Skip to main content

Universitas KH. A. Wahab Hasbullah

Author: Humas Unwaha

Yudisium FAI dan Pascasarjana 2026, Rektor Tekankan Integritas dan Semangat Belajar

Jombang – Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang menggelar Yudisium Program Sarjana (S-1) Fakultas Agama Islam (FAI) dan Program Pascasarjana Pendidikan Agama Islam Tahun 2026, Sabtu (15/8/2026). Bertempat di Halaman Gedung Jokowi, kegiatan mengusung tema “Mengukuhkan Integritas Keilmuan, Profesional, dan Kepemimpinan Islami dalam Mewujudkan Lulusan yang Unggul, Adaptif, dan Berdampak.” Rektor, Prof. Dr. Ir. Gatot Ciptadi, DESS., IPU., ASEAN Eng., mengingatkan para yudisiawan agar tidak berhenti belajar setelah meraih gelar. Menurutnya, lulusan perlu terus memperluas wawasan, meningkatkan kompetensi, serta memanfaatkan teknologi secara bijak tanpa meninggalkan nilai moral dan keislaman. “Jangan berhenti belajar setelah memperoleh gelar. Perluas wawasan, tingkatkan kompetensi, manfaatkan teknologi secara cerdas, dan tetap jaga nilai-nilai moral serta keislaman,” pesannya. Rektor menegaskan bahwa UNWAHA tumbuh dari tradisi pesantren dan membawa nilai perjuangan KH. Abdul Wahab Hasbullah. “Sehingga para lulusan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kematangan spiritual, kepedulian sosial, wawasan kebangsaan, dan kemampuan menghadirkan solusi di tengah masyarakat,” pungkasnya. Adaptif tanpa Meninggalkan Nilai Dekan FAI UNWAHA, Drs. Waslah, M.Pd.I., menyampaikan bahwa gelar akademik merupakan kebanggaan sekaligus tanggung jawab. Para lulusan akan menghadapi persaingan yang semakin dinamis pada era digital. “Semoga bekal yang diperoleh di Fakultas Agama Islam dapat digunakan untuk mengarungi kehidupan berikutnya. Jaga nama baik almamater tercinta kita ini,” ujarnya. Senada dengan itu, Direktur Pascasarjana UNWAHA, Dr. Saihul Atho Alaul Huda, M.Pd.I., mengajak lulusan memegang prinsip al-muhafazhatu ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah, yakni menjaga tradisi yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik. “Kita tidak anti terhadap modernitas, tetapi modernitas harus dipandu oleh nilai. Kita menerima inovasi, tetapi inovasi tidak boleh mencabut moral dan spiritual,” tegasnya. Jaga Nilai ASWAJA An-Nahdliyah Ketua YPTBU, Ibu Ny. Hj. Hizbiyah Rochim, M.A., turut berpesan agar para lulusan tetap menjaga keimanan, ketakwaan, dan nilai ASWAJA An-Nahdliyah dalam setiap ruang pengabdian. “Di mana pun anak-anakku nanti mengabdi, jangan lupa dengan apa yang telah dipelajari selama di UNWAHA. Jaga dan perjuangkan ideologi ASWAJA di tengah perkembangan yang begitu pesat ini,” tuturnya. Beliau juga menyampaikan apresiasi kepada para dosen dan pimpinan yang telah mendampingi mahasiswa hingga berhasil meraih gelar Sarjana dan Magister. Red: Ibrahim

Jelang Muktamar ke-35 NU, Gus Ipul Tinjau Kesiapan di UNWAHA

Jombang – Tujuh belas hari menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), persiapan penyambutan muktamirin terus dimatangkan. Sekretaris Jenderal PBNU sekaligus Ketua Panitia Muktamar ke-35 NU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, meninjau langsung kesiapan ruang penginapan peserta di Tower 5 Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA), Senin (10/8/2026). Dalam peninjauan tersebut, Gus Ipul didampingi Ketua Panitia Lokal Muktamar, KH Abdurrozaq Sholeh atau Gus Rozaq. Keduanya memeriksa sejumlah ruang yang akan digunakan peserta, mulai dari pembagian kamar hingga kesiapan perlengkapan istirahat. Menariknya, peninjauan tidak hanya dilakukan secara simbolis. Gus Ipul bersama Gus Rozaq ikut merapikan kasur yang telah disiapkan di sejumlah ruangan, memasang cover kasur dan sarung bantal, hingga menempelkan penanda pembagian lokasi bagi muktamirin. Optimistis Sambut Muktamirin Usai meninjau sejumlah kamar, Gus Ipul memimpin apel panitia yang akan bertugas melayani peserta di Tower 5 UNWAHA. Ia juga melakukan koordinasi bersama panitia lokal untuk memastikan setiap kebutuhan teknis dapat diselesaikan sebelum Muktamar berlangsung. Menurut Gus Ipul, pelaksanaan Muktamar kali ini memiliki nilai tersendiri karena berlangsung di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas yang memiliki hubungan erat dengan sejarah para pendiri NU. “Kita kembali ke pangkuan muassis. Karena itu, mari kerahkan seluruh kemampuan kita. Kita berharap dari Muktamar ini mendapatkan keberkahan,” ujarnya. Meski waktu persiapan relatif singkat, Gus Ipul mengapresiasi kerja panitia lokal. Ia menyebut kesiapan lokasi terus menunjukkan perkembangan positif menjelang pelaksanaan Muktamar pada 27 sampai 31 Agustus 2026. “Sekarang tinggal 17 hari lagi. Tetapi karena kerja sama dan kerja keras seluruh panitia, hari ini kita optimistis, insyaallah kita sangat siap,” katanya. Momentum Khidmat di Tambakberas Ketua Panitia Lokal Muktamar ke-35 NU KH Abdurrozaq Sholeh mengajak seluruh panitia memaknai kesempatan menjadi tuan rumah sebagai momentum untuk memberikan pelayanan terbaik kepada para kiai, ulama, dan seluruh peserta Muktamar. “Seratus tahun lagi belum tentu Muktamar kembali ke Tambakberas. Maka dari itu, mari kita serius melayani para ulama. Niatnya ditata, niat yang ikhlas,” pesannya. Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada 27 sampai 31 Agustus 2026 di kawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Selain peserta resmi, kegiatan tersebut diperkirakan akan menarik kedatangan warga Nahdliyin dari berbagai daerah. Gus Ipul turut menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah, kepolisian, masyarakat sekitar, serta seluruh pihak yang terlibat dalam persiapan. Ia juga memohon pengertian masyarakat apabila selama pelaksanaan Muktamar terjadi peningkatan mobilitas maupun pengaturan lalu lintas di sekitar lokasi. Bagi UNWAHA, kesiapan Tower 5 menjadi bagian dari dukungan terhadap penyelenggaraan Muktamar sekaligus bentuk pelayanan kepada para muktamirin yang akan hadir di Tambakberas. Red: Ibrahim

Yudisium Fakultas Ekonomi 2026, Angkat Semangat Manajerial dan Budaya Nusantara

Jombang – Fakultas Ekonomi Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang menggelar Yudisium Tahun 2026 pada Minggu (9/8/2026) di Aula UNWAHA. Kegiatan mengusung tema “Membangun Jiwa Manajerial yang Tangguh, Berdaya Saing Global, Berbudaya Nusantara.” Dekan Fakultas Ekonomi UNWAHA, Ita Rahmawati, S.E., M.Si., dalam sambutannya berpesan agar para lulusan tidak berhenti belajar setelah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Menurutnya, yudisium bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat. “Kelulusan bukan akhir dari proses belajar. Para lulusan perlu terus mengembangkan kompetensi, menjaga integritas, dan mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan,” pesannya. Turut hadir Wakil Rektor Bidang Akademik Ino Angga Putra, M.Pd. yang turut memberikan sambutan dan motivasi kepada para peserta yudisium. Nuansa Budaya Warnai Yudisium Berbeda dari pelaksanaan yudisium pada umumnya, peserta, dosen, dan tenaga kependidikan Fakultas Ekonomi mengenakan busana daerah bernuansa Betawi dan Jawa. Peserta perempuan tampil dengan busana encim, sedangkan peserta laki-laki mengenakan beskap. Nuansa budaya tersebut selaras dengan tema yudisium yang mendorong lulusan memiliki daya saing global tanpa meninggalkan identitas budaya Nusantara. Acara semakin semarak dengan penampilan band dosen Fakultas Ekonomi. Seluruh rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Kerumahtanggaan Prof. Dr. KH. Kholid, M.Ag.

