Universitas KH. A. Wahab Hasbullah

Author: admin

PONDOK RAMADHAN di UNWAHA

Diberitahukan kepada seluruh mahasiswa/i Universitas KH. A. Wahab Hasbullah semester II diwajibkan untuk mengikuti kegiatan Pondok Ramadhan yang dilaksanakan mulai Minggu Tanggal 13 s/d 19 Mei 2019. Pelaksanaan kegiatan tersebut dibagi dalam tiap fakultas. NO HARI/TANGGAL FAKULTAS 1 Senin, 13 Mei 2019 Fakultas Teknologi Informasi (FTI) 2 Selasa, 14 Mei 2019 Fakultas Pendidikan (FP) 3 Kamis, 16 Mei 2019 Fakultas Ilmu Pertanian (FIP) 4 Sabtu, 18 Mei 2019 Fakultas Ekonomi (FE) 5 Ahad, 19 Mei 2019 Fakultas Agama Islam (FAI)   Penutupan Pondok Ramadhan dilaksanakan pada Hari Senin Tanggal 20 Mei 2019 dengan dihadiri oleh seluruh Fakultas. Adapun rincian kegiatan sebagai berikut. NO WAKTU KEGIATAN 1 08:00 – 10:00 Materi 1 2 10:00 – 12:00 Materi 2 3 12:00 – 13:00 Sholat Dhuhur berjamaah dan Istirahat 4 13:00 – 15:00 Materi 3 5 15:00 – 15:30 Sholat Ashar berjamaah 6 15:30 – 17:00 Materi 4 7 17:00 – Magrib Persiapan buka bersama dan Sholat Magrib 8 18:30 – 20:30 Sholat Tarawih berjamaah 9 20:30 Pulang   Demikian pemberitahuan dibuat, atas perhatian dan partisipasinya disampaikan terima kasih.    

PERSEPSI BERBAGAI ELEMEN SEKOLAH TERKAIT REGULASI PENDIDIKAN TERKINI

Tentu regulasi pendidikan yang hingga saat ini masih menuai perdebatan adalah adanya aturan 5 hari kerja dan full day untuk siswa sekolah menengah. Hal ini memang menimbulkan berbagai pertimbangan tidak hanya bagi para siswa dan orang tua tetapi juga semua staff dan elemen di sekolah. Sehingga memang perlu adanya evaluasi yang tepat terkait efektifitas regulasi diterapkan di berbagai tingkat pendidikan. Implementasi Peraturan 5 Hari Kerja Pada dasarnya pihak pemerintah tentunya sudah melakukan beragam pertimbangan untuk akhirnya memutuskan untuk mengambil regulasi 5 hari kerja ini. Jadi pihak sekolah memang tinggal mengikuti aturan yang berlaku dan telah ditentukan. Dalam penerapan sebuah kebijakan tentu saja ada beragam faktor yang dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan yang dapat dicapai dari implementasi kebijakan tersebut. Sebuah kebijakan tentu tidak akan bisa berjalan sendirian karena diperlukan dukungan dari berbagai faktor lainnya yang juga saling menguntungkan. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi implementasi kebijakan adalah sebagai berikut: Rumusan atau kalimat yang digunakan dalam kebijakan tersebut apakah memang sudah tepat atau belum pada sasaran serta jelas tujuannya. Kemudahan kebijakan untuk dipahami oleh berbagai pihak tentu menjadi salah satu faktor yang penting untuk dipertimbangkan. Personil pelaksana harus memiliki komitmen, pengalaman, motivasi dan kerjasama yang baik untuk bisa melaksanakan kebijakan yang telah ditentukan. Dengan begitu akan lebih mudah mencapai tingkat keberhasilan implementasi kebijakan yang diharapkan. Jaringan sistem, model distribusi pekerjaan serta peraturan organisasi harus jelas sampai ke metode monitoring yang digunakan untuk melakukan evaluasi program. Sistem yang jelas dan teratur tentu akan mendukung secara optimal berbagai kebijakan yang dilaksanakan dengan dukungan semua elemen yang ada di sekolah. Ketiga faktor tersebut harus dipertimbangkan dengan baik serta dilakukan secara optimal agar dapat memberikan efek yang tepat dan optimal. Setiap target yang telah ditentukan untuk implementasi kebijakan harus bisa diselesaikan sesuai waktu yang telah ditentukan. Dengan begitu tingkat keberhasilan kebijakan di sekolah ini bisa mencapai titik optimal sesuai dengan harapan awal pemberian kebijakan. Selain beberapa faktor tersebut ternyata ada dukungan lain yang penting untuk dipertimbangkan yaitu kondisi ekonomi, sosial dan politik, adanya komunikasi antar organisasi dan pelaksana, sumber daya kebijakan serta standar dan tujuan kebijakan. Faktor pendukung tersebut akan membantu untuk memaksimalkan pelaksanaan menjadi lebih terorganisasi secara optimal. Pihak sekolah juga akan lebih mudah untuk melakukan penerapan serta pengawasannya. Persepsi Warga Sekolah Terkait Regulasi Persepsi yang dimiliki oleh siswa, guru dan karyawan tentunya berbeda menurut pertimbangan masing-masing dalam menjalankan kebijakan 5 hari kerja di sekolah ini. Tentunya kesiapan dan bagaimana persepsi yang dimiliki oleh setiap warna sekolah sangatlah penting untuk bisa meminimalisasi adanya berbagai kendala yang mungkin terjadi selama proses implementasi kebijakan 5 hari kerja ini. Berikut beberapa persepsi yang dimiliki oleh setiap warga sekolah terkait regulasi yang sudah berjalan ini berdasarkan sebuah penelitian: Dari pihak guru secara dari segi pengetahuan, sikap dan perasaan masuk ke dalam kategori tidak setuju. Tentunya dengan pertimbangan sebagai seorang guru ada berbagai tekanan atau tuntutan yang harus diselesaikan dengan adanya regulasi ini. Persepsi dari pihak siswa pada dasarnya secara pengetahuan setuju dengan regulasi ini, namun sikap dan perasaannya tidak setuju. Regulasi 5 hari kerja ini memang memberikan waktu libur lebih panjang di akhir pekan tetapi mengharuskan mereka untuk memiliki waktu belajar lebih lama di hari biasa. Menurut persepsi karyawan juga masuk ke kategori tidak setuju baik dari segi sikap, perasaan, pengetahuan maupun jam kerjanya. Bantuan dari setiap karyawan di sekolah memang menjadi pendukung untuk bisa memaksimalkan optimalnya pencapaian tujuan regulasi yang harus diikuti oleh pihak sekolah tentunya. Adanya persepsi dari setiap warga sekolah tersebut tentunya perlu untuk dipertimbangkan dengan baik. Meskipun memang ada persepsi tidak setuju dengan adanya regulasi 5 hari kerja ini namun ternyata hal tersebut tidak mempengaruhi pelaksanaannya meskipun memang belum sempurna. Hal ini harus diperbaiki secara optimal agar tujuan dari regulasi ini bisa dicapai sesuai harapan sebelumnya. Memang diperlukan aturan dan organisasi yang tepat untuk bisa membagi tugas dengan baik, apalagi jam kerja di hari biasa akan bertambah. Maka adanya tuntutan lebih untuk setiap warga sekolah harus diatur sebaik mungkin agar semua pihak merasakan keuntungan bukan tekanan yang semakin menumpuk dengan adanya regulasi ini. Penting bagi pihak sekolah untuk mengatur dan merencanakan segalanya secara detail. Hubungan Regulasi Pendidikan dan Hasil Belajar Adanya kebijakan dari pihak pemerintah untuk bidang pendidikan tentu memiliki kaitan yang besar dengan bagaimana hasil belajar para siswa. Setiap siswa apalagi anak sekolah menengah tentunya membutuhkan waktu untuk belajar lebih banyak hal tidak hanya secara akademik. Optimalnya hasil belajar dari para siswa dalam mengikuti program belajar dari pemerintah akan sangat berkaitan dengan motivasi belajarnya. Sebuah kebijakan dibuat untuk memiliki tujuan, aspel legal dan konsep operasional yang jelas. Tentunya regulasi ini dibuat oleh orang yang berwenang dan bisa dievaluasi dengan baik untuk melihat bagaimana hasil implementasinya. Kebijakan memiliki fungsi yang sangat penting dalam perkembangan dunia pendidikan karena tentunya bagaimana sistem belajar yang didapatkan seorang siswa juga berkaitan dengan kebijakan yang harus diikuti. Setiap kebijakan yang telah dibuat tentunya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Namun dalam hal ini, kebijakan 5 hari kerja ternyata sedikit memberikan tekanan untuk beberapa pihak. Selain jam kerja yang bertambah di hari biasa tentu saja ada perasaan lelah untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai peraturan tersebut. Tentu saja setiap sekolah harus mengikuti peraturan yang sudah ditetapkan. Peningkatan mutu pendidikan di Indonesia tentu tidak bisa hanya dibebankan pada siswa dan warga sekolah lainnya tetapi juga dukungan penuh dari orang tua siswa. Tingkat profesionalisme guru dalam memberikan pengajaran dan membentuk nilai karakter pada masing-masing siswa tentu menjadi hal yang juga penting untuk dipertimbangkan agar hasil belajar siswa bisa dicapai secara optimal, begitu juga dengan tujuan dibuatnya kebijakan ini.

