Universitas KH. A. Wahab Hasbullah

Tag: pendidikan

Galeri Investasi Syariah (GIS) UNWAHA Jombang Salah Satu GIS Teraktif Dalam Input Laporan Bulanan Tingkat Perguruan Tinggi Se Jawa Timur

  Galeri Investasi Syariah (GIS) merupakan wadah pelayanan konsultasi dan investasi di dunia pasar modal berbasis Syariah. Tujuan pembentukan GIS adalah mensosialisasikan pasar modal Syariah dan kegiatan ilmiah pada civitas akademik dan lingkungan masyarakat. Selain itu, pembentukan GIS juga bertujuan sebagai salah satu sarana pembelajaran yang menyediakan real time data untuk melatih mahasiswa menganalisis aktivitas perdagangan saham yang diharapkan dapat menjadi jembatan penguasaan ilmu di bidang pasar modal.   Untuk meningkatkan silaturrahmi antar GI BEI di Jawa Timur, kantor perwakilan BEI Jawa Timur melaksanakan GI BEI Gathering pada Senin (27/2/2023). Selain itu, acara ini merupakan wujud apresiasi kepada Galeri Investasi BEI khususnya di wilayah Jawa Timur yang telah berkontribusi dalam memperluas informasi dan edukasi pasar modal kepada masyarakat, Dalam kesempatan ini juga disampaikan daftar perguruan tinggi yang aktif dalam input laporan bulanan setiap tahunnya, dan UNWAHA menduduki urutan ke-12 dari seluruh perguruan tinggi yang tergabung dalam GI BEI wilayah Jawa Timur. UNWAHA sendiri merupakan kampus ke-30 dari perguruan tinggi di Indonesia yang membuka galeri investasi Syariah untuk umum.

Pengertian Kreativitas Beserta Contohnya

Pengertian Kreativitas Secara Umum Apa kalian kurang kreatif, kalian harus kreatif, kalian coba berpikir kreatif, berikan contah yang kreatif, lakukanlah yang kreatif, buatlah yang kreatif, carilah yang kreatif dan sebagainya. Kata-kata tersebut mungkin ialah kata yang sering keluar dalam ucapan kita. Kreativitas mengandung arti kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dengan cara menghubungkan beberapa hal yang sudah ada dan menjadikan sesuatu hal yang baru. Pengertian Kreativitas Menurut Para Ahli Menurut Conny R Semiawan (2009: 44) kreativitas adalah modifikasi sesuatu yang sudah ada menjadi konsep baru. Dengan kata lain, terdapat dua konsep lama yang dikombinasikan menjadi suatu konsep baru. Sedangkan menurut Utami Munandar (2009: 12), bahwa kreativitas adalah hasil interaksi antara individu dan lingkungannya, kemampuan untuk membuat kombinasi baru, berdasarkan data, informasi, atau unsur-unur yang sudah ada atau dikenal sebelumnya, yaitu semua pengalaman dan pengetahuan yang telah diperoleh seseorang selama hidupnya baik itu di lingkungan sekolah, keluarga, maupun dari lingkungan masyarakat. Menurut Barron yang dikutip dari Ngalimun dkk (2013: 44) kreativitas didefinisikan sebagai kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Guilford yang dikutip dari Ngalimun dkk (2013: 44) menyatakan bahwa kreativitas mengacu pada kemamampuan yang menandai seorang kreatif. Rogers (Utami Munandar, 1992: 51) mendifiniskan kreativitas sebagai proses munculnya hasil-hasil baru ke dalam tindakan. Hasil-hasil baru itu muncul dari sifat-sifat individu yang unik yang berinteraksi dengan individu lain, pengalaman, maupun keadaan hidupnya. Contoh Kreativitas di Dunia Fashion Seberapa besar ketertarikan Anda pada fashion? Mungkin tidak banyak. Tapi kisah berikut terlalu menarik untuk dilewatkan. Kisah tentang jas, pakaian iconic pekerja white collar. Sepanjang sejarahnya jas berkonotasi dengan perkembangan sosial dan berasimilasi dengan kebudayaan Eropa sebelum merembas ke belahan dunia mana saja sekarang ini. Tuxedo atau yang biasa kita kenal dengan nama Jas yang berjenis pakaian formal ini biasanya digunakan oleh para pengusaha atau para kalangan atas untuk menunjukan status atau