Universitas KH. A. Wahab Hasbullah

Author: Humas Unwaha

Seminar Kewirausahaan FAI 2025: Tekankan Pentingnya Mentalitas sebagai Fondasi Bisnis Berkelanjutan

Jombang – Fakultas Agama Islam (FAI) Unwaha Jombang menyelenggarakan Seminar Kewirausahaan bertema “Membangun Mentalitas Wirausaha: Strategi Psikologi untuk Sukses” di Auditorium Unwaha, Sabtu (27/12/2025). Kegiatan yang diikuti oleh lebih dari 100 peserta ini diharapkan memberikan pemahaman kewirausahaan secara komprehensif. Pelaksanaan seminar kewirausahaan ini merupakan bagian dari implementasi mata kuliah Kewirausahaan yang diampu oleh Ibu Ashlihah, S.E., M.M. Kegiatan ini juga dirancang sebagai bentuk evaluasi pembelajaran akhir semester dengan pendekatan yang lebih aplikatif dan kontekstual. Dalam sambutannya, Ibu Ashlihah menyampaikan bahwa seminar ini diharapkan mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih relevan dan inspiratif bagi mahasiswa. Seperti yang disebutkan sebelumnya, seminar ini merupakan bagian dari pendekatan pembelajaran kewirausahaan yang dikemas secara lebih aplikatif. “Kegiatan ini dirancang sebagai bentuk UAS yang tidak konvensional, dengan tujuan memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual, relevan, dan inspiratif bagi mahasiswa,” kata beliau. Hadir sebagai pemateri, M. Fithr Alfin Niam menekankan bahwa kewirausahaan tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan teknis bisnis, tetapi bertumpu pada kekuatan mentalitas wirausaha. Kewirausahaan dipahami sebagai proses penciptaan nilai yang lahir dari kreativitas, inovasi, keberanian mengambil risiko, serta kemampuan membaca dan memanfaatkan peluang. Selain itu, peserta dibekali strategi praktis pengelolaan bisnis di era digital, meliputi penguatan personal branding, pemasaran berbasis konten dan data, pengelolaan keuangan yang tertib, serta pemanfaatan teknologi untuk pengembangan dan perluasan usaha. Seluruh strategi tersebut ditegaskan harus ditopang oleh growth mindset, resiliensi, dan kemampuan beradaptasi, sehingga mahasiswa siap menghadapi tantangan sekaligus menangkap peluang kewirausahaan di masa depan. Red: Achmad Fauzi AliEditor: Ibrahim

Sembilan Dosen UNWAHA Berhasil Naik Jabatan Fungsional, Cerminkan Sistem Pembinaan Karier yang Konsisten

Jombang – Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) kembali mencatatkan capaian penting dalam pengembangan sumber daya manusia akademik. Sebanyak sembilan dosen dinyatakan berhasil memperoleh kenaikan jabatan fungsional pada Gelombang II Tahun 2025, yang terdiri atas satu dosen Asisten Ahli dan delapan dosen Lektor. Berdasarkan surat pemberitahuan resmi Bagian Kepegawaian Unwaha tertanggal 4 Januari 2026, seluruh pengajuan jabatan fungsional tersebut telah disetujui oleh LLDIKTI dan saat ini memasuki tahap menunggu penerbitan Surat Keputusan (SK) melalui proses Tanda Tangan Elektronik (TTE). Capaian sembilan dosen dalam satu periode ini menjadi indikator kuat efektivitas sistem pembinaan dan pengelolaan karier dosen yang dijalankan UNWAHA secara terstruktur. Kepala Bagian Kepegawaian Unwaha, M. Aliyul Wafa, M.Pd., menyampaikan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil dari perencanaan jangka panjang yang telah dibangun institusi. “Kami bersyukur atas capaian ini. Sejak awal, kami telah menyusun road map pengembangan karier dosen, mulai dari dosen baru, dengan memberikan arahan terkait persiapan jabatan fungsional dan penguatan kinerja tridarma,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa Bagian Kepegawaian secara rutin melakukan monitoring, kontrol, serta penerapan early warning system bagi dosen yang telah memasuki masa pengajuan jabatan fungsional. “Dengan sistem tersebut, dosen dapat mempersiapkan seluruh persyaratan secara lebih terencana dan tepat waktu,” imbuhnya. Selain penguatan sistem internal, Bagian Kepegawaian Unwaha juga membangun koordinasi terhadap pemangku kepentingan internal sebagai bentuk dukungan kelembagaan. “Pendekatan ini bertujuan menciptakan ekosistem akademik yang kondusif, sehingga proses pengembangan karier dosen tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga didukung secara institusional,” tutupnya. Red: Ibrahim