Pendataan Warga NU melalui Software Terintegrasi Buatan Mahasiswa UNWAHA

Jombang – Mahasiswa Universitas KH. A Wahab Hasbullah yang mayoritas warga Nadhatul Ulama (NU) turut menyumbangkan kemampuannya di bidang IT dalam membuat suatu produk yang bermanfaat bagi warga NU di Jombang pada khususnya. Produk tersebut berupa software pendataan terintegrasi buatan mahasiswa Teknik Informatika. Pendataan dilakukan pada hari Ahad siang (28/4) di Auditorium UNWAHA. Sebanyak 250 tamu dari pengurus NU se MWC (majelis wakil Cabang Nadhatul Ulama) Jombang kota turut menghadiri dan mengikuti pendataan tersebut. Pendataan dimulai dari MWC Jombang kota dan dilanjutkan dengan MWC wilayah lainnya. Acara tersebut dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Kemaasiswaan, Dr. KH. Muhyidin Zainul Arifin, M.M. melalui sambutannya yang berpesan kepada mahasiswa untuk selalu mengabdikan dan mengembangkan ilmu yang diperoleh di kampus tercinta ini melalui kegiatan semacam ini dan mendorong para mahasiswa untuk terus berinovasi. Ketua PCNU Kabupaten Jombang, KH. Salman Yazid dalam sambutannya menyebutkan bahwa PCNU memerlukan data yang valid terkait program dan agenda rutin PCNU. “Pendataan ini tidak hanya untuk sarana tertib administrasi data, namun lebih jauh lagi yaitu untuk kepentingan dunia dan akhirat”, ungkap Pengasuh Pondok Pesantren Babussalam Mojoagung. kegiatan tersebut berlangsung lancar dan lebih kondusif karena jadwal pendataan dilaksanakan setelah pemilu usai. Keputusan jadwal tersebut diapresiasi oleh kedua belah pihak baik dari warga NU maupun civitas akademika UNWAHA mengingat situasi politik saat itu. Harapan mahasiswa, software mereka dapat bermanfaat bagi warga NU di seluruh kabupaten Jombang.

PENGUMUMAN UJIAN AKHIR SEMESTER GENAP TAHUN AKADEMIK 2018/2019

Diberitahukan kepada seluruh mahasiswa/i Universitas KH. A. Wahab Hasbullah Tambakberas Jombang bahwa pelaksanaan Ujian Akhir Semester (UAS) Genap Tahun Akademik 2018/2019 akan dilaksanakan pada Hari Sabtu 11 Mei s/d Kamis 16 Mei 2019. Adapun persyaratan mengikuti UAS adalah sebagai berikut: Wajib mengumpulkan KHS semester sebelumnya (semester III s/d VII) bagi yang belum. Wajib mencetak kartu UAS di sia.unwaha.ac.id bagi mahasiswa semester II s/d VI. Semester VIII melunasi biaya perkuliahan di semester ini, biaya UAS & biaya kuliah sebelumnya. Pembayaran Bank Mandiri Syariah dengan no. rekening 7123999996 an. UNWAHA paling lambat Hari Kamis 9 Mei 2019. (kartu Ujian dapat di ambil di fakultas masing-masing) Berpakaian rapi (atas putih, bawa hitam, bersepatu dan memakai almamater) pengumuman UAS dapat diunduh di sini  

PMI-UNWAHA, AKSI PEDULI SESAMA

JOMBANG-dalam rangka Islamic Fun 2019 Festival, Korps Sukarela Palang Merah Indonesia bersama Universitas KH. A. Wahab Hasbullah menyelenggarakan aksi peduli sesama. Berlokasi di Gedung D UNWAHA pada tanggal 9 April 2019, PMI Kabupaten Jombang bekerja sama dengan Universitas KH. A. Wahab Hasbullah mengadakan Agenda donor darah sebagai perwujudan kepedulian, kegiatan amal dan sosia dengan tema “Setetes Darahmu Berguna untuk Keselamatan Bangsa”. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan menyatakan bahwa agenda donor darah ini merupakan wujud kepedulian terhadap sesama. “Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi saudara kita yang membutuhkan sebagai bentuk kepedulian kita. Di sisi lain, donor darah pada hakikatnya membuat tubuh kita semakin sehat”, terang Dr. KH. Muhyidin Zainul Arifin, M.M. Tak hanya mengajak para dosen untuk mengikuti donor darah, beliaupun juga turut menjadi pendonor (foto berpose jempol:red) sebagai bentuk motivasi dosen dan staff UNWAHA. Petugas PMI menerangkan beberapa manfaat mendonor darah antara lain: (1) mengurangi resiko penyakit kanker dan jatung; (2) membakar kalori; dan (3) lebih sehat secara psikologis. Peran serta civitas akademika UNWAHA beserta antusias mahasiswa sangat membantu atas keberlangsungan dan kelancaran agenda ini. Salah satu pendonor dari mahasiswa FAI semester IV mengungkapkan bahwa kegiatan ini ternyata membuat ia semakin merasa bermanfaat bagi sesama. “Saat pertama mendaftar memang sempat ragu, namun sosialisasi yang baik dari petugas PMI membuat saya yakin dan berpikir bagaimana jika nanti saya dalam kondisi yang membutuhkan transfusi darah,” ujar Mahmudi. sebagai penanggung jawab kelas, Ia berpesan kepada temannya untuk tidak pernah takut menjadi pendonor darah.

SOFTSKILL YANG DIBUTUHKAN SAAT INI SELAIN PRESTASI AKADEMIK

Dalam proses perkembangan seorang siswa SMA/MA untuk menghadapi tantangan hidup di masyarakat dan pekerjaan tentu saja tidak bisa hanya dibekali dengan kemampuan akademik. Untuk itu diperlukan adanya Softskill yang dimiliki oleh siswa tersebut agar lebih siap menghadapi tantangan selanjutnya. Bahkan ketika nantinya masuk ke dunia perkuliahan tentunya tetap ada beberapa Softskill yang harus diaplikasikan dengan baik. Softskill yang Dibutuhkan Dunia Kerja Dunia kerja dan bermasyarakat tentu tidak cukup hanya dengan memiliki kemampuan atau nilai akademik yang bagus. Jika tidak diimbangi dengan Softskill lainnya tentu saja seorang anak bisa saja tenggelam dan tidak berkembang. Adanya berbagai tantangan yang meningkat baik di dunia perkuliahan maupun pekerjaan membuat siswa SMA/MA juga harus memiliki bekal Softskill yang dipelajari dengan baik sejak masa sekolah. Berikut beberapa Softskill yang memang diperlukan untuk mengembangkan diri siswa di kehidupan selanjutnya: Melakukan komunikasi interpersonal untuk memposisikan diri dalam berbagai situasi terutama di dalam sebuah tim. Kemampuan komunikasi ini juga akan membantu untuk bisa mengatasi berbagai masalah yang terjadi di dalam sebuah kelompok sehingga tujuan tim bisa dicapai secara lebih optimal. Manajemen untuk melakukan perencanaan serta melakukan eksekusi terhadap poin yang sudah direncanakan. Setiap individu harus belajar untuk memiliki kemampuan manajemen yang optimal untuk setidaknya mengatur kebutuhan diri sendiri untuk para siswa. Kemampuan untuk beradaptasi dengan berbagai tempat, situasi dan lingkungan sekitarnya. Perbedaan budaya, nilai dan aturan harus diikuti dengan baik agar siswa nantinya bisa diterima dengan baik dalam berbagai lingkungan kerja ataupun sekolah lanjutannya nanti. Kemampuan untuk menyelesaikan masalah secara kritis dan bijak. Tentu hal ini perlu dipelajari dengan mengikuti organisasi yang akan membantu untuk mengembangkan kemampuan dalam mencari jalan keluar dari setiap masalah atau kendala yang harus dihadapi. Softskill untuk problem solving ini akan membiasakan siswa untuk tidak pernah menyerah. Dari sejak muda siswa harus memiliki etos kerja yang baik dan perlu memahami arti kerja keras yang sesungguhnya. Dalam agama Islam tentu mengenai etos kerja ini juga banyak dibahas dan harus dicontoh dengan baik oleh para siswa sebagai bekal kehidupannya nanti. Kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik tidak hanya dalam menyampaikan argumen menurut pendapatnya tetapi juga mau mendengarkan orang lain dalam sebuah diskusi Faktor yang Mempengaruhi Softskill Siswa Softskill yang ditanamkan pada siswa tentunya tidak bisa secara instan didapatkan dan terbawa dalam kebiasaan diri para siswa. Tetapi Softskill tersebut membutuhkan berbagai faktor lainnya yang akan mendukung ketercapaian pengembangan Softskill pada siswa. Memberikan pelatihan atau dorongan kegiatan lain di luar kegiatan akademik tentunya menjadi pilihan bagi pihak sekolah untuk mengembangkan kemampuan siswa.Berikut beberapa faktor yang akan mempengaruhi peningkatan Softskill para siswa yaitu: Minat yang dimiliki oleh para siswa akan mempengaruhi bagaimana suatu pembelajaran dapat diterima dengan baik. Tentu saja hal ini bisa dikembangkan dengan memberikan sarana untuk setiap minat yang disukai para siswa. Self monitoring dalam melakukan penyesuaian perilaku terhadap berbagai aturan dan situasi dari lingkungan yang ada di sekitarnya. Setiap siswa harus memiliki kesadaran untuk mengetahui apa yang salah dan benar untuk dilakukan sesuai dengan adab yang seharusnya dilakukan anak seusia mereka. Konsep diri tentu akan mengatur bagaimana tingkah laku seorang siswa bisa secara positif mengembangkan kemampuan yang dimilikinya. Termasuk bagaimana keberanian untuk mengungkapkan pendapat di depan orang lain dan menyesuaikan diri dengan berbagai tantangan yang ada. Pentingnya kehidupan yang seimbang antara kegiatan akademik dengan non akademik akan melengkapi proses pengembangan kemampuan siswa terutama dari segi Softskill yang didapatkan. Menghabiskan masa sekolah dengan keseimbangan kegiatan non akademik tentunya akan menjadi hal yang disukai oleh para siswa dan mendapatkan banyak pelajaran meskipun secara tidak langsung. Pada dasarnya secara teori setiap orang memiliki dasar Softskill dalam dirinya, namun kebiasaan bergaul serta kebiasaan berpikir akan membuat perkembangannya berbeda untuk setiap individu. Oleh karena itu, setiap siswa harus diberikan kesempatan untuk melakukan kegiatan non akademik sesuai minatnya dengan dukungan yang optimal dari berbagai pihak di lingkungannya. Jadi nantinya siswa dapat merasakan perkembangan kemampuannya secara tidak langsung. Kegiatan ekstrakurikuler menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan oleh pihak sekolah karena kegiatan tersebut merupakan wadah untuk mengembangkan Softskill para siswa. Fasilitas dan dukungan yang optimal tentunya perlu dilakukan oleh setiap warga sekolah agar tujuan untuk memberikan pengembangan karakter siswa secara akademik dan non akademik dapat tercapai dengan baik dan optimal tentunya.   Budaya Sekolah dan Pengembangan Softskill Siswa Dikarenakan adanya pengembangan Softskill siswa tidak bisa didapatkan hanya dari kegiatan akademik tetapi justru berbagai kegiatan non akademik. Maka budaya yang dikembangkan oleh pihak sekolah juga akan menjadi pendukung pengembangan kemampuan non akademik siswa. Adanya kesempatan siswa untuk mengungkapkan pemikirannya adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan. Lingkungan belajar menjadi bagian dari perkembangan Softskill yang bisa didapatkan seorang siswa. Budaya penting yang harus dikembangkan di sekolah tentu harus memiliki nilai agama Islam, nilai disiplin, nilai kerjasama dan adanya apresiasi yang diberikan terhadap prestasi yang bisa dicapai oleh setiap siswa. Dengan budaya seperti itu maka akan ada motivasi lebih untuk mengembangkan minat siswa di bidang non akademik sesuai keinginan masing-masing. Pengembangan kultur sekolah yang baik tentu juga akan bergantung pada kebijakan yang diterapkan di dalam sekolah tersebut. Sekolah tidak hanya bisa berfokus pada kegiatan akademik tetapi juga membangun lingkungan yang optimal untuk perkembangan kemampuan siswa secara utuh. Tentunya ini akan menjadi bekal kehidupan bagi setiap siswa yang sangat bermanfaat untuk perkembangan diri siswa masing-masing. Untuk anak SMA/MA Softskill yang harus dimiliki adalah kemampuan untuk bersosialisasi, berkomunikasi dan bekerjasama dengan baik berdasarkan kebiasaan berpikir, bertindak dan bersikap sehari-hari. Meskipun memang karakter setiap anak berbeda, namun kaidah agama dan norma lingkungan tentu harus tetap menjadi pegangan yang harus diperhatikan dengan baik agar sikap mereka dapat diterima oleh masyarakat secara luas nantinya.

