Universitas KH. A. Wahab Hasbullah

Author: Humas Unwaha

Asesmen Lapangan Akreditasi Prodi S-2 PAI Pascasarjana Unwaha Jombang, Komitmen Perkuat Budaya Mutu

Jombang – Program Studi S-2 Pendidikan Agama Islam (PAI) Pascasarjana Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang melaksanakan Asesmen Lapangan Akreditasi pada Jumat-Sabut (27–28/2/2026). Kegiatan ini menjadi momentum strategis dalam memastikan mutu akademik serta tata kelola program studi berjalan sesuai standar nasional pendidikan tinggi. Asesmen lapangan tersebut menghadirkan dua asesor, yakni Prof. Dr. Saparudin dari Universitas Islam Mataram dan Firdaus Wadji, S.Th.I., M.A., Ph.D. dari Universitas Negeri Jakarta. Pembukaan kegiatan berlangsung di Ruang Rapat Gedung F dengan dihadiri jajaran pimpinan universitas, direktur pascasarjana, kaprodi, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta stakeholder terkait. Rektor Universitas KH. A. Wahab Hasbullah, Prof. Dr. Ir. H. Gatot Ciptadi, DESS, IPU, ASEAN Eng., dalam sambutannya menegaskan bahwa Prodi S-2 PAI merupakan program studi terbaru di lingkungan Unwaha yang melengkapi lima fakultas yang telah ada. “Program studi S-2 PAI ini adalah prodi terbaru di Unwaha. Oleh karena itu, akreditasi ini bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi menjadi konfirmasi komitmen kami untuk terus mengembangkan budaya mutu,” ujarnya. Rektor juga menekankan bahwa proses akreditasi merupakan bagian penting dalam penguatan sumber daya manusia serta peningkatan kualitas layanan akademik bagi mahasiswa. Menurutnya, asesmen lapangan menjadi sarana refleksi institusi dalam memastikan standar pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat berjalan optimal. “Alhamdulillah, proses akreditasi ini menjadi bagian yang sangat penting bagi kami untuk memberikan yang terbaik bagi mahasiswa Prodi S-2 Unwaha,” tambahnya. Dalam kesempatan tersebut, Rektor turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim yang telah bekerja keras mempersiapkan dokumen dan pelaksanaan asesmen. Ia juga menyampaikan ucapan selamat datang kepada para asesor serta berharap proses asesmen dapat berjalan lancar dan objektif. “Dengan segala keterbatasan dalam persiapan, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat. Selamat datang kepada para asesor. Semoga apa yang kita lakukan bersama ini membuahkan hasil terbaik, dan Prodi S-2 PAI memperoleh akreditasi yang terbaik,” pungkasnya. Selama dua hari pelaksanaan, tim asesor melakukan verifikasi dokumen, peninjauan sarana prasarana, serta wawancara dengan pimpinan, dosen, hingga mahasiswa. Kegiatan ini menjadi bagian integral dalam menilai kesesuaian antara dokumen evaluasi diri dengan implementasi di lapangan. Sementara itu, Direktur Pascasarjana Unwaha Jombang, Dr. Saihul Atho Alaul Huda, M.Pd.I, mengatakan bahwa asesmen ini diharapkan tidak hanya menghasilkan capaian peringkat akreditasi yang optimal, tetapi juga memperkuat sistem penjaminan mutu internal. “Khususnya dalam mendorong Prodi S-2 PAI Pascasarjana Unwaha semakin adaptif dan kompetitif dalam menjawab tantangan pendidikan tinggi di era transformasi digital dan globalisasi,” ujarnya.Red: Ibrahim

Pengumuman Pedoman Penyusunan Laporan dan Luaran PPL Tahun Akademik 2025/2026

Dalam rangka memberikan acuan kepada mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang Tahun Akademik 2025/2026 dalam penyusunan laporan dan luaran, dengan ini kami sampaikan Template Pelaporan dan Luaran PPL sebagai berikut: Format Penulisan Laporan Kegiatan PPL 2026 Form Penilaian PPL oleh Guru Pamong Form Penilaian PPL oleh DPL Template Buku Ajar

