Jombang – Hari kedua Muktamar Lesbumi NU di Universitas KH. Abdul Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang berlangsung meriah dengan berbagai penampilan seni budaya dari peserta yang hadir. Panggung hiburan yang berada di halaman Gedung Jokowi tampak dipadati masyarakat sekitar yang ingin menyaksikan rangkaian pertunjukan.
Di balik suasana tersebut, sejumlah stan bazar juga tetap konsisten berpartisipasi sejak hari pertama kegiatan. Para peserta bazar berasal dari beragam latar belakang, mulai dari badan otonom (Banom) NU, UKM UNWAHA, HMP, hingga pelaku usaha umum.
Salah satu peserta bazar dari PC Ansor Bandung menyampaikan bahwa pelaksanaan bazar masih memiliki tantangan, terutama dari sisi jumlah pengunjung.
“Untuk skala nasional, Muktamar Lesbumi ini termasuk sepi pengunjung. Hal itu cukup berdampak pada penjualan kami,” ujarnya.
Meski demikian, sejumlah peserta bazar dari UKM dan HMP UNWAHA menilai kegiatan tersebut tetap berjalan sesuai perkiraan. Beberapa produk yang mereka tampilkan mendapat perhatian dari peserta muktamar, terutama merchandise yang identik dengan Muktamar Lesbumi NU.
Merchandise Muktamar Banyak Diminati
Mahasiswa Fakultas Ekonomi UNWAHA, Mochammad Dicky Nur Rayhan, menyampaikan bahwa produk yang ditawarkan oleh timnya mendapat respons cukup baik dari peserta. Bahkan, beberapa produk hampir terjual habis.
“Produk bestseller kami adalah merchandise berupa kaos yang berkolaborasi dengan konveksi GasGus. Produk ini banyak diminati oleh para peserta,” ungkapnya.

Namun, ia mengakui masih ada hal yang menjadi bahan evaluasi, terutama dalam membaca kebutuhan pasar. Sebelumnya, pihaknya memperkirakan kaos tidak terlalu banyak diminati. Akan tetapi, produk tersebut justru menjadi salah satu barang yang paling dicari oleh peserta muktamar.
Selain itu, sejumlah kendala teknis juga dirasakan oleh peserta bazar. Beberapa di antaranya adalah listrik yang beberapa kali padam, kondisi area parkir yang cukup sulit, serta jumlah pengunjung yang relatif sepi pada pagi hingga sore hari.
Buka Ruang Relasi dan Pertukaran Budaya
Di sisi lain, kegiatan bazar juga membuka ruang pertemuan dan relasi baru bagi mahasiswa maupun peserta. Ketua UKM Khattibari, Muhammad Abdul Qadir, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberi pengalaman menarik karena mempertemukan mereka dengan pengunjung dari berbagai latar belakang.

“Acara ini membuka banyak peluang relasi baru. Kami bahkan sempat berinteraksi dengan wisatawan mancanegara yang tertarik pada budaya dan keislaman di Indonesia. Salah seorang warga asing berdiskusi tentang Islam, termasuk perbedaan praktik budaya Islam di Bali dan Jawa,” jelasnya kepada tim.
Ia juga mengapresiasi penyelenggaraan Muktamar Lesbumi NU 2026 ini karena dinilai mampu menjadi wadah untuk memperkenalkan kembali kesenian dan kebudayaan yang mulai jarang dikenal generasi muda. Beberapa di antaranya adalah kesenian bantengan, besutan, serta berbagai tradisi budaya Nusantara lainnya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Muktamar Kebudayaan Lesbumi NU, yang akrab disapa Ki Wasis, menyampaikan bahwa kegiatan tahun ini memiliki warna berbeda dibanding agenda Lesbumi sebelumnya. Menurutnya, Lesbumi biasanya menggelar Rapat Koordinasi Nasional atau Rakornas yang tidak banyak melibatkan masyarakat umum.
“Acara ini termasuk meriah karena Lesbumi biasanya melaksanakan Rakornas yang tidak melibatkan masyarakat. Tahun ini kami mencoba menunjukkan eksistensi Lesbumi kepada masyarakat sekitar,” ujarnya.
Ki Wasis berharap Muktamar Kebudayaan Lesbumi NU dapat semakin dikenal oleh masyarakat luas. Ia juga berharap kegiatan tersebut mampu mengenalkan kembali gagasan dan semangat perjuangan KH. Abdul Wahab Hasbullah, terutama dalam merawat budaya, kebangsaan, dan nilai keislaman yang hidup di tengah masyarakat.
Penulis: Indi
Foto: Erlina Duwi Aisah
Editor: Ibrahim