Author: Humas Unwaha
Ramadan in Campus 2024: Pentingnya Bersedekah
Jombang – Sedekah merupakan ibadah yang memiliki nilai pahala besar. Secara esensi, amalan sedekah mencakup hubungan dengan sang Pencipta (hablumminallah) dan sesama makhluk-Nya (hablumminannas). Begitulah yang disampaikan oleh Dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Agama Islam (PAI), Muhammad Fodhil, S.Pd.I., M.Pd. dalam kuliah ramadan kali ini yang dilaksanakan di Masjid Al-Haromain, Kamis (21/3/2024). “Sedekah memiliki peranan yang paling penting. Amalan ini juga termasuk ibadah yang dicintai Allah SWT,” seru Fodhil mengawali kuliahnya. Ia juga menyampaikan beberapa hikmah dan keutamaan bersedekah. Menurutnya, bersedakah tidak bertujuan untuk kepentingan diri sendiri (di sisi ibadah). Melainkan juga memiliki kebermanfaatan bagi sesama. “Manfaat dari bersedekah ini bermacam-macam, baik di dalam dunia maupun di akhirat nanti. Yang jelas, manfaat duniawinya tentu dirasakan oleh saudara-saudara kita yang membutuhkan. Sedekah ini juga menjadi amal yang terus mengalir (jariyah) hingga nanti di akhirat,” terang dosen PAI tersebut. Lanjut Fodhil, bersedekah tidak dibatasi oleh seberapa besar dan kapan. Sebab bersedekah merupakan salah satu amalan yang berat untuk dilakukan. “Bersedekah itu berat, tidak semua bisa melakukannya, sekalipun mereka yang kaya raya. Karena ibadah ini memerlukan keikhlasan dan tanpa adanya paksaan,” pungkasnya. Red : Ibrahim Editor : Septian Ragil **) Ikuti konten kreatif terbaru Unwaha Jombang di Instagram klik link ini dan jangan lupa follow.
Marak Praktik Kekerasan di Lingkungan Pesantren: Begini Tanggapan Ketua Umum YPPBU Tambakberas
Jombang – Akhir-akhir ini kasus perundungan (bullying) di kalangan pemuda marak terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Perundungan yang mengakibatkan terjadinya praktik kekerasan ini dapat terjadi di mana saja, seperti di lingkungan bermain, sekolah bahkan di lingkungan pondok pesantren. Selama lima tahun terakhir, setidaknya sebanyak 10 kasus kekerasan di lingkungan pesantren yang mencuat di permukaan publik. Terakhir yaitu di salah satu pesantren di Jawa Timur tepatnya di Kabupaten Kediri yang menyebabkan hilangnya nyawa santri yang menjadi korban perundang (sumber: CNN Indonesia). Kondisi demikian, membuat pandangan terhadap kehidupan pesantren kini dikenal sangat mengerikan. Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum (YPPBU) Tambakberas Jombang, Dr. H. M. Wafiyul Ahdi, M.Pd.I mengungkapkan pandangannya menanggapi fenomena tersebut. Apa penyebab terjadinya praktik kekerasan di lingkungan pesantren?, mengapa kasus ini terus bermunculan? lantas bagaimana solusinya?. Kekerasan Simbolik di Lingkungan Pesantren. Menurut Ketua Umum YPPBU tersebut, kekerasan yang akhir-akhir ini viral di berbagai media, layaknya fenomena gunung es. Pasalnya, penyebab terjadinya perundungan di kalangan santri dapat terjadi kapanpun dan di manapun. Kendati demikian, beliau sangat menyayangkan atas maraknya kekerasan yang terjadi hingga kini. “Fenomena ini menjadi keprihatinan kita, yang jelas itu bukan sesuatu yang kita harapkan bersama. Sebenarnya kultur pesantren yang penghuninya selalu berkumpul, itu memang berpotensi terjadi kesalah pahaman antar sesama,” kata Ketua Umum YPPBU tersebut saat ditemui, Minggu (17/3/2024). Pria yang akrab disapa Gus Wafi ini juga menjelaskan, kesalah pahaman atau ketidak cocokan tersebut menjadi akar permasalahan kekerasan di kalangan santri. Sehingga tidak jarang kesalah pahaman lantas diekspresikan ke dalam bentuk sikap kekerasan atau perundungan. Secara terminologi, kekerasan merupakan perbuatan seseorang/kelompok yang menyebabkan cedera, mati, cacat fisik atau barang orang lain. Kekeerasan yang muncul di pesantren juga dapat terjadi di kalangan antar santri, pengurus dengan santri bahkan guru atau pengasuh dengan santri. Beragam macam kekerasan juga bisa terjadi di pesantren, baik yang nyata maupun laten, baik disadari maupun tidak. “Yang sangat berbahaya ini adalah kekerasan yang bersifat laten. Yaitu pelaku bahkan korban pun tidak menyadari,” lanjut Gus Wafi. Realitas kekerasan ini sulit terdeteksi, kondisi tersebut beroperasi di bawah ketidaksadaran pelaku maupun korban sehingga bersifat nirsadar. Meminjam istilah yang dikemukakan oleh sosiolog, filsuf kritis asal Prancis, Pierre Bourdieu (1994) yaitu kekerasan simbolik. Prinsip simbolis sendiri diakibatkan adanya pihak dominan yang menguasai dan pihak sub-dominan yang dikuasasi. Prinsip ini menyerang dan menentukan cara berpikir, melihat, merasakan, dan bertindak suatu individu (Haryatmoko, 2007). Seperti yang dijelaskan oleh Gus Wafi sebelumnya, jika kekerasan bisa terjadi antar individu di pesantren berdasarkan jenisnya (pengasuh, pengurus, dan santri). Hal ini senada dengan teori yang diusulkan oleh Bourdieu tersebut, yaitu kekerasan simbolik mencul dari adanya struktur kelas dalam kelompok masyarakat, dalam hal ini yaitu lingkungan pesantren. Sehingga mengakibatkan adanya perbedaan, pemisahan, ketidaksamaan, ketidaksetaraan atau ketidakseimbangan (William & Thimoty, 2004). “Terlebih santri-santri saat ini yaitu mereka yang bisa saya katakan gen-Z. Bahwasanya perubahan sosial masyarakat yang keras seperti ini ternyata juga mempengaruhi input pesantren. Santri yang masuk itu sudah terbawa suasana lingkungan masyarakat yang seperti itu (disrupsi moralitas),” ujarnya. Tekan Angka Kekerasan di Lingkungan pesantren Pria yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang ini juga mengungkapkan bahwa untuk menekan angka kekerasan di lingkungan pesantren dapat dilakukan dengan dua cara. Yaitu upaya preventif dan represif. “Upaya preventif kita lakukan edukasi secara persuasif mengenai pencegahan kekerasan dan bahaya-bahayanya. Santri bisa menjadi pelopor di ranah itu. Selain pelopor, mereka juga bisa menjadi pelapor,” lanjutnya. Tidak kalah penting dari edukasi, keberanian santri untuk melaporkan tindak kekerasan yang terjadi di lingkungan mereka adalah suatu modal utama dalam menekan angka kekerasan di pesantren. “Sehingga dengan adanya laporan ini, kami dari pengasuh atau pengurus bisa segera menangani hal tersebut. Harapannya yaitu agar tidak sampai timbul korban yang mengalami traumatik dan cidera parah,” tutur Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan ini. Kedua yaitu upaya represif, dengan upaya ini beliau mengungkapkan, manakala kekerasan tersebut kepalang terjadi maka perlu penindakan yang tegas bagi pelaku dan pendampingan bagi korban. Ini dilakukan agar kejadian serupa di masa yang akan datang tidak terjadi lagi. “Kita selesaikan kasus itu dengan baik-baik, dan kita komunikasikan langsung dengan keluarga yang bersangkutan. Ketika nanti hingga parah maka satu-satunya jalur yaitu menempuh jalur hukum. Hal ini bertujuan agar semuanya merasa nyaman dan bisa terselesaikan,” katanya. Berdasarkan pengakuannya, di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang sendiri kedua upaya tersebut sudah diterapkan. ”Intinya tidak ada ruang bagi para pelaku kekerasan, bullying, pelecehan di lingkungan Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas,” tegasnya. Referensi: E. Deal, William dan Timothy K. Beal. 2004. Theory for Religious Studies, New York, London: Routledge Classics. Haryatmoko. 2007. Etika Komunikasi: Manipulasi Media, Kekerasan dan Pornografi, Yogyakarta: Kanisius. Red : Ibrahim Editor : Septian Ragil **) Ikuti konten kreatif terbaru Unwaha Jombang di Instagram klik link ini dan jangan lupa follow.
Ramadan in Campus 2024: Tujuh Amalan Penyebab Malaikat Jibril Ingin Menjadi Manusia
Jombang – Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang mulia dibandingkan makhluk lainnya. Manusia diciptkan dan diberikan berbagai kelebihan seperti akal, panca indera dan hati nurani. Dengan berbagai macam anugerah itu, hidup manusia tidak ada yang sia-sia. Tergantung bagaimana manusia itu sendiri yang merupakan seorang hamba dapat menggunakan dan memelihara anugerah tersebut. Begitulah kira-kira pengantar yang diberikan oleh Muhammad Fodhil, S.Pd.I., M.Pd. dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Agama Islam (PAI) Unwaha Jombang dalam menyampaikan kuliah ramadan di Masjid Al-Haromain, Rabu (20/3/2024). Di dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW pernah berkata kepada Sahabat Ali bin Abi Thalib. يَا عَلِيُّ، تَمَنَّى جِبْرِيْلُ أَنْ يَكُوْنَ مِنْ بَنِيْ آدَمَ لِسَبْعِ خِصَالٍ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ مَعَ الْإِمَامِ وَمُجَالَسَةِ الْعُلَمَاءِ وَعِيَادَةِ الْمَرِيْضِ وَتَشْيِيْعِ الْجَنَازَةِ وَسَقْيِ الْمَاءِ وَالصُّلْحِ بَيْنَ الْإِثْنَيْنِ وَإِكْرَامِ الْجَارِ وَالْيَتِيْمِ فَاحْرِصْ عَلَى ذَلِكَ Berdasarkan riwayat ini, Muhammad Fodhil menjelaskan, malaikat Jibril pada suatu hari pernah berharap untuk menjadi manusia (anak adam) dan umat Nabi Muhammad SAW. Keinginan Jibril tersebut, disebabkan dengan adanya tujuh amalan yang sering dilakukan manusia. “Pertama adalah salat berjamaah, fadilah salat berjamaah ini sudah kita ketahui bersama yaitu lebih utama dua puluh tujuh derajat dibandingkan salat sendirian,” ungkap dosen prodi PAI tersebut. Amalan kedua, yaitu bermujalasah dengan para ulama. Menurutnya bercengkerama dengan para ulama ini merupakan suatu amalan yang sangat mulia. Ini dikarenakan seorang ulama memiliki keistimewaan baik di hadapan manusia maupun di hadapan sang Pencipta. Sebagaimana yang pernah disabdakan oleh sahabat Ibnu Abbas. “Para ulama mempunyai derajat yang lebih tinggi daripada orang-orang mukmin pada umumnya dengan selisih 700 derajat dan di antara dua derajat terpaut selisih 500 tahun.” Amalan selanjutnya yang membuat Jibril ingin menjadi umat Nabi Muhammad yaitu menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, memberi minum kepada orang lain. Selanjutnya mendamaikan dua orang yang sedang berselisih, kemudian memuliakan tetangga dan menjaga anak yatim. “Inilah beberapa keistimewan yang dimiliki oleh manusia, dimiliki oleh umat Nabi Muhammad SAW. Sampai-sampai Malaikat Jibril berharap untuk menjadi manusia,” tuturnya. Muhammad Fodhil juga menjelaskan kepada para mahasiswa tentang keutamaan dan hikmah masing-masing ketujuh poin tersebut. Salah satunya yaitu bercengkerama dengan para ulama. Menurutnya, dalam poin ini dapat juga diartikan dengan menuntut ilmu. “Kita ini jangan sampai putus belajar, belajar ilmu apapun itu tidak hanya tentang agama. Karena Allah SWT menciptakan kita dengan berbeda-beda dan kelebihan berbeda-beda. Lalu kita harus saling melengkapi itu, dan inilah makanya ada Hadis yang berbunyi, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain,” pesannya. Red : Ibrahim Editor : Septian Ragil **) Ikuti konten kreatif terbaru Unwaha Jombang di Instagram klik link ini dan jangan lupa follow.
Pengumuman Perubahan Jadwal Pelaksanaan UTS (Semester Genap) dan Libur Hari Raya Idul Fitri 2024
Berikut pengumuman mengenai perubahan jadwal pelaksanaan Ujian Tengah Semester (UTS) dan Libur Hari Raya Idul Fitri Tahun 2024: [pdfjs-viewer url=”https://unwaha.ac.id/wp-content/uploads/2024/03/PENGUMUMAN_PELAKSANAAN_UTS_GENAP__2023_2024_dan_Pengumuman_Libur_Hari_Raya_Iduo_Fitri_1445_H1.pdf” attachment_id=”3873″ viewer_width=100% viewer_height=800px fullscreen=false download=true print=true] Download file pengumuman, klik di sini Red : Ibrahim Editor : Septian Ragil **) Ikuti konten kreatif terbaru Unwaha Jombang di Instagram klik link ini dan jangan lupa follow.
Ramadan in Campus 2024: Salat Malam dalam Bulan Ramadan
Jombang – Suasana perkuliahan di Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang saat Ramadan berjalan dengan tenang. Masih sama dengan hari-hari sebelumnya, yaitu Ramadan in Campus yang secara rutin dilaksanakan di Masjid Al-Haromain. Kali ini, Selasa (19/3/2024) yang bertugas untuk mengisi Kuliah Ramadan yaitu Dr. M. Dzikrul Hakim Al Ghozali, M.Pd.I. Adapun materi yang beliau bawa yaitu mengenai Salat Malam dalam Bulan Ramadan. Landasan Hukum Dzikrul Hakim mengungkapkan, mengerjakan salat malam di bulan Ramadan (Tarawih dan Witir), hukumnya sunnah muakkad (sunnah yang sangat dianjurkan, red). Baik dikerjakan secara berjamaah atau sendiri-sendiri. “Waktunya dikerjakan sesudah salat Isya sampai akhir malam. Salat malam bulan Ramadan dinamai Salat Tarawih. Diambil dari kata “Tarwihah” yang artinya rileks atau bersenang-senang. Sebagaimana hadis sahih yang diriwayatkan oleh Bukhari:36 dan Muslim;1267. teks hadis riwayat Al-Bukhari: Rasulullah s.a.w menganjurkan agar mengerjakan salat malam pada bulan Ramadan, akan tetapi tidak mewajibkannya. Beliau berdabda “siapa yang mengerjakan salat malam pada bulan Ramadan dengan iman dan ikhlas, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu,”. Tata Cara Beliau juga mengungkapkan cara-cara dalam mengerjakan salat tarawh. Dalam penjelasannya, yaitu mengenai tata cara dan jumlah rakaat berdasarkan hadis yang banyak dijumpai dari berbagai riwayat. Adapun tata caranya yaitu seperti mengerjakan salat-salat malam lainnya. Di mana setiap dua rakaat satu salam dan kemudian ditutup dengan salat witir. “Banyak dijumpai riwayat yang menjelaskan mengenai bilangan-bilangan rakaat yang harus dilakukan. Perbedaaan pendapat yang ada di masyarakat saat ini semuanya benar, sudah berdasarkan sunnah,” imbuhnya. Meniru Sifat Salat Nabi Kendati jumlah rakaat yang dilaksanakan berbeda-beda, yang perlu digaris bawahi yaitu tiga sifat salat nabi. Menurutnya, ketiga sifat ini perlu dilakukan untuk mendapatkan pahala salat tarawih secara utuh dan salat yang telah kita laksanakan tidak sia-sia. “Sifat pertama adalah rileks atau istirahat sejenak, sebagaimana arti secara filosofis salat tarawih itu sendiri. Kedua adalah memperbanyak ayat bacaan saat salat, dan ketiga adalah pelaksanaannya dilakukan dengan tidak adanya paksaan dan (niat) bermuhasabah diri,” ucapnya. Terakhir, beliau berpesan kepada mahasiswa untuk mengamalkan sifat-sifat salat nabi tersebut. “Ini sebagai bekal kita masing-masing, bagaimana kita mengetahui tentang keutamaan sunnah di bulan Ramadan ini serta dapat mengamalkannya,” pesannya. Red : Ibrahim Editor : Septian Ragil **) Ikuti konten kreatif terbaru Unwaha Jombang di Instagram klik link ini dan jangan lupa follow
Ramadan in Campus 2024: Hikmah di Balik Tiga Fase Ramadan
Jombang – ‘Ramadan in Campus’ Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang di Masjid Al-Haromain, Senin (18/3/2024) disampaikan oleh H. Mochammad Syafiuddin Shobirin, M.Pd.I. Dalam kuliah Ramadan kali ini, beliau menyampaikan tiga fase di bulan suci Ramadan dan keutamaannya. Gus Din sapaan akrabnya, menyampaikan beberapa keutamaan dan hikmah dari masing-masing ketiga fase tersebut. Tiga fase itu adalah 10 hari pertama, 10 hari kedua, dan 10 hari terakhir di bulan Ramadan. “Fase pertama adalah fase rahmat. Rahmat itu adalah belas kasih, kasih sayang, karunia dari Allah SWT. Jika kita ingin memperoleh kasih sayang lebih dari Allah SWT, maka beribadah dan bertakwalah kepada-Nya,” seru dosen Fakultas Pertanian tersebut. Menurutnya, sebagaimana yang telah di firmankan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah 183, yang berbunyi: يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا كُتِبَ عَلَيۡکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَۙ Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman. Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”. Kemudian, beliau mengutip dari kitab Bidayatul Hidayah karangan Imam Al-Ghazali mengenai ciri orang yang bertambah tingkat ketaqwaannya. “Yaitu sesorang yang bisa ngempet (mempertahankan, red) nafsu untuk kepentingan diri sendiri. Namun lebih mementingkan keperluan orang lain,” ujarnya. Lanjut Gus Din, fase kedua adalah fase maghfirah (ampunan, red). Pintu ampunan pada 10 hari kedua di bulan Ramadan akan dibukakan seluas-luasnya. “10 hari ketiga di bulan Ramadan adalah fase yang disebut sebagai itqun minan nar (terbebas dari neraka, red). Fase ini merupakan akhir di bulan Ramadan, hendaknya untuk menutup Ramadan dengan memperbanyak amalan-amalan baik,” lanjutnya. Di akhir, beliau berharap agar senantiasa memanfaatkan segala keutamaan dan hikmah tersebut dengan memperbanyak amal-amal baik. Seperti bersedekah, memperbanyak membaca Al-Quran, berdzikir, dan melakukan kesunahan lainnya. Red : Ibrahim Editor : Septian Ragil **) Ikuti konten kreatif terbaru Unwaha Jombang di Instagram klik link ini dan jangan lupa follow
Ramadan in Campus 2024: Menjadi Manusia yang Berkualitas
Jombang – Manusia merupakan makhluk Allah SWT yang diciptakan dengan berbagai macam kelebihan di antara sekalian makhluk lainnya. Namun apakah kelebihan tersebut lantas dapat menjadikan seorang manusia berkualitas?. Tentu tidak. Hal ini yang diungkapkan oleh Dr. H. M. Wafiyul Ahdi, S.H., M.Pd.I saat mengisi Ramadan in Campus di Masjid Al-Haromain Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang, Minggu (17/3/2024). Menurutnya, musabab seorang pribadi manusia berkualitas yaitu dipengaruhi oleh lima unsur. “Pertama yaitu fisik, nilai tambah bagi seorang manusia tentu dipengaruhi oleh fisik. Kedua adalah roh atau rohaniah yang merupakan tiupan Allah terhadap fisik manusia. Ketiga Akal, inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya,” kata Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan tersebut. Berbeda dengan naluri, melalui penggunaan akal tersebut maka manusia bisa mencari tahu dan juga dapat memahami kebaikan serta keburukan. Manusia dapat menentukan untuk menjadi pribadi seperti apa. “Unsur keempat adalah nafsu, hal ini yang menjadikan manusia dinamis, sebab nafsu ini menjadi suatu pendorong bagi manusia baik ke arah positif maupun negatif. Terakhir yaitu kalbu (hati, red) yang merupakan pangkal perasaan batin. Melalui kalbu, seorang manusia dapat menghasilkan pengetahuan yang benar, intuisi menyeluruh dalam mengenal dan beriman kepada Allah SWT,” imbuhnya. Gus Wafi sapaan akrabnya, juga menuturkan bahwa kelima unsur tersebut saling berkaitan dan tidak berdiri sendiri. Terlebih di momentum bulan suci Ramadan ini, seseorang manusia hendaknya dapat menyempurnakan nilai-nilai moralitas dan ibadahnya melalui peningkatan kelima unsur tersebut. “Kita menjadi manusia tidak kemudian diam saja untuk meningkatkan potensi yang dimiliki. Seperti halnya akal, akal kita terus ditingkatkan melalui belajar. Begitu juga nafsu, dengan kita berpuasa seperti saat ini maka nafsu amarah (keinginan untuk mendorong kepada hal negatif, red) dapat ditekan,” kata Gus Wafi. Menurutnya, bulan suci Ramadan merupakan waktu yang tepat untuk dapat merawat serta meningkatkan potensi diri guna menjadi manusia yang berkualitas. “Puasa inilah yang kemudian yang dapat mendorong kita untuk melakukan amaliyah baik dengan gampang. Sebab ada fisik dan akal yang dilatih, ada nafsu yang dilawan dan ada kalbu yang dikuatkan,” pungkasnya. Sebagai informasi, Ramadan in Campus diselenggarakan setiap hari aktif perkuliahan di Masjid Al-Haromain. Jadwal selengkapnya dapat dilihat melalui tautan ini. Red : Ibrahim Editor : Septian Ragil **) Ikuti konten kreatif terbaru Unwaha Jombang di Instagram klik link ini dan jangan lupa follow
Tumbuhkan Jiwa Entrepreneur, HMP-ES Turut Berpartisipasi dalam Pasar Ramadan
Jombang – Bulan suci Ramadan merupakan momentum yang penuh keberkahan dan memiliki dampak bagi segala aspek kehidupan. Tidak hanya dari aspek ubudiyah saja, aspek kesehatan dan aspek lainnya tak terkecuali aspek ekonomi pun ikut terdampak. Hal ini terbukti dengan menjamurnya para pelaku usaha yang menjajahkan menu berbuka atau takjil di mana-mana. Salah satunya yang terlihat di Pasar Ramadan yang terletak di komplek Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jalan Merpati Gg. 4, Jombang. Tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berpartisipasi. Himpunan Mahasiswa Prodi Ekonomi Syariah (HMP-ES) juga turut meramaikan perhelatan Pasar Ramadan tahun ini. “Ini sebagai bentuk perwujudan kami dalam menumbuhkan jiwa entrepreneur sebagai mahasiswa,” ujar Ketua HMP Ekonomi Syariah, Mohamad Lutfi Fatkur Rohmat, saat ditemui di lokasi, Jumat (15/3/2024). Menurutnya, dalam memupuk jiwa entrepreneur bagi mahasiswa tidak cukup menguasai teori semata. Melainkan perlu aktualisasi dalam mempraktikkannya. “Kita melibatkan semua kepengurusan untuk dapat ikut andil dalam membuka stand di Pasar Ramadan ini,” imbuhnya. Adapun produk yang dijajahkan di antaranya adalah Risol Mayo dan Cireng Mercon. Tidak hanya berjualan di stand, HMP-ES juga membuka layanan Pre-Order bagi mereka yang hendak memesan produk tersebut. Lanjut Lutfi sapaan akrabnya, kedepan HMP-ES juga akan menggelar dan berpartisipasi dalam kegiatan serupa. Tidak hanya bertujuan untuk ranah implementatif keilmuan saja, menurutnya hal tersebut juga bermanfaat untuk pertumbuhan kas organisasi. “Selain untuk praktik kewirausahaan, program ini juga berdampak pada kas kami (HMP-ES, red),” pungkasnya. Red : Ibrahim Editor : Septian Ragil **) Ikuti konten kreatif terbaru Unwaha Jombang di Instagram klik link ini dan jangan lupa follow.
Jadwal Imsakiyah Wilayah Unwaha Jombang – Ramadhan 1445 H / 2024 M
Jombang – Bagi Anda yang tinggal di Kabupaten Jombang, simpan dan bagikan halaman ini untuk mengetahui jadwal imsakiyah dan waktu buka puasa di kota Anda. Jadwal imsakiyah ini juga memuat jadwal shalat 5 waktu untuk shalat subuh, shalat dzuhur, shalat ashar, shalat maghrib, dan shalat isya. Berikut ini jadwal imsakiyah dan waktu buka puasa di Kabupaten Jombang : JADWAL IMSAKIYAH UNWAHA JOMBANG 1445H [pdfjs-viewer url=”https://unwaha.ac.id/wp-content/uploads/2024/03/JADWAL-IMSAKIYAH-UNWAHA-JOMBANG-1445H.pdf” attachment_id=”3808″ viewer_width=100% viewer_height=800px fullscreen=false download=true print=true] Red : Ibrahim Editor : Septian Ragil **) Ikuti konten kreatif terbaru Unwaha Jombang di Instagram klik link ini dan jangan lupa follow.