Unwaha Jombang Gelar Pertemuan Rutin Awal Semester Genap TA 2025/2026

Jombang – Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang menggelar Pertemuan Rutin Awal Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 pada Minggu (8/2/2026) di Auditorium Unwaha. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh jajaran rektorat, para dekan, ketua program studi, dosen, serta tenaga kependidikan sebagai forum strategis untuk evaluasi kinerja dan penyusunan langkah pengembangan institusi ke depan. Rektor Unwaha Jombang, Prof. Dr. Ir. H. Gatot Ciptadi, DESS, IPU, ASEAN Eng., dalam sambutannya menyampaikan bahwa pertemuan awal semester merupakan agenda rutin yang penting untuk meninjau capaian sekaligus merumuskan strategi berkelanjutan. “Memasuki tahun ketiga ini, kita perlu mengevaluasi program-program yang telah berjalan, khususnya program yang belum memberikan dampak signifikan bagi institusi,” kata beliau. Beliau juga menyinggung mengenai keterbukaan institusi terhadap dinamika kesejahteraan dosen. Menurutnya, Unwaha terus berupaya meningkatkan kualitas tata kelola, sembari mendorong sivitas akademika untuk tetap produktif dan berkarya, baik di dalam maupun di luar kampus, sebagai bagian dari penguatan reputasi institusi. “Terbaru, kami optimis bahwa beberapa dosen Unwaha dengan kualifikasi jabatan fungsionalnya bisa menjadi modal kuat menjadi guru besar,” imbuhnya. Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik, Ino Angga Putra, M.Pd., menekankan pentingnya implementasi kurikulum Outcome Based Education (OBE). Ia mengakui bahwa penerapan OBE di beberapa program studi masih dalam tahap pemantapan, seiring dengan pengembangan sistem akademik. “Di semester genap ini, Unwaha mulai melakukan pengisian dan pemantauan penerapan OBE sebagai bagian dari komitmen peningkatan mutu akademik,” lanjut beliau. Arahan strategis juga disampaikan oleh Ketua YPTBU, Ibu Nyai Hj. Hizbiyah Rochim Wahab, M.A., yang menegaskan bahwa dunia pendidikan tinggi saat ini menuntut kerja keras dan dedikasi tinggi dari seluruh sivitas akademika. Beliau mengajak seluruh dosen dan tenaga kependidikan untuk menumbuhkan semangat, rasa cinta, dan komitmen terhadap Unwaha sebagai prasyarat utama dalam menjalankan tugas pengajaran dan pengabdian. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, berlandaskan nilai iman, takwa, dan Aswaja. “Ilmu yang dimiliki harus dapat diimplementasikan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” pesan beliau. Forum dilanjutkan dengan serap aspirasi antara civitas akademika dengan pimpinan Unwaha Jombang. Red: Ibrahim

Unwaha Jombang Perluas Jejaring Global melalui International Exposure di Malaysia

Jombang – Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang terus memperkuat langkah menuju global university melalui pengembangan jejaring internasional yang terintegrasi dengan tridarma perguruan tinggi. Komitmen tersebut diwujudkan melalui partisipasi aktif dalam program International Exposure di Malaysia yang berlangsung selama tiga hari, Jumat-Minggu (23-25/1/2026). Mewakili Unwaha Jombang, dosen Program Studi Manajemen Mar’atul Fahimah, S.P., M.M., berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang melibatkan 56 perguruan tinggi Indonesia. Program ini dirancang tidak hanya sebagai forum kerja sama akademik, tetapi juga sebagai penguatan peran perguruan tinggi dalam pengabdian masyarakat. Beliau menegaskan bahwa keikutsertaan dalam kegiatan ini merupakan langkah strategis kampus dalam mewujudkan visi internasionalisasi. “Unwaha Jombang dapat mewujudkan visi dan misinya sebagai global university melalui langkah-langkah konkret, seperti kolaborasi dengan universitas luar negeri serta pengabdian kepada masyarakat internasional yang berkelanjutan,” ujarnya. Sebagai informasi, rangkaian kegiatan diawali pada 23 Januari 2026 dengan pelaksanaan sinkronisasi dan penguatan kerja sama akademik di INTI International University dan SEGi University. Agenda ini mencakup penandatanganan serta penjajakan lanjutan Memorandum of Understanding (MoU), Memorandum of Agreement (MoA), dan Implementation Agreement (IA) yang difokuskan pada pengembangan pendidikan, riset kolaboratif, serta program pertukaran dosen dan mahasiswa. Penggagas kegiatan, Prof. Usep Suhud, menjelaskan bahwa program ini dirancang sebagai upaya strategis memperkuat posisi perguruan tinggi Indonesia di tingkat global. “Kerja sama ini bernilai strategis dalam memperkuat jejaring akademik global serta mendorong kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat antarperguruan tinggi lintas negara,” ungkapnya. Dari pihak mitra internasional, Prof. Dr. Goh Kan Wen, selaku Pro Vice Chancellor Global Engagement IRCC INTI International University, menyambut baik kolaborasi tersebut. “Kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat jejaring akademik lintas negara dan meningkatkan kualitas pendidikan tinggi melalui sinergi antarinstitusi,” ujarnya. Sementara itu, penguatan kerja sama di SEGi University difokuskan pada pengembangan sumber daya manusia dan riset terapan. Hal tersebut ditegaskan oleh Prof. Ir. Dr. Tezara Cionita dari SEGi University. “Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas kerja sama internasional, khususnya di bidang pendidikan, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia,” jelasnya. Memasuki hari kedua, 24 Januari 2026, peserta terlibat dalam penjajakan kerja sama dengan PT Siti Khadijah, sebagai upaya memperluas kolaborasi internasional yang bersifat aplikatif dan berorientasi pada penguatan sinergi akademik-industri. Sementara itu, puncak kegiatan dilaksanakan pada 25 Januari 2026 melalui program Pengabdian kepada Masyarakat di Sanggar Bimbingan Sungai Mulia 5, Lorong Sungai Mulia 5, Gombak, Kuala Lumpur. Kegiatan ini menjadi wujud nyata kontribusi Unwaha Jombang dalam pemberdayaan masyarakat Indonesia di luar negeri, khususnya di bidang edukasi dan penguatan kapasitas sosial. Red: Ibrahim

Tim PMB Unwaha Jombang Warnai Expo Campus 2026 MA Tahfidh Putri Yanbu’ul Qur’an 2 Muria

