Universitas KH. A. Wahab Hasbullah

Category: Berita

Mahasiswi Berprestasi di ADAMI

Majelis Dakwah dan Pendidikan Islam (MADANI) kembali mengadakan Audisi Da’i Muda Indonesia (ADAMI). Audisi ini terbuka untuk santri, pelajar dan mahasiswa yang berusia antara 16-21 tahun. Proses seleksi dilakukan dengan mengirimkan video ke email panitia sekaligus meng-upload ke youtube. Pengiriman video ini dimulai sejak 15 Juni hingga 15 Juli 2017. Video yang dikirimkan ke panitia maupun yang di-upload ke youtube harus sesuai dengan salah satu dari empat tema yang ditentukan oleh panitia. Tema pertama adalah Hubbul Wathan Minal Iman atau Cinta Tanah Air Sebagian Dari Iman. Pilihan kedua adalah Antum Syubbanul Yaum Wa Rijalul Ghad atau Pemuda Hari Ini, Pemuda Masa Depan. Tema ketiga adalah Syifaturrasul: Shiddiq, Amanah, Tabligh, Fathanah atau Meneladani Sifat Rasul. Sedangkan pilihan tema yang keempat adalah Amar Ma’ruf Nahi Munkar Bil Hikmah atau Mengajak Kebaikan, Mencegah Kemungkaran Dengan Cara Yang Bijak. Siti Maisaroh, mahasiswi PBA semester 5 adalah satu dari 700 calon peserta yang mengirimkan video ke panitia. Mengusung tema Peran Orangtua Dalam Menyiapkan Generasi Masa Depan, video berdurasi 06.37 ini berhasil lolos hingga masuk ke 100 besar yang diseleksi oleh panitia. Dari 100 besar ini, akan diseleksi kembali oleh dewan juri hingga tersisa hanya 10 video dari 10 peserta. Silahkan cek disini : https://youtu.be/8eDFVQyQdUU Dewan juri yang ditunjuk berjumlah 3 orang, yaitu Prof. Dr. KH. Malik Madani, KH. Muhammad Cholil Nafis, Lc., MA., Ph.D. dan Idy Muzayyad, M.Si. Prof. Dr. KH. Malik Madani pernah menjabat sebagai Katib Am Syuriah PBNU 2010-2015, KH. Muhammad Cholil Nafis, Lc., MA., Ph.D. menjabat sebagai Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat, dan Idy Muzayyad, M.Si. merupakan Ketua Umum MADANI. 10 peserta yang lolos seleksi hingga tahap akhir diberikan fasilitas tiket pesawat pulang-pergi serta semua fasilitas selama mengikuti audisi. Tema pidato yang diusung saat final berbeda dengan ketika mengikuti seleksi. Begitu halnya dengan Siti Maisaroh atau yang biasa dipanggil dengan Mai. Tema yang disiapkan oleh mahasiswi PBA untuk mengikuti final adalah Generasi Hebat Tak Kan Terjerat Narkoba Terlaknat. Silahkan cek disini : https://youtu.be/XwR2A9e-_eM Pemenang pertama ADAMI diraih oleh mahasiswa Universitas Malang yang merupakan alumni 10 besar Aksi Indosiar. Pemenang kedua diraih oleh mahasiswa UIN Malang dan Mai yang merupakan mahasiswa UNWAHA berhasil meraih juara ketiga. Hadiah diberikan langsung oleh Ketua Dewan Pembina Madani yang juga menjabat sebagai Ketua Umum PPP, yaitu H.M. Romahurmuziy, MT.