Implementasikan Kerja Sama antar Perguruan Tinggi, PBA Unwaha Gelar Webinar Internasional

Jombang – Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) menyelenggarakan Webinar Internasional sebagai wujud implementasi kerja sama (MoU) dengan sejumlah perguruan tinggi dan lembaga mitra, pada Senin (29/12/2025) lalu, secara daring. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari peringatan Hari Bahasa Arab Sedunia 2025. Webinar internasional tersebut merupakan tindak lanjut nyata dari nota kesepahaman antara Prodi PBA Unwaha dengan beberapa institusi, di antaranya Pusat Bahasa Riyadlul Ulum Tasikmalaya, Prodi PBA UIN Prof. Dr. KH. Saifudin Zuhri Purwokerto, serta Prodi PBA Universitas KH. Ruhiat Cipasung Tasikmalaya. Melalui kolaborasi ini, seluruh pihak berkomitmen untuk memperkuat kerja sama akademik dalam pengembangan pendidikan dan kajian bahasa Arab di tingkat nasional dan internasional. Kegiatan yang diikuti oleh sekitar 160 peserta dari berbagai latar belakang akademik ini menghadirkan para akademisi dan pakar bahasa Arab dari dalam dan luar negeri. Webinar berlangsung secara interaktif dengan pembahasan yang menyoroti peran strategis bahasa Arab sebagai bahasa ilmu pengetahuan, budaya, dan peradaban Islam di tengah dinamika global. Dalam keterangannya Kaprodi PBA Unwaha, Rina Dian Rahmawati, M.Pd., menyampaikan bahwa penyelenggaraan webinar internasional ini menjadi bukti konkret komitmen Prodi PBA Unwaha dalam merealisasikan kerja sama yang telah terjalin. “Kami berharap kolaborasi ini dapat terus berlanjut dalam berbagai program akademik lainnya, seperti riset bersama, pertukaran dosen, dan pengembangan kurikulum pendidikan bahasa Arab,” ungkapnya. Beliau menambahkan, momentum Hari Bahasa Arab Sedunia menjadi sarana strategis untuk memperkuat eksistensi bahasa Arab di lingkungan akademik sekaligus memperluas jejaring keilmuan antarperguruan tinggi. Salah satu pembicara dalam webinar ini adalah Dr. M. Dzikrul Hakim Al Ghozali, M.Pd.I., merupakan dosen PBA Unwaha. Melalui kegiatan ini, Prodi PBA Unwaha menegaskan perannya dalam mendukung internasionalisasi program studi, penguatan kolaborasi kelembagaan, serta peningkatan kualitas pendidikan bahasa Arab yang adaptif terhadap tantangan global. Red: Ibrahim

Pengumuman Teknis Pelaksanaan PPL Tahun Akademik 202/2026

Diberitahukan kepada seluruh mahasiswa peserta Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) semester VII FIP, PAI, dan PBA Universitas KH. A. Wahab Hasbullah Tahun Akademik 2025/2026 bahwa pelaksanaan PPL dilaksanakan pada 12 Januari–28 Februari 2026 di lembaga pendidikan tingkat SMA/SMK/MA, sesuai dengan ketentuan dan teknis yang telah ditetapkan. Pengumuman Teknis Pelaksanaan PPL 2025.

