Universitas KH. A. Wahab Hasbullah

Gagasan Literasi Perempuan dalam Muktamar Kebudayaan Lesbumi NU

Jombang – Penulis dan tokoh perempuan muda asal Blora, Ning Welda Sanavero, S.Hum., M.A., turut menghadiri pembukaan Muktamar Kebudayaan Indonesia Lesbumi NU 2026 di Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang. Kehadirannya memberi warna tersendiri dalam forum kebudayaan yang mempertemukan budayawan, akademisi, seniman, tokoh pesantren, dan kader Nahdlatul Ulama dari berbagai daerah di Indonesia.

Muktamar yang berlangsung pada 12 hingga 14 Juni 2026 tersebut mengusung tema “Kembali ke Akar”. Tema itu menjadi ajakan untuk membaca kembali tradisi, nilai pesantren, dan warisan kebudayaan Nusantara sebagai dasar menghadapi perubahan zaman.

Ning Vero dikenal dalam dunia sastra dengan nama pena W. Sanavero. Sebagai penulis prosa, ia memiliki perhatian kuat terhadap pengalaman perempuan, kehidupan sosial, dan pergulatan manusia dalam ruang kebudayaan.

Latar akademiknya di bidang sastra dunia juga membuat pandangannya tentang kebudayaan tidak berhenti pada romantisme masa lalu, tetapi bergerak pada pertanyaan tentang bagaimana tradisi dapat tetap hidup dalam realitas hari ini.

Menurut Ning Vero, gagasan “Kembali ke Akar” perlu dipahami sebagai upaya menemukan kembali nilai dasar yang membentuk jati diri masyarakat.

“Kembali ke akar bukan berarti menolak perubahan. Justru dari akar itulah kita bisa memahami siapa diri kita, nilai apa yang harus dijaga, dan bagaimana kebudayaan dapat memberi arah bagi generasi muda,” ujarnya.

Ia menilai, kebudayaan perlu hadir dalam ruang yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat, termasuk melalui sastra, pendidikan, pesantren, keluarga, dan karya kreatif. Menurutnya, generasi muda tidak cukup hanya dikenalkan pada simbol budaya, tetapi juga perlu diajak memahami makna, nilai, dan pengalaman hidup yang membentuk budaya tersebut.

Ning Vero juga menekankan pentingnya keterlibatan perempuan dalam ruang kebudayaan. Ia memandang perempuan memiliki peran besar dalam menjaga bahasa, ingatan keluarga, tradisi lokal, serta nilai kemanusiaan yang hidup dalam masyarakat.

“Perempuan tidak hanya menjadi penjaga tradisi di ruang domestik. Perempuan juga dapat menjadi pemikir, penulis, penggerak, dan pencipta ruang kebudayaan yang memberi manfaat bagi masyarakat,” tuturnya.

Pembukaan Muktamar Kebudayaan Indonesia Lesbumi NU 2026 berlangsung khidmat. Forum ini menjadi ruang refleksi bersama untuk meneguhkan kembali peran kebudayaan sebagai fondasi peradaban. Melalui pertemuan tersebut, Lesbumi NU diharapkan mampu merumuskan langkah kebudayaan yang lebih membumi, relevan, dan tetap berakar pada nilai keislaman Nusantara.

Red: Erlina Duwi Aisah
Foto: Naflah Najjiyah
Editor: Ibrahim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru
Artikel Terbaru
Pengumuman Terbaru
Agenda Terbaru