Kudus – Tim Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang turut berpartisipasi dalam kegiatan Expo Campus yang diselenggarakan di MA Tahfidh Putri Yanbu’ul Qur’an 2 Muria, Kabupaten Kudus, pada Sabtu (24/1/2026). Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 300 siswi dan menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan Unwaha Jombang sebagai perguruan tinggi pesantren yang unggul dan berdaya saing. Ketua PMB Unwaha Jombang, Septian Ragil Anandita, M.Pd., menyampaikan bahwa keikutsertaan ini merupakan bagian dari komitmen kampus untuk memperluas akses informasi pendidikan tinggi, khususnya bagi santri dan siswa madrasah tahfidh. “Unwaha hadir untuk memberikan gambaran nyata kepada para siswi bahwa pendidikan tinggi berbasis pesantren mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman,” katanya. Ia berharap sosialisasi ini dapat membuka wawasan dan memotivasi mereka untuk melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi. “Alhamdulillah kami diterima baik oleh madrasah, serta antusias siswi yang sangat tinggi. Ini menjadi semangat bagi kami, karena ini baru pertama kalinya PMB Unwaha melakukan penjaringan di luar Jawa Timur,” terangnya. Dalam kesempatan kali ini, Tim PMB memberikan pemaparan komprehensif terkait profil universitas, pilihan program studi, jalur seleksi masuk, serta berbagai peluang pengembangan akademik dan nonakademik bagi lulusan madrasah. Sementara itu, Kepala MA Tahfidh Putri Yanbu’ul Qur’an 2 Muria, H. Nur Khamim, LC., M.Pd., menyambut baik kehadiran Tim PMB Unwaha Jombang dan mengapresiasi kontribusi kampus dalam mendampingi siswi menghadapi masa transisi menuju pendidikan tinggi. “Kami menyampaikan terima kasih atas partisipasi Unwaha dalam kegiatan Expo Campus ini. Kehadiran perguruan tinggi seperti Unwaha sangat penting untuk memberikan inspirasi dan arah bagi siswi kami agar memiliki visi masa depan yang jelas, baik secara akademik maupun spiritual,” ungkapnya. Red: Ibrahim

Keutamaan Nisfu Sya’ban: Momentum Spiritual Menyemai Amal Jelang Ramadan

Jombang – Bulan Sya’ban menempati posisi istimewa dalam kalender hijriah sebagai bulan persiapan spiritual menuju Ramadan. Selain disunnahkan untuk memperbanyak puasa, Sya’ban juga dikenal sebagai bulan yang penuh keberkahan, salah satunya melalui peringatan Nisfu Sya’ban yang jatuh pada pertengahan bulan. Dosen PAI Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang, Muhammad Fodhil, S.Pd.I., M.Pd., menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memberikan perhatian khusus pada bulan-bulan yang dimuliakan Allah, di antaranya Muharram, Rajab, dan Sya’ban. “Sya’ban itu disebut sebagai bulan yang tenang. Di masa Rasulullah, bulan ini tidak digunakan untuk peperangan. Karena itu, bulan Sya’ban menjadi waktu yang tepat untuk menata batin dan memperkuat ibadah,” jelas Fodhil. Beliau mengibaratkan hubungan antara Rajab, Sya’ban, dan Ramadan seperti proses bertani. Rajab adalah waktu menanam, Sya’ban menjadi masa merawat dan menyuburkan, sementara Ramadan merupakan masa panen amal. Salah satu momentum penting dalam bulan Sya’ban adalah malam Nisfu Sya’ban. Dalam tradisi keilmuan Islam, para ulama terdahulu mengisi malam tersebut dengan berbagai amalan yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Amalan-amalan ini, menurut Fodhil, tercatat dalam sejumlah kitab klasik, salah satunya Kanzun Najah. Meskipun amalan Nisfu Sya’ban tidak disebutkan secara eksplisit dalam nash Al-Qur’an maupun hadis tertentu, bukan berarti tidak boleh diamalkan. “Dalam sejarah Islam, banyak praktik ibadah yang lahir dari kreativitas spiritual para sahabat dan ulama, dan dibenarkan oleh Rasulullah karena mengandung kebaikan,” ujarnya. Fodhil mencontohkan beberapa praktik ibadah di masa sahabat yang awalnya tidak diajarkan secara langsung oleh Rasulullah SAW, namun kemudian diperkenankan karena diniatkan untuk kebaikan dan mendatangkan kecintaan Allah SWT. “Bid’ah tidak bisa serta-merta dimaknai sebagai sesuatu yang terlarang. Ia bisa menjadi bentuk kreativitas ibadah. Jika substansinya baik dan diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka hal itu juga bernilai kebaikan,” tambahnya. Amalan Malam Nisfu Sya’ban Dalam tradisi yang berkembang di kalangan ulama, malam Nisfu Sya’ban sering diisi dengan pembacaan Surah Yasin sebanyak tiga kali. Bacaan pertama diniatkan untuk memohon panjang umur dalam ketaatan dan keistiqamahan, bacaan kedua untuk memohon perlindungan dari bala serta rezeki yang halal, dan bacaan ketiga untuk memohon keteguhan iman serta husnul khatimah. Fodhil menekankan agar umat Islam tidak menyia-nyiakan momentum Nisfu Sya’ban. Menurutnya, malam tersebut merupakan salah satu waktu yang sarat dengan limpahan pahala dan keberkahan dari Allah SWT. “Jangan sampai Nisfu Sya’ban terlewat begitu saja. Ini adalah karunia besar bagi umat Rasulullah SAW. Sudah sepatutnya kita bersyukur dengan mengisinya melalui amalan-amalan yang mendekatkan diri kepada Allah,” pungkasnya. Red: Ibrahim

Wajib Bersarung Setiap Tanggal 17, Unwaha Tegaskan Identitas Kampus Pesantren bagi Generasi Z

Jombang – Universitas KH. Abdul Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang menetapkan kebijakan wajib bersarung setiap tanggal 17 sebagai penguatan identitas pesantren di lingkungan perguruan tinggi. Kebijakan ini diluncurkan dalam kegiatan Launching Transformasi Tradisi Pesantren bagi Generasi Z dan Peringatan Isra Mi’raj 1447 H, di halam Gedung Jokowi, Sabtu (17/1/2026). Kebijakan tersebut mewajibkan mahasiswa laki-laki mengenakan baju putih dan sarung bermotif kotak-kotak setiap tanggal 17, sementara mahasiswi diarahkan mengenakan busana bernuansa putih dengan kerudung berwarna selain hitam. Aturan ini berlaku secara berkala setiap bulan sebagai simbol internalisasi nilai tradisi pesantren di ruang akademik. Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Tinggi Bahrul Ulum (YPTBU), Dr. KH. Moh. Hasib Wahab, menegaskan bahwa kebijakan bersarung bukan sekadar aturan berpakaian, melainkan media pendidikan karakter. “Sarung yang dikenakan setiap tanggal 17 merupakan simbol warisan KH. Wahab Hasbullah. Ini adalah upaya menghadirkan kembali ruh pesantren dalam kehidupan kampus, agar mahasiswa tidak tercerabut dari akar budayanya,” ujar Gus Hasib. Beliau menambahkan bahwa transformasi tradisi tidak dimaksudkan untuk menghambat kreativitas Generasi Z, tetapi justru menjadi fondasi nilai agar mahasiswa mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas ke-NU-an. Pada kesempatan yang sama, Ketua YPTBU, Ibu Nyai Hj. Hizbiyah Rochim Wahab, M.A., menekankan pentingnya konsistensi pelaksanaan aturan. Beliau berharap seluruh sivitas akademika dapat mematuhi kebijakan ini sebagai bagian dari disiplin dan budaya kampus. “Aturan ini harus dijalankan secara tegas agar menjadi kebiasaan dan membentuk identitas visual serta mental Unwaha,” kata beliau. Sementara itu, Rektor Unwaha Jombang, Prof. Dr. Ir. H. Gatot Ciptadi, DESS, IPU, ASEAN Eng., memandang kewajiban bersarung sebagai bagian dari integrasi nilai spiritual pesantren dengan tata kelola universitas modern. Menurutnya, penguatan identitas kultural menjadi kebutuhan penting bagi Generasi Z yang hidup di tengah arus globalisasi. “Kampus pesantren harus mampu menghadirkan nilai keislaman secara kontekstual. Kewajiban bersarung ini adalah simbol, sekaligus pengingat bahwa keunggulan akademik perlu berjalan seiring dengan adab dan karakter,” jelas Prof. Gatot. Ia juga menambahkan bahwa penguatan budaya kampus tersebut selaras dengan peran Senat Universitas yang baru dilantik dalam menjaga arah kebijakan akademik dan mutu Tridarma Perguruan Tinggi berbasis nilai keislaman. Red: Ibrahim

Isra Mi’raj: Penghiburan Rasulullah dan Peneguhan Perintah Sholat

Jombang – Peristiwa Isra Mi’raj merupakan salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah Islam. Tidak hanya dipahami sebagai perjalanan fisik Rasulullah SAW, tetapi juga sebagai perjalanan spiritual yang sarat dengan pesan ketauhidan, ibadah, dan pembentukan akhlak umat Islam. Dosen Pendidikan Agama Islam Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang, Bapak Muhammad Fodhil, S.Pd.I., M.Pd., menjelaskan bahwa secara lughowiyah Isra berarti perjalanan, sedangkan Mi’raj bermakna naik. Secara istilah, Isra Mi’raj adalah perjalanan malam hari yang dilakukan Rasulullah SAW bersama Malaikat Jibril dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, kemudian dilanjutkan hingga Sidratul Muntaha. Lebih dari sekadar perjalanan luar biasa, Isra Mi’raj terjadi pada fase kehidupan Rasulullah SAW yang penuh dengan ujian dan kesedihan. Sebelum peristiwa agung tersebut, Rasulullah mengalami kesedihan yang mendalam akibat wafatnya orang-orang terdekat yang selama ini menjadi pelindung dan pembela dakwahnya, mulai dari kedua orang tua, kakek, paman, hingga istri tercinta, Sayidah Khadijah. “Isra Mi’raj memiliki dua sisi penting. Pertama sebagai bentuk penghiburan Allah kepada Rasulullah, dan kedua sebagai jalan turunnya perintah sholat,” ujar beliau. Dalam situasi duka yang beruntun itulah, Allah memberikan kebahagiaan kepada Rasulullah melalui sebuah perjalanan spiritual yang luar biasa. Puncak dari peristiwa Isra’ Mi’raj adalah diterimanya perintah sholat. Terdapat keunikan ketika Rasulullah SAW mencapai Sidratul Muntaha. Pada titik Mustawa, Malaikat Jibril tidak dapat melanjutkan perjalanan dan berhenti. Hal ini menunjukkan kemuliaan Rasulullah SAW, sekaligus menjadi isyarat bahwa manusia yang mampu menundukkan hawa nafsu melalui ibadah memiliki derajat yang sangat tinggi di sisi Allah SWT. Peneguhan Perintah Sholat dan Gambaran Umat Nabi Muhammad SAW Pada awalnya, Rasulullah menerima perintah sholat sebanyak 50 waktu dalam sehari. Namun atas nasihat Nabi Musa AS, Rasulullah kembali menghadap Allah SWT hingga perintah tersebut diringankan (reduksi, red) menjadi lima waktu. “Dalam beberapa kitab, di antaranya Hasyiyah Al-Bajuri, dijelaskan bahwa Rasulullah bolak-balik menghadap Allah SWT hingga sembilan kali sebelum ditetapkan sholat lima waktu,” jelas Fodhil. Selain perintah sholat, dalam perjalanan Isra’ Mi’raj Rasulullah juga diperlihatkan berbagai gambaran tentang keadaan umatnya kelak. Di antaranya adalah seseorang yang kepalanya dihancurkan berulang kali sebagai balasan bagi mereka yang meninggalkan sholat, serta sekelompok orang yang menanam lalu memanen dengan cepat sebagai gambaran pahala sedekah yang dilipatgandakan. “Rasulullah juga diperlihatkan gambaran orang-orang yang lebih memilih makanan busuk daripada yang baik sebagai simbol perbuatan perselingkuhan, serta mereka yang memotong lidah sendiri sebagai balasan bagi orang yang gemar menasihati namun tidak mengamalkan,” imbuhnya. Dosen PAI ini juga menjelaskan bahwa Isra Mi’raj sering dianggap sebagai peristiwa yang tidak masuk akal jika dilihat dengan pemahaman awam. Namun jika dikaji lebih dalam, termasuk melalui pendekatan sains, peristiwa ini justru semakin menguatkan keimanan. “Malaikat Jibril yang diciptakan dari cahaya, dalam perspektif sains memiliki kecepatan luar biasa, sehingga perjalanan tersebut dapat terjadi dalam waktu yang sangat singkat,” terangnya. Peristiwa Isra Mi’raj pada akhirnya menjadi pengingat bahwa sholat adalah fondasi utama ibadah dalam Islam. “Lebih dari itu, Isra Mi’raj mengajarkan bahwa di balik ujian dan kesedihan, selalu ada kasih sayang Allah SWT yang mengangkat derajat hamba-Nya menuju kedekatan spiritual yang lebih tinggi,” pungkasnya. Red: Ibrahim

Pelantikan Ormawa Unwaha Jombang 2026: Tegaskan Komitmen Kepemimpinan yang Progresif dan Bekelanjutan

Jombang – Pengurus Organisasi Mahasiswa (Ormawa) di lingkungan Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang resmi dilantik dalam Pelantikan Ormawa Tahun 2026 yang diselenggarakan di Auditorium Unwaha, Minggu (11/1/2026). Kegiatan yang diikuti oleh ratusan pengurus Ormawa ini mengusung tema “Penguatan Kapasitas Kepemimpinan dan Tata Kelola Organisasi Mahasiswa untuk Mewujudkan Ormawa yang Progresif dan Berkelanjutan”. Sebanyak 510 mahasiswa yang merupakan mandataris pengurus Ormawa resmi dilantik dalam kegiatan ini. Mereka terdiri atas pengurus Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP), BEM Fakultas, BEM Universitas, serta Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) untuk masa bakti 2025–2026. Prosesi pelantikan dilakukan secara resmi oleh Kepala Biro Kemahasiswaan, Septian Ragil Anandita, M.Pd. Beliau menegaskan bahwa pelantikan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan penanda dimulainya tanggung jawab organisasi yang harus dijalankan secara sungguh-sungguh. “Kami berharap, seluruh pengurus mampu menjunjung tinggi nilai integritas, profesionalisme, serta menjadikan organisasi mahasiswa sebagai ruang pembelajaran kepemimpinan yang berdampak positif bagi civitas akademika dan masyarakat,” pesan beliau. Sementara itu, Presiden Mahasiswa Unwaha, M. Ridho Danu Muslikhan, menyampaikan harapannya agar seluruh pengurus Ormawa mampu menjalankan amanah organisasi secara profesional dan bertanggung jawab. Ia menegaskan bahwa Ormawa harus menjadi ruang pengabdian sekaligus wadah pengembangan kapasitas kepemimpinan mahasiswa yang berdampak positif bagi kampus dan masyarakat. Pada pelaksanaan pelantikan kali ini, turut diselenggarakan Seminar Keorganisasian yang menghadirkan pemateri dari internal dan eksternal Unwaha. Materi seminar pertama disampaikan oleh Bapak Moh. Ja’far Sodiq Maksum, S.H., M.HI. Dalam pemaparannya, beliau menekankan pentingnya kepemimpinan mahasiswa yang visioner serta tata kelola organisasi yang kolaboratif dan berkelanjutan guna menjawab tantangan sosial dan kemasyarakatan yang semakin kompleks. Dilanjutkan dengan materi keuda yang disampaikan oleh Kapolres Jombang diwakili oleh Kapolsek Jombang. Hal ini mencerminkan upaya awal penguatan sinergi antara organisasi mahasiswa Unwaha Jombang dengan aparat penegak hukum, khususnya dalam mendukung kolaborasi kegiatan sosial kemasyarakatan ke depan. Red: Dion Rizki PratamaEditor: Ibrahim