Category: Berita
Seminar Nasional Manajemen Perpustakaan dengan Sistem Informasi di Era Digital
Membaca merupakan suatu kebutuhan. Salah satu fasilitas untuk mewadahi minat baca adalah perpustakaan. Perpustakaan adalah suatu unit kerja dari suatu badan atau lembaga tertentu yang mengelola bahan-bahan pustaka, baik berupa buku-buku maupun bukan berupa buku (non book material) yang diatur secara sistematis menurut aturan tertentu sehingga dapat digunakan sebagai sumber informasi oleh setiap pemakainya. Perpustakaan merupakan suatu tempat atau wadah untuk mencari sumber-sumber disiplin ilmu. Seiring perkembangan zaman, perpustakaan dituntut untuk berbenah diri mengikuti perkembangan teknologi informasi. Oleh karena itu, UNWAHA mengadakan seminar Nasional tentang Perpustakaan dengan Tema “Manajemen Perpustakaan dengan Sistem Informasi di Era Digital”. Tujuan diadakannya Semnas ini adalah untuk menyosialisasikan menajemen perpustakaan berbasis IT sehingga memudahakan dalam pengelolaan perpustakaan dan meningkatkan kenyamanan pemustaka. Perpustakaan merupakan sarana EDUKATIF dan REKREATIF, Tutur Bapak Johan (Kepala Perpustakaan Univ Brawijaya) selaku pemateri Semnas. Walaupun menjadi sarana rekreatif, tetap tidak mengurangi fungsi utama dari perpustakaan tersebut. Perpustakaan zaman sekarang sudah mampu menciptakan dan membagikan informasi, inilah perbedaanya dengan perpustakaan zaman dahulu yang hanya menyediakan informasi untuk para pengguna perpustakaan. Tidak hanya itu, dengan semakin majunya teknologi informasi, perpustakaan pun mulai mengaplikasikan TV dan video sebagai sarana informasi, padahal dulu sarana tersebut tidak boleh diaplikasikan karena akan mengganggu pengakses perpustakaan. Dari tahun ke tahun, perpustakaan semakin berkembang ke arah yang lebih baik dan menjadi tempat yang nyaman bagi para penggunanya, penataan manajemennya pun semakin maju dan efektif sehingga lebih maksimal dalam memberikan pelayanan. Inilah yang menjadikan perpustakaan zaman sekarang lebih efisien, berbeda dengan zaman dahulu, perpustakaan yang penataan manajemennya cenderung kurang efisien. Kemajuan zaman memang menuntut perpustakaan untuk membenahi diri agar tidak ditinggalkan masyarakat. Perpustakaan zaman dahulu masih berkutat pada bagaimana memberi informasi kepada pengguna, hal ini membuat pengguna tidak bisa mandiri dalam mengakses informasi. Dengan stigma bahwa perpustakaan merupakan tempat yang sunyi, sepi, membosankan disertai dengan penjaga perpustakaan yang tidak ramah membuat perpustakaan zaman dahulu menjadi tempat yang enggan untuk dikunjungi. Tidak hanya itu, koleksi yang disediakan pun terbatas dan tidak semuanya bisa diakses oleh pengguna. Akan tetapi, dengan semakin berkembangnya zaman ke arah globalisasi, perpustakaan pun turut berubah mengikuti zaman. Dengan mengetahui prinsip-prinsip kepustakawanan yang