PENERAPAN PENDIDIKAN BERKARAKTER DI SEKOLAH MENENGAH

Sekolah memang menjadi tempat dan wadah bagi para siswa untuk terus mengembangkan diri dari berbagai sisi. Adanya penerapan pendidikan karakter di sekolah tentunya juga akan mempengaruhi pribadi setiap siswa dalam bersikap, mengambil keputusan serta memiliki karakter yang sesuai dengan ajaran yang berlaku. Dalam hal ini penerapan pendidikan karakter berbasis agama tentunya akan sangat penting untuk diberikan bagi para siswa. Media Implementasi Pendidikan Karakter Tentu saja setiap sekolah dalam memberikan pendidikan bagi para siswanya harus mengikuti peraturan yang telah ditetapkan oleh pihak pemerintah. Salah satu regulasi yang ditetapkan adalah penerapan nilai-nilai karakter dalam pembelajaran siswa. Pembentukan karakter siswa ini apalagi untuk siswa SMA tentunya akan memberikan bekal bagi kehidupan mereka selanjutnya menghadapi masyarakat dan dunia kerja. Nilai karakter untuk agama akan melengkapi moral, etika hingga budaya yang memang seharusnya ada dalam diri masing-masing siswa. Penanaman nilai karakter ini akan ikut membangun kepribadian siswa dalam menghadapi berbagai tantangan dalam hidupnya. Sehingga nantinya mereka sudah siap menghadapi dunia masyarakat dan pekerjaan dengan kepribadian luhur, bermoral dan berakhlak baik sebagaimana nilai yang diterapkan semasa masih di sekolah. Nilai-nilai karakter di sekolah dapat diimplementasikan melalui beberapa hal sebagai berikut: Pendidikan karakter dalam pembelajaran dilakukan dengan menggunakan strategi khusus yang akhirnya dapat memberikan pembelajaran karakter di dalam mata pelajaran di kelas. Pendidikan karakter dalam kurikulum yang memang sudah standar dari pemerintah tentu harus diterapkan dengan baik. Dengan begitu setiap nilai karakter yang harus ada di sekolah bisa diterapkan serta diterima dengan baik oleh para siswa. Pendidikan karakter dalam budaya sekolah akan membiasakan siswa secara perlahan untuk menerapkan karakter yang baik termasuk nilai agama dalam kehidupannya, dengan begitu nantinya para siswa memiliki bekal karakter terutama dalam penekanan nilai-nilai agama secara lebih mendalam. Dalam proses penerapan karakter di skeolah tentunya semua elemen harus bekerjasama dengan baik. Para siswa harus diberikan strategi yang tepat untuk bisa mengembangkan karakternya seoptimal mungkin sesuai dengan yang diharapkan sebelumnya. Setiap aturan tentunya dibuat untuk bisa memberikan dampak yang positif terhadap perkembangan karakter siswa selama berada di sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. Proses Impelementasi Pendidikan Karakter Tentu saja dalam proses melaksanakan pendidikan karakter di sekolah tidak serta merta bisa secara langsung merubah kebiasaan para siswa. Maka dalam hal ini pentingnya sebuah proses untuk membiasakan secara perlahan satu persatu nilai karakter tersebut dapat masuk ke kebiasaan hidup para siswa. Sehingga ada standar keberhasilan yang didapatkan sekolah terhadap penerapan berbagai nilai karakter siswa terutama nilai agama Islam. Ada beberapa poin yang menjadi perhatian dalam proses implementasi pendidikan karakter pada siswa SMA yaitu: Pada dasarnya ada dua tahap yang harus dilakukan oleh pihak sekolah dalam hal ini, yaitu tahap perencanaan dan pelaksanaan. Termasuk di dalamnya adalah proses sosialisasi kepada semua elemen yang berkaitan untuk nantinya melakukan implementasi dengan baik. Semua bagian sekolah mulai dari kepala sekolah sampai ke para guru dan staff harus diberikan sosialisasi dengan baik agar nantinya mampu mengikuti budaya mengenai nilai karakter yang harus dikembangkan di lingkungan sekolah. Dalam proses implementasi pendidikan karakter ini maka perlu dilakukan pengondisian lingkungan sekolah, kelas dan membiasakan karakter serta budaya dalam menanamkan pendidikan karakter pada masing-masing siswa. Interaksi antar siswa dalam menerapkan nilai karakter yang telah didapatkannya di sekolah. Implementasi pendidikan karakter harus masuk dalam setiap mata pelajaran, hal ini akan berkaitan dengan pembiasaan nilai dan budaya yang dikembangkan sekolah untuk dibiasakan kepada para siswa secara aktif. Setiap hasil pembelajaran tentu perlu dilakukan evaluasi untuk mengetahui bagaimana pengaruh dari masuknya nilai pendidikan karakter dapat memberikan dampak yang positif bagi para siswa. Memberikan contoh dari teladan rasul dan ahli hikmah lainnya akan menjadi motivasi para siswa untuk mengetahui secara Islam apa yang sebaiknya dilakukan dan tidak. Sehingga nilai karakter yang masuk dalam hal ini akan memberikan gambaran mengenai bagaimana harus bersikap dengan baik sesuai ajaran agama. Tentunya beberapa hal tersebut juga harus menyesuaikan diri dengan kurikulum yang ditetapkan untuk sekolah menengah atas saat ini. Guru juga harus berperan dalam memberikan motivasi kepada parasiswa agar mereka mampu menunjukkan karakter yang baik sesuai nilai yang diajarkan dalam pendidikan karakter di sekolah. Dengan begitu anda sebagai guru juga akan lebih mudah dalam melakukan evaluasi terhadap hasil implementasi tersebut. Penanaman nilai karakter islami kepada para siswa tentu juga bagaimana seluruh elemen sekolah mendukung hal tersebut. Maka perlu adanya aturan dan budaya sekolah yang menerapkan karakter islami ini maka akan semakin mudah kebiasaan tersebut menjadi hal yang dipegang dengan baik oleh siswa. Dengan begitu nantinya selepas selesai sekolah mereka sudah secara otomatis bisa menerapkan nilai-nilai karakter yang didapatkannya. Pendidikan Karakter Tidak Harus Formal Penerapan atau proses implementasi dari pendidikan karakter di sekolah memang bisa dilakukan dengan berbagai cara. Kreativitas guru dalam menanamkan nilai karakter yang baik pada para siswa tentu saja menjadi salah satu faktor pendukung dalam memaksimalkan hasil implementasi yang dilakukan. Sehingga nantinya hasil evaluasi terhadap penerapan nilai karakter siswa akan lebih optimal. Pendidikan karakter bisa diberikan dalam cara-cara yang lebih santai namun dapat diterima dengan baik oleh para siswa nantinya. Apalagi untuk bisa memberikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan para siswa tentu harus ada berbagai dasar yang diberikan dengan benar agar pegangan nilai yang diingat sudah sesuai dengan syariat agama yang berlaku. Dengan begitu setiap pembelajaran nilai pendidikan karakter mampu diimplementasikan secara tepat. Memberikan sisipan uangkapan bijak atau kata mutiara termasuk hadits serta sunnah bisa diterapkan secara perlahan. Sedikit demi sedikit akan memberikan pengaruh yang tertancap dalam pikiran para siswa. Tentunya anda sebagai guru juga harus melihat bagaimana perubahan karakter siswa setelah diberikan implementasi pendidikan karakter. Sehingga dari hasil evaluasi yang didapatkan dapat dilakukan perubahan penerapan pendidikan karakter pada siswa jika diperlukan.