jabatan seseorang. Di awal abad 19, Napoleon Bonaparte menata kembali pakaian istana dengan memakai frock coat berwarna abu-abu yang terkenal menjadi cirinya. Jas pria kemudian berbentuk lebih sederhana dan gelap. Pengaruh jas Inggris telah membuat kaum pria di Eropa berpakaian dengan gaya yang lebih ringkas, nyaman dan gelap. Pada pertengahan abad 19 muncul setelan jas lengkap yang terbuat dari bahan sama untuk jas dan celananya. Setelan jas ini disebut sebagai setelan jas klasik dan menjadi ciptaan perintis untuk pakaian modern pria, yaitu setelan jas bisnis. Tuksedo adalah pakaian yang biasanya digunakan laki-laki pada saat acara resmi atau untuk menghadiri undangan suatu acara. Ternyata, tuksedo pertama kali dibuat di Inggris untuk seorang pangeran. Bermula dari Raja Edward VII yang pada tahun 1867 tampil memakai jas yang sama bahannya dengan celana panjangnya saat acara makan malam. Sejak itu kaum pria berpakaian dengan hanya satu warna gelap dari ujung kepala sampai ujung kaki, menurut Dictionaire de la Mode au Xxieme Siecle, arahan Bruno Remaury, terbitan Edition du Regard, tahun 1994. Desain pertamanya dibuat pada tahun 1860 oleh Henry Poole & Co. Enam tahun kemudian, Pangeran Edward VII diundang ke Amerika oleh seorang jutawan bernama James Potter. Pada saat itu, Pangeran merekomendasikan kepada James agar memesan pakaian kepada Henry Poole untuk digunakan pada acara tersebut. James pun menyetujui. James menyukai jas tersebut, kemudian ia menggunakan setelan itu ketika pergi ke country klub paling top di New York, Tuxedo Park Club. Akhirnya, pakaian tersebut menyebar dan populer di Amerika dengan nama tuxedo. Hingga saat itu, tuksedo berkembang mengikuti perubahan mode, dan terus menguat sebagai fashion icon bagi kaum pria. Hingga pada tahun 1966, desain ternama Yves Saint Laurent memberikan hak atas “pakaian kebesaran” ini pada wanita, dengan memperkenalkan Le Smoking – setelan bergaya tuksedo untuk kaum wanita. Di masa itu, wanita yang mengenakan pakaian pria dipandang sebagai hal yang tidak pantas dan sangat salah. Tidak heran jika Yves Saint Laurent menuai berbagai protes dari banyak kalangan, atas kelancangan-nya mempublikasikan hal yang nyata-nyata salah menurut standar saat itu. Kritikus fashion mengeluarkan jurus terpedas mengecamnya. Beberapa restoran bahkan melarang tamu wanita yang mengenakan pakaian terlarang ini masuk, bahkan tidak segan mengusirnya. Kritikus New York Times, Gloria Emerson, menggambarkan koleksinya sebagai ‘tidak halus (lumpy)’ dan ‘ketinggalan jaman’ dan mengatakan Saint Laurent “Terlalu keras untuk meyakinkan dunia bahwa ia bergandengan tangan dan satu pandangan dengan orang-orang yang sangat muda.”. Jika saja Saint Laurent saat itu tidak berani melakukan kesalahan dengan sedikit “melenceng” dari pakem yang diyakini saat itu, maka mungkin saat ini tidak ada kaum hawa yang tampak berkelas dalam balutan jas yang semakin beragam modelnya. Jika saja Saint Laurent saat itu menyerah dengan meminta maaf pada berbagai pihak yang merasa dilecehkan, dan menarik kembali karyanya dari publikasi, bisa jadi saat ini hanya karyawan pria yang tampak profesional dalam balutan jas. Tapi Saint Laurent berani berkreasi dengan melakukan kesalahan – setidaknya menurut pakem masyarakat di abad itu. Dan sejak saat itu, ia semakin banyak meluncurkan koleksi anti mainstream nan kreatif yang mengantarkannya ke jajaran desainer ternama dunia. Saint Laurent adalah salah satu contoh sosok yang berani mengatasi hambatan untuk menjadi sosok yang kreatif, dan menjalani hidup yang kreatif. Semoga ini menginspirasi Anda untuk berani mengambil resiko membuat kesalahan, untuk mengembangkan kreativitas.