Penguman Pelaksanaan Pembekalan PPL Tahun Akademik 2025/2026

Diberitahukan kepada seluruh mahasiswa peserta Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Tahun Akademik 2025/2026 bahwa akan dilaksanakan kegiatan pembekalan sebagai bagian dari tahapan wajib sebelum pelaksanaan PPL. Mahasiswa diharapkan untuk memperhatikan dan mematuhi seluruh ketentuan, jadwal, serta informasi teknis sebagaimana tercantum dalam surat pemberitahuan resmi. Kehadiran dan kesungguhan peserta dalam mengikuti pembekalan ini menjadi bagian penting dalam mendukung kelancaran dan keberhasilan pelaksanaan PPL. Surat Pemberitahuan Pelaksanaan PPL 2025/2026

Diantara Legal-Formalisme Organisasi dan Erosi Kearifan Kolektif

Oleh : Moh. Ja’far Sodiq Maksum, M.H. (Dosen Prodi Agroekoteknologi) Ketegangan Antara Struktur dan Spiritualitas Fenomena konflik di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dewasa ini menampakkan gejala yang lebih kompleks daripada sekadar perbedaan tafsir terhadap Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Permasalahan ini jauh melampaui dinamika administratif, karena ia menyentuh akar identitas NU sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah—organisasi keagamaan yang hidup dari perpaduan antara struktur kelembagaan dan kearifan spiritual para ulama. NU tidak lahir sebagai organisasi modern yang steril dari dimensi batin dan spiritualitas, melainkan tumbuh dari riyadhah, tirakat, keikhlasan, dan adab para ulama yang menempatkan pengabdian sebagai laku hidup. Oleh karena itu, pendekatan legal-formal semata dalam merespons konflik internal hari ini menandai terjadinya dislokasi epistemik, yakni pergeseran cara berpikir dari paradigma hikmah dan kebijaksanaan menuju paradigma birokrasi kering yang mengutamakan prosedur, tetapi mengabaikan kedalaman nilai, etika, dan tanggung jawab moral. Bahkan lebih dari itu, konflik yang terjadi di tubuh NU dewasa ini memperlihatkan adanya keretakan moral yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui mekanisme organisasi atau prosedur struktural semata. Persoalan yang muncul menyentuh lapisan yang jauh lebih dalam, yakni terkikisnya akhlaq jam’iyyah yang selama hampir satu abad menjadi sumber daya moral, kohesi sosial, dan kekuatan spiritual NU. Ketika adab, keikhlasan, dan keteladanan tidak lagi menjadi landasan bertindak, maka setiap solusi administratif berisiko gagal, karena kehilangan pijakan etis yang selama ini menjaga NU tetap utuh dan bermartabat. NU Direduksi Menjadi Pasal dan Ayat Administratif Pergolakan yang berlangsung belakangan ini memperlihatkan adanya kekeliruan yang bersifat sistemik, yakni kecenderungan sebagian elite PBNU memposisikan AD/ART sebagai rujukan tunggal dan final dalam menyelesaikan konflik. Dalam disiplin hukum Islam, pendekatan semacam ini sepadan dengan qashr al-dalīl, yaitu mereduksi hukum pada teks literal sambil mengabaikan maqāshid al-syarī‘ah dan pertimbangan maslahah yang seharusnya menjadi ruh dari setiap ketentuan. Padahal para ulama NU sejak lama menegaskan bahwa teks—baik dalam fiqh maupun dalam aturan organisasi—tidak boleh dipisahkan dari konteks, hikmah, dan tujuan etik yang melatarbelakanginya. Sikap legal-formalis yang menguat tersebut membawa risiko serius bagi keberlanjutan jam’iyyah. Struktur organisasi berpotensi difiducikan menjadi entitas yang seolah-olah sakral, tanpa diimbangi oleh adab dan orientasi maslahat; mekanisme sosial-kultural NU yang selama ini menjadi perekat jamaah cenderung terpinggirkan; dan peran kiai sepuh sebagai penjaga keseimbangan moral organisasi semakin tereduksi. Dalam kajian organisasi keagamaan, gejala ini dikenal sebagai institutional displacement, yakni ketika struktur formal mengambil alih ruang otoritas moral dan spiritual yang sebelumnya dijaga oleh para tetua, sehingga organisasi kehilangan kompas etik yang selama ini menjadi sumber kewibawaannya. Krisis Etos Khidmah Munculnya istilah sinis “NU = Nunut Urip” sejatinya merupakan alarm keras atas terjadinya pergeseran orientasi sebagian kader NU dari etos khidmah menuju kalkulasi kepentingan. Dalam tradisi pesantren, pengabdian dilandaskan pada keikhlasan, kesederhanaan, dan kesadaran spiritual bahwa jam’iyyah adalah amanah, bukan sarana mencari keuntungan. Namun realitas mutakhir menunjukkan munculnya fenomena “aktivis profesional” yang