PERAN GURU DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERFIKIR KRITIS SISWA

Dalam proses belajar siswa tentu saja guru memiliki peran penting untuk ikut membentuk karakter siswa yang kritis dalam menghadapi berbagai situasi. Kemampuan berpikir secara kritis tentu saja tidak bisa didapatkan secara instan tetapi harus dibiasakan dan ditanamkan dengan baik. Ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk membangun kebiasaan berpikir kritis bagi siswa terutama siswa SMA yang akan menghadapi dunia selanjutnya. Konsep Berpikir Kritis Berpikir kritis sendiri menurut ahli memiliki tingkat kepentingan yang hampir sama dengan menulis dan membaca sebagai kompetensi akademis. Maka secara definisi, berpikir kritis ini merupakan interpretasi serta evaluasi dalam melakukan observasi, menangkap informasi, melakukan komunikasi serta berargumentasi secara aktif. Tentu saja hal ini menjadi salah satu alasan mengapa penting memiliki kemampuan untuk berpikir secara kritis. Penting bagi seorang guru untuk memberikan teknik pembelajaran pada para siswa yang titik fokusnya adalah mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Dengan begitu akan ada berbagai keuntungan yang bisa didapatkan yaitu sebagai berikut: Membantu untuk meningkatkan semangat belajar siswa dan guru selama proses pembelajaran. Dengan membiasakan siswa berpikir secara kritis maka nantinya apapun yang dipelajari akan menempel lebih lama dalam pikiran siswa, sehingga mencapai tujuan pembelajaran secara optimal. Siswa akan terlatih untuk memiliki kemampuan dalam menyelesaikan masalah yang diawali pada saat belajar di sekolah kemudian terbiasa untuk melakukannya dengan berbagai tantangan hidup di luar lingkungan sekolah. Sikap ilmiah akan dimiliki siswa yang mau berusaha untuk mencari jawaban atas segala rasa penasarannya akansesuatu hal. Dengan begitu informasi yang didapatkan akan lebih mendalam serta menyeluruh sebagai pengetahuan bagi para siswa. Berbagai keuntungan tersebut bisa didapatkan jika para guru mampu untuk memaksimalkan bagaimana cara agar siswa mampu berpikir secara kritis. Keaktifan setiap anak untuk mengoptimalkan sikap kritisnya memang berbeda-beda, namun tentunya bisa dilatih agar terus berkembang dan menjadi kemampuan yang bisa dimanfaatkan siswa dalam kehidupan di masyarakat serta menghadapi beragam jenis tantangan atau masalah. Kesulitan Guru dalam Membentuk Cara Berpikir Kritis Setiap siswa tentu memiliki karakter yang berbeda dengan pola berpikirnya masing-masing, tentunya hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para guru untuk bisa menciptakan suasana kelas yang kondusif. Belum lagi untuk bisa membangun sikap berpikir yang kritis dari para siswa tentunya diperlukan teknik yang tepat agar hasilnya lebih optimal sesuai yang diharapkan.Ada beberapa kendala yang harus diatasi guru di dalam sebuah kelas yaitu: Mudahnya para siswa bereaksi terhadap berbagai hal yang negatif di sekitarnya. Terjadinya reaksi negatif terhadap kelompok dan tentunya mengganggu jalannya proses pembelajaran di dalam kelas. Kurangnya kesatuan serta tidak ada standar perilaku di dalam kelas. Standar atau adab perilaku siswa ini tentunya harus diatur dengan baik dan ditentukan secara tegas untuk ditaati oleh setiap siswa. Adanya moral kurang baik serta permusuhan yang terjadi. Sehingga terkadang seorang guru juga harus peka terhadap perilaku masing-masing siswanya yang mungkin terlihat negatif satu sama lain. Siswa dalam kelas mentoleransi adanya kesalahan yang dilakukan teman lainnya, bahkan mendukung dan mendorong perilaku tersebut. Untuk meminimalisasi kendala di dalam kelas, maka seorang guru harus mencari cara yang tepat agar dapat mengendalikan kelas seoptimal mungkin. Tidak hanya berpikir kritis terhadap berbagai permasalahan atau topik yang sedang dibahas oleh guru tetapi juga pada hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Maka nantinya kemampuan untuk berpikir kritis para siswa tidak hanya untuk kepentingan akademik tetapi juga sosialnya. Jika perhatian para siswa tertuju pada guru dan sistem pembelajaran yang dilakukan maka akan lebih mudah untuk membangun kemampuan berpikirnya. Anda perlu membuat suasana kelas yang menyenangkan serta mendorong setiap siswa untuk bisa berpikir lebih kritis dan secara aktif menyampaikan apa yang ada di dalam pemikirannya. Sehingga meskipun memiliki daya pikir yang berbeda setidaknya sikap kritis sudah mulai berkembang. Perkembangan Berpikir Kritis Pada Siswa Seorang siswa dapat dikatakan sudah memiliki sikap berpikir kritis tentu saja setelah memenuhi beberapa persyaratan khusus. Maka persyaratan tersebut perlu ditanamkan sedikit demi sedikit agar nantinya semakin berkembang kemampuan tersebut dalam diri setiap siswa untuk bekal dalam menghadapi kehidupan di masyarakat nantinya, sehingga mereka memiliki kemampuan yang mumpuni masuk ke dunia pekerjaan.Ciri-ciri berpikir kritis pada siswa adalah sebagai berikut: Mampu untuk membedakan antara informasi yang relevan dan tidak terhadap permalasahan atau topik yang ingin diketahui. Tentunya untuk itu siswa perlu mengaitkan antara satu informasi dengan lainnya agar lebih mudah untuk melihat mana yang relevan dan tidak. Ketentuan untuk memilih fakta dalam menentukan pernyataan sebagai bahan pertimbangan yang baik. Mampu melakukan identifikasi terhadap berbagai fakta atau poin yang tidak sesuai dan tidak dapat dipercaya. Melakukan identifikasi terhadap munculnya kalimat atau pernyataan yang samar atau kurang jelas. Bisa mengetahui jika ada poin yang berbeda namun masuk akal dalam pemikiran siswa. Hal yang berbeda belum tentu buruk, tetapi bisa jadi justru mendukung pemikiran yang baru, hal ini perlu dipahami dengan baik oleh para siswa dengan bantuan dari para guru. Dapat menguatkan argumen yang sesuai dengan pemikirannya setelah melakukan proses identifikasi terutama kemampuan untuk membedakan antara informasi yang tepat sesuai fakta yang didapatkan. Siswa harus terus berusaha untuk mencari sumber informasi terbaru untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam berpikir. Selain itu, siswa juga harus dibiasakan untuk memiliki sikap yang terbuka terhadap pernyataan orang lain serta informasi baru yang masuk tanpa mengabaikan pertimbangan awal yang sudah dilakukan. Sehingga nantinya kemampuan ini bisa diaplikasikan untuk sampai menyelesaikan suatu masalah atau tantangan. Setelah memiliki kemampuan untuk berpikir kritis, guru memiliki pran penting selanjutnya. Peran tersebut adalah mengingatkan serta mendorong kepekaan siswa terhadap perasaan orang lain, cara berpikir yang berbeda dan mungkin kerumitan pemikiran yang dimiliki oleh orang lain serta lawan bicaranya. Dengan begitu meskipun cara berpikirnya kritis namun tidak sampai menyakiti orang lain yang mungkin pemikirannya berbeda satu sama lain.

PEMECAHAN MASALAH MELALUI KREATIVITAS BERPIKIR

Cara berpikir anda tentu menjadi modal untuk kehidupan selanjutnya bagaimana memiliki kemampuan untuk menghadapi serta menyelesaikan masalah. Mengembangkan pola berpikir kreatif menjadi salah satu hal yang bahkan sudah bisa ditanamkan sejak SMA. Secara tidak langsung berbagai pelajaran yang diberikan di sekolah juga melatih kemampuan untuk berpikir kreatif, contohnya saja pelajaran matematika. Perbedaan Tingkat Adversity Quotient Sebenarnya secara pengertian, Adversity Quotient (AQ) sendiri merupakan kemampuan seseorang dalam menghadapi kesulitan atau masalah. Secara teori ada tiga jenis kelompok Adversity Quotient yaitu tinggi yang akan terus berusaha serta berjuang menghadapi berbagai tantangan di hidupnya, sedang kurang memiliki keinginan untuk menghadapi tantangan serta memilih berhenti untuk berusaha menyelesaikan masalah dan rendah cenderung tidak mau menerima tantangan dalam hidupnya. Secara detail perbedaan antara tiga tingkatan AQ tersebut adalah sebagai berikut: AQ tinggi akan berusaha untuk menangkap informasi dari tantangan yang harus dihadapinya kemudian mencoba menyampaikannya kembali menurut persepsi pribadi. Berbagai kendala yang ada justru akan membuat pemilik AQ tinggi ini semakin tertantang untuk menemukan cara menyelesaikan masalah tersebut serta memberikan alasan yang logis pada solusinya. AQ sedang tetap mampu menangkap informasi dari tantangan yang diterima dan menemukan solusi meskipun memang tidak sempurna. Kendala yang ada membuat pemilik AQ sedang akan tetap berusaha namun tidak secara optimal dalam mencari solusi tepat. AQ rendah memang menerima kendala atau tantangan yang ada di hadapannya sebagai sesuatu yang menghilangkan semangat untuk mencoba mencari solusi untuk menyelesaikannya. Dengan mengetahui bagaimana cara berpikir kreatif yang dimiliki oleh siswa maka anda sebagai guru juga akan lebih mudah untuk mengatur strategi pengajaran yang tepat. Apalagi pada dasarnya proses berpikir kreatif ini bisa dilatih dan dibiasakan sejak masa sekolah. Sehingga nantinya dalam menghadapi berbagai macam tantangan yang mungkin lebih berat para siswa sudah siap dalam mencari pemecahan setiap tantangan untuk dihadapi. Pentingnya Berpikir Kreatif Dalam Memecahkan Masalah Kunci untuk bisa menjalankan teknik berpikir kreatif dalam memecahkan masalah adalah adanya keinginan untuk bisa menerima serta mencari jalan keluar dari setiap tantangan yang ada. Mencoba melakukan eksplorasi terhadap berbagai kemungkinan yang bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sehingga nantinya akan tercipta generasi yang inovatif dan mampu menciptakan hal-hal baru sebagai solusi untuk membantu permasalahan di sekitarnya. Setiap orang adalah pemimpin dan tentu sebagai seorang pemimpin dibutuhkan kualitas serta kemampuan dalam berpikir memecahkan masalah sebaik mungkin. Ada lima kualitas yang harus dimiliki seorang pemimpin yaitu: Mampu menerima kenyataan dan bertanggung jawab pada masalah yang harus dihadapi serta diselesaikan. Memiliki cara berpikir jangka panjang, dengan begitu pemimpin akan memiliki visi masa depan yang jelas serta mengetahui dalam jangka waktu mendatang ingin berada di posisi mana. Pemimpin perlu memiliki perencanaan yang baik untuk mengantisipasi terjadinya masalah yang mungkin saja terjadi di kemudian hari. Selalu memiliki rencana cadangan adalah hal yang penting untuk dikembangkan seorang pemimpin. Menyelesaikan satu masalah dalam satu waktu serta tidak mudah menyerah meskipun ada beragam kendala yang menghadang. Akan lebih baik jika seorang pemimpin fokus pada satu masalah terlebih dahulu baru memikirkan masalah lainnya, sehingga solusi yang didapatkan nantinya akan jauh lebih efektif untuk diapliaksikan. Proses berpikir secara kreatif untuk menyelesaikan masalah tentu pada akhirnya akan menciptakan inovasi sebagai solusinya. Pada dasarnya inovasi bisa didapatkan dengan mencoba memahami hal yang belum jelas, terbuka dengan pengalaman serta ide baru dan terus mengembangkan kemampuan dalam menghadapi perubahan yang ada. Dengan begitu akan lebih mudah bagi para siswa untuk menemukan ide yang tidak biasa sebagai solusinya. Para siswa SMA sudah memiliki pemikiran lebih dewasa sehingga sudah bisa didorong untuk menerima ide-ide baru yang tidak biasa. Siswa usia SMA sudah bisa ditanamkan bahwa setiap masalah bisa diselesaikan dengan cara yang lebih mudah dan baik. Untuk itu