Universitas KH. A. Wahab Hasbullah

Category: Artikel

Kuliah di Program Studi Pendidikan Fisika Unwaha Jombang: Tentang, Mata Kuliah, dan Profil Lulusan

Jombang – Memiliki kesempatan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi merupakan impian bagi semua orang untuk menggapai cita-cita. Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang merupakan salah satu penyelenggara pendidikan tinggi yang memiliki banyak pilihan program studi, salah satunya adalah Pendidikan Fisika. Jika kalian memiliki minat dan ketertarikan besar di dalam dunia pendidikan dan fisika, program studi ini bisa menjadi pilihan yang tepat. Hal ini disampaikan oleh Ketua Program Studi Pendidikan Fisika, Suci Prihatiningtyas, M.Pd. Beliau menjelaskan, dalam program studi ini mahasiswa akan diberikan sistem pembelajaran yang ditekankan pada perpaduan ilmu fisika dan ilmu pendidikan. Berdasarkan hal ini, maka terdapat dua keterampilan yang akan diperoleh oleh mahasiswa program studi Pendidikan Fisika. “Pertama adalah keterampilan umum, salah satunya yaitu mahasiswa mampu melakukan penalaran secara logis dan mengimplementasikan ilmu pengetahuan dengan memperhatikan bidang pendidikan fisika. Kedua adalah keterampilan khusus, mahasiswa mampu melakukan manajemen pembelajaran fisika dengan memanfaatkan sumber belajar terkini,” ungkapnya. Mata Kuliah Program Studi Pendidikan Fisika Jika masih bingung dengan program studi yang satu ini, Suci Prihatiningtyas, M.Pd., menyampaikan beberapa mata kuliah yang akan diajarkan berdasarkan jenis kajian. Kajian Ilmu Fisika; Fisika Dasar I , II, & III, Kalkulus I & II, Kimia Dasar, Biologi Dasar, Fisika Matematika I & II, Gelombang & Optik, dan lain sebagainya. Kajian Ilmu Pendidikan; Pengantar Ilmu Pendidikan, Belajar dan Pembelajaran, Strategi Belajar Mengajar, Profesi Pendidikan. Pembelajaran Fisika; Fisika Sekolah I & II, Pengembangan Media Pembelajaran, Perencanaan Desain pembelajaran, Keterampilan Dasar Mengajar. Hal yang Perlu Dipersiapkan saat Kuliah di Program Studi Pendidikan Fisika.  Sebelum memilih jurusan ini, kalian harus memastikan terlebih dulu jika kalian memiliki minat dan ketertarikan besar di bidang Sains. Pasalnya, keilmuan dan keahlian yang diselenggarakan selama proses perkuliahan berkaitan dengan bidang serumpun (Sains) meliputi, Kimia, Biologi, dan Aplikasi IPTEKS (TIK dan Media). Profil Lulusan dan Prospek Karir Sarjana Pendidikan Fisika. Ketua Program Studi Pendidikan Fisika, Suci Prihatiningtyas, M.Pd. menjelaskan bahwa secara luas para lulusan bisa berkecimpung  di dunia pendidikan dan ahli fisika. Pendidik Fisika; lulusan dinilai mampu mengkaji dan menerapkan metode pembelajaran inovatif. Mampu membimbing siswa dengan memberikan pijakan, alternatif solusi, dan feedback untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Pengembang Bahan Ajar Fisika; mampu mengambil keputusan strategis terhadap masalah mutu, relevansi dan akses di bidang pendidikan dalam penyelenggaraan kelas, laboratorium fisika dan lembaga pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. Peneliti Pendidikan Fisika; lulusan mampu melakukan penelitian pendidikan fisika dalam bentuk pengkajian dan evaluasi pembelajaran fisika dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk memecahkan permasalahan pembelajaran fisika dan dilaporkan dalam bentuk artikel ilmiah. Sebagai informasi tambahan, program studi Pendidikan Fisika di Unwaha Jombang telah terakreditasi “Baik Sekali” berdasarkan SK yang diterbitkan Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK) No. 205/SK/LAMDIK/Ak/S/III/2024. Bagimana? tertarik kuliah di program studi Pendidikan Fisika Unwaha Jombang?. Buruan, segera daftarkan diri anda dan menjadi bagian dari salah satu Kampus NU terbaik. Informasi selengkapnya untuk pendaftaran mahasiswa baru dapat diakses melalui tautan ini. Red : Ibrahim Editor : Septian Ragil **) Ikuti konten kreatif terbaru Unwaha Jombang di Instagram klik link ini dan jangan lupa follow.

Yuk Ketahui Prodi Agroekoteknologi: Mata Kuliah, Kompetensi Lulusan, hingga Pengembangan Karir

Jombang – Mau kuliah dan masih bingung dalam memilih Program Studi (Prodi) untuk melanjutkan pendidikan?. Tenang, masih banyak kok Prodi atau jurasan yang dapat meningkatkan pengetahuan dan mengembangkan skill sesuai dengan minat kalian, salah satunya adalah Prodi Agroekoteknologi. Mungkin sebagian dari kita asing dengan prodi satu ini. Namun jangan salah, banyak kampus di Indonesia yang telah membuka Prodi Agroekoteknoligi, salah satunya Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang. Agroekoteknologi merupakan Prodi yang menyelenggarakan pendidikan tentang teknologi pengelolaan lingkungan pertanian yang berkelanjutan. Prodi satu ini merupakan gabungan dari beberapa rumpun keilmuan di Fakultas Pertanian pada umumnya. Seperti Agronomi, Ilmu Tanah, dan juga Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan. Jika kalian memiliki minat di bidang keilmuan tersebut, suka mempelajari perihal botanikal, memiliki inovasi dalam pengelolaan keberlanjutan lingkungan dan meningkatkan produksi hasil pertanian, maka Prodi Agroekoteknologi merupakan pilihan yang sangat tepat. Hal ini dibenarkan oleh Kaprodi Agroekoteknologi, Mohamad Nasirudin, S.Si., M.Ling. “Sebenarnya tidak ada spesifikasi latar belekang pendidikan calon mahasiswa baru. Dari semua jurusan bisa masuk semua, dengan syarat memiliki komitmen dalam mempelajari dan pengembangan di dunia pertanian,” tutur Kaprodi Agroekoteknologi ini. Kuliah di Agroekoteknologi Unwaha Jombang Nasir sapaan akrabnya mengungkapkan, Prodi Agroekoteknoligi Unwaha Jombang ini memiliki berbagai tujuan. Salah satunya yaitu menghasilkan lulusan yang menguasai dan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian. “Tentu juga mampu menjadi penggerak dalam pembangunan di sektor pertanian. Harapannya para lulusan mampu mengimplementasikan keilmuannya di tengah masyarakat,” imbuhnya. Para mahasiswa Prodi Agroekoteknologi juga dibentuk untuk dapat menghasilkan publikasi ilmiah berbasis kegiatan penelitian. Kemudian mahasiswa juga diarahkan mengembangkan ilmu dan teknologi pertanian di tengah masyarakat melalui program pengabdian. Mata Kuliah di Prodi Agroekoteknologi Kalau kuliah di Prodi ini akan mempelajari apa saja sih?. Kaprodi Agroekoteknologi kepada tim Humas Unwaha Jombang menjelaskan beberapa mata kuliah yang akan diajarkan berdasarkan jenisnya, seperti berikut ini: Mata Kuliah Universitas: Mahasiswa akan dibekali mata kuliah wajib Universitas. Di mana mata kuliah ini, secara umum terdapat di berbagai Prodi di Unwaha Jombang. Seperti; Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Pancasila, Aswaja, dan Agama Islam. Mata Kuliah Fakultas Pertanian: Adapun mata kuliah wajib fakultas di antaranya; Pengantar Ilmu Pertanian, Statistik, dan Metodologi Ilmiah. Mata Kuliah Prodi: Di sini, kalian akan mempelajari mata kuliah yang secara spesifik berfokus pada Agroekoteknologi. Beberapa di antaranya adalah; Botani, Biokimia Tanaman, Peramalan Hama dan Epidemi Penyakit, Manajemen Agroekosistem, dan masih banyak lainnya. Mata Kuliah Pilihan Prodi: Mahasiswa Agroekoteknologi dapat memilih beberapa mata kuliah. Di antaranya; Manajemen Hama dan Penyakit Terpadu, Analisis Pertumbuhan Tanaman, Pestisida dan Aplikasinya, dan Teknologi Pasca Panen. Kompetensi Lulusan Prodi Agroekoteknologi Lalu nanti selesai kuliah di Prodi ini kalian ngapain dan bisa jadi apa saja sih?. Kaprodi Agroekoteknologi juga menjelaskan beberapa profil lulusan Prodi Agroekoteknologi Unwaha Jombang. Di antaranya adalah menjadi seorang peneliti. “Ini dikarenakan lulusan Agroekoteknologi mampu melakukan riset pertanian berkelanjutan yang berwawasan lingkungan dan berbasis sumberdaya dan kearifan lokal,” lanjut alumnus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tersebut. Kemudian, kalian bisa menjadi penguasaha dan manajer di bidang pertanian tentunya. Pasalnya, kalian sudah dapat menguasai tentang keilmuan manajemen agroekosistem serta dapat menerapkan pengelolaan sistem pertanian terpadu. “Lulusan kami juga bisa menjadi seorang penyuluh, karena para lulusan dinilai mampu memberikan penyuluhan pertanian berkelanjutan,” pungkas pria yang memiliki latar belakang pendidikan di bidang Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan dan Pembangunan tersebut. Bagimana? tertarik kuliah di Prodi Agroekoteknologi Unwaha Jombang?. Buruan, segera daftarkan diri anda dan menjadi bagian dari salah satu Kampus NU terbaik. Informasi selengkapnya untuk pendaftaran mahasiswa baru dapat diakses melalui tautan ini. Red : Ibrahim Editor : Septian Ragil **) Ikuti konten kreatif terbaru Unwaha Jombang di Instagram klik link ini dan jangan lupa follow.

Refleksi Peringatan Hari Bumi, Begini Pandangan Dosen Unwaha Jombang Tentang Keberlanjutan Lingkungan

Jombang – Hari Bumi selalu diperingati setiap tanggal 22 April, peringatan ini sebagai wujud untuk meningkatkan kesadaran dan perlindungan terhadap lingkungan. Setiap tahunnya peringatan Hari Bumi dirayakan dengan tema yang berbeda, sesuai dengan pokok permasalahan lingkungan terkini dan ancaman bagi Bumi di masa yang akan datang. Dilansir dari laman Earth Day, Hari Bumi 2024 memiliki tema “Planet vs Plastik”. Tema ini menjadi seruan sekaligus kampanye atas produksi dan penggunaan plastik sekali pakai. Selain mengancam kerusakan Bumi, limbah plastik juga dapat mengancam kondisi kesehatan manusia. Menyikapi hal ini, Dosen sekaligus Dekan Fakultas Pertanian, Ambar Susanti, S.P., M.P memberikan pandangannya perihal refleksi peringatan Hari Bumi. Kerakusan Manusia Vs Kerusakan Iklim Kondisi perubahan yang begitu pesat dan perkembangan penduduk kian meningkat berdampak terhadap tingkat penggunaan sumber daya alam. Kondisi ini terlihat di berbagai sektor, tingkat konsumsi manusia semakin tinggi seiring dengan kebutuhan yang kian meningkat. “Perkembangan penduduk juga berpengaruh terhadap kebutuhan masyarakat saat ini, terlebih lagi gaya hidup saat ini yang bermacam-macam jenisnya. Sehingga kita perlu untuk meningkatkan upaya dalam mengelola sumber daya alam,” kata dosen yang memiliki latar belakang pendidikan di bidang Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan itu. Akibatnya, perilaku masyarakat yang seperti itu dapat berpengaruh terhadap kerusakan iklim. Ambar sapaan akrabnya, menjelaskan jika kerusakan iklim memiliki dampak yang sangat seirus. Pasalnya, Bumi memiliki sistemnya sendiri dan jika di suatu area terdapat kerusakan maka akan berdampak terhadap area lainnya. Ancaman nyata saat ini adalah bencana terjadi di mana-mana akibat kerusakan tersebut. Seperti bencana hidrometeorologi, kebakaran hutan, kekeringan, kelangkaan air dan semacamnya. “Kondisi ini merupakan konsekuensi nyata, karena isu perubahan iklim sudah terprediksi satu dekade sebelumnya, tepatnya sekitar tahun 2010. Prediksinya yaitu dunia akan menghadapi kondisi kenaikan suhu sekitar 4 derajat celcius, kenaikan suhu ini adalah bagian kecil dampak kerusakan iklim. Dampak secara luas yaitu pada kerusakan ekosistem,” tutur Dekan Fakultas Pertanian ini. Menjaga Bumi Mulai Dari Diri Sendiri Ambar juga mengatakan, dalam melestarikan ekosistem di Bumi bukan tanggung jawab satu pihak saja, melainkan merupakan tanggung jawab bersama sebagai manusia. ”Perihal menjaga lingkungan ini perlu peran dari semua stakeholder. Menjaga Bumi tidak hanya tanggung jawab satu dua generasi saja, tapi semuanya. Terutama bagi para generasi muda, yang dimana nantinya mereka akan menghadapi dampak lingkungan yang lebih besar lagi dibandingkan dengan sekarang,” ucapnya. Terakhir, beliau berharap melalui peringatan Hari Bumi ini ada kesadaran bagi masing-masing pribadi untuk sadar terhadap lingkungan. “Untuk menjaga bumi tidak perlu tindakan yang muluk-muluk, bisa dengan hal-hal kecil tadi. Khususnya kegiatan penghijauan kembali juga perlu dilakukan untuk keberlanjutan lingkungan,” pungkasnya. Red : Ibrahim Editor : Septian Ragil **) Ikuti konten kreatif terbaru Unwaha Jombang di Instagram klik link ini dan jangan lupa follow.

Simak!, Lima Waktu Pembayaran Zakat Fitrah: Momen yang Dianjurkan hingga yang Diharamkan

Jombang – Tidak terasa kita sudah berada di penghujung Bulan Suci Ramadan. Di momen ini, kita juga semakin dekat dengan ambang batas sebagai umat muslim dalam menunaikan zakat fitrah. Kewajiban berzakat, sebegamaimana yang telah difirmankan oleh Allah SWT dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah (43): وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرْكَعُوا۟ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ Artinya: Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’. Dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Agama Islam (PAI), Muhammad Fodhil, S.Pd.I., M.Pd. mengatakan, zakat fitrah diwajibkan kepada umat muslim yang merdeka. Memiliki kelebihan kebutuhan pokok pada saat Hari Raya, dan hidup selama bulan Ramadan. “Kemudian ukuran zakat fitrah itu menurut madzhab kita (Imam Syafi’i) adalah 2,7 kg. Itu ukuran yang paling aman, walaupun ada 2,5 kg-2,6kg. Ukuran ini adalah ukuran dari satu sha’,” jelas Dosen PAI tersebut. Berdasarkan penjelasannya, zakat fitrah yang diberikan yaitu berupa makanan pokok yang dikonsumsi sehari-hari di daerah penerima zakat. Kita juga dapat menunaikan zakat fitrah dengan uang, dengan ketentuan nominalnya senilai harga beras satu sha’. Berdasarkan ketetapan Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Timur, yaitu senilai Rp36.000 – Rp42.000. “Jika makanan pokok di daerah penerima zakat adalah beras, maka beras itulah yang kita berikan. Menyesuaikan pada makanan pokok mereka,” imbuhnya. Fadil sapaan akrabnya juga mengatakan, jenis-jenis waktu beserta hukumnya dalam membayarkan zakat. Sebagaimana hukum di dalam Syari’at Islam, yaitu wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram. “Waktu mubah, yaitu kita diperbolehkan mengeluarkan zakat dengan menta’jilnya (menyegerakan, red) yaitu dimulainya 1 Ramadan hingga di akhir bulan tersebut. Ada waktu yang diwajibkan bagi kita untuk membayarkan zakat fitrah, yaitu ketika terbenamnya matahari (malam 1 Syawal),” kata Fadil. Selanjutnya, waktu yang disunahkan untuk membayar zakat fitrah. Ketika terbitnya fajar sampai naiknya imam (Salat Id) ke atas mimbar. “Kemudian waktu makruh, yaitu setelah turunnya imam dari mimbar atau selesainya salat Id hingga sore atau sebelum matahari terbenam. Terakhir, kita diharamkan membayarkan zakat fitrah ketika selepas waktu makruh, yaitu sesudah terbenamnya matahari di Hari Raya,” lanjut Fadil. Beliau juga berpesan, sebagai muslim yang taat hendaklah menyegerkan untuk menunaikan zakat fitrah. Selain diwajibkan, zakat fitrah merupakan penyempurna untuk ibadah puasa kita selama satu bulan penuh. “Logikanya, apabila kita menunaikan zakat maka harta kita secara nominal akan berkurang. Tetapi Allah SWT akan memberikan berkah pada harta yang kita zakatkan, sehingga terus bertambah,” tutup Dosen PAI ini. Red : Ibrahim Editor : Septian Ragil **) Ikuti konten kreatif terbaru Unwaha Jombang di Instagram klik link ini dan jangan lupa follow.

Lailatul Qadar, Berburu Kemuliaan Malam Seribu Bulan

Jombang – Bulan Ramadan merupakan bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Salah satu di antara kemuliaannya terdapat malam yang istimewa, yaitu lailatul qadar. Pada malam tersebut, Allah akan mengabulkan permintaan dan mengampuni dosa-dosa hamba yang beribadah kepada-Nya. Dosen Pendidikan Agama Islam (PAI), Muhammad Fodhil, S.Pd.I., M.Pd. mengatakan, kemuliaan lailatul qadar adalah memiliki nilai yang lebih baik dibandingkan seribu bulan. “Malam ini (lailatul qadar, red) adalah termasuk yang istimewa dari seluruh malam di dalam satu tahun. Jadi ketika kita beribadah pada saat malam tersebut, maka ibadah kita (tercatat) lebih baik dari ibadah selama seribu bulan,” kata pria yang akrab disapa Fadil tersebut. Sebagaimana firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an Surat Al-Qadr. اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ. تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ. سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ Artinya: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?. Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar. Tanda-Tanda Munculnya Lailatul Qadar. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Aisyah Radiyallahu’anha tentang kemunculan lailatul qadar. تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِفِي الْوِتْرِمِنَ الْعَشْرِالْأَوَاخِرِمِنْ رَمَضَانَ Artinya: Carilah Lailatul Qadar itu pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan). (HR. Al-Bukhari dari Aisyah radliyallahu ‘anha) Fadil melanjutkan, adapun ciri-ciri datangnya lailatul qadar yaitu ditandai dengan suasana malam yang tenang, dan paginya yang cerah. “Malamnya itu hening, dan paginya itu cerah tidak begitu panas dan juga tidak dingin. Kenapa malam lailatul qadar ini disembunyikan oleh Allah SWT?, supaya kita bisa berlomba-lomba dalam memburunya, juga sebagai ujian bagi kita,” jelasnya. Meraih Lailatul Qadar Dosen PAI ini juga menjelaskan, di dalam malam seribu bulan tersebut tidak ada amalan-amalan khusus yang harus kita lakukan. Segala amalan baik itu yang diwajibkan maupun yang disunahkan, ketika malam lailatul qadar maka akan dilipat gandakan. “Termasuk yang paling utama adalah ibadah fardhu, amalan-amalan sunah seperti memperbanyak berdzikir dan membaca Al-Quran. Apalagi ketika ditambahkan dengan amalan seperti shodaqoh, sehingga dapat menambah pundi-pindi amalan kita saat bulan Ramadan,” imbuhnya. Kendati demikian, beliau juga menghimbau agar beribadah tidak hanya mengharapkan lailatul qadar semata. Melainkan hanya untuk mengharap Rahmat dan ampunan-Nya. “Secara adab, tidak baik kita beribadah hanya untuk mengharapkan itu (lailatul qadar). Karena level tertinggi dalam beribadah, yang kita harapkan hanya Rahmat-Nya,” pungkasnya. Red : Ibrahim Editor : Septian Ragil **) Ikuti konten kreatif terbaru Unwaha Jombang di Instagram klik link ini dan jangan lupa follow.

Apa yang Salah Dari Generasi Strawberry?

Jombang – Generasi muda merupakan generasi yang memiliki segudang perspektif baru, ide-ide inovatif, kreatif, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan saat ini. Sehingga generasi ini diharapkan menjadi agen perubahan demi kemajuan dan masa depan bangsa. Namun pada kenyataannya, generasi muda saat ini sangat rentan dengan berbagai tekanan, memiliki mentalitas rapuh, dan mudah menyerah . Sehingga tidak sedikit yang mengatakan bahwa generasi yang lahir di antara tahun 1990 an – 2010 an (bervariasi berdasarkan sumber) merupakan generasi yang lembek. Maka timbullah sebutan “Generasi Strawberry”. Layaknya buah strawberry yang memiliki tampilan indah dan menyegarkan, namun buah ini mudah rusak dan lembek. Begitu juga stereotip terhadap generasi muda saat ini, memiliki segudang inovasi dan tingkat kreativitas tinggi, namun rentan terhadap tekanan. Menyikapi kondisi ini, salah satu dosen Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha Jombang) memberikan pandangannya. Rina Dian Rahmawati, M.Pd.I., yang merupakan dosen Pendidikan Bahasa Arab (PBA) sedikit menyinggung apa yang salah dari generasi strawberry tersebut, dan bagaimana pandangan berdasarkan kacamata pendidikan. Rina, sapaan akrabnya, mengungkapkan bahwa generasi strawberry ini merupakan generasi yang harus diperhatikan. Pasalnya, banyak dari kasus-kasus kekerasan dan bunuh diri di dominasi oleh kalangan remaja. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun, selama 1 dekade terakhir tercatat ada 2.112 kasus bunuh diri di Indonesia, dan sebanyak 985 kasus (46 persen) dilakukan oleh anak muda (sumber, Kompas.com). Indonesia berada di posisi keempat dengan tingkat kasus bunuh diri tertinggi di Asia Tenggara dengan jumlah 6.2 (per 100.000 populasi), (Sumber, Kemenkes RI Dirjen Pelayanan Kesehatan). “Generasi sekarang ini memang berani-berani (dalam melakukan hal negatif seperti bunuh diri) atau istilahnya bondo nekat. Banyak dari keberanian untuk bertindak sedemikian memang disebabkan oleh depresi,” kata Rina. Kaprodi PBA ini juga menjelaskan, sebagaimana yang dimaksudkan untuk generasi strawberry, anak muda sekarang cenderung memiliki karakteristik yang dapat mempengaruhi kesehatan mental. “Mereka memang rentan terhadap gangguan mental. Banyak kondisi yang bisa menjadi penyebab, seperti lingkungan sosialnya, pendidikan, bahkan mungkin keluarga,” imbuhnya. Pendidikan Karakter  Kaprodi PBA ini juga mengatakan, pokok permasalahan dan penyebab terjadinya fenomena di atas adalah kurangnya pendidikan karakter. “Secara mentalitas dan kepribadian, generasi muda saat ini sudah terbentuk berani bertindak. Tapi semua itu tidak didasari oleh moral yang kuat,” jelas Rina. Ia juga memberikan beberapa kasus percontohan yang disaksikannya sendiri mengenai kemerosotan nilai moral yang terjadi pada generasi strawberry ini. Salah satunya yaitu disebabkan oleh gaya hidup masyarakat yang lebih nyaman dengan penggunaan teknologi. “Di era perkembangan teknologi yang modern ini, kita sebagai orang tua bahkan sebagai pendidik sedikit kecolongan dan tidak bisa mengkontrol. Informasi saat ini dapat menyebar dengan cepat, apa-apa dapat diperoleh dengan instan. Sehingga dampak negatifnya kepada tingkat emosional dan moral yang kurang,” katanya. Berdasarkan landskap pendidikan, degradasi moral ini dapat ditekan dengan pendidikan karakter. Menurut Rina, pendidikan ini sangat penting untuk membentuk moral anak muda di masa depan. “Pendidikan moral atau karakter itu harus disisipi di setiap proses pembelajaran. Tidak hanya di lingkungan kampus saja, melainkan sejak pendidikan dasar, anak-anak kita ini mendapatkannya,” ujar Kaprodi PBA ini. Terlebih pendidikan karakter yang diberikan oleh orang tua. Menurutnya, orang tua memiliki peranan yang sangat penting dalam membentuk moral anak. Dengan demikian, jika moralitas anak muda sudah bagus maka tidak ada lagi sebutan “Generasi Strawberry”. “Sebagai orang tua, kita menjadi pendengar yang baik dan mampu berdialog dengan baik. Sehingga anak-anak kita ini memiliki rasa saling menghormati, menerima perbedaan dan memikirkan dampak yang ditimbulkan akibat perbuatan masing-masing,” pungkasnya. Red : Ibrahim Editor : Septian Ragil **) Ikuti konten kreatif terbaru Unwaha Jombang di Instagram klik link ini dan jangan lupa follow.

Marak Praktik Kekerasan di Lingkungan Pesantren: Begini Tanggapan Ketua Umum YPPBU Tambakberas

Jombang – Akhir-akhir ini kasus perundungan (bullying) di kalangan pemuda marak terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Perundungan yang mengakibatkan terjadinya praktik kekerasan ini dapat terjadi di mana saja, seperti di lingkungan bermain, sekolah bahkan di lingkungan pondok pesantren. Selama lima tahun terakhir, setidaknya sebanyak 10 kasus kekerasan di lingkungan pesantren yang mencuat di permukaan publik. Terakhir yaitu di salah satu pesantren di Jawa Timur tepatnya di Kabupaten Kediri yang menyebabkan hilangnya nyawa santri yang menjadi korban perundang (sumber: CNN Indonesia). Kondisi demikian, membuat pandangan terhadap kehidupan pesantren kini dikenal sangat mengerikan. Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum (YPPBU) Tambakberas Jombang, Dr. H. M. Wafiyul Ahdi, M.Pd.I mengungkapkan pandangannya menanggapi fenomena tersebut. Apa penyebab terjadinya praktik kekerasan di lingkungan pesantren?, mengapa kasus ini terus bermunculan? lantas bagaimana solusinya?. Kekerasan Simbolik di Lingkungan Pesantren. Menurut Ketua Umum YPPBU tersebut, kekerasan yang akhir-akhir ini viral di berbagai media, layaknya fenomena gunung es. Pasalnya, penyebab terjadinya perundungan di kalangan santri dapat terjadi kapanpun dan di manapun. Kendati demikian, beliau sangat menyayangkan atas maraknya kekerasan yang terjadi hingga kini. “Fenomena ini menjadi keprihatinan kita, yang jelas itu bukan sesuatu yang kita harapkan bersama. Sebenarnya kultur pesantren yang penghuninya selalu berkumpul, itu memang berpotensi terjadi kesalah pahaman antar sesama,” kata Ketua Umum YPPBU tersebut saat ditemui, Minggu (17/3/2024). Pria yang akrab disapa Gus Wafi ini juga menjelaskan, kesalah pahaman atau ketidak cocokan tersebut menjadi akar permasalahan kekerasan di kalangan santri. Sehingga tidak jarang kesalah pahaman lantas diekspresikan ke dalam bentuk sikap kekerasan atau perundungan. Secara terminologi, kekerasan merupakan perbuatan seseorang/kelompok yang menyebabkan cedera, mati, cacat fisik atau barang orang lain. Kekeerasan yang muncul di pesantren juga dapat terjadi di kalangan antar santri, pengurus dengan santri bahkan guru atau pengasuh dengan santri. Beragam macam kekerasan juga bisa terjadi di pesantren, baik yang nyata maupun laten, baik disadari maupun tidak. “Yang sangat berbahaya ini adalah kekerasan yang bersifat laten. Yaitu pelaku bahkan korban pun tidak menyadari,” lanjut Gus Wafi. Realitas kekerasan ini sulit terdeteksi, kondisi tersebut beroperasi di bawah ketidaksadaran pelaku maupun korban sehingga bersifat nirsadar. Meminjam istilah yang dikemukakan oleh sosiolog, filsuf kritis asal Prancis, Pierre Bourdieu (1994) yaitu kekerasan simbolik. Prinsip simbolis sendiri diakibatkan adanya pihak dominan yang menguasai dan pihak sub-dominan yang dikuasasi. Prinsip ini menyerang dan menentukan cara berpikir, melihat, merasakan, dan bertindak suatu individu (Haryatmoko, 2007). Seperti yang dijelaskan oleh Gus Wafi sebelumnya, jika kekerasan bisa terjadi antar individu di pesantren berdasarkan jenisnya (pengasuh, pengurus, dan santri). Hal ini senada dengan teori yang diusulkan oleh Bourdieu tersebut, yaitu kekerasan simbolik mencul dari adanya struktur kelas dalam kelompok masyarakat, dalam hal ini yaitu lingkungan pesantren. Sehingga mengakibatkan adanya perbedaan, pemisahan, ketidaksamaan, ketidaksetaraan atau ketidakseimbangan (William & Thimoty, 2004). “Terlebih santri-santri saat ini yaitu mereka yang bisa saya katakan gen-Z. Bahwasanya perubahan sosial masyarakat yang keras seperti ini ternyata juga mempengaruhi input pesantren. Santri yang masuk itu sudah terbawa suasana lingkungan masyarakat yang seperti itu (disrupsi moralitas),” ujarnya. Tekan Angka Kekerasan di Lingkungan pesantren Pria yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang ini juga mengