Jombang – Suasana malam di lingkungan Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang terasa berbeda. Di bawah cahaya lampu panggung yang membingkai layar wayang dan iringan gamelan yang mengalun khidmat, para hadirin larut dalam keindahan Pentas Kolaborasi Lesbumi Nusantara, salah satu rangkaian penting dalam Muktamar Lesbumi NU 2026.
Kehadiran sejumlah tokoh penting menambah makna tersendiri bagi perhelatan budaya tersebut. Tampak hadir Pimpinan Yayasan Perguruan Tinggi Bahrul Ulum (YPTBU), Ibu Nyai Hj. Hizbiyah Rochim Wahab, M.A., bersama Dr. K.H. M. Hasib Wahab Chasbullah, yang turut menyaksikan secara langsung pertunjukan seni budaya tersebut.
Dari deretan kursi kehormatan, kedua tokoh pesantren itu menikmati setiap sajian pentas yang menampilkan kekayaan ekspresi budaya Nusantara. Iringan gamelan, pagelaran wayang, serta berbagai pertunjukan seni dari para seniman Lesbumi menjadi gambaran nyata bahwa kebudayaan terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat Nahdlatul Ulama.

Ruang Perjumpaan Seni, Pesantren, dan Kebangsaan
Pentas kolaborasi ini tidak sekadar menjadi hiburan dalam rangkaian muktamar. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan antara tradisi pesantren, dunia seni, dan semangat kebangsaan. Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan zaman, Lesbumi menghadirkan kebudayaan sebagai jalan untuk menjaga akar identitas bangsa sekaligus memperkuat nilai keislaman yang ramah dan membumi.

Kehadiran kedua pimpinan YPTBU tersebut menjadi simbol dukungan keluarga besar Pesantren Bahrul Ulum terhadap upaya pelestarian kebudayaan yang selama ini menjadi bagian penting dari perjuangan NU. Pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan dakwah, tetapi juga ruang peradaban yang menjaga warisan seni dan budaya Nusantara agar tetap lestari.
Gemuruh tepuk tangan para hadirin beberapa kali memecah malam ketika pertunjukan mencapai bagian-bagian yang memukau. Di hadapan panggung budaya, para seniman, budayawan, kiai, akademisi, dan peserta muktamar seakan dipersatukan dalam satu kesadaran bahwa kebudayaan memiliki peran penting dalam membangun peradaban.
Merawat Tradisi, Menghidupkan Kreativitas
Melalui Pentas Kolaborasi Lesbumi Nusantara, Muktamar Lesbumi NU 2026 kembali menegaskan bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan kekuatan yang terus hidup dan memberi arah bagi masa depan. Dari Jombang, kota santri yang melahirkan banyak tokoh bangsa, pesan untuk merawat tradisi, menghidupkan kreativitas, dan membangun peradaban yang berakar pada nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah serta kebinekaan Indonesia kembali bergema.
Malam itu, panggung budaya menjadi ruang yang mempertemukan seni, pesantren, dan Nahdlatul Ulama. Ketiganya berjalan beriringan dalam menjaga wajah kebudayaan Nusantara untuk generasi yang akan datang.
Penulis: M. Haris Firdaus
Editor: Ibrahim