kemampuan untuk berpikir secara kreatif memang sangat penting dan harus dikembangkan sedini mungkin agar dalam menghadapi pekerjaan atau masyarakat lebih siap. Prinsip Penyelesaian Masalah Dalam Islam tentu anda mengenal istilah ikhtiar atau berusaha sebelum bertawakal pada ketetapan Allah SWT. Yakin dan berkhusnudhon bahwa setiap masalah pasti ada jalan penyelesaiannya. Setiap kesulitan yang dialami seseorang pasti terdapat kemudahan setelahnya sebagaiana firman Allah SWT dalam Surat Al-Insyiroh:6. اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ يُسۡرًا ؕ‏ Artinya: “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” Kemampuan untuk memecahkan masalah ternyata memiliki beberapa prinsip yang perlu diperhatikan. Respon positif terhadap masalah memang beragam untuk masing-masing orang apalagi untuk siswa SMA dengan tingkat emosi yang terkadang masih labil. Sehingga perlu adanya bimbingan yang tepat agar tidak sampai melakukan hal yang kurang baik.Prinsip penyelesaian masalah atau problem solving adalah sebagai berikut: Proses dalam menyelesaikan masalah dimulai ketika anda mencari berbagai kemungkinan solusi yang bisa digunakan sampai akhirnya bisa menentukan jalan keluar paling solutif. Menyerap informasi secara optimal dari masalah yang harus dihadapi sangat penting untuk bisa lebih mengenali kondisi permasalah untuk dihadapi. Sehingga nantinya solusi yang diambil akan lebih tepat untuk diaplikasikan sesuai dengan kondisi permasalahan yang harus dihadapi masing-masing. Permasalahan harus diselesaikan dengan pemikiran yang matang sampai tuntas dan menemukan solusinya tanpa harus terikat dengan ide-ide atau inovasi yang lama. Keberhasilan dalam menyelesaikan masalah yang kompleks akan lebih mudah dicapai ketika masalah tersebut dibagi ke dalam masalah tunggal. Sehingga masalah sulit yang kompleks perlu diurai terlebih dahulu dan diselesaikan satu persatu. Proses dari analisa masalah, pertimbangan solusi yang tepat dan bagaimana mengaplikasikan solusi tersebut adalah hal yang harus dijalankan dengan baik. Belajar untuk berpikir kreatif dalam hal ini tentu sangatlah penting, namun yang perlu diperhatikan adalah tetap menjunjung tinggi aturan serta adab yang seharusnya dilakukan. Sehingga dalam penyelesaian masalah atau tantangan tidak sampai menyalahi aturan di lingkungan masyarakat. Di dalam proses problem solving ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi yaitu kepercayaan akan sikap yang salah, motivasi, emosi dan kebiasaan. Setiap hal tersebut memang berkaitan satu sama lain dan mempengaruhi bagaimana cara menyelesaikan permasalahan dengan langkah yang tepat berdasarkan pertimbangan matang serta proses berpikir kreatif yang telah dilakukan setelah mengenali tantangan untuk dihadapi.

MOU dengan International Collage University of Technology Krungthep (IC-UTK) Thailand

Rajamangala, Thailand – Menindaklanjuti program unggulan kuliah sit in , UNWAHA kembali melakukan kerja sama dengan perguruan tinggi lain di luar negeri. Hal ini sebagai upaya pencapaian visi yakni menjadi institusi pendidikan tinggi berstandar internasional yang berperan aktif dalam pengembangan IPTEK, pengelolaan sumber daya alam, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia seutuhnya. Universitas KH. A. Wahab Hasbullah melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU) dengan International Collage University of Technology Krungthep (IC-UTK) Thailand yang digelar Rabu (6/3/2019). Penandatanganan MOU oleh Rektor UNWAHA, Dr. Anton Muhibuddin, M.P. didampingi Wakil Rektor Bidang Humas & Publikasi Dr. KH. Fatkhulloh, M.Pd.I. dan Kaprodi Ekonomi Syariah Kholis Firmansyah, S.HI., M.SI. selaku Koordinator program kuliah sit in kemudian dilanjutkan penandatanganan oleh Direktur IC-UTK, Mrs. Prattama Srisuk, Ph.D. Butir MOU meliputi: (1) faculty exchange; (2) student exchange; (3) sharing of international academic and materials; (4) sharing of joint research programs and research achievements; (5) joint training programs; (6) jointly sponsored conforence or forums; and (7) other international cooperative and exchange programs. Direktur IC-UTK menyatakan bahwa MOU ini akan memberikan manfaat bagi kedua perguruan tinggi dalam pengembangan kualitas bidang akademik sebagaimana butir yang telah disebutkan. Tak terhenti sampai di sini, perjalanan UNWAHA dalam peningkatan mutu akademik terus dilakukan melalui kerja sama internasional yang akan datang.