Jombang – Ada suasana berbeda di lantai 1 Gedung Jokowi Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang selama berlangsungnya Muktamar Lesbumi NU 2026. Di salah satu sudut gedung, puluhan pusaka tertata rapi dalam Pameran Pusaka yang diselenggarakan oleh Lesbumi PCNU Kabupaten Kediri.
Pameran tersebut menjadi salah satu agenda budaya yang menarik perhatian peserta muktamar. Tidak hanya menampilkan keris sebagai benda bersejarah, pameran ini juga menjadi ruang edukasi bagi masyarakat untuk memahami pusaka sebagai karya seni, warisan budaya, dan jejak panjang peradaban Nusantara.
Perwakilan Lesbumi Kabupaten Kediri, Helmy, mengatakan bahwa pameran pusaka tersebut menjadi bagian dari ikhtiar untuk terus merawat budaya leluhur. Menurutnya, keris perlu dipahami secara tepat, seperti dari nilai seni, sejarah, dan filosofinya.
“Pameran pusaka ini menjadi bukti bahwa kita masih nguri-uri (merawat, red) budaya, khususnya budaya keris. Pusaka yang kami tampilkan di sini adalah pusaka-pusaka milik para pengurus. Salah satunya pusaka dari almarhum KH. Agus Sunyoto, Ketua Lesbumi sebelumnya,” ujarnya kepada tim Humas UNWAHA Jombang.
Membaca Keris sebagai Pengetahuan Budaya
Dalam pameran tersebut, sekitar 30 pusaka ditampilkan kepada peserta muktamar. Jumlah itu hanya sebagian kecil dari pusaka yang dimiliki para pengurus dan pegiat budaya. Helmy menyebut, masih banyak pusaka lain yang belum dipamerkan, mulai dari pusaka era Hindu-Buddha, Singosari, hingga Majapahit.

Ia menjelaskan, memahami keris tidak cukup hanya dengan melihat bentuk luarnya. Ada sejumlah istilah penting yang perlu diketahui, seperti dapur, tangguh, warangka, deder, dan pamor.
“Dapur itu wajah atau bentuk keris. Jumlahnya sangat banyak, bahkan bisa ribuan. Tangguh adalah perkiraan masa dibuatnya pusaka, misalnya tangguh Majapahit, yang bisa dikenali dari ciri-cirinya,” jelasnya.
Sementara itu, warangka dan deder dipahami sebagai bagian luar keris. Helmy menyebut warangka sebagai “pakaian” keris, sedangkan deder merupakan bagian pegangan. Adapun pamor merupakan motif atau gambaran pada bilah keris yang memiliki makna tertentu.
Menurut Helmy, pamor pada keris tidak dibuat tanpa tujuan. Di dalamnya terdapat doa, harapan, dan permohonan dari empu yang membuat pusaka tersebut.
“Contohnya pamor udan mas. Harapannya, orang yang memegang pusaka itu diberi rezeki oleh Allah. Setiap pamor memiliki arti dan tujuan masing-masing dari empu,” tuturnya.
Mengenalkan Keris secara Benar kepada Generasi Muda
Pameran pusaka ini juga membawa pesan penting bagi generasi muda. Helmy menilai, salah satu tantangan terbesar dalam pelestarian budaya keris adalah kurangnya pemahaman anak muda terhadap pusaka Nusantara.

Karena itu, setiap pameran perlu menjadi ruang dialog dan edukasi. Masyarakat, khususnya generasi muda, perlu diajak memahami bahwa keris adalah benda seni dan budaya yang memiliki nilai sejarah, filosofi, dan spiritualitas, tetapi tidak untuk disalahpahami secara berlebihan.
“Harapan kami, keris bisa dipahami secara benar. Keris bukan untuk disembah, tetapi sebagai benda seni dan budaya,” katanya.
Red: Ibrahim