menggantungkan keberlangsungan hidupnya pada struktur NU, sehingga organisasi perlahan dipersepsi bukan sebagai ruang pengabdian, melainkan sebagai sumber nafkah yang harus dipertahankan dengan segala cara. Konsekuensi dari pergeseran orientasi tersebut sangat serius dan berdampak sistemik. Jabatan tidak lagi dipahami sebagai amanah, tetapi sebagai komoditas yang diperebutkan; struktur organisasi berubah menjadi arena kompetisi, bukan ladang pengabdian; dan loyalitas bergeser dari prinsip dan nilai ke jaringan kepentingan serta patronase. Dalam perspektif sosiologi Weberian, kondisi ini mencerminkan peralihan dari otoritas karismatik ulama menuju otoritas rasional-birokratis, namun tanpa fondasi etika yang semestinya menopang rasionalitas tersebut. Akibatnya, yang tersisa bukan profesionalisme, melainkan kerakusan, ambisi, dan pragmatisme kekuasaan. Dalam situasi demikian, nomenklatur AD/ART kerap digunakan sebagai instrumen legitimasi untuk melanggengkan kepentingan pribadi maupun kelompok. Padahal pesan Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari sangat tegas dan tidak menyisakan ruang tafsir oportunistik: “Jangan mencari hidup dari NU, tetapi hiduplah untuk NU.” Ironisnya, sebagian elite hari ini justru membalik pesan luhur tersebut menjadi semacam lisensi moral untuk memungut keuntungan dari jam’iyyah, sebuah praktik yang bukan hanya menyimpang dari etos pendiri, tetapi juga menggerus marwah NU sebagai organisasi keagamaan yang dibangun di atas keikhlasan dan keteladanan. Ketika Keberanian Ditekan, Kejujuran Dianggap Aib Realitas NU hari ini kian mendekati gambaran retoris tentang “negeri para bedebah”, di mana kejujuran justru diperlakukan sebagai aib dan pengkhianatan dimaklumi sebagai kelaziman. Dalam konteks konflik PBNU, situasi ini tercermin dari cara suara-suara kritis para kiai yang masih memegang prinsip tsiqah, kehati-hatian, dan adab ditanggapi secara defensif. Alih-alih dijawab melalui musyawarah yang teduh, kritik tersebut kerap dibalas dengan penyingkiran, pembungkaman simbolik, bahkan kriminalisasi moral, seolah-olah kejujuran telah berubah menjadi ancaman bagi stabilitas struktural. Padahal, dalam tradisi NU, kritik antarulama tidak pernah diposisikan sebagai serangan personal atau pembangkangan terhadap organisasi. Kritik justru dipahami sebagai ikhtiar menyelamatkan jam’iyyah dari penyimpangan arah dan kerusakan nilai. Sejarah NU mencatat banyak teladan bagaimana para kiai besar saling mengingatkan dengan penuh hormat dan kasih sayang, seperti dialog intelektual antara KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah, atau sikap kehati-hatian KH. Bisri Syansuri dalam menyampaikan koreksi kepada KH. Ali Maksum. Dalam bingkai ini, kritik bukan alat perpecahan, melainkan manifestasi mahabbah dan tanggung jawab moral. Namun kondisi kontemporer menunjukkan adanya pergeseran cara pandang yang serius. Kritik kini sering diperlakukan sebagai ancaman terhadap “struktur”, bukan sebagai masukan etik untuk perbaikan. Sikap corporate defensiveness—yang lazim dalam organisasi bisnis atau birokrasi modern—perlahan menyusup ke dalam tubuh NU, padahal ia asing dalam tradisi pesantren yang menjunjung tinggi keterbukaan, tawadhu’, dan kelapangan dada. Jika kecenderungan ini terus dibiarkan, NU berisiko kehilangan salah satu ciri terpentingnya: kemampuan mengelola perbedaan dengan adab dan menjadikan kritik sebagai jalan memperkuat, bukan merusak, persaudaraan jam’iyyah. Dari Maslahah Menuju Mudarat Apa yang kini disaksikan publik bukan lagi sekadar konflik internal organisasi, melainkan proses delegitimasi moral NU yang berlangsung di ruang terbuka. Warga nahdliyin akar rumput dihadapkan pada pemandangan yang tidak lazim dalam tradisi jam’iyyah: pertengkaran terbuka antarelite, saling klaim legitimasi struktural, penggunaan dalil agama untuk membenarkan manuver kekuasaan, serta memudarnya keteladanan moral para pemegang otoritas. Fenomena ini menimbulkan kegelisahan kolektif, karena NU selama ini dikenal bukan oleh kekuatan retorika elite, melainkan oleh kebeningan sikap dan keteduhan akhlak para kiai. Dalam perspektif usul fikih, kondisi tersebut dapat dibaca sebagai ihtilāl al-qiyam, yakni kerusakan tatanan nilai yang menyebabkan maslahat umum tergeser oleh mudarat yang terus membesar. Ketika dalil dipisahkan dari hikmah,