Bertanya Soal Agama kepada AI, Dosen UNWAHA: Jangan Jadikan Rujukan Utama

Jombang – Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini dapat menjawab pertanyaan dalam hitungan detik. Mulai dari urusan pekerjaan, pendidikan, kesehatan, hingga persoalan agama. Cukup mengetik satu pertanyaan, pengguna dapat memperoleh penjelasan lengkap yang tampak meyakinkan. Kemudahan tersebut perlahan mengubah cara masyarakat mencari informasi keagamaan. Sebagian orang mulai bertanya tentang hukum ibadah, dalil, tafsir, hingga persoalan halal dan haram melalui aplikasi berbasis AI seperti ChatGPT. Namun, jawaban yang cepat belum tentu dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Dosen bidang Pendidikan Agama Islam Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA), Dr. Mochamad Syafiuddin Shobirin, M.Pd.I., menilai penggunaan AI dalam proses belajar agama tidak harus ditolak. Teknologi tersebut dapat membantu pengguna menemukan informasi awal. Namun, AI tidak sepatutnya ditempatkan sebagai rujukan utama dalam menentukan pemahaman maupun hukum agama. “Kita boleh saja menggunakan AI atau ChatGPT, karena AI bisa membantu mengingatkan kembali apa yang pernah kita pelajari. Persoalannya berbeda ketika seseorang belum pernah mengaji atau mempelajari masalah tersebut dengan benar, kemudian menerima jawaban AI dan mengamalkannya,” ujarnya. Keabsahan Ilmu Menjadi Persoalan Utama Menurut pria yang akrab disapa Gus Din itu, persoalan penting dalam penggunaan AI untuk belajar agama terletak pada keabsahan ilmu. Jawaban yang diberikan dapat terlihat runtut dan meyakinkan, tetapi pengguna tetap perlu memeriksa sumber, konteks, serta ketepatan penjelasannya. Karena itu, seseorang yang belum memiliki dasar ilmu berisiko menerima jawaban AI secara mentah. Risiko menjadi lebih besar ketika jawaban tersebut disampaikan kembali kepada keluarga, teman, atau masyarakat sebagai kebenaran agama. “Walaupun kita sering menggunakan AI, tetapi tidak pernah belajar agama secara sungguh-sungguh, hasilnya tetap tidak cukup. Jangan sampai sudah keliru memahami, kemudian ikut membuat orang lain keliru,” kata beliau. Ia menekankan bahwa ilmu agama memerlukan metode belajar, pemahaman terhadap sumber, kemampuan membaca konteks, serta bimbingan dari orang yang memiliki kompetensi. Jangan Memutuskan Hukum Agama Sendiri Pengasuh Ponpes As-Salafiyyah Asy-Syafi’iyyah itu juga mengingatkan risiko ketika seseorang memperlakukan jawaban AI seolah-olah sebagai keputusan hukum agama yang pasti. Menurutnya, sebagian besar masyarakat masih berada pada tahap mengikuti pendapat ulama yang memiliki keahlian dan dasar keilmuan. Ketika seseorang yang belum memahami metode pengambilan hukum menggunakan AI untuk menetapkan halal, haram, wajib, atau tidaknya suatu perkara, ia berisiko mengambil kesimpulan seperti sedang berijtihad sendiri. “Risiko terburuknya perlu dilihat dari siapa yang dirugikan. Kita ini masih berada pada tahap taklid (mengikuti ajaran atau pendapat ulama, red). Ketika hasil AI langsung dijadikan dasar untuk memutuskan hukum, seolah-olah kita sedang berijtihad sendiri, padahal kemampuan dan perangkat ilmunya belum tentu ada,” jelasnya. Dalam tradisi keilmuan