Pengembangan Kemampuan Berorganisasi oleh Mahasiswa UNWAHA

Badan Eksekutif Mahasiswa UNWAHA menyelenggarakan kegiatan Kaderisasi Tingkat Lanjut yang bertempat di Graha MWC NU Pacet Mojokerto. Kegiatan ini diikuti oleh 34 peserta yang merupakan perwakilan seluruh organisasi di bawah naungan BEM. Organisasi yang dimaksud disini adalah Lembaga Gubernur Mahasiswa tingkat fakultas dan Unit Kegiatan Mahasiswa tingkat umum. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini diisi dengan penyampaian 3 materi. Materi yang pertama dengan tema Advokasi disampaikan oleh Malik Mahardika, M. Hum. Materi kedua dengan tema Analisis Sosial disampaikan oleh Hanif Anshori, S.Pd.I. sementara Khoirul Hasyim mengisi materi ketiga yang mengusung tema Menejemen Konflik. Kegiatan lain yang dilakukan oleh peserta adalah outbound. Tujuan dari diadakannya outbound ini adalah agar para peserta mengetahui dan memahami adanya individual differences, sehingga mereka terlatih untuk dapat menghargai perbedaan. Dalam outbound, mereka dilatih untuk meningkatkan self assessment, self awareness atau kepekaan terhadap orang lain dan risk taking behavior. Maksud dari self assessment adalah bahwa kekuatan diri ada pada tangan para peserta sendiri. Sedangkan yang dimaksud dengan risk taking behavior adalah peserta mampu meningkatkan kepercayaan diri dan keberanian mengambil risiko. Selain itu, outbound juga dapat meningkatkan keterampilan mereka dalam berkomunikasi, membentuk tim yang kompak, meningkatkan kemampuan kepemimpinan, membuat perencanaan secara cepat dengan mempertimbangkan resiko beserta konsekuensinya, serta dapat menumbuhkan sikap kesatria dan sportif. Dengan diselenggarakannya seluruh rangkaian kegiatan Kaderisasi Tingkat Lanjut ini, diharapkan para peserta semakin bijak dalam mengambil keputusan dan menyelenggarakan kegiatan yang melibatkan seluruh mahasiswa UNWAHA.

UNWAHA Nyantri di Hari Santri

Hari Santri ditetapkan untuk diperingati secara nasional melalui Keputusan Presiden RI No. 22 Tahun 2015. Sebelum Kepres ini disahkan, tidak dijumpai istilah Hari Santri maupun perayaan untuk memperingatinya. Terdapat dua alasan yang mendasari ditetapkannya Hari Santri Nasional ini. Pertama, pemerintah menyadari kontribusi santri kepada bangsa dan negara Indonesia begitu besar sehingga penetapan hari santri adalah wujud pengakuan dan penghargaan negara kepada kaum santri atas kiprahnya menjaga dan merawat NKRI. Alasan kedua adalah penegasan tanggung jawab santri terhadap negara. Dengan demikian, adanya Hari Santri berarti bahwa santri dikukuhkan untuk memiliki kesadaran yang tinggi akan tanggung jawabnya terhadap eksistensi dan masa depan NKRI tercinta. Gema Hari Santri dirayakan serentak di seluruh Indonesia dengan antusiasme yang tinggi, termasuk di UNWAHA. Khusus pada tanggal 22 Oktober ini, seluruh anggota masyarakat UNWAHA memakai sarung, termasuk para dosen sekalipun. Sarung dipilih karena merupakan salah satu ciri yang melekat pada santri. Upacara mengawali perayaan Hari Santri di lingkungan UNWAHA. Diikuti oleh civitas akademika yang bersarung, upacara terasa berbeda. Diharapkan melalui peringatan Hari Santri ini, para mahasiswa tidak melupakan tata krama yang selama ini dijunjung di pesantren. Selain itu juga mengingatkan kembali bahwa NKRI adalah harga mati bagi santri.

Kuliah Gratis SPP di UNWAHA

UNWAHA bekerja sama dengan PCNU Jombang, mengadakan program khusus kuliah gratis bagi para pemuda dan pemudi yang aktif dalam kegiatan ke-NU-an. Aktif dalam ke-NU-an menjadi prioritas mengingat UNWAHA adalah kampus berbasis Nahdlatul Ulama. Mahasiswa yang mendaftar pada program khusus ini diharuskan mengikuti tes tulis dan tes lisan terlebih dahulu. Tes tulis berupa wawasan seputar pondok pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, sementara tes lisan mencakup bacaan-bacaan yang identik dengan aktifitas ke-NU-an, seperti bacaan qunut, dibaiyyah dan tahlil. Hasil dari keduanya diumumkan sehari setelah pelaksanaan tes. Bagi para mahasiswa yang lolos seleksi, diminta untuk melengkapi berkas-berkas dan memilih jurusan yang ditawarkan oleh UNWAHA. Jurusan yang dimaksud adalah Teknik Pertanian dan Teknik Hasil Pertanian di Fakultas Pertanian atau jurusan Biologi, Fisika, Matematika, dan Bahasa Inggris di Fakultas Ilmu Pendidikan. Setelah pemberkasan selesai, para calon mahasiswa program khusus ini dapat segera mengikuti kegiatan perkuliahan.