Manajemen Pendidikan Islam sebagai Disiplin Ilmu

Terjadi banyak kesalahpahaman dalam memaknai Manajemen Pendidikan Islam (MPI). Konsep manajerial dianggap sama dengan konsep manajemen pendidikan secara umum. Ini terbukti pada pelaksanaan manajerial dalam lembaga-lembaga pendidikan Islam masih mengacu pada konsep manajerial secara umum dan tidak seimbangnya antara materi pelajaran umum dengan Islam. Sehingga banyak dari lembaga pendidikan gagal menjalankan manajerial pendidikan Islam. Karena hal ini banyak dari masyarakat mengira bahwa terjadinya penyimpangan-penyimpangan sosial dan keterpurukan moral dikarenakan salah satu faktornya menyangkut Manajemen Pendidikan Islam. Berangkat dari persoalan di atas ketika ingin mencapai hasil optimal dalam Manajemen Pendidikan Islam, maka manajemen harus dipahami secara utuh dari mulai proses sampai pada pelaksanaannya. Karena Manajemen Pendidikan Islam termasuk salah satu bidang disiplin ilmu tetapi bukan berarti haru disamakan. Meskipun kata ilmu diambil lebih banyak terfokus pada bidang-bidang ilmu-ilmu umum. Tetapi ilmu umum dapat diitegrasikan dengan Islam pada Manajemen Pendidikan Islam untuk mencapai tujuan yang diinginkan (Khoirun Nisa). Baca Selengkapnya

Suatu Cita-Cita yang Mulia Menjadi Seorang Pendidik

Seorang pendidik merupakan panutan bagi anak-anak didikannya dan ditiru dalam segi nilai serta moral hingga kebiasaan. Selain hal itu menjadi seorang pendidik, tingkah lakunya pun juga menjadi panutan bagi semua orang. Sebagai seorang pendidik, baik guru maupun dosen memiliki profesi yang sama-sama menjadi panutan, memiliki peran untuk mendidik dan membimbing anak-anak didiknya sehingga menjadi generasi penerus yang berkualitas. Menjadi seorang pendidik merupakan suatu cita-cita yang mulia, karena seorang pendidiklah yang bertanggung jawab mendidik manusia-manusia sehingga nantinya melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas serta memiliki kepribadian yang baik. Mungkin untuk sebagain pendidik, tanggung jawab tersebut cukup berat, karena itulah untuk menjadi seorang tenaga pendidik tidak boleh sembarangan karena ditangan merekalah masa depan anak didik dipertaruhkan. Di lain sisi, cita-cita mulia ini menjadi profesi yang cukup disegani di lingkungan masyarakat, karena untuk menjadi seorang pendidik pastilah memiliki wawasan dan pengetahuan yang sangat luas, serta memiliki kepribadian dan tingkah laku yang baik. Seorang tenaga pendidik dituntut untuk memiliki karakter yang mampu beradaptasi dengan berbagai macam sifat-sifat anak didiknya, karena untuk dapat menciptakan generasi penerus bangsa, seorang pendidik harus cukup adil terhadap semua anak didiknya. Guru Maupun Dosen Adalah Cita-Cita Mulia Sebagai Pendidik Saat ini masih banyak siswa-siswi yang kurang berminat belajar di bidang pendidikan daripada yang memiliki semangat belajar di bidang pendidikan. Untuk itu menjadi seorang pendidik juga dituntut untuk memiliki kreativitas yang diperlukan untuk menumbuhkan minat siswa-siswi maupun mahasiswa dalam bidang pendidikan. Selain itu juga pengaruh munculnya teknologi membuat memudarnya minat siswa-siswi terhadap dunia pendidikan. Karena saat ini teknologi cukup berkembang pesat di Indonesia, munculnya pun membawa berbagai dampak positif maupun negatif. Jika dilihat dari sisi positif di dunia pendidikan, teknologi membantu mempermudah pekerjaan dan perolehan informasi baik untuk tenaga pendidik maupun anak didiknya. Namun teknologi tentunya membawa dampak negatif di dunia pendidikan seperti ketergantungannya anak didik dalam teknologi. Dimana hal ini sangat berpengaruh terhadap pola belajar mereka, ketika mereka sudah memiliki ketergantungan dengan teknologi seperti gadget, maka belajar menjadi hal yang akan mudah untu ditinggalkan. Hal ini tentunya harus menjadi perhatian banyak pihak, terutama guru ataupun dosen mereka, yang dituntut untuk memiliki solusi supaya anak didiknya tetap memiliki minat dalam dunia pendidikan. Selain diperngaruhi oleh teknologi, saat ini semakin menurun jumlah siswa atau mahasiswa yang berminat dalam bidang pendidikan yang dipengaruhi oleh rendahnya perekonomian keluarga, kurang adanya minat dalam diri anak tersebut, hingga adanya keinginan anak untuk bekerja tanpa melihat pentingnya pendidikan untuk masa depan mereka. Dengan menurunnya minat siswa di dunia pendidikan yang dipengaruhi oleh beberapa hal diatas, tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi seorang guru atau dosen untuk tetap meningkatkan karakter siswa supaya melahirkan generasi penerus yang memiliki pendidikan berkualitas. Karena pendidikan merupakan hal penting bagi setiap manusia. Untuk itu menjadi seorang guru atau dosen merupakan cita-cita yang sangat mulia. Kedudukan seorang seorang pendidik menjadi kedudukan yang sangat dihormati sebagai pembimbing dalam keilmuwan dan dunia pendidikan, karena menjadi penyemangat dan inspirasi untuk anak didiknya sehingga nantinya dapat mengetahui potensi diri anak didik yang berguna dalam memilih bidang pekerjaan yang akan ditekuni di masa depan. Keuntungan Menjadi Tenaga Pendidik Guru atau Dosen Beberapa keuntungan menjadi seorang tenaga pendidik antara lain: Meningkatkan Wawasan Ketika guru atau dosen menjalankan perannya sebagai seorang pendidik dan mengajarkan beberapa pelajaran. Sebelum memberikan materi terhadap anak didiknya, tentunya belajar lebih dalam lagi tentang materi tersebut sehingga nantinya dapat menyampaikan dengan jelas kepada anak didik. Nah ini menjadi suatu keuntungan sendiri menjadi profesi pendidik, karena akan selalu meningkat wawasan serta epengetahuan yang dimiliki.   Pekerjaan yang Tidak Monoton Mungkin beberapa menganggap pekerjaan menjadi seorang tenaga pendidik adalah suatu pekerjaan yang monoton bahkan membosankan. Tetapi pada kenyataannya, seorang tenaga pendidik justru memiliki pekerjaan yang lebih beragam dan dinamis. Setiap hari akan terlibat di berbagai macam aktivitas, menemui karakter siswa-siswi ataupun mahasiswa yang unik, menemui topik-topik pembelajaran yang berbeda serta itu aka menjadi sebuah tantangan baru.   Punya Peran Penting bagi Masa Depan Keuntungan yang satu ini menjadi salah satu keuntungan mulia yang diperoleh bagi seorang tenaga pendidik. Menjadi seorang pendidik, sudah tentu mempunyai peran penting bagi generasi penerus yang akan berguna bagi masa depan setiap anak didiknya. Karena tenaga pendidik merupakan pengganti orang tua siswa di seklah. Selain ilmu, anak didik juga akan mencontoh perilaku-perilaku dari seorang tenaga pendidik. Untuk itu menjadi seorang pendidik memiliki peran penting dalam membentuk perilaku anak didiknya. Tantangan Bagi Seorang Pendidik Guru atau Dosen Saat Ini Menurut data statistik jumlah tenaga pendidik baik guru atau dosen mulai meningkat, namun masih ada yang memiliki loyalitas dan pengabdian pada anak didik dan lembaga pendidikan masih rendah. Padahal menjadi seorang pendidik haruslah memiliki loyalitas dan pengabdian yang tinggi terhadap anak didik dan lembaga pendidikan, karena memiliki tanggung jawab yang cukup besar dalam memajukan generasi penerus bangsa. Hal ini diakibatkan oleh beberapa hal, yaitu masih rendahnya kompetensi tenaga pendidik itu sendiri, karena minimnya pelatihan dan pendidikan untuk meningkatkan kapasitas. Selain itu juga karena adanya beberapa guru yang terekrut tidak sesuai dengan kapasitasnya, artinya bukan lulusan dari jurusan perguruan dan ilmu pendidikan, sehingga kemampuan pedagogik dan mentransfer ilmunya rendah. Juga karena masalah dedikasi mereka yang memang rendah Beberapa masalah diatas tentunya harus segara diatasi dan dicari solusinya supaya peran guru dan dosen sebagai tenaga pendidik untuk generasi penerus bangsa tetap berjalan secara optimal. Tentunya banyak hal yang perlu menjadi bahan pertimbangan supaya kinerja seorang