Universitas KH. A. Wahab Hasbullah

Bertanya Soal Agama kepada AI, Dosen UNWAHA: Jangan Jadikan Rujukan Utama

Jombang – Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini dapat menjawab pertanyaan dalam hitungan detik. Mulai dari urusan pekerjaan, pendidikan, kesehatan, hingga persoalan agama. Cukup mengetik satu pertanyaan, pengguna dapat memperoleh penjelasan lengkap yang tampak meyakinkan.

Kemudahan tersebut perlahan mengubah cara masyarakat mencari informasi keagamaan. Sebagian orang mulai bertanya tentang hukum ibadah, dalil, tafsir, hingga persoalan halal dan haram melalui aplikasi berbasis AI seperti ChatGPT.

Namun, jawaban yang cepat belum tentu dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.

Dosen bidang Pendidikan Agama Islam Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA), Dr. Mochamad Syafiuddin Shobirin, M.Pd.I., menilai penggunaan AI dalam proses belajar agama tidak harus ditolak.

Teknologi tersebut dapat membantu pengguna menemukan informasi awal. Namun, AI tidak sepatutnya ditempatkan sebagai rujukan utama dalam menentukan pemahaman maupun hukum agama.

“Kita boleh saja menggunakan AI atau ChatGPT, karena AI bisa membantu mengingatkan kembali apa yang pernah kita pelajari. Persoalannya berbeda ketika seseorang belum pernah mengaji atau mempelajari masalah tersebut dengan benar, kemudian menerima jawaban AI dan mengamalkannya,” ujarnya.

Keabsahan Ilmu Menjadi Persoalan Utama

Menurut pria yang akrab disapa Gus Din itu, persoalan penting dalam penggunaan AI untuk belajar agama terletak pada keabsahan ilmu. Jawaban yang diberikan dapat terlihat runtut dan meyakinkan, tetapi pengguna tetap perlu memeriksa sumber, konteks, serta ketepatan penjelasannya.

Karena itu, seseorang yang belum memiliki dasar ilmu berisiko menerima jawaban AI secara mentah. Risiko menjadi lebih besar ketika jawaban tersebut disampaikan kembali kepada keluarga, teman, atau masyarakat sebagai kebenaran agama.

“Walaupun kita sering menggunakan AI, tetapi tidak pernah belajar agama secara sungguh-sungguh, hasilnya tetap tidak cukup. Jangan sampai sudah keliru memahami, kemudian ikut membuat orang lain keliru,” kata beliau.

Ia menekankan bahwa ilmu agama memerlukan metode belajar, pemahaman terhadap sumber, kemampuan membaca konteks, serta bimbingan dari orang yang memiliki kompetensi.

Dr. Mochamad Syafiuddin Shobirin, M.Pd.I., Dosen Fakultas Pertanian (FP) Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA). (Foto: Istimewa).

Jangan Memutuskan Hukum Agama Sendiri

Pengasuh Ponpes As-Salafiyyah Asy-Syafi’iyyah itu juga mengingatkan risiko ketika seseorang memperlakukan jawaban AI seolah-olah sebagai keputusan hukum agama yang pasti. Menurutnya, sebagian besar masyarakat masih berada pada tahap mengikuti pendapat ulama yang memiliki keahlian dan dasar keilmuan.

Ketika seseorang yang belum memahami metode pengambilan hukum menggunakan AI untuk menetapkan halal, haram, wajib, atau tidaknya suatu perkara, ia berisiko mengambil kesimpulan seperti sedang berijtihad sendiri.

“Risiko terburuknya perlu dilihat dari siapa yang dirugikan. Kita ini masih berada pada tahap taklid (mengikuti ajaran atau pendapat ulama, red). Ketika hasil AI langsung dijadikan dasar untuk memutuskan hukum, seolah-olah kita sedang berijtihad sendiri, padahal kemampuan dan perangkat ilmunya belum tentu ada,” jelasnya.

