Universitas KH. A. Wahab Hasbullah

Tag: Jombang

Dongkrak Mutu dan Prestasi, UNWAHA Jombang Gelar Rapat Kerja Bersama Yayasan

Salah satu bentuk penguatan tata kelola universitas dalam mewujudkan Good Governance University adalah adanya sistem penjaminan mutu yang sesuai dengan peraturan dan kebijakan yang telah ditetapkan. Dalam rangka terlaksananya PPEPP (Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, Peningkatan) yang baik maka dilaksanakan Rapat Kerja Yayasan Pendidikan Tinggi Bahrul Ulum (YPTBU) dengan Jajaran Pimpinan Universitas KH. A. Wahab Hasbullah atau UNWAHA Jombang, 26 – 27 Agustus 2023 di Ballroom Hotel Atria Malang, Jawa Timur. Acara tersebut diikuti oleh Ketua Pembina YPTBU, Ketua Umum YPTBU, Segenap Pengurus Harian Yayasan dan Pimpinan UNWAHA mulai dari Rektor, Wakil Rektor, Direktur PJM, Direktur LPPM, Dekan, Ketua Prodi, Kabiro, dan Kabag di lingkungan UNWAHA. Pada acara tersebut juga menghadirkan beberapa guru besar kampus ternama dan praktisi yang sekaligus sebagai konsultan pengembangan UNWAHA. Pada hari pertama, agenda RAKER dibuka oleh Prof. Dr. Ir. Gatot Ciptadi, Dess, IPU, ASEAN Eng. selaku Rektor UNWAHA. Selanjutnya dilaksanakan prosesi pemotongan tumpeng sebagai rasa syukur satu dekade (baca: sepuluh tahun) berdirinya UNWAHA oleh Hj. Hizbiyah Wahab, MA. selaku Ketua Umum YPTBU dan KH. Hasib Wahab selaku Ketua Pembina YPTBU. Agenda pertama dibuka acara penguatan SPMI dengan narasumber Prof. Dr. Slamet Wahyudi, ST., MT. selaku anggota Dewan Eksekutif BAN-PT. Dalam kesempatan ini beliau menyampaikan bahwa untuk menjadi perguruan tinggi yang unggul, UNWAHA harus bisa melaksanakan sistem penjaminan mutu yang terbukti efektif yang memenuhi empat aspek, yakni: (1) Keberadaan dokumen formal penetapan standar mutu, (2) Standar mutu dilaksanakan secara konsisten, (3) Monitoring, evaluasi dan pengendalian terhadap standar mutu yang telah ditetapkan, dan (4) Hasilnya ditindak lanjuti untuk perbaikan dan peningkatan mutu dan dilakukan review terhadap siklus penjaminan mutu yang melibatkan reviewer eksternal.

Pengumuman Intruksi kepada Seluruh Mahasiswa UNWAHA Jombang dalam rangka Peringatan HUT RI ke-78

[pdfjs-viewer url=”https://unwaha.ac.id/wp-content/uploads/2023/08/Surat-Pemberitahuan-Mahasiswa.pdf” attachment_id=”3281″ viewer_width=100% viewer_height=800px fullscreen=false download=true print=true]

PENGUMUMAN LIBUR NASIONAL DALAM RANGKA HARI WAISAK

[pdfjs-viewer url=”https://unwaha.ac.id/wp-content/uploads/2023/05/Pengumuman-libur-perkuliahan-dlm-rangka-Hari-Waisak-4-Juni-2023-H.pdf” attachment_id=”3176″ viewer_width=100% viewer_height=800px fullscreen=false download=true print=true]

Memastikan Calon Lulusan Lebih Kompeten, Unwaha Laksanakan Uji Kompetensi

  Sejumlah mahasiswa Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas KH A Wahab Hasbullah (Unwaha) Tambakberas, Jombang mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) dan Uji Kompetensi pada Selasa-Rabu (23-24/5/2023). Program Sertifikasi Kompetensi Kerja ini diikuti oleh 46 mahasiswa Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi yang tengah menempuh semester 8. Ita Rahmawati, Dekan Fakultas Ekonomi Unwaha menyampaikan bahwa Program Sertifikasi Kompetensi ini memang direncanakan oleh Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi Unwaha sebagai pembuktian kompetensi calon lulusan Prodi Manajemen Unwaha menghadapi persaingan dunia usaha dan dunia industri. Kompetensi merupakan proses penilaian atau assessment yang dilakukan baik secara teknis maupun nonteknis yang diadakan oleh Direktorat SDM dan organisasi dengan tujuan untuk mengetahui kompetensi atau keahlian dari seseorang yang nantinya akan direkomendasikan pada jabatan tertentu. “Jenis uji yang dinilai meliputi tes tulis, tes lisan, dan praktik, sesuai dengan bidang keahlian yang dipilih,” ungkapnya, Rabu (24/5/2023) Ita Rahmawati menambahkan bahwa Ujian Kompetensi BNSP harus diikuti mahasiswa semester 8, dan jika dinyatakan lulus maka akan mendapatkan sertifikat kompetensi BNSP. Sertifikat BNSP ini sangat bermanfaat pada dunia kerja, karena sertifikat ini menunjukkan keahlian yang dimiliki. Dengan memiliki sertifikat kompetensi akan menunjukkan bahwa pemilik sertifikat sudah berkompeten dalam bidang yang ditekuni dan bermanfaat untuk meningkatkan kredibilitasnya di bidang pekerjaannya. Sementara itu, Minan Rohman, Direktur LSP ABP Modern menyampaikan dalam pengarahannya bahwa kemampuan lulusan dari sebuah perguruan tinggi perlu terus ditingkatkan agar mampu menghasilkan lulusan yang berkompeten, sehingga memiliki daya saing yang sangat kompetitif di dunia industri. “Sertifikasi kompetensi merupakan bentuk pengakuan atas kemampuan, keterampilan, dan sikap kerja seseorang dalam bidang tertentu. Jika sudah memilikinya, dijamin seseorang akan memiliki keahlian dan kredibilitas di bidang tersebut,” jelasnya. Sertifikasi kompetensi bagi mahasiswa perlu dilakukan sebagai bukti seorang mahasiswa memiliki kemampuan di dunia profesional. Sertifikat kompetensi bisa meningkatkan daya saing personal karena menjadi faktor pendukung sebagai nilai lebih untuk calon lulusan ketika mencari pekerjaan dan sebagai gambaran atas kemampuan teknis yang sudah terstandar dan terukur. “Calon lulusan dapat memiliki bukti kompetensi dari kemampuannya yang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alat daya saing di dunia industri yang akan mereka masuki setelah selesai studi di Prodi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi Unwaha ini,” imbuhnya.

Dimensi Psikologi Idul Fitri

Fajar 1 Syawal 1444 H sebentar lagi akan tiba. Tanpa terasa Ramadhan sudah berada di penghujung waktunya dan akan segera ditutup dengan melaksanakan sholat Idul Fitri. Bagi umat islam, Idul Fitri merupakan titik kontinum kerinduan dari perjuangan sepanjang bulan menjalankan ibadah puasa dengan harapan sampai pada puncak kemenangan dengan fitrah dari dosa. Idul fitri juga merupakan puncak kesedihan, karena ditinggal bulan yang penuh rahmat, limpahan maghfiroh, dan ladang pahala yaitu bulan Ramadhan.   Keutamaan Hari Raya Idul Fitri Hari raya Idul Fitri tidak hanya sebuah momentum atas kemenangannya menahan diri dari makan dan minum serta menjauhi dari berbagai pekerjaan yang bisa mencederai pahala puasa. Lebih dari itu, hari raya Idul Fitri merupakan suatu hari yang harus dibanggakan, karena pada hari tersebut Allah menjanjikan ampunan bagi orang-orang yang melaksanakan ibadah shalat hari raya Idul Fitri. Rasulullah ﷺ bersabda: عَنْ ابنِ مَسْعُوْد عَنِ النَّبِي ﷺ أَنَّهُ قَالَ اِذَا صَامُوْا شَهْرَ رَمَضَانَ وَخَرَجُوْا اِلَى عِيْدِهِمْ يَقُوْلُ اللهُ تَعَالىَ: يَا مَلاَئِكَتِيْ كُلُّ عَامِلٍ يَطْلُبُ أَجْرَهُ وَعِبَادِيْ اللَّذِيْنَ صَامُوْا شَهْرَهُمْ وَخَرَجُوْا اِلَى عِيْدِهِمْ يَطْلُبُوْنَ أُجُوْرَهُمْ أَشْهِدُوْا أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ. فَيُنَادِي مُنَادٍ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ اِرْجِعُوْا اِلَى مَنَازِلِكُمْ قَدْ بَدَلْتُ سَيِّئَاتِكُمْ حَسَنَاتٍ. فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: يَا عِبَادِيْ صُمْتُمْ لِيْ وَأَفْطَرْتُمْ لِيْ فَقُوْمُوْا مَغْفُوْرًا لَكُمْ. Artinya, “Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dari Nabi Muhammad ﷺ, bahwa Nabi bersabda: ketika umat Nabi melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan dan mereka keluar untuk melaksanakan shalat Idul Fitri, maka Allah berfirman: wahai Malaikatku, setiap yang telah bekerja akan mendapatkan upahnya. Dan hamba-hambaku yang telah melaksanakan puasa Ramadhan dan keluar rumah untuk melakukan shalat Idul Fitri, serta memohon upah (dari ibadah) mereka, maka saksikanlah bahwa sesungguhnya aku telah memaafkan mereka. Kemudian ada yang berseru, ‘wahai umat Muhammad, kembalilah ke rumah-rumah kalian, aku telah menggantikan keburukan kalian dengan kebaikan’. Maka Allah swt berfirman: wahai hamba-hamba-Ku, kalian berpuasa untukku dan berbuka untukku, maka tegaklah kalian dengan mendapatkan ampunan-Ku terhadap kalian.   Secara psikologis, Idul Fitri bukan hanya momen perayaan dari berakhirnya madrasah Ramadhan, melainkan merupakan manifestasi teologis atas kesucian (fitrah) manusia yang bertauhid. Setidaknya terdapat tiga dimensi psikologi dari Idul Fitri yang sangat penting untuk dimaknai dan disyukuri yaitu kemenangan, kebahagiaan, dan kerukunana. Dimensi kemenangan. Idul Fitri sarat akan spirit kemenangan dalam mengendalikan nafsu. Menurut Imam Al-Ghazali, Pendidikan merupakan proses transformasi muslim dari budak nafsu menjadi hamba Allah yang bertaqwa, beriman, dan beramal sholeh. Dimensi kebahagiaan. Idul Fitri merupakan momen sosial untuk melepas rindu mengenang asal-usul primordial, dan meneguhkan spirit berbagi. Sehingga Idul Fitri harus dimaknai sebagai jalan kemenangan mental spiritual yang mengantarkan pada harmoni, kedamaian hati, dan kebahagiaan sejati. Dimensi kerukunan. Idul Fitri menyadarkan pentingnya komunikasi sosial melalui silaturrahmi dalam bentuk saling memaafkan, saling berbagi, saling menyayangi, dan saling menghargai. Idealnya silaturrahmi harus dimaknai sebagai trasnformasi sosial sebagai langkah strategis dan efektif untuk mewujudkan harmoni sosial dan kerukunan nasional bukan sekedar bertemu kangen dan bersambung rasa. Esensi dari dimensi kerukunan adalah komitmen bersama untuk memerdekakan diri dari segala penyakit hati dan bebas dari segala bentuk intervensi serta hegemoni asing.

Keagungan Lailatul Qadar yang Disembunyikan

Salah satu anugrah yang Allah SWT berikan kepada umat islam adalah adanya malam lailatul qadar atau malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan yang selalu dinanti umat islam. Ibaratnya, lailatul qadar merupakan tamu agung dengan segudang bawaan kebaikan bagi orang-orang yang menjamunya. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Qadr:1-5,) إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ, لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ، سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.” (QS Al-Qadr: 1-5). Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa mayoritas mufasir menafsirkan ayat 2 dan 3 dengan makna “beramal atau beibadah di malam lailatul qadar lebih baik dibandingkan dengan beramal dalam 1000 bulan yang tidak ada lailatul qadar”. Sedangkan Syekh Mustafa Al-Maraghi menafsirkan ayat 2 dan 3 dari sudut pandang yang berbeda dengan para mufasir pada umumnya. Menurut beliau, alasan lailatul qadar lebih baik daripada 1000 bulan karena pada pada malam ini  diturunkannya permulaan syariat baru kepada manusia terbaik dan malam tersebut merupakan peletakan batu pondasi agama terakhir yang akan selalu sesuai dengan setiap masa dan tempat, adalah malam yang lebih utama dibanding 1.000 bulan dimana mereka membabi buta dalam kegelapan syirik, kesesatan menyembah berhala, kebingungan yang tidak ada ujungnya dan tidak mengenalibatas. Menurut Ad-Dhuhak, malam lailatul qadar merupakan malam keselamatan, dimana pada malam-malam lainnya Allah menetapkan adanya cobaan, musibah, dan keselamatan. Sedangkan menurut Syekh Nawawi Banten, malam lailatul qadar adalah malam dimana malaikat turun secara berkelompok dari awalnya malam sampai terbit fajar. Turunnya malaikat secara berturut-turut itu karena banyaknaya salam yang mereka sampaikan untuk ahli puasa dan shalat dari umat Nabi Muhammad SAW. Beliau juga menyebutkan pendapat yang mengatakan bahwa malam lailatul qadar dari awal sampai terbitnya fajar selamat dari perbedaan dan kekuranan. Ibadah dibagian waktu manapun lebih baik daripada 1000 bulan. Malam lailatul qadar tidak seperti malam-malam lain terkait waktu misalnya waktu sahur untuk berdoa, sedangkan pada malam lailatul qadar semua waktu sama.

Istighosah dan Buka Bersama Fakultas Pertanian (FAPERTA) UNWAHA

Fakultas Pertanian UNWAHA menggelar buka bersama dalam rangka mempererat silaturrahmi antara dosen dengan mahasiswa. Acara yang dilaksanakan pada Selasa (11/4/2023) ini dihadiri dekan, kaprodi, dosen, mahasiswa, serta staff FAPERTA. Turut hadir juga dalam acara ini kabag kepegawaian dan Kabag Humas UNWAHA. Acara yang merupakan agenda tahunan FAPERTA ini dibuka dengan bacan istighosah dan dilanjutkan sambutan-sambutan. Dalam sambutannya, Ambar Susanti, M.P., selaku dekan FAPERTA mneyampaikan pentingnya silaturrahmi antara dosen dan mahasiswa untuk memperkuat FAPERTA. Beliau juga berharap agar kedepannya acara ini dapat dihadiri oleh alumni untuk mempererat tali silaturrahmi anatara Lembaga dengan alumni. Acara dilanjutkan dengan pembagian doorprize, berbagai pertanyaan diberikan kepada mahasiswa, dan dijawab dengan antusias oleh mereka. memasuki waktu maghrib, acara ditutup dengan do’a bersama dan dilanjutkan dengan buka bersama dan ramah-tamah antar dosen dan mahasiswa.

Dimensi Filosofi Zakat dalam Filantropi Islam

Islam merupakan agama yang mengatur segala aspek kehidupan mulai dari hubungan dengan Tuhan hingga hingga hubungan antara manusia dan alam. Dimensi penghambaan yang dibangun oleh islam tidak terbatas pada prisip ketuhanan (teosentris), melainkan juga manifestasi kemanusiaan (antroposentris). Perhatian islam terkait kemanusiaan digambarkan melalui prinsip, ajaran, atau syariat keislaman. Hal ini menunjukkan dibalik ritual penghambaan yang disyariatkan dengan kewajiban terdapat makna esetoris beragama yang apabila kita refleksikan dan transformasikan dapat mewujudkan keharmonisan, baik hubungan dengan Tuhan, dengan sesama manuisa, maupun dengan alam. Zakat merupakan salah satu ibadah wajib yang menjadi bukti nyata perhatian syariat terhadap hubungan manusia dengan sesamanya. Secara ontologis zakat menunjukkan dogma religious, yang diungkap dalam Al-Qur’an sebanyak 82 kali yang bersifat konsepsional-dogmatis. Hal ini dapat dilihat dari riwayat Abu Bakar Ash-shidiq yang memerangi para pembangkang yang menolak membayar zakat, atau perintah Umar bin Khattab untuk membakar rumah orang islam yang menolak perintah zakat. Kejadian tersebut dapat dimaklumi mengingat zakat bersifat multidimensi. Selain berdimensi teologis, zakat juga berdimensi historis, ekonomi, politik, dan eskatologis. Oleh karena itu, zakat berbeda dengan ibadah lainnya seperti sholat yang bersifat ritual-individual-formal, zakat adalah satu-satunya rukun islam yang bertransformasi dari ibadah personal ke ibadah sosial, inilah yang disebut dimensi sosial-ekonomi zakat. Jika dikaji dari secara filosofi, zakat menyangkut tiga aspek. Pertama, aspek tugas manusia sebagai kholifah (QS. Al-Baqoroh: 30) yang harus memimpin dan mengatur tersedianya produksi, distribusi, dan konsumsi bagi makhluk hidup di bumi (QS. Qaf: 7-11; QS. An-Nahl: 69). Dalam konteks ini zakat harus melibatkan pemerintah baik dari segi hukum, anggaran, maupun pembagian. Aspek kedua, solidaritas sosial. Diharapkan zakat mampu memperkecil gap pemisah antara yang kaya dan yang miskin. Hal ini juga menjadi batas-batas equilibrium proporsional sehinggga kekayaan tidak menjadi penyebab kelalaian seseorang beribadah, begitupula kemiskinan tidak menjadi keterpurukan yang dapat menyebabkan seseorang lupa kepada Tuhannya. Aspek ketiga, cinta dan persaudaraan. Meskipun kemiskinan adalah realitas sosial yang tidak dapat dihapuskan secara mutlak, namun dengan zakat dampak sunnatullah tersebut dapat diminalisir sehingga tidak menghancurkan sendi-sendi kemanusaian. Dengan demikian zakat merupakan usaha untuk kembali pada kondisi fitrah sekaligus sebagai bentuk partisipasi dalam membangun kebersamaan sosial dan ekonomi dalam masyarakat.