ada, seharusnya perpustakaan dapat berperan banyak dalam mengakses informasi. Inilah peran penting perpustakaan, tetapi penyebaran informasi dan berbagai pelayanan yang ada tidak akan tercapai secara maksimal apabila tidak didukung oleh sumber daya manusia yang ada, yang berkompeten pada bidangnya. Zaman sekarang, pustakawan dituntut untuk mengikuti perkembangan yang ada, yang mengacu pada perkembangan perpustakaan pula. Pustakawan saat ini tidak hanya bertugas untuk mencari informasi. Semakin ke sini, mereka cenderung bertugas untuk membantu para pengguna perpus dalam menelusuri informasi sehingga membuat pengakses perpustakaan lebih mandiri dalam mengakses informasi. Dalam konteks ini, pustakawan bukan berarti hanya membantu mencari, tetapi melayani apa yang dibutuhkan pengakses perpustakaan. Perkembangan perpustakaan yang cukup pesat benar-benar memengaruhi berbagai aspek yang ada di perpustakaan, yang tentunya ke arah yang lebih positif. Pelayanan yang ada di perpustakaan saat ini tidak hanya berfokus pada buku, tetapi juga pada hiburan-hiburan seperti pemutaran film, layanan wifi, music, dan lain-lain. Tentunya, hal ini akan lebih menarik perhatian pengunjung untuk sering berkunjung ke perputakaan. Pemateri memaparkan bahwa di dalam sebuah kelembagaan , perpustakaan harus memenuhi standar nasional. Enam standar tersebut adalah : 1. Standar koleksi perpustakaan 2. Standar Sarana dan Prasarana 3. Standar Pelayanan perpustakaan 4. Standar Tenaga Perpstakaan 5. Standar Penyelenggaraan 6. Standar Pengelolaan Dalam rangka meningkatkan pelayanan, pengelelolaan perpustakaan harus menggunakan sistem otomatis. Perpustakaan Nasional meluncurkan aplikasi otomatisasi perpustakaan “inlis LITE” yang memudahkan pengelolaan perpustakaan. Aplikasi ini memudahkan pengelola dalam memanaj perpustakaan. Pemustaka juga mendapatkan kemudahan dalam mencari buku digital, mendaftar keanggotaan perpustakaan, dan sebagai pengingat dalam meminjam buku. Bapak Widi (Tim IT Perpustakaan UB) selaku pemateri semnas, mengemukakan bahwa kemudahan mengakses perpustakaan melalui sistem IT akan menarik minat masyarakat untuk membaca dan mengunjungi perpustakaan baik perpustakaan digital maupun konvensional. Dalam pembenahannya, perpustakaan berkembang ke arah digital, dari katalog, jurnal, sampai buku pun ada bentuk digitalnya. Akan tetapi, sampai kapan pun, peran buku tidak dapat digantikan oleh media digital. Dengan semakin berkembangnya perpustakaan digital, para pengguna lebih dimudahkan untuk mengakses bahan pustaka karena berbagai koleksi sudah tersedia dalam bentuk digital. Namun, dengan mudahnya koleksi perpustakaan diakses dengan cara online, bukan berarti pengunjung perpustakaan menjadi malas untuk berkunjung ke perpustakaan. Karena perpustakaan zaman sekarang juga telah menyediakan alat-alat canggih untuk mengakses berbagi informasi secara online.