Bedah Buku Sejarah Tambakberas

UNWAHA mengadakan bedah buku Menelisik Sejarah Memetik Uswah pada hari Minggu, 8 Oktober 2017. Narasumber yang mengisi kegiatan ini adalah sebagian dari Tim Sejarah yang terdiri dari tiga orang. Pertama, A. Jabbar Hubbi atau Gus Jabbar yang merupakan pengasuh Ribath Al-Hidayah Bahrul Ulum. Kedua, M. Syifa’ Malik, M.Pd.I atau Gus Syifa’ yang merupakan pengasuh Ribath Al-Malki 2 Bahrul Ulum. Dan narasumber ketiga adalah Dr. Abdul Kholid Mas’ud, M.Ag. atau Gus Kholid yang merupakan pengasuh dari Ribath As-Salma Bahrul Ulum. Acara yang diadakan di ruang auditorium ini dihadiri oleh banyak peserta, baik dari kalangan dosen dan mahasiswa UNWAHA sendiri maupun dari pihak luar. Dimoderatori oleh Dr. Muhyidin Zainul Arifin, kegiatan ini berjalan dengan lancar. Bahkan peserta terlihat antusias mengikuti setiap sesi hingga selesai. Dengan diadakannya acara ini, diharapkan para mahasiswa dan peserta lainnya dapat meneladani perjuangan para pendiri pondok pesantren Bahrul Ulum. Baik perjuangan dalam menguatkan agama Islam maupun dalam memperjuangkan kedaulatan NKRI.

Riset PTNU se-Nusantara

Prestasi yang membanggakan berhasil dicapai oleh UNWAHA. Pada tanggal 23 Agustus kemarin, UNWAHA menjadi tuan rumah bagi pelaksanaan Pelatihan Strategi Peningkatan Riset Publikasi Ilmiah Berkualitas Menghadapi Persaingan Global. Acara yang dihadiri oleh perwakilah dari 30 PTNU se-Nusantara ini menuai banyak pujian dari kalangan pihak. Pelatihan ini digagas oleh Rektor UNWAHA, Dr. Anton Muhibuddin, SP.MP. yang prihatin atas lemahnya geliat publikasi ilmiah yang dilakukan oleh para dosen dan peneliti. Peneliti sekaligus dosen yang memiliki 9 hak paten ini mengambil contoh Singapura sebagai perbandingan. Seharusnya, kualitas publikasi ilmiah di Indonesia jauh lebih baik dibandingkan dengan publikasi ilmiah yang dilakukan oleh Singapura, mengingat jumlah penduduk Indonesia berpuluh-puluh kali lipat lebih banyak. Tapi pada kenyataannya, prestasi publikasi ilmah Singapura jauh melampaui negeri tercinta ini. Rektor UNWAHA yang telah mendapatkan 12 hibah riset internasional dan lebih dari 100 hibah riset nasional mengemukakan bahwa terdapat 4 komponen yang harus dipenuhi agar tercapai Good Research. Pertama, penelitian yang dilakukan dapat menyelesaikan masalah bangsa. Kedua, memanfaatkan SDM dan SDA bangsa sendiri. Ketiga, payung penelitian yang sistematis. Dan keempat, sesuai dengan roadmap dunia. Ke depannya, para dosen yang tergabung dalam Riset PTNU Se-Nusantara akan diberi arahan dan bimbingan sehingga dapat menghasilkan karya ilmiah berkualitas. Lebih jauh lagi, Dr.Anton Muhibuddin, SP.MP. menggerakkan seluruh PTNU untuk bergerak bersama menuju perubahan yang bersinergi dengan UNWAHA sebagai pusat yang mempersatukan semuanya.