Jelang Libur Lebaran Idul Fitri 1444 H, Unwaha Gelar Buka Bersama

Menjelang libur lebaran Idul Fitri 1444 H yang jatuh pada tanggal 15 April 2023, UNWAHA gelar buka bersama pada Minggu (9/4/2023). Acara yang merupakan agenda tahunan UNWAHA ini merupakan ajang mempererat tali silaturrahmi seluruh civitas akademik UNWAHA. Acara buka bersma dibuka dengan menyanyikan lagu yalalwathon dan tahlil bersama. Melalui sambutannya, Prof. Dr. Gatot Ciptadi, IPU. Asean., Eng. menyampaikan acara ini adalah ajang mempererat tali silaturrahmi antar seluruh civitas akademik. Melalui kesempatan ini, beliau juga memohon do’a dan dukungan dari seluruh civitas akademik UNWAHA terkait reakreditasi UNWAHA yang akan dilaksakana sekitar bulan Desember. Beliau juga memohon do’a dan dukungan terkait pembukaan program pascasarjana di UNWAHA. Program sarjana ini meliputi prodi PAI dan ES. Beliau juga menyampaikan pengaktivan kembali system checklock untuk meningkatkan kedisiplinan dosen dan karyawan UNWAHA. Sambutan kedua yang disampaikan oleh Ino Anggaputra, M.Pd. selaku Wakil Rektor Bidang Akademik. Beliau menyampaikan tentang pelaporan data ke LDDIKTI 7 yang akan ditutup tanggal 12 April 2023. Untuk itu, beliau menyampaikan agar seluruh dosen termasuk dosen yang belum memiliki jabatan fungsional untuk segera melengkapi berkas yang dibutuhkan. Sambutan ketiga sekaligus pembacaan do’a disampaikan oleh Dr. H. Abdul Kholid, M. Ag. Beliau menyampaikan bahwa kegiatan sertifikasi dosen seperti yang disampaikan oleh Wakil Rektor Bisang Akademik sangat penting untuk meningkatkan akreditasi kampus. Oleh karena itu, dosen yang bersangkutan diharap segera menyelesaikan berkas yang dibutuhkan. Beliau juga menyampaikan bahwa diperkirakan tahun 2024, program pascasarjana UNWAHA sudah dibuka. Acara diakhiri dengan ramah tamah dan buka bersama seluruh civitas akademik UNWAHA.

UNWAHA Selenggarakan Pelatihan Penyusunan Administrasi Sertifikasi Dosen (SERDOS)

Menyambut pembukaan sertifikasi dosen (SERDOS) tahun 2023, kepegawaian UNWAHA menyelenggarakan pelatihan penyusunan administrasi SERDOS pada Selasa (4/4/2023). Acara yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan di UNWAHA ini juga merupakan bentuk dukungan kampus terhadap peningkatan kualitas dosen. Acara ini menghadirkan dua narasumber yaitu Agus Sifaunajah, M. Kom. (Kaprodi Sistem Informasi) dan M. Farid Nasrulloh, S.Pd.Si., M.Pd. (Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan). Sertifikasi dosen adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk dosen. Sertifikasi dosen bertujuan untuk (1) menilai profesionalisme dosen guna menentukan kelayakan dosen (2) melindungi profesi dosen sebagai agen pembelajaran di perguruan tinggi, (3) meningkatkan proses dan hasil pendidikan dan (4) mempercepat terwujudnya tujuan pendidikan nasional. Sertifikat pendidik yang diberikan kepada dosen melalui proses sertifikasi adalah bukti formal pengakuan terhadap dosen sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan tinggi. Sertifikasi pendidik dilaksanakan melalui uji kompetensi untuk memperoleh sertifikat pendidik. Uji kompetensi ini dilakukan dalam bentuk penilaian portofolio, yang merupakan penilaian pengalaman akademik dan profesional dengan menggunakan portofolio dosen. Penilaian portofolio dosen dilakukan untuk memberikan pengakuan atas kemampuan profesional dosen. Dalam sambutannya, Ino Anggaputra, M.Pd. selaku Wakil Rektor Bidang Akademik menyampaikan bahwa sertifikasi dosen sangat penting untuk dosen yang bersangkutan dan kampus. Semakin banyak dosen yang memperoleh sertifikat pendidik, maka secara tidak langsung kualitas kampus juga akan meningkat karena dosen yang bersangkutan sudah terbukti layak menjadi dosen. Selain itu, banyaknya dosen yang memiliki sertifikat pendidik akan meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan di kampus sehingga mutu alumni sebagai generasi penerus bangsa dapat meningkat. M. Aliyul Wafa, M. Pd. selaku Kabag Kepegawaian UNWAHA menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk dukungan kampus terhadap peningkatan kualitas dan kesejahteraan dosen. Hal ini berkaitan dengan manfaat yang diperoleh dari SERDOS yaitu dosen yang bersangkutan layak menjadi dosen dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi dosen. Selain itu, bentuk dukungan lain yang diberikan kampus untuk peningkatan kualitas dan kesejahteraan dosen adalah pemberian subsidi pelatihan PEKERTI, tes TKDA, dan tes TKBI untuk dosen.