Kemampuan para mahasiswa dalam mengolah jamur tidak hanya dimanfaatkan untuk mereka sendiri. Para mahasiswa juga memberdayakan masyarakat dengan mengadakan pelatihan. Pelatihan ini bertujuan agar masyarakat dapat memanfaatkan jamur menjadi bermacam produk olahan. Dengan demikian, kesejahteraan mereka semakin meningkat. Harapan lainnya untuk para mahasiswa, mereka dapat mengembangkan kemampuan yang telah dimiliki dan terus berinovasi. Keterbatasan alat yang selama ini menjadi kendala, diharapkan segera mendapatkan solusi.

Tempeh Lukis dan Aneka Olahan Waluh di KKN Kedungjati

Salah satu desa yang menjadi sasaran KKN para mahasiswa UNWAHA adalah desa Kedungjati, Kabuh. Masyarakat di desa ini banyak yang menjadi pengrajin tempeh atau anyaman bambu. Hal lain yang sering dijumpai disana adalah labu atau waluh yang hampir selalu ada di sepanjang sawah. Melihat tempeh yang hanya dijual ala kadarnya, para mahasiswa berusaha mencari jalan lain agar memiliki daya jual tinggi. Tempeh yang biasa dipakai untuk memilih beras atau menjemur makanan mentah, disulap menjadi tempeh lukis dan tempeh jam lukis. Proses pengerjaan tempeh lukis dan tempeh jam lukis dikerjakan oleh mahasiswa sendiri, tanpa meminta bantuan dari pihak luar. Sementara bahan baku tempeh mereka dapatkan dengan membeli dari masyarakat setempat. Hasilnya, tempeh lukis dan tempeh jam lukis banyak diminati dan pesanan datang membanjir. Keuntungan yang didapat pun berlipat-lipat. Tempeh yang pada umumnya hanya bernilai 15.000, naik menjadi 40.000 hingga 50.000 setelah berbentuk tempeh lukis dan tempeh jam lukis. Ide awal dari olahan waluh adalah banyaknya buah waluh yang tidak dimanfaatkan oleh masyarakat. Setiap kali panen, yang diambil hanya biji waluh saja, sementara dagingnya dibiarkan terbengkalai di sepanjang sawah. Melihat hal ini, para mahasiswa berinisiatif untuk mengolah sisa waluh yang tidak bernilai jual menjadi produk unggulan. Olahan waluh yang mereka hasilkan adalah sandwich galau, masker, dan gethuk gulung. Sandwich galau adalah olahan waluh yang resepnya berasal dari para mahasiswa sendiri. Begitu juga dengan masker waluh. Para mahasiswa hanya memanfaatkan internet untuk mencari manfaat waluh bagi wajah, kemudian mengolahnya menjadi masker. Mereka bahkan menyebutkan bahwa selama mencari data, belum menemukan ada yang pernah mengolah waluh menjadi masker. Gethuk gulung berbahan waluh merupakan kolaborasi antara para mahasiswa dengan salah satu penduduk setempat. Para mahasiswa berperan untuk mengolah waluh, sementara resep berasal dari salah satu penduduk. Para mahasiswa juga yang berinisiatif untuk membuat kemasan yang menarik agar lebih diminati oleh konsumen. Tanggapan positif diberikan oleh masyarakat desa Kedungjati terhadap kiprah para mahasiswa KKN UNWAHA. Terlebih para mahasiswa mengajarkan keterampilan membuat tempeh lukis, tempeh jam lukis, dan olahan waluh kepada masyarakat sebagai bentuk pemberdayaan Posdaya (Pos Pemberdayaan Keluarga). Diharapkan, perekonomian mereka menjadi lebih baik dengan memanfaatkan komoditas yang sudah tersedia.