Workshop Stategi Peningkatan Riset (PTNU)

    Manual Acara     Untuk mendaftar Silahkan Klik Formulir Pendaftaran Download undangan workshop

Dewan Riset UNWAHA

Pada hari Senin, 11 September 2017, Dr. Anton Muhibuddin selaku Rektor UNWAHA mengumpulkan perwakilan dari masing-masing prodi untuk segera dibentuk Dewan Riset. Pembentukan Dewan Riset ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan adanya wadah untuk menampung judul penelitian para mahasiswa yang semakin mendesak. Dewan Riset ini nantinya berwenang untuk menyeleksi judul penelitian yang diajukan oleh para mahasiswa semester akhir. Dewan Riset yang merupakan kumpulan dari berbagai prodi ini diharapkan akan mengarahkan mahasiswa menemukan topik-topik yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan. Dengan demikian penelitian yang dilakukan oleh para mahasiswa tidak hanya hilang diterpa angin, tapi memberikan konstribusi yang bermanfaat bagi masyarakat. Dr. Muhibuddin, SP. MP bahkan memberikan arahan secara khusus agar mahasiswa dapat menghasilkan produk, tidak hanya tulisan yang kemudian ditumpuk di sudut ruangan. Dewan Riset juga berfungsi sebagai sarana yang menjembatani para mahasiswa untuk mendapatkan pembimbing dari lintas prodi atau bahkan lintas fakultas, sesuai dengan kebutuhan penelitian. Jika dibutuhkan, Dewan Riset juga akan memberikan jalan bagi mahasiswa yang menginginkan pembimbing dari lintas universitas. Tujuan lanjutan dari Dewan Riset ini adalah menggiring hasil penelitian yang dilakukan oleh para mahasiswa menjadi artikel yang terpublikasikan. Hal ini dilakukan mengingat publikasi artikel sedang menggeliat di tanah air. Selain itu, diharapkan kualitas para mahasiswa menjadi semakin meningkat.

Stick dan Sirup Kates di KKN Tanjungwadung

Papaya atau dalam bahasa Latin disebut dengan Carica Papaya sangat mudah ditemui di desa Tanjungwadung, Kabuh. Hampir di setiap pekarangan rumah warga, dapat dijumpai tanaman pepaya. Tidak hanya di pekarangan, buah yang asalnya dari Meksiko ini juga berjajar di sepanjang persawahan, membentuk pagar hidup. Pepaya yang tumbuh subur di desa Tanjungwadung berwarna kuning cerah dan tidak terlalu manis meskipun sudah masak. Jika dibiarkan terlalu lama di pohon, daging buah pepaya menjadi lembek dan rasanya lebih hambar. Karena itulah ketika jenis pepaya California dikenal masyarakat desa Tanjungwadung, pepaya lokal tidak lagi bernilai. Mereka membiarkan buah pepaya lokal matang di pohon hingga jatuh dan membusuk. Kadangkala buah pepaya mereka manfaatkan sebagai pakan burung meskipun tidak terlalu banyak. Pepaya lokal yang tidak banyak dimanfaatkan inilah yang kemudian dilirik oleh para mahasiswa KKN UNWAHA yang ditempatkan di desa Tanjungwadung. Inovasi yang mereka lakukan adalah menyulap pepaya lokal desa Tanjungwadung menjadi sirup dan stick. Resep sirup pepaya mereka dapatkan dari internet. Akan tetapi yang mereka dapatkan bukanlah resep asli dari sirup pepaya. Yang didapat selama pencarian data adalah sirup dari buah-buahan lainnya yang kemudian mereka terapkan pada pepaya. Sirup pepaya ini mereka namakan dengan SiTes atau Sirup Kates. Nama Kates sendiri adalah sebutan pepaya dalam bahasa Jawa. SiTes memiliki dua varian, yaitu varian kental dan varian biasa. SiTes kental, harus dicampur dengan air terlebih dahulu sebelum dapat dinikmati. Sementara varian biasa dapat diminum secara langsung, tidak perlu dicampur apapun. SiTes kental dapat disajikan dengan diseduh air panas ataupun air dingin. Sedangkan SiTes biasa lebih nikmat ketika disajikan dalam keadaan dingin. Harga semua varian SiTes adalah 5.000/botol. Dengan bahan yang didapatkan secara gratis dari masyarakat, para mahasiswa mendapatkan keuntungan yang berlimpah. Terlebih rasa SiTes bersahabat di lidah dan banyak disukai. Pemasaran via medsos membantu mereka mendapatkan pesanan hingga ke luar kota. Banyak dari para konsumen yang kembali memesan untuk kesekian kalinya. Ide awal dari pembuatan Stick Kates adalah ampas pepaya sisa pembuatan sirup yang sayang jika dibuang. Para mahasiswa kemudian mencari resep tentang pembuatan stick melalui internet. Sama seperti sebelumnya, yang didapat adalah resep pembuatan stick dari bahan-bahan lain dan kemudian mereka terapkan pada ampas pepaya. Beberapa kali percobaan dilakukan sehingga jadilah Stick Kates yang digemari banyak orang. Harga tiap bungkusnya adalah 3.000. Stick Kates ini masih belum memiliki varian rasa yang beragam. Para mahasiswa masih mempertahankan cita rasa asli dari pepaya lokal. Kemampuan para mahasiswa dalam mengolah pepaya lokal yang tidak dimanfaatkan oleh masyarakatnya desa Tanjungwadung, mereka ajarkan melalui kegiatan pelatihan ibu-ibu PKK dan kegiatan lainnya. Diharapkan, masyarakat desa Tanjungwadung dapat memanfaatkan kekayaan lokal sehingga kualitas perekonomian mereka lebih meningkat.