Dosen Unwaha Raih Insentif Artikel Jurnal Internasional Bereputasi 2025

Jombang – Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) kembali menorehkan prestasi akademik di tingkat nasional. Salah satu dosen Unwaha berhasil meraih Program Insentif Artikel Berkualitas pada Jurnal Internasional Bereputasi Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Berdasarkan Surat Pengumuman Nomor 1741/C3/DT.05.00/2025 tanggal 14 Desember 2025, dosen Unwaha atas nama Suci Prihatiningtyas ditetapkan sebagai penerima program insentif tersebut. Insentif diberikan atas artikel ilmiah berjudul “Enhancing Science Literacy Through Flipbook-Based STEM Qur’an E-Modules: A Case Study in Islamic Boarding Schools” yang dipublikasikan pada jurnal internasional bereputasi Humanities and Social Sciences Communications. Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unwaha, Dr. Zulfikar, S.P., M.Si., menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Ia menegaskan bahwa prestasi ini mencerminkan meningkatnya kualitas riset dan publikasi dosen Unwaha di level internasional. “Capaian ini menjadi indikator bahwa dosen Unwaha mampu bersaing pada level jurnal internasional bereputasi. LPPM akan terus berkomitmen mendampingi dan memfasilitasi dosen agar produktivitas riset dan publikasi semakin meningkat,” ujar Dr. Zulfikar. Sementara itu, Suci Prihatiningtyas selaku penerima insentif menyampaikan rasa syukur dan harapannya agar capaian ini dapat memberikan manfaat yang lebih luas. “Penghargaan ini menjadi motivasi untuk terus mengembangkan riset yang berdampak, khususnya dalam penguatan literasi sains berbasis nilai keislaman di lingkungan pendidikan pesantren. Saya berharap hasil penelitian ini dapat menginspirasi pengembangan inovasi pembelajaran di madrasah dan pesantren,” ungkapnya. Red: Ibrahim