Rektor Unwaha bersama Kadisperta Pemprov Maluku Utara dan Kepala Pusat Ketahanan Pangan Nasional di depan lautan Eceng Gondok
Sebagai bentuk nyata kerjasama antara Unwaha dan Pemprov Maluku Utara, setidaknya pada akhir tahun 2016 ini akan dilaksanakan program produksi bioethanol berbahan baku eceng gondok. Keberadaan eceng gondok yang melimpah di Kabupaten Halmahera Utara tepatnya di Talaga Duma, Kecamatan Galela, menjadi sumber bahan baku bioethanol yang sangat menjanjikan. Bupati Halmahera Utara, Ir. Frans Maneri seusai koordinasi terbatas dengan Rektor Unwaha, Dr. H. Anton Muhibuddin dan Kapala Pusat Ketahanan Pangan Nasional menyampaikan bahwa hingga saat ini keberadaan eceng gondok di Talaga Duma menjadi menjadi permasalahan di Kabupaten Halut, mengingat Talaga Duma sebagai danau terbesar di Halut difungsikan sebagai sumber air minum dan kebutuhan sehari-hari masyarakat sekitar. Talaga Duma yang memiliki luas sekitar 400 ha, selain sebagai sumber air bagi masyarakat juga berpotensi sebagai tempat pariwisata yang sangat menjanjikan bagi Kecamatan Galela. Di Halmahera Utara sendiri setidaknya terdapat 6 danau/ talaga yang besar termasuk Talaga Duma. Menurut Kepala Dinas Pertanian Provinsi Maluku Utara, Ir. Muzdalifah, penanggulangan sekaligus konversi gulma eceng gondok menjadi bahan bakar bioethanol di Talaga Duma ini merupakan program awal kerjasama antara Unwaha – Departemen Pertanian RI dan Pemprov Maluku Utara. Pada tahun mendatang, program sejenis akan dilaksanakan di seluruh wilayah Provinsi Maluku Utara. Sehari sebelumnya, pada pertemuan dengan Gubernur Maluku Utara, grand design program mandiri energi dan mandiri pangan di Provinsi Maluku Utara juga telah banyak dibicarakan. Dr. Anton selaku tenaga ahli dalam program ini menyampaikan optimisme yang sangat besar akan keberhasilan program dalam mendukung peningkatan ekonomi masyarakat setempat maupun mendukung peningkatan pendapat daerah, mengingat kedua program dilaksanakan dengan berbasis pada sumberdaya alam dan sumberdaya masyarakat yang dimiliki Maluku Utara.
UNWAHA Mengukir Prestasi : Boyong 2 Piala Pada Pekan Arabi 2016
Mahasiswa UNWAHA Berhasil Menang Lomba Qiro’atus Syi’ir dan Khitobah pada Pekan Arabi 2016 Delegasi UNWAHA berhasil pulang dengan menggondol dua piala pada festival Pekan Arabi UM Kategori Mahasiswa Tingkat Nasional yang diselenggarakan di Malang. UNWAHA mengirimkan dua delegasi untuk lomba Qiro’atus Syi’ir dan satu delegasi untuk Khitobah. Delegasi tersebut berhasil mengharumkan almamater UNWAHA di tingkat Nasional. Siti Maisyaroh berhasil menyabet Juara 2 pada lomba Khitobah dan Nur Hanifatus Sholihah berhasil memperoleh Juara 3 pada Lomba Qiro’atus Syi’ir. Kemenangan ini merupakan bukti bahwa UNWAHA makin eksis di kancah Nasional dan pemicu semangat bagi segenap civitas akademik UNWAHA agar terus berkarya dan mengukir prestasi.
UNWAHA TAMBAKBERAS JOMBANG SIAP BANGUN MALUKU UTARA
Rektor Unwaha bersama Gubernur Maluku Utara Demikian disampaikan Rektor Unwaha, Dr. H. Anton Muhibuddin, saat rapat koordinasi bersama Gubernur Maluku Utara, H. Abdul Gani Kasuba, di rumah dinas Gubernur Maluku Utara di Sofifi. Pembangunan yang dimaksud terutama adalah pembangunan pertanian menuju ketahanan pangan yang berkelanjutan dan ketahanan energi berbasis biomass. Kekayaan biomass yang luar biasa di wilayah Maluku Utara menjadi sumber yang akan diolah menjadi bioethanol dan pupuk organik. Demikian pula dengan kesuburan tanah di wilayah Maluku Utara yang sangat baik, harus bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan melalui perencanaan pembangunan pertanian yang tepat, demikian lanjut Dr. Anton. Pada kesempatan yang sama, Dr. Tjuk Eko Hari Basuki, Kepala Pusat Kerawanan Pangan Deptan, mengungkapkan bahwa meskipun saat ini Propinsi Maluku Utara aman dari ancaman kerawanan pangan, namun seiring dengan bertambahnya penduduk Maluku Utara dan peningkatan pembangunan infrastruktur serta pergeseran penanaman jenis komoditas pertanian,maka bukan tidak mungkin pada suatu saat nanti ancaman kerawanan pangan akan dialami oleh Maluku Utara. Oleh karena itu, perencanaan pembangunan pertanian yang baik harus segera dimulai sejak saat ini. Dr. Tjuk juga menambahkan bahwa nantinya Deptan dan Unwaha serta perguruan tinggi lain seperti UGM, IPB, ITB akan menjadi partner yang sinergis dalam pembangunan di Maluku Utara. Mengingat Maluku Utara sebagai Propinsi yang masih sangat muda di Indonesia, maka keterlibatan seluruh anak bangsa menjadi kunci kemajuan Maluku Utara dimasa mendatang. Senada dengan Dr. Tjuk dan Dr. Anton, Gubernur Maluku Utara, Abdul Gani Kasuba juga mendukung program program yang digagasa dan diimplementasikan oleh Deptan dan Unwaha, baik melalui dukungan kebijakan dan pendanaan. Listrik menjadi masalah utama di Propinsi Maluku Utara, oleh karena itu, solusi listrik melalui pemanfaatan biomass menjadi pilihan yang terbaik bagi masyarakat Maluku Utara. Karena dengan pemanfaatan biomass, berarti juga akan melibatkan keberadaan masyarakat Maluku Utara itu sendiri. Propinsi Maluku Utara termasuk propinsi baru di Indonesia. Propinsi Maluku Utara merupakan pemekaran dari Propinsi Maluku. Propinsi Maluku Utara memiliki lebih kurang 800 pulau-pulau kecil yang terhubung dengan laut dan selat. Oleh karena itu, ketersediaan bahan bakar yang memadai dan mudah didapatkan oleh masyarakat menjadi kunci keberhasilan pembangunan di Maluku Utara. Swa produksi bioethanol di Maluku Utara berbahan baku biomass menjadi alternatif energi yang sangat strategis terutama menpertimbangkan aspek kesehatan lingkungan dan peningkatan perekonomian masyarakat. Pada akhir diskusi, Dr. Anton selaku rektor Unwaha menyampaikan bahwa Unwaha merupakan perguruan tinggi baru yang sangat konsisten untuk program energi terbarukan dan pertanian berkelanjutan di Indonesia.
Gema Sholawat Nariyah di UNWAHA dalam Rangka Memperingati Hari Santri Nasional
Penetapan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional merupakan pengakuan resmi pemerintah Indonesia atas peran besar umat Islam dalam berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan serta menjaga NKRI. Ini sekaligus merevisi beberapa catatan sejarah nasional, terutama yang ditulis pada masa Orde Baru, yang hampir tidak menyebut peran ulama dan kaum santri. Penetapan hari santri dimaksudkan untuk meneladani semangat jihad keindonesiaan yang digelorakan para ulama. Sejarah mencatat para santri mewakafkan hidupnya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan tersebut. Karenanya, para santri dengan caranya masing-masing bergabung dengan seluruh elemen bangsa yang lain melawan penjajah, menyusun kekuatan di daerah-daerah terpencil, mengatur strategi dan mengajarkan kesadaran tentang arti kemerdekaan. Tanggal 22 Oktober menjadi ingatan sejarah tentang Resolusi Jihad, sebagai bukti nyata adanya keterkaitan antara santri dengan tegaknya Indonesia. Hari Santri adalah wujud penghormatan kepada sejarah pesantren, sejarah perjuangan para kiai dan santri. Dengan adanya Hari Santri Nasional diharapakan ada sinergi antara pemerintah dan santri untuk mendorong komunitas santri ke poros peradaban Indonesia. Santri tidak hanya sebagai penonton ataupun obyek dalam dialektika sosial budaya ekonomi politik Indonesia. Pesantren sebagai lembaga dakwah, lembaga pendidikan terus kiranya berkontribusi dan mencetak ulama, agen perubahan yang menjadi garda terdepan dalam membela Negara Kesatuan Republik Indonesia. Lebih dari itu, pesantren kiranya dapat berperan lebih besar dalam mempromosikan gerakan anti narkoba, gerakan anti radikalisme, gerakan santri amar makruf nahi munkar, hingga pada santri yang melek dunia perbankan, melek sain dan teknologi. UNWAHA sebagai kampus yang berdiri dibawah naungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras, menjadikan Hari Santri Nasional sebagai momentum untuk membangkitkan semangat agar selalu memberikan usaha terbaik demi kemajuan bangsa. UNWAHA yang mempunyai ciri khas “Berwawasan Globlal, Berkarakter Islami” selalu mengedepankan pendidikan yang tidak lepas dari nilai Islam. Semarak Peringatan Hari Santri Nasioanal juga terlihat di kampus UNWAHA pada 22 Oktober 2016. Sholawat Nariyah bergema di Masjid UNWAHA. Acara yang digelar di masjid kampus Unwaha yang dimulai dari pukul 08.00 wib tersebut berjalan dengan khidmat dan antusias yang luar biasa, hal tersebut dapat dilihat dari jumlah peserta yang turut hadir mencapai 150 mahasiswa, dan puluhan staf serta dosen Unwaha. “Kami sengaja memperingati Hari Santri Nasional di kampus dengan membaca Sholawat Nariyah dan do’a bersama” Papar Bapak Muhyidin Z.A M.M, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Unwaha usai acara. Menurut Beliau, acara tersebut memang sudah sepatutnya digelar, mengingat peran KH Abdul Wahab Hasbullah sebagai pencetus ide pertemuan 22 Oktober kala itu yang tentunya juga mendapatkan restu dari KH. Hasyim Asy’ari. Pertemuan yang dihadiri oleh para Kyai se-Jawa Banten salah satunya adalah Kyai Abbas, bertujuan untuk melawan penjajah Belanda saat itu. Kegiatan tersebut juga sebagai bentuk menyukseskan pembacaan 1 miliyar sholawat Nariyah, “Unwaha itu di bawah naungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, jadi seluruh mahasiswa Unwaha adalah santri Mbah Wahab, sapaan akrab KH. Abdul Wahab Hasbullah, dan ini adalah bentuk mensukseskan pembacaan 1 Miliyar Sholawat Nariyah yang dimotori oleh PB NU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama),” imbuhnya. Tidak hanya itu saja, ribuan Santri Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas mengikuti kirab Hari Santri Nasional di Aloon-aloon Jombang. Tidak kurang dari 40 ribu santri melakukan Longmarch dari Aloon-aloon Jombang menuju GOR Merdeka Jombang. Kirab ini dilakukan sebagai bentuk penanaman nilai-nilai Nasionalisme pada Generasi Muda. Unwaha mengirim beberapa perwakilan dari UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Pramuka dan anggota Pagar Nusa yang dinaungi oleh UKM Olahraga untuk menjaga keamanan di alun-alun kota Jombang pada saat acara berlangsung.
UNWAHA TANDA TANGANI MOU DENGAN 23 PT DALAM DAN LUAR NEGERI
Keseriusan pengembangan Unwaha menjadi perguruan tinggi terkemuka dan unggul terus ditingkatkan. Hal ini ditunjukkan dengan penandatanganan MoU (Memorandum of Understanding) antara Unwaha dengan 23 perguruan tinggi lain baik dari dalam maupun luar negeri. MoU yang meliputi kesepakatan dalam program publikasi ilmiah internasional ini merupakan lompatan besar sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas dan jumlah artikel ilmiah dari dosen dan mahasiswa Unwaha dalam skala nasional maupun internasional. Wakil Ketua 1 Unwaha, Dr. Fathulloh menyampaikan bahwa meskipun Unwaha masih baru berumur 3 tahun,namun program publikasi yang dicanangkan dan dilakukan secara sistematis sejak hulu hingga hilir akan menjadi program prioritas dan kunci kualitas Unwaha dimasa mendatang. Program publikasi internasional yang dilaksanakan Unwaha ini tentunya akan sangat didukung oleh pendanaan yang baik dari Rektorat Unwaha. Demikian ditegaskan pula oleh Wakil Rektor bidang keuangan, Dr. Abdul Kholid. Kholid melanjutkan bahwa dukungan keuangan dari Unwaha untuk program publikasi dan riset internasional akan diprioritaskan mengingat merupakan program kunci dan juga menjadi priorias kementerian riset dan pendidikan tinggi RI. Senada dengan WR 1 dan WR 2, Wakil Rektor 3 bidang kemahasiswaan yang juga membidangi kerjasama, Dr. Muhyiddin ZA, menyampaikan bahwa kerjasama dengan lebih dari 20 PT dalam dan luar negeri ini merupakan lompatan bagus bagi Unwaha untuk menuju menjadi Perguruan Tinggi terkemuka di Indonesia. Muhyiddin dalam kesempatan lain juga menjelaskan bahwa Unwaha juga sedang mempersiapkan program kerjasama dengan negara-negara timur tengah yang memiliki konsen yang baik dalam bidang iptek. Penandatanganan MoU itu sendiri dilaksanakan di perguruan tinggi partner Unwaha, yakni Universitas Dwijendra Bali dengan disaksikan rektor rektor dari perguruan tinggi anggota konsorsium, termasuk perwakilan dari Chulalongkorn university dan Korea University.
UNWAHA Berkolaborasi dg Universitas Dwijendra & UMAHA selenggarakan seminar Internasional Tentang Riset
Bertempat di Denpasar, Bali, pada hari senin, 17 oktober 2016, UNWAHA kembali mengadakan event internasional yang menghadirkan pembicara dari Korea University, Korsel dan Chulalongkorn University, Thailand. Event internasional kali ini bertempat di Denpasar, Bali dan mengangkat topik bertema “Building International Collaboration Research“. Bekerjasama dengan Universitas Dwijendra, Denpasar dan Universitas Maarif Hasyim Latief, Sepanjang, event yang dikemas dalam bentuk seminar internasional ini dihadiri tidak kurang dari 1000 peserta dari seluruh penjuru Indonesia. Tampak hadir pula Dr. Fathoni Rodli, Rektor UMAHA yang sekaligus juga Ketua Umum Ahli Dosen Republik Indonesia, Prof. Bunyamin mewakili Menteri Ristek Dikti RI, Ketua Kopertis Wilayah 8 dan beberapa tokoh dan pejabat lainnya. Dr. Fathoni Rodli dalam sambutan pembukanya menyampaikan pentingnya menggalang jejaring internasional bagi perguruan tinggi di Indonesia. Mengingat tuntutan go international saat ini dan ke depan, maka jejaring internasional yang kuat menjadi kunci kualitas suatu perguruan tinggi. Dalam kesempatan seminar internasional yang selanjutnya diharapkan ada implementasi konkret ini, merupakan kegiatan yang sangat strategis untuk menginisiasi maupun memperkuat jejaring tersebut, demikian lanjut Fathoni. Prof. Bunyamin yang mewakili kementerian Ristekdikti pada sesi diskusi juga menyampaikan dukungannya secara kelembagaan maupun secara pribadi terhadap langkah langkah konkret yang dilakukan Unwaha dan perguruan tinggi lainnya dalam upaya go internasional. Rektor Unwaha, Dr. H. Anton Muhibuddin, dalam konferensi pers meyampaikan bahwa program-program Unwaha dalam menuju go international diantaranya adalah pengiriman mahasiwa Unwaha untuk magang dan skripsi di beberapa perguruan tinggi luar negeri ternama yang menjadi partner. Selain itu, lanjut Dr. Anton, bahwa peningkatan publikasi internasional melalui kerjasama dengan perguruan tinggi partner menunjukkan peran yang signifikan dalam upaya go international.
HARI PANGAN? Saatnya SADAR KUALITAS PANGAN
Hari Pangan Sedunia yang diperingati tiap tanggal 16 Oktober menjadi momentum untuk selalu meningkatkan kesadaran dan perhatian kita akan pentingnya penanganan masalah pangan. Mahasiswa UNWAHA tidak menyianyiakan momentum ini dengan cara membagiakan buah dan susu kedelai gratis. Mahasiswa UNWAHA berkumpul di Alun-Alun Jombang kemudian berjalan sambil bersholawat ke arah Ringin Contong membagikan buah dan sari kedelai sepanjang jalan. Tujuannya adalah mengedukasi masyarakat umum bahwa untuk memenuhi kebutuhan pangan itu tidak sekedar ingin “kenyang” saja melainkan juga harus memikirkan gizi dan kualitas pangan. Kegiatan tersebut juga bertujuan untuk menghimbau masyarakat agar peduli dengan hasil pangan terutama di Jombang. Masyarakat harus lebih kreatif dan inovatif dalam mengolah pangan sehingga dapat meningkatkan nilai pangan dan nilai jual dari hasil pangan tersebut. Sukses untuk Mahasiswa UNWAHA. Selalu Tebarkan Pengaruh Positif kepada Masyarakat!!!
UNWAHA Berbagi, UNWAHA Peduli [Santunan Anak Yatim]
UNWAHA BERBAGI, UNWAHA PEDULI !!! Jargon tersebut tepat sekali untuk mewakili UNWAHA yang memiliki jiwa kepedulian sosial tinggi. Kali ini UNWAHA mengadakan kegiatan Santunan Anak Yatim. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka memperingati Tahun Baru Hijriyah sekaligus sebagai ucapan rasa syukur dalam rangka Disnatalis UNWAHA ke-tiga yang dilaksanakan setelah acara Pembukaan Disnatalis. Kegiatan dilaksanakan di Masjid UNWAHA dengan jumlah anak yatim yang disantuni sebanyak empat puluh. UNWAHA sebagai kampus yang berkarakter Islami memiliki tingkat kepekaan dan kepedulian sosial tinggi yang diwujudkan dalam kegiatan-kegiatan sosial khususnya di Jombang. Kasih sayang dan berbuat baik kepada anak yatim adalah sebagian dari akhlak dan moralitas orang-orang yang mulia. Mengasihi anak yatim merupakan sarana untuk melunakkan hati dan mengupayakan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan. Sebab, orang yang mengasihi anak yatim telah memposisikan diri seperti ayahnya. Seorang ayah, secara naluriyah memiliki karakter sayang dan mengasihi anak-anaknya. Adapun orang yang mengasihi anak yatim memiki satu sifat lain, yaitu mengasihi anak yang bukan anak kandungnya. Serupa seperti UNWAHA yang merupakan lembaga di bidang pendidikan juga mencintai anak didik dengan sangat tulus. UNWAHA tidak pandang bulu dalam hal mendidik dan mencerdaskan anak bangsa. Hal ini sebagai wujud cinta tanah air dan ingin memperkuat persatuan bangsa yang sesuai dengan semangat dan tema yang diusung pada Disnatalis UNWAHA ke-3 kali ini yaitu “Menghimpun Langkah Konkret Mahasiswa untuk Persatuan Bangsa”.
Opening Ceremony Disnatalis UNWAHA ke-3
Gambar. Pelepasan Balon pada acara Pembukaan Disnatalis UNWAHA ke-3 pada 13 Oktober 2016 Peringatan hari lahir (dies natalis) dalam sejumlah besar budaya dianggap sebagai peristiwa penting yang menandai awal perjalanan kehidupan. Karena itu, biasanya peringatan tersebut dirayakan dengan penuh syukur dan kebahagiaan. Bertambahnya usia selalu dibarengi dengan pengharapan akan makin bertambahnya kedewasaan. Tidak hanya bagi manusia, pertambahan usia bagi organisasi pun selalu dikaitkan dengan tingkat kedewasaan. Apalagi bagi sebuah perguruan tinggi yang memiliki fungsi utama melahirkan para ilmuwan yang berkualitas. Bagi Universitas KH. A Wahab Hasbullah, dies natalis punya makna penting yang bukan hanya sebagai penanda bertambahnya usia, tapi juga penanda tingkat kedewasaan dalam berkarya. Persaingan dalam penyediaan jasa pendidikan tinggi mengharuskan Unwaha untuk melakukan berbagai perubahan internal agar tetap eksis. Apalagi, berbagai standar internasional telah ditetapkan sebagai aturan main untuk memperketat persaingan di kalangan penyedia jasa pendidikan tinggi. Untuk bisa meraih peringkat tinggi dalam persaingan tersebut, Unwaha harus bisa berinovasi, mengubah aturan main yang membelenggu kreativitas civitas academica, bahkan merombak total budaya organisasi yang menghambat proses adaptasi tersebut Dies natalis seharusnya menjadi momentum untuk menguatkan komitmen akan perubahan demi kemajuan. Perlu ada penegasan tentang upaya-upaya yang harus dilakukan sebagai bagian dari resolusi ulang tahun. Tidak ada salahnya merayakan dies natalis dengan kegiatan-kegiatan hiburan bila ini bagian dari upaya membangun budaya organisasi baru, menghilangkan sekat-sekat antargenerasi, membangun sportivitas, dan seterusnya. Apalagi bila kegiatan itu berkontribusi positif untuk revitalisasi budaya Islam sebagai ciri khas Unwaha. Demikian pula, tidak ada larangan untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan serius berkarakter ilmiah untuk mempromosikan hasil karya para civitas akademika Unwaha yang membanggakan. Semua kegiatan itu adalah bagian dari ucapan syukur atas pencapaian yang telah diraih. Tapi, apakah semua rangkaian kegiatan diesnatalis itu mampu membangkitkan kebanggaan sebagai warga Unwaha? Semangat sebagai suatu kolektivitas inilah yang seharusnya menjadi inti dari peringatan dies natalis sebagai sebuah momentum untuk mengaktualisasikan semangat awal berdirinya Unwaha. Unwaha dibentuk bukan cuma untuk menjadi sebuah universitas biasa. Nilai-nilai nasionalisme dan religius ala Unwaha inilah yang harusnya ditradisikan dalam dies natalis. Sesuai dengan Visi UNWAHA menjadi universitas yang Berwawasan Global dan Berkarakter Islami. Tema dies Unwaha 2009 “Menghimpun Langkah Konkret Mahasiswa untuk Perdsatuan Bangsa”, harus menjadi spirit dan salah satu values baru bagi civitas academica di dalam melakukan pengabdiannya pada Negara Indonesia. Unwaha hadir ditengah-tengah bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa di dunia, bertumbuh kembang dengan landasan nilai-nilai nasionalisme dan religius Islam. Rangkaian Acara Dies Natalis Unwaha diawalai dengan acara Opening Ceremony. Pelepasan Balon menjadi symbol bahwa Unwaha akan menjulang tingi tanpa batas seperti balon yang terbang tinggi di angkasa. Semangat untuk memupuk persatuan bangsa selalu di gaungkan di Unwaha. Lagu yang selalu tak pernah ketinggalan dalam setiap acara ceremonial Unwaha adalah Mars Syubbanul Wathon karya KH. A. Wahab Hasbullah . Mars ini sebagai semangat untuk terus meningkatkan rasa Cinta Tanah Air.