Islam, ijtihad tidak sekadar memilih jawaban yang paling masuk akal. Ijtihad membutuhkan penguasaan terhadap Al-Qur’an, hadis, bahasa Arab, usul fikih, kaidah fikih, pendapat para ulama, serta pemahaman yang kuat terhadap keadaan masyarakat. Kesalahan memahami persoalan agama tidak hanya berdampak pada diri sendiri. Informasi yang salah dapat tersebar dengan cepat melalui grup percakapan, media sosial, maupun forum digital. Pada titik tersebut, kesalahan pribadi dapat berkembang menjadi kesalahpahaman bersama. Karena itu, beliau mengajak masyarakat untuk tetap bertanya kepada guru, kiai, ustadz, maupun akademisi yang memiliki kompetensi ketika menghadapi persoalan agama yang membutuhkan penjelasan mendalam. AI Sebagai Stimulus dalam Belajar Bagi kalangan pendidik, kehadiran AI dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses pembelajaran. Teknologi ini dapat membantu menemukan kata kunci, menyusun gambaran awal, mencari kemungkinan topik pembahasan, atau memetakan sumber yang perlu ditelusuri. “Sebagai pendidik, kita tetap harus mengaji dan mengaji. Memang, dengan adanya AI, informasi menjadi lebih mudah diakses. AI sebaiknya digunakan sebagai stimulus untuk memulai pencarian dan pendalaman,” ungkapnya. Pendidik juga memiliki tanggung jawab untuk menunjukkan cara menggunakan teknologi secara kritis. Peserta didik perlu memahami bahwa tampilan jawaban yang rapi tidak otomatis menjamin kebenaran isinya. “AI dapat membantu kita memperoleh informasi dengan lebih sederhana. Namun, pendidik tetap harus melakukan verifikasi dan kembali kepada sumber ilmu yang benar,” tambahnya. Belajar Agama Tetap Membutuhkan Guru Syafiuddin menjelaskan bahwa Islam tidak menolak perkembangan teknologi. Umat Islam dapat memanfaatkan perangkat baru selama penggunaannya mengikuti prinsip keilmuan, adab, dan tanggung jawab. Dalam menjelaskan etika menuntut ilmu, beliau merujuk pada syair yang dikenal luas dalam tradisi pendidikan pesantren dan termuat dalam pembahasan kitab Ta’lim al-Muta’allim karangan Syaikh Burhanuddin al-Zarnuji: أَلَا لَا تَنَالُ الْعِلْمَ إِلَّا بِسِتَّةٍسَأُنْبِيْكَ عَنْ مَجْمُوْعِهَا بِبَيَانٍ ذَكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍ وَبُلْغَةٍوَإِرْشَادِ أُسْتَاذٍ وَطُولِ زَمَانٍ Syair tersebut menjelaskan bahwa seseorang tidak akan memperoleh ilmu secara utuh tanpa enam bekal, yaitu kecerdasan, semangat, kesabaran, biaya atau bekal, petunjuk guru, dan waktu yang panjang. Menurut Gus Din, enam prinsip tersebut tetap relevan pada era digital. Teknologi dapat mempercepat pencarian informasi, tetapi tidak dapat menggantikan kesungguhan, kesabaran, proses belajar, maupun bimbingan seorang guru. “Dalam belajar ilmu, terutama ilmu agama, yang penting bukan hanya banyaknya informasi. Kita juga mencari keberkahan. Kehadiran guru menjadi salah satu jalan untuk memperoleh keberkahan tersebut,” tuturnya. Guru tidak hanya menyampaikan isi pelajaran. Guru membantu murid memahami konteks, membenarkan kesalahan, menanamkan adab, serta memberi contoh dalam mengamalkan ilmu. “Hubungan guru dan murid tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh percakapan dengan mesin,” pungkas dosen UNWAHA itu. Penulis: Ibrahim