Expo FIP 2025, Dorong Mahasiswa Jadi Edupreneur Berbasis Kearifan Lokal

Jombang – Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) menggelar Exposition Pengembangan Media Pembelajaran dan Kewirausahaan sebagai ajang diseminasi karya mahasiswa, Selasa (16/12/2025), di Halaman Gedung Jokowi. Kegiatan ini menampilkan beragam media pembelajaran dan produk kewirausahaan hasil karya mahasiswa yang mengusung tema kearifan lokal. Expo tersebut diikuti oleh 129 mahasiswa, yang terdiri atas 74 mahasiswa semester 5 mata kuliah Pengembangan Media Pembelajaran dan 55 mahasiswa semester 7 mata kuliah Kewirausahaan. Dari kegiatan ini, dipamerkan sebanyak 41 media pembelajaran fisik, 11 media digital, serta 39 jenis produk kewirausahaan dengan variasi inovasi dan konsep yang beragam. Dekan FIP, M. Farid Nasrulloh, S.Pd.Si., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin fakultas yang telah dilaksanakan sejak sebelum penerapan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan kini tetap relevan dalam kerangka Outcome-Based Education (OBE). “Kegiatan ini merupakan bentuk diseminasi dari mata kuliah Kewirausahaan dan Pengembangan Media Pembelajaran. Fakultas memfasilitasi mahasiswa agar kompetensinya berkembang secara komprehensif, sehingga lulusan FIP tidak hanya dipersiapkan menjadi guru, tetapi juga memiliki jiwa edupreneur,” ujar beliau. Lebih lanjut, Bapak Farid menegaskan bahwa fakultas berharap pengembangan produk dan media yang dihasilkan mahasiswa tidak berhenti pada pemenuhan tugas mata kuliah semata. “Harapan kami, mahasiswa dapat terus mengembangkan karya-karya ini setelah lulus dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkas Dekan FIP itu. Ketua Pelaksana kegiatan, Anggun Wulandari, S.Si., M.Pd., menyampaikan bahwa Expo FIP di tahun ini mengalami peningkatan kualitas, baik dari sisi teknis pelaksanaan maupun ragam karya yang dipamerkan. “Setiap tahun kegiatan ini kami evaluasi dan perbaiki. Untuk exposition kali ini, jumlah media dan produk yang ditampilkan sangat beragam, baik media pembelajaran maupun produk kewirausahaan,” jelasnya. Beliau menambahkan bahwa tema kearifan lokal dipilih untuk mendorong mahasiswa mengintegrasikan nilai budaya dan potensi lokal ke dalam inovasi pembelajaran serta produk kreatif. “Melalui kegiatan ini, kami berharap kreativitas mahasiswa semakin berkembang, mutu pembelajaran di kelas meningkat, dan inovasi tersebut dapat diaplikasikan menjadi produk yang bernilai guna,” pungkas dosen Prodi Pendidikan Biologi ini. Red: Ibrahim

Selamat! Dosen Unwaha Raih Bantuan Publikasi Jurnal Bereputasi Kemendiktisaintek 2025

Jombang – Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) kembali menorehkan capaian membanggakan dalam penguatan reputasi akademik nasional. Sejumlah dosen Unwaha resmi ditetapkan sebagai Penerima Bantuan Publikasi pada Jurnal Bereputasi Tahun 2025 oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) RI. Penetapan tersebut didasarkan pada Surat Keputusan Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Nomor 279/C/C2/KPT/2025 tertanggal 11 Desember 2025. Dalam keputusan tersebut, nama-nama dosen Universitas KH. A. Wahab Hasbullah tercantum sebagai penerima bantuan publikasi jurnal bereputasi di bawah koordinasi LLDIKTI Wilayah VII. Dosen Unwaha yang memperoleh bantuan publikasi tersebut meliputi Ashlihah, S.E., M.M.; Bekti Widyaningsih, S.Kom., M.E.; Dr. M. Dzikrul Hakim Al Ghozali, S.Pd.I., M.Pd.I.; Dr. M. Qoyum Zuhriwawan, S.Pd., M.Pd.; Hilyah Ashoumi, S.Pd.I., M.Pd.I; Irwan Ahmad Akbar, S.Pd., M.A.; Maratul Fahimah, S.P., M.M.; Nurul A’ini, S.Si., M.Si.; Nurul Hidayah, S.Hum., M.Hum.; Ospa Pea Yuanita Meishanti, S.Pd., M.Pd.; serta Ulfa Wulan Agustina, S.Pd., M.Pd. Rektor Unwaha, Prof. Dr. Ir. H. Gatot Ciptadi, DESS., IPU., ASEAN Eng., menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya atas capaian tersebut. Menurut beliau, keberhasilan dosen Unwaha menembus program bantuan publikasi jurnal bereputasi merupakan indikator penting meningkatnya kualitas dan daya saing riset institusi. “Capaian ini bukan hanya prestasi individu dosen, tetapi juga menjadi cerminan kematangan ekosistem riset di Unwaha. Bantuan publikasi jurnal bereputasi dari Kemendiktisaintek menunjukkan bahwa karya ilmiah dosen Unwaha telah memenuhi standar akademik yang diakui secara nasional bahkan internasional,” tegas Prof. Gatot. Lebih lanjut, Prof. Gatot menegaskan bahwa penguatan publikasi ilmiah merupakan bagian integral dari strategi pengembangan Unwaha sebagai perguruan tinggi yang berorientasi pada mutu, relevansi, dan kontribusi keilmuan. “Kami terus mendorong dosen untuk tidak hanya produktif meneliti, tetapi juga mampu mempublikasikan hasil risetnya pada jurnal bereputasi. Hal ini penting untuk memperluas dampak keilmuan, meningkatkan visibilitas institusi, serta memperkuat kontribusi Unwaha dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pemecahan persoalan masyarakat,” imbuhnya. Seperti yang diketahui, program ini dirancang untuk memperkuat kualitas luaran penelitian dosen serta meningkatkan posisi Indonesia dalam peta publikasi ilmiah global. Keikutsertaan dan keberhasilan dosen Unwaha dalam program ini menegaskan komitmen institusi dalam mengembangkan budaya akademik yang unggul, berintegritas, dan berkelanjutan. “Ke depan, Unwaha berkomitmen untuk terus memperkuat dukungan kelembagaan, pendampingan riset, serta kolaborasi ilmiah, sehingga capaian serupa dapat terus berlanjut dan memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pendidikan tinggi nasional,” pungkas beliau. Red: Ibrahim