Dalam tradisi keilmuan Islam, ijtihad tidak sekadar memilih jawaban yang paling masuk akal. Ijtihad membutuhkan penguasaan terhadap Al-Qur’an, hadis, bahasa Arab, usul fikih, kaidah fikih, pendapat para ulama, serta pemahaman yang kuat terhadap keadaan masyarakat.

Kesalahan memahami persoalan agama tidak hanya berdampak pada diri sendiri. Informasi yang salah dapat tersebar dengan cepat melalui grup percakapan, media sosial, maupun forum digital. Pada titik tersebut, kesalahan pribadi dapat berkembang menjadi kesalahpahaman bersama.

Karena itu, beliau mengajak masyarakat untuk tetap bertanya kepada guru, kiai, ustadz, maupun akademisi yang memiliki kompetensi ketika menghadapi persoalan agama yang membutuhkan penjelasan mendalam.

AI Sebagai Stimulus dalam Belajar

Bagi kalangan pendidik, kehadiran AI dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses pembelajaran. Teknologi ini dapat membantu menemukan kata kunci, menyusun gambaran awal, mencari kemungkinan topik pembahasan, atau memetakan sumber yang perlu ditelusuri.

“Sebagai pendidik, kita tetap harus mengaji dan mengaji. Memang, dengan adanya AI, informasi menjadi lebih mudah diakses. AI sebaiknya digunakan sebagai stimulus untuk memulai pencarian dan pendalaman,” ungkapnya.

Pendidik juga memiliki tanggung jawab untuk menunjukkan cara menggunakan teknologi secara kritis. Peserta didik perlu memahami bahwa tampilan jawaban yang rapi tidak otomatis menjamin kebenaran isinya.

“AI dapat membantu kita memperoleh informasi dengan lebih sederhana. Namun, pendidik tetap harus melakukan verifikasi dan kembali kepada sumber ilmu yang benar,” tambahnya.

Belajar Agama Tetap Membutuhkan Guru

Syafiuddin menjelaskan bahwa Islam tidak menolak perkembangan teknologi. Umat Islam dapat memanfaatkan perangkat baru selama penggunaannya mengikuti prinsip keilmuan, adab, dan tanggung jawab.

Dalam menjelaskan etika menuntut ilmu, beliau merujuk pada syair yang dikenal luas dalam tradisi pendidikan pesantren dan termuat dalam pembahasan kitab Ta’lim al-Muta’allim karangan Syaikh Burhanuddin al-Zarnuji:

أَلَا لَا تَنَالُ الْعِلْمَ إِلَّا بِسِتَّةٍ
سَأُنْبِيْكَ عَنْ مَجْمُوْعِهَا بِبَيَانٍ

ذَكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍ وَبُلْغَةٍ
وَإِرْشَادِ أُسْتَاذٍ وَطُولِ زَمَانٍ

Syair tersebut menjelaskan bahwa seseorang tidak akan memperoleh ilmu secara utuh tanpa enam bekal, yaitu kecerdasan, semangat, kesabaran, biaya atau bekal, petunjuk guru, dan waktu yang panjang.

Menurut Gus Din, enam prinsip tersebut tetap relevan pada era digital. Teknologi dapat mempercepat pencarian informasi, tetapi tidak dapat menggantikan kesungguhan, kesabaran, proses belajar, maupun bimbingan seorang guru.

“Dalam belajar ilmu, terutama ilmu agama, yang penting bukan hanya banyaknya informasi. Kita juga mencari keberkahan. Kehadiran guru menjadi salah satu jalan untuk memperoleh keberkahan tersebut,” tuturnya.

Guru tidak hanya menyampaikan isi pelajaran. Guru membantu murid memahami konteks, membenarkan kesalahan, menanamkan adab, serta memberi contoh dalam mengamalkan ilmu.

“Hubungan guru dan murid tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh percakapan dengan mesin,” pungkas dosen UNWAHA itu.

Penulis: Ibrahim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru
Pengumuman Terbaru
Agenda Terbaru
Berita Terbaru