Mahasiswa KKN UNWAHA Digitalisasi Pembayaran Air Bersih di Desa Asemgede Jombang

Jombang – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas KH. A. Wahab Hasbullah atau UNWAHA Kelompok 24 mengembangkan Aplikasi Struk Pembayaran Air Bersih untuk mendukung pelayanan administrasi di Desa Asemgede, Kecamatan Ngusikan. Pemerintah desa mulai menerapkan aplikasi tersebut pada Sabtu, 25 Juli 2026. Inovasi berbasis teknologi tersebut membantu perangkat desa mencatat pembayaran, mencetak struk, dan menyimpan data pelanggan secara digital. Sistem ini membuat proses administrasi pembayaran air bersih menjadi lebih cepat, tertata, dan akurat. Sebelum aplikasi diterapkan, perangkat desa masih mengelola administrasi pembayaran air bersih secara manual. Proses pendataan membutuhkan waktu lebih lama dan berpotensi menimbulkan antrean warga saat melakukan pembayaran. Berangkat dari Kebutuhan Administrasi Desa Aplikasi tersebut dikembangkan oleh tim pengembang yang terdiri atas Mohammad Roziqin, Alifatul Khikmah Maulidiyah, Damar Yusril Maulanalhadi, dan Roni Saputra. Ketiganya merupakan mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi UNWAHA. Aplikasi yang dirancang memiliki fungsi utama untuk mencatat transaksi pembayaran, mengelola data pelanggan, menyimpan riwayat pembayaran, dan mencetak bukti pembayaran secara langsung. Sekretaris Desa Asemgede, Devi Yulianti, S.I.Kom., mengapresiasi inovasi yang dihadirkan mahasiswa KKN UNWAHA. Menurutnya, aplikasi tersebut membantu perangkat desa memberikan pelayanan yang lebih praktis kepada masyarakat. “Dengan adanya aplikasi yang dibuat oleh mahasiswa KKN UNWAHA 2026, perangkat desa menjadi lebih mudah dalam mengelola administrasi pembayaran air bersih. Sebelumnya, proses pendataan membutuhkan waktu cukup lama dan menyebabkan antrean warga. Sekarang, proses pembayaran menjadi lebih praktis, cepat, dan efisien,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa warga tidak perlu menunggu terlalu lama untuk menyelesaikan pembayaran. Petugas dapat mencatat transaksi sekaligus mencetak bukti pembayaran melalui sistem yang sama. Dorong Transformasi Pelayanan Berbasis Digital Salah satu perwakilan tim pengembang, Mohammad Roziqin, menjelaskan bahwa aplikasi tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata Pemerintah Desa Asemgede. Tim berharap aplikasi tidak hanya digunakan selama pelaksanaan KKN, tetapi terus dimanfaatkan setelah program berakhir. “Kami berharap aplikasi ini dapat membantu meningkatkan kualitas pelayanan administrasi desa. Inovasi ini juga dapat menjadi langkah awal digitalisasi pelayanan masyarakat di Desa Asemgede,” ungkapnya. Ia berharap pemerintah desa dapat mengembangkan aplikasi sesuai kebutuhan pelayanan pada masa mendatang. Pengembangan dapat dilakukan melalui penambahan fitur, pembaruan data pelanggan, maupun penyesuaian sistem administrasi desa. Masyarakat juga mulai merasakan manfaat aplikasi tersebut. Sejumlah warga menilai proses pembayaran menjadi lebih mudah karena bukti pembayaran dapat langsung dicetak. Data transaksi juga tersimpan lebih rapi sehingga dapat diperiksa kembali ketika dibutuhkan. Tinggalkan Program yang Berkelanjutan Dosen Pembimbing Lapangan KKN UNWAHA, Ja’far Sodiq, menyampaikan bahwa inovasi tersebut menjadi salah satu bentuk nyata pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Mahasiswa tidak hanya menjalankan program kerja, tetapi juga memberikan solusi yang sesuai dengan kebutuhan desa. “KKN harus menjadi momentum bagi mahasiswa untuk mengasah potensi, membaca peluang di tengah masyarakat, dan menghadirkan solusi yang benar-benar dibutuhkan. Mahasiswa tidak cukup hanya datang melaksanakan program, tetapi harus mampu meninggalkan karya yang bermanfaat dan dapat terus digunakan setelah KKN selesai,” tegasnya. Menurutnya, pemanfaatan teknologi sederhana dapat memberikan dampak besar apabila dikembangkan berdasarkan persoalan yang dihadapi masyarakat. Karena itu, mahasiswa perlu melibatkan pemerintah desa sejak tahap perencanaan, penerapan, hingga evaluasi program. Melalui Aplikasi Struk Pembayaran Air Bersih, mahasiswa KKN UNWAHA Kelompok 24 menunjukkan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah desa dapat menghasilkan solusi digital yang tepat guna. Inovasi tersebut diharapkan terus mendukung peningkatan kualitas pelayanan publik di Desa Asemgede. Penulis: KKN Kelompok 24Editor: IbrahimFoto: Dokumentasi KKN UNWAHA Kelompok 24

Pengumuman Herregistrasi Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027

Diberitahukan kepada seluruh mahasiswa Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang bahwa pelaksanaan Herregistrasi untuk Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027 telah dibuka. Seluruh mahasiswa diwajibkan untuk memenuhi seluruh persyaratan administrasi dan mematuhi lini masa yang telah ditetapkan demi kelancaran status akademik pada semester ini. Adapun persyarayan dan jadwal dapat diunduh pada tautan di bawah ini. Pengumuman Herregistrasi Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027.

Pengajar Qira’ah UKM KHATTIBARI UNWAHA Raih Juara 1 UNESA National Qur’anic Competition 2026

Jombang – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan sivitas Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang. Pengajar Divisi Qira’ah UKM KHATTIBARI, Muchammad Anas berhasil meraih Juara 1 Cabang Tilawatil Qur’an Putra dalam ajang UNESA National Qur’anic Competition (UNQC) 2026, kompetisi Al-Qur’an tingkat nasional yang diikuti mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) itu mengungkapkan, raihan prestasi tersebut merupakan buah kerja keras yang ia tekuni selama ini. “Bagi saya, MTQ adalah cara untuk mensyiarkan Al-Qur’an melalui bacaan tilawah dan ilmu qira’ah. Juara hanyalah bonus dari proses tersebut,” kata Anas. Persiapan menuju perlombaan dilakukan jauh hari sebelum tampil. Selama kurang lebih satu bulan, ia membiasakan diri berlatih secara konsisten setiap pagi maupun malam agar semakin matang dalam membawakan maqra‘ yang telah ditentukan. Meski demikian, perjalanan menuju prestasi tidak selalu berjalan mulus. Salah satu tantangan yang paling sering dihadapi adalah menjaga kualitas suara. Perubahan cuaca dan kondisi fisik kerap memengaruhi performanya saat berlomba. Namun ia percaya bahwa latihan yang istiqomah mampu menjadi bekal terbaik ketika tampil di hadapan dewan hakim. “Kunci keberhasilan saya adalah doa orang tua, keluarga, guru, dan teman-teman. Selain itu, istiqomah dalam latihan. Jangan hanya berlatih ketika menjelang lomba,” katanya. Menariknya, perjalanan menjadi juara tidak ia raih secara instan. Ia mengaku pernah berkali-kali gagal saat mengikuti MTQ sejak tingkat kecamatan. Bahkan, setiap kekalahan pernah membuatnya pulang dengan air mata. “Orang hanya melihat saya menang sekarang, tetapi tidak melihat proses saya dulu yang sering kalah. Dari setiap kegagalan saya belajar memperbaiki bacaan dan terus mencoba lagi,” ungkapnya. Selain menjadi ajang kompetisi, MTQ juga menjadi ruang untuk memperluas silaturahmi dengan para pecinta Al-Qur’an dari berbagai daerah di Indonesia. Baginya, pengalaman bertemu dan belajar bersama peserta lain menjadi nilai yang sama berharganya dengan sebuah piala. Kini, sebagai pengajar Divisi Qira’ah UKM KHATTIBARI UNWAHA, ia ingin prestasi tersebut menjadi motivasi bagi mahasiswa agar tidak takut memulai dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan. “Tidak ada orang yang langsung menjadi juara. Semua membutuhkan proses. Teruslah belajar, istiqomah dalam latihan, dan jadikan setiap kegagalan sebagai langkah untuk menjadi lebih baik,” pesannya. Prestasi Juara 1 UNESA National Qur’anic Competition 2026 ini semakin mengukuhkan kiprah UKM KHATTIBARI UNWAHA sebagai wadah pengembangan seni religi yang tidak hanya aktif membina mahasiswa, tetapi juga mampu melahirkan prestasi di tingkat nasional. Dengan semangat syiar Al-Qur’an, UKM KHATTIBARI terus berkomitmen mencetak generasi Qur’ani yang berprestasi, berkarakter, dan menginspirasi. Penulis: Muhammad Abdul Qadir Al JailaniEditor: Ibrahim

Pengumuman Pelakasanaan Wisuda Tahun Akademik 2025/2026

Diberitahukan kepada calon wisudawan/wisudawati Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) tahun akademik 2025/2026 terkait pelaksanaan wisuda sebagai beriktut: Pengumuman Pelaksanaan Wisuda 2025/2026

UNWAHA Siap Sukseskan Muktamar NU ke-35 di PP. Bahrul Ulum Tambakberas

Jombang – Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang menyatakan kesiapan penuh dalam menyambut gelaran akbar Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang akan dilaksanakan pada 27-31 Agustus mendatang di PP. Bahrul Ulum Tambakberas. Hal ini disampaikan langsung oleh Ketua Yayasan Pendidikan Tinggi Bahrul Ulum (YPTBU), Ibu Hj. Hizbiyah Rochim Wahab, M.A., dalam tayangan eksklusif TV9 Nusantara, Sabtu (18/7/2026). Beliau menegaskan bahwa seluruh elemen di lingkungan Bahrul Ulum berkomitmen memberikan pelayanan terbaik dalam keberlangsungan Muktamar kali ini. “Insyaallah persiapannya sudah yakin bahwa kita ini akan memberikan pelayanan atau bantuan kepada para muktamirin dengan yang sebaik-baiknya dalam segala segi, baik sarana prasarana, transportasi, konsumsi, hingga sekretariatan,” tegas beliau. Beliau juga menambahkan bahwa koordinasi dengan panitia pusat PBNU telah berjalan dengan baik untuk memastikan kenyamanan bagi sekitar 3.000 peserta resmi serta ribuan penggembira (muhibbin) yang diperkirakan akan hadir. Senada dengan hal tersebut, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UNWAHA, Dr. Muhammad Wafiul Ahdi, S.H., M.Pd.I., merinci peran strategis kampus dalam menyukseskan Muktamar kali ini. Ia memaparkan bahwa fasilitas akademik UNWAHA akan dialihfungsikan sementara untuk mendukung kelancaran agenda persidangan dan akomodasi. “Kami di UNWAHA sangat antusias menyambut dan menyiapkan segala fasilitas yang dibutuhkan. Kebetulan (UNWAHA) menjadi salah satu lokasi penginapan dari peserta muktamar dan juga menjadi salah satu tempat untuk melaksanakan sidang komisi,” jelas pria yang akrab disapa Gus Wafi itu. Lebih lanjut, Gus Wafi menjelaskan bahwa Aula UNWAHA akan digunakan sebagai lokasi sidang komisi, sementara ruang kelas perkuliahan akan disiapkan menjadi tempat penginapan yang layak bagi para muktamirin. Semangat pelayanan ini didasari oleh prinsip ikramul duyuf atau memuliakan tamu. “Kami menganggap para muktamirin adalah tamu-tamunya para muassis Nahdatul Ulama. Mereka datang diundang para muassis untuk meramaikan, maka kami di UNWAHA sangat antusias menyiapkan segala fasilitas,” pungkasnya. Red: Ibrahim

UNWAHA Jombang Berangkatkan 600 Mahasiswa KKN-PPM Tahun 2026

Jombang – Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang memberangkatkan 600 mahasiswa peserta KKN-PPM Tahun 2026, Minggu (12/7/2026). Kegiatan pelepasan berlangsung di Halaman Gedung Jokowi UNWAHA Jombang. Sebanyak 600 mahasiswa tersebut akan melaksanakan KKN-PPM selama 40 hari dan tersebar di 27 desa. Program ini menjadi bagian dari komitmen UNWAHA dalam memperkuat peran perguruan tinggi melalui pengabdian kepada masyarakat. Wakil Rektor Bidang Kerja Sama UNWAHA, Dr. Fatkhullah, M.Pd.I., dalam sambutannya menyampaikan bahwa KKN ini merupakan implementasi nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Di dalamnya ada pokok pendidikan dan pengajaran, pengabdian kepada masyarakat, serta penelitian. Saat ini menjadi pembuktian bahwa kalian bermanfaat bagi masyarakat yang ditempati KKN,” ujarnya. Beliau juga meminta mahasiswa agar menjaga sikap, memahami kebutuhan lingkungan, serta menjalankan program yang memiliki nilai manfaat bagi masyarakat. “Pengabdian masyarakat ini sangat diperhatikan oleh masyarakat. Sejauh mana nilai manfaat kalian terhadap lingkungan akan menjadi ukuran penting selama pelaksanaan KKN,” tambahnya. Selain pengabdian, Dr. Fatkhullah juga mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan pelaksanaan KKN sebagai ruang penguatan akademik. Menurutnya, mahasiswa dapat memperoleh data dan pengalaman lapangan yang relevan untuk pengembangan penelitian maupun karya tulis ilmiah. Red: Ibrahim