Bakat yang Dibina Sejak MI, Ahmad Maghfuri Tembus Juara Khat Internasional

Jombang – Sejak duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (MI), Ahmad Maghfuri Nabilil Waro sudah menunjukkan bakat dan kecermatan dalam menggambar. Ketertarikannya pada seni visual itu terus berkembang hingga akhirnya membawanya menekuni seni khat. Dedikasi tersebut kini berbuah manis setelah ia berhasil meraih Juara 1 kategori Khat Riq’ah pada ajang internasional Musabaqoh Warotsul Ambiya yang diselenggarakan oleh Markaz Al-Qalam lil Khat Al-Arabi, Karbala, Irak. Prestasi yang berhasil diraih oleh mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Agama Islam (FAI), Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) ini bukan tanpa bimbingan dan kerja keras. Sejak diarahkan gurunya untuk menekuni kaligrafi sejak MI, ia terus melatih kemampuannya melalui pendidikan dan latihan rutin. Benih Bakat yang Tumbuh Sejak Madrasah Ibtidaiyah Maghfuri mengenang awal mula perjumpaannya dengan dunia khat. Saat teman-temannya sibuk bermain, ia asyik menggambar di buku tulis. “Guru saya melihat saya sering menggambar. Lalu beliau menyarankan agar saya menyalurkannya ke kaligrafi. Dari situlah semuanya bermula,” tutur mahasiswa kelahiran Blitar ini. Di MI, ia masih menggunakan pensil. Namun saat memasuki MTs dan MA, ia mulai belajar menggunakan handam (pena kaligrafi) sehingga mengubah kemampuan dasarnya menjadi lebih matang. Setiap lomba tingkat kabupaten, ia hampir selalu terlibat. Sebelum menjadi mahasiswa Unwaha, Maghfuri menjalani dua tahun pendidikan intensif di sekolah kaligrafi. Di sana, ia bukan hanya belajar teknik, tetapi juga memahami sanad keilmuan guru yang mengakar sampai ke para maestro khat klasik. “Di sana saya belajar banyak,” lanjutnya. Menembus Kompetisi Tingkat Internasional Ajang yang ia ikuti bukan kompetisi biasa. Peserta datang dari berbagai negara penghasil penulis khat terbaik dunia. Dengan penuh semangat, ia mengirimkan karya terbaiknya. “Alhamdulillah, dari event yang diselenggarakan Irak, saya mendapat Juara 1,” katanya Tidak ada prestasi tanpa perjuangan. Itulah yang seolah ia sampaikan saat ditanya hal dibalik raihan prestasi tersebut. “Effort-nya besar. Latihan terus, diskusi dengan teman, lalu setoran ke guru. Setoran itu penting untuk tahu apa yang masih kurang,” jelasnya. Mahasiswa yang juga berperan sebagai pembina sekaligus pengajar di Unit Kegiatan Kemahasiswaan (UKM) Khattibari Unwaha ini berharap agar prestasi ini menjadi inspirasi, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga untuk mahasiswa yang ingin menekuni seni Islam klasik ini. “Mudah-mudahan saya bisa makin rajin dan bisa menyebarkan khat di masyarakat dan di Unwaha,” pungkasnya. Red: Ibrahim