Nugget dan Es Krim Jamur di KKN Genenganjasem

Masyarakat desa Genenganjasem dikenal karena budidaya jamur tiram putih, baik yang masih berbentuk baglog ataupun jamur yang sudah siap diolah. Baglog adalah media tanam bagi jamur yang digunakan sebagai bahan produksi jamur. Istilah baglog sendiri terdiri dari dua kata, yaitu bag yang berarti kantung dan log yang berarti kayu gelondongan. Hal ini dikarenakan bentuk baglog yang silinder, mirip kayu gelondongan yang disimpan dalam kantung. Pada umumnya, masyarakat Genenganjasem menjual baglog dan jamur mentah di pasar atau dikirim ke daerah-daerah sekitar. Kisaran harga baglog yang mereka jual adalah 2.500/biji, sementara harga jamur mentah sekitar 15.000/kg. Para mahasiswa UNWAHA yang ditugaskan disana mencari peluang dari jamur tiram putih yang mudah didapat dan dengan harga terjangkau karena langsung mengambil dari produsen. Bahan mentah tersebut kemudian mereka olah menjadi nugget dan es krim, sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi. Resep pembuatan nugget jamur berasal dari para mahasiswa sendiri. Mereka melakukan beberapa kali percobaan hingga ditemukan resep yang sesuai. Harga yang diberikan untuk nugget jamur adalah 5.000/kotak. Dalam satu kotak, berisi 8 potong nugget. Tidak disangka, respon positif pun mereka terima dari berbagai pihak. Tidak hanya itu, nugget jamur juga menuai banyak pesanan. Es krim jamur yang digagas oleh para mahasiswa, sebagian besar masih menggunakan tepung es krim instan dibandingkan tepung jamur. Hal ini bukan karena ketidakmampuan mereka dalam menghasilkan tepung jamur. Keterbatasan alat dalam membuat tepung jamur menjadi kendala. Sementara jika menggunakan cara konvensional, memakan banyak waktu. Meskipun demikian, masyarakat sangat antusias terhadap inovasi yang dilakukan oleh para mahasiswa UNWAHA. Mereka bahkan terkejut mengetahui bahwa jamur yang biasanya hanya digunakan sebagai lauk, bisa diolah menjadi es krim yang bernilai jual jauh lebih tinggi. Terbukti dengan harga 3.500/cup, es krim jamur tetap menjadi primadona. Kemampuan para mahasiswa dalam mengolah jamur tidak hanya dimanfaatkan untuk mereka sendiri. Para mahasiswa juga memberdayakan masyarakat dengan mengadakan pelatihan. Pelatihan ini bertujuan agar masyarakat dapat memanfaatkan jamur menjadi bermacam produk olahan. Dengan demikian, kesejahteraan mereka semakin meningkat. Harapan lainnya untuk para mahasiswa, mereka dapat mengembangkan kemampuan yang telah dimiliki dan terus berinovasi. Keterbatasan alat yang selama ini menjadi kendala, diharapkan segera mendapatkan solusi.