pendidik dapat berampaj pada pendidikan yang bermutu. Adanya kurikulum yang sering berubah, tentunya ini secara langsung akan berdampak pada tenaga pendidik, sehingga perubahan kurikulum tersebut berpengaruh pada beban psikologis bagi seorang tenaga pendidik. Tentunya hal ini akan sangat dirasakan oleh guru yang masih memiliki kemampuan minimal. Maka dari itu harus adanya perbaikan dari sisi pemerintah untuk melihat kesejahteraan, kompetensi dan kapasitas dari seorang tenaga pendidik. Selain itu, adanya kegagalan anak didik dalam perkembangan pengetahuan ataupun dalam melaksanakan ujian, selalu dikaitkan dengan rendahnya mutu tenaga pendidik yang mengajarnya. Padahal hal ini belum tentu terjadi demikian, karena kewajiban memberikan pelajaran juga ada pada orang tua dan kapasitas dari anak didik itu sendiri. Untuk itu, tanggung jawab meningkatkan mutu dunia pendidikan itu adalah tanggung jawab seluruh pihak, mulai dari tenaga pendidik, orang tua, masyarakat hingga pemerintah. Selain

PENDIDIKAN VOKASI PENYEDIA KOMPETENSI DI ERA INDUSTRI 4.0

Sekolah vokasi menjadi program pendidikan bagi para siswa-siswi maupun mahasiwa agar memiliki keahlian khusus di bidang yang ditekuninya sehingga nantinya dapat melahirkan tenaga kerja yang berkualitas dan mampu bersaing. Sekolah vokasi ini tercermin dalam Sekolah Menengah Kejuruan dan juga pendidikan vokasi di perguruan tinggi. Saat ini pendidikan vokasi juga diharapkan mampu melahirkan generasi yang mampu menyongsong revolusi industri 4.0. Revolusi industri merupakan transformasi peningkatan efisiensi pada setiap lini kehidupan masyarakat dengan mengintegrasikan kemampuan digital dan produksi pada industri yang mengacu pada peningkatan perkembangan teknologi secara berkelanjutan. Hadirnya revolusi industri ini tentunya semakin mempermudah masyarakat dalam segala bidang. Tentunya juga diperlukan kompetensi Sumber Daya Manusia yang dapat bersaing. Memasuki era revolusi industri 4.0 ini, Indonesia ditantang untuk siap menghadapi perubahan dalam berbagai sektor. Karena saat ini sudah memasuki era serba digital, untuk itu lulusan sekolah vokasi diharapkan mampu menguasai praktik sesuai bidangnya di lapangan dalam dunia indsutri. Tumbuh pesatnya revolusi industri 4.0 ini, bukan lagi persaingan antar tenaga kerja manusia, melainkan dengan teknologi. Pendidikan Vokasi, Menjawab Kompetensi Era Industri 4.0 Munculnya berbagai macam teknologi yang semakin canggih tentunya dapat membantu manusia dalam melakukan dan menyelesaikan pekerjaan secara praktis dan cepat dengan bantuan teknologi-teknologi canggih tersebut. munculnya revolusi industri 4.0, menjadikan semua pekerjaan manusia menjadi serba digital, semakin hari sistem konvensional akan semakin tertinggal. Karena masyarakat akan lebih memilih kemudahan dalam memenuhi kebutuhannya. Salah satu contohnya, saat ini sudah ada smatphone, dimana dengan menggunakan teknologi canggih bernama smartphone ini manusia akan sangat memperoleh kemudahan, mulai dari adanya toko online, akses informasi, hingga mempermudah pekerjaan-pekerjaan yang lainnya. Semua sudah serba mudah dengan adanya smartphone, hanya berdiam diri di rumah, apa yang Anda butuhkan akan bisa terpenuhi tentunya. Nah, kemudian jika revolusi industri 4.0 ini sudah semakin berkembang, maka untuk mengimbanginya harus ada tenaga manusia yang memiliki kompetensi sehingga mampu bersaing dengan era industri tersebut. Munculnya era industri 4.0 ini membutuhkan kompetensi baru sehingga sudah tersedia SDM unggul yang dapat bersaing dengan perkembangan teknologi. Dilain sisi, juga membuka peluang lebar bagi lulusan sekolah vokasi untuk dapat bersaing di era industri 4.0. Tentunya harus ada kompetensi yang keahlian yang diberikan supaya nantinya lulusan-lulusan tersebut dapat bekerja sesuai dengan minat dan bakat serta bidang mereka. Karena sekolah vokasi menjadi sekolah yang diharapkan mampu melahirkan Sumber Daya Manusia yang siap bekerja meyongsong era industri 4.0 dengan perkembangan teknologinya. Mengetahui Keunggulan Pendidikan Vokasi di Era Industri Saat Ini Nah beberapa keunggulan pendidikan vokasi tersebut antara lain: Lebih Praktikal Pada pendidikan vokasi, melatih siswa-siswi dan mahasiswanya dengan keahlian praktikal, artinya lebih banyak pelajaran yang langsung praktek daripada teori. Selain itu kegiatan tersebut juga banyak dilakukan dengan cara turun langsung melakukan praktek di bidang-bidang pekerjaan yang menjadi kompetensi mereka. Berbeda dengan sekolah umum yang justru sering mengerjakan tugas, mendengarkan pembelajaran sesuai dengan teori-teori yang ada. Banyak pilihan institusi Pendidikan vokasi ditawarkan dengan lebih banyak pilihan institusi di perguruan tinggi, seperti universitas dengan pendidikan vokasi, politeknik, pusat pelatihan atau institusi lain yang berspesialisasi dalam menyelenggarakan program sekolah vokasi. Jadi Anda dapat memilih pendidikan vokasi dengan jurusan yang sesuai dengan kompetensi Anda, supaya kemampuan dapat cepat berkembang. Beragam pilihan program Keunggulan sekolah vokasi lainnya yaitu, cocok bagi Anda yang sudah jelas dan yakin dengan apa yang akan Anda kejar atau pekerjaan yang menjadi cita-cita Anda. Terdapat banyaj sekali bidang yang tersedia mulai dari bidang pariwisata dan perhotelan, desain interior, sekretaris, teknik otomotis, manajemen retail, pengembangan software hingga bidang kuliner. Sekolah vokasi menekankan keahlian praktek yang dibutuhkan untuk dapat terjun langsung ke industri serta pembahasan topik yang diberikan dikemas secara spesifik, berbeda dengan sekolah umum atau perkuliahan di universitas dengan jenjang sarjana yang membahas topik lebih luas. Di era serba digital ini, output ataupun lulusan dari pendidikan vokasi diharapkan mampu menguasai teori praktik sesuai bidangnya di lapangan yaitu dalam dunia industri, khususnya pada era revolusi industri 4.0. terbosan serta inovasi baru perlu diterapkan. Selain itu kesiapan mental yang Tangguh dalam menghadai era serba digital bagi para lulusan pendidikan vokasi tersebut. Upaya untuk Melahirkan Lulusan Pendidikan Vokasi sebagai Penyedia Kompetisi Dukungan penuh dari semua elemen juga sangat membantu mulai dari pemerintah, institusi pendidikan, guru/dosen hingga orang tua. Beberapa upaya untuk dapat melahirkan lulusan pendidikan vokasi harus diupayakan oleh berbagai pihak. Supaya lulusan pendidikan vokasi dapat bersaing di era industi 4.0 ini, perlu dipertimbangkan beberapa hal berikut: 1. Berorientasi pada Industri Pengembangan pendidikan vokasi harus dapat berorientasi pada kebutuhan industri atau kebutuhan pasar kerja. Salah satunya dengan membuat jurusan-jurusan baru sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Upaya ini merupakan wujud pelaksanaan persiapan mental sebagai gerakan untuk membangun dan melahirkan kualitas Sumber Daya Manusia yang kompeten, terutama dalam menghadapi era revolusi industri 4.0 ini. Campur tangan pemerintah juga sangat diperlukan, sehingga mampu melihat peluang kerja yang dibutuhkan di era serba digital ini, dan mengintegrasikan peluang kerja tersebut dalam pendidikan vokasi. Sehingga nantinya lulusan pendidikan vokasi dapat memilih pekerjaan sesuai dengan kompetensi mereka, dan peluang kerja tersebut sudah tersedia. 2. Mampu Menghadapi Perubahan Selain itu lulusan tersebut juga harus dapat beradaptasi dengan lingkungan industri yang tangguh dalam menghadapi segala perubahan yang ada. Karena revolusi industri 4.0 ini juga akan terus berkembang pesat sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan teknologi yang semakin maju. Hal ini diharapkan supaya lulusan pendidikan vokasi juga mampu menghadapi perubahan tersebut. Mereka juga harus mampu memberikan inovasi baru supaya tidak tertinggal dengan revolusi industri. 3. Kurikulum Kurikulum yang tidak mampu megikuti perkembangan industri yang cukup pesat ini menyebabkan dunia industri kerap kali mengeluhkan lulusan yang tidak sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Untuk itu, perlu adanya perombakan kurikulum, hal ini dikarenakan semua jurusan harus menguasai dasar-dasar yang berkaitan dengan teknologi, data dan ‘humanity’. Dengan begitu, lulusan pendidikan vokasi akan siap menghadapi tantangan dunia industri di era serba digital ini. Pendidikan vokasi nantinya diharapkan dapat memenuhi permintaan, serta link antara industri dengan penyelenggara pendidikan, dan match antara karyawan dengan pengusaha. Keberhasilan pendidikan vokasi dapat dilihat dari lulusannya yang mampu bersaing dengan era industri yang semakin pesat. Dan juga kesesuaian antara bidang industri dan jurusan pendidikan vokasi tersebut. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan vokasi dapat dilihat dari tingkat mutu dan relevansi, yaitu jumlah penyerapan lulusan dan kesesuaian bidang pekerjaan

PENERAPAN PENDIDIKAN BERKARAKTER DI SEKOLAH MENENGAH

Sekolah memang menjadi tempat dan wadah bagi para siswa untuk terus mengembangkan diri dari berbagai sisi. Adanya penerapan pendidikan karakter di sekolah tentunya juga akan mempengaruhi pribadi setiap siswa dalam bersikap, mengambil keputusan serta memiliki karakter yang sesuai dengan ajaran yang berlaku. Dalam hal ini penerapan pendidikan karakter berbasis agama tentunya akan sangat penting untuk diberikan bagi para siswa. Media Implementasi Pendidikan Karakter Tentu saja setiap sekolah dalam memberikan pendidikan bagi para siswanya harus mengikuti peraturan yang telah ditetapkan oleh pihak pemerintah. Salah satu regulasi yang ditetapkan adalah penerapan nilai-nilai karakter dalam pembelajaran siswa. Pembentukan karakter siswa ini apalagi untuk siswa SMA tentunya akan memberikan bekal bagi kehidupan mereka selanjutnya menghadapi masyarakat dan dunia kerja. Nilai karakter untuk agama akan melengkapi moral, etika hingga budaya yang memang seharusnya ada dalam diri masing-masing siswa. Penanaman nilai karakter ini akan ikut membangun kepribadian siswa dalam menghadapi berbagai tantangan dalam hidupnya. Sehingga nantinya mereka sudah siap menghadapi dunia masyarakat dan pekerjaan dengan kepribadian luhur, bermoral dan berakhlak baik sebagaimana nilai yang diterapkan semasa masih di sekolah. Nilai-nilai karakter di sekolah dapat diimplementasikan melalui beberapa hal sebagai berikut: Pendidikan karakter dalam pembelajaran dilakukan dengan menggunakan strategi khusus yang akhirnya dapat memberikan pembelajaran karakter di dalam mata pelajaran di kelas. Pendidikan karakter dalam kurikulum yang memang sudah standar dari pemerintah tentu harus diterapkan dengan baik. Dengan begitu setiap nilai karakter yang harus ada di sekolah bisa diterapkan serta diterima dengan baik oleh para siswa. Pendidikan karakter dalam budaya sekolah akan membiasakan siswa secara perlahan untuk menerapkan karakter yang baik termasuk nilai agama dalam kehidupannya, dengan begitu nantinya para siswa memiliki bekal karakter terutama dalam penekanan nilai-nilai agama secara lebih mendalam. Dalam proses penerapan karakter di skeolah tentunya semua elemen harus bekerjasama dengan baik. Para siswa harus diberikan strategi yang tepat untuk bisa mengembangkan karakternya seoptimal mungkin sesuai dengan yang diharapkan sebelumnya. Setiap aturan tentunya dibuat untuk bisa memberikan dampak yang positif terhadap perkembangan karakter siswa selama berada di sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. Proses Impelementasi Pendidikan Karakter Tentu saja dalam proses melaksanakan pendidikan karakter di sekolah tidak serta merta bisa secara langsung merubah kebiasaan para siswa. Maka dalam hal ini pentingnya sebuah proses untuk membiasakan secara perlahan satu persatu nilai karakter tersebut dapat masuk ke kebiasaan hidup para siswa. Sehingga ada standar keberhasilan yang didapatkan sekolah terhadap penerapan berbagai nilai karakter siswa terutama nilai agama Islam. Ada beberapa poin yang menjadi perhatian dalam proses implementasi pendidikan karakter pada siswa SMA yaitu: Pada dasarnya ada dua tahap yang harus dilakukan oleh pihak sekolah dalam hal ini, yaitu tahap perencanaan dan pelaksanaan. Termasuk di dalamnya adalah proses sosialisasi kepada semua elemen yang berkaitan untuk nantinya melakukan implementasi dengan baik. Semua bagian sekolah mulai dari kepala sekolah sampai ke para guru dan staff harus diberikan sosialisasi dengan baik agar nantinya mampu mengikuti budaya mengenai nilai karakter yang harus dikembangkan di lingkungan sekolah. Dalam proses implementasi pendidikan karakter ini maka perlu dilakukan pengondisian lingkungan sekolah, kelas dan membiasakan karakter serta budaya dalam menanamkan pendidikan karakter pada masing-masing siswa. Interaksi antar siswa dalam menerapkan nilai karakter yang telah didapatkannya di sekolah. Implementasi pendidikan karakter harus masuk dalam setiap mata pelajaran, hal ini akan berkaitan dengan pembiasaan nilai dan budaya yang dikembangkan sekolah untuk dibiasakan kepada para siswa secara aktif. Setiap hasil pembelajaran tentu perlu dilakukan evaluasi untuk mengetahui bagaimana pengaruh dari masuknya nilai pendidikan karakter dapat memberikan dampak yang positif bagi para siswa. Memberikan contoh dari teladan rasul dan ahli hikmah lainnya akan menjadi motivasi para siswa untuk mengetahui secara Islam apa yang sebaiknya dilakukan dan tidak. Sehingga nilai karakter yang masuk dalam hal ini akan memberikan gambaran mengenai bagaimana harus bersikap dengan baik sesuai ajaran agama. Tentunya beberapa hal tersebut juga harus menyesuaikan diri dengan kurikulum yang ditetapkan untuk sekolah menengah atas saat ini. Guru juga harus berperan dalam memberikan motivasi kepada parasiswa agar mereka mampu menunjukkan karakter yang baik sesuai nilai yang diajarkan dalam pendidikan karakter di sekolah. Dengan begitu anda sebagai guru juga akan lebih mudah dalam melakukan evaluasi terhadap hasil implementasi tersebut. Penanaman nilai karakter islami kepada para siswa tentu juga bagaimana seluruh elemen sekolah mendukung hal tersebut. Maka perlu adanya aturan dan budaya sekolah yang menerapkan karakter islami ini maka akan semakin mudah kebiasaan tersebut menjadi hal yang dipegang dengan baik oleh siswa. Dengan begitu nantinya selepas selesai sekolah mereka sudah secara otomatis bisa menerapkan nilai-nilai karakter yang didapatkannya. Pendidikan Karakter Tidak Harus Formal Penerapan atau proses implementasi dari pendidikan karakter di sekolah memang bisa dilakukan dengan berbagai cara. Kreativitas guru dalam menanamkan nilai karakter yang baik pada para siswa tentu saja menjadi salah satu faktor pendukung dalam memaksimalkan hasil implementasi yang dilakukan. Sehingga nantinya hasil evaluasi terhadap penerapan nilai karakter siswa akan lebih optimal. Pendidikan karakter bisa diberikan dalam cara-cara yang lebih santai namun dapat diterima dengan baik oleh para siswa nantinya. Apalagi untuk bisa memberikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan para siswa tentu harus ada berbagai dasar yang diberikan dengan benar agar pegangan nilai yang diingat sudah sesuai dengan syariat agama yang berlaku. Dengan begitu setiap pembelajaran nilai pendidikan karakter mampu diimplementasikan secara tepat. Memberikan sisipan uangkapan bijak atau kata mutiara termasuk hadits serta sunnah bisa diterapkan secara perlahan. Sedikit demi sedikit akan memberikan pengaruh yang tertancap dalam pikiran para siswa. Tentunya anda sebagai guru juga harus melihat bagaimana perubahan karakter siswa setelah diberikan implementasi pendidikan karakter. Sehingga dari hasil evaluasi yang didapatkan dapat dilakukan perubahan penerapan pendidikan karakter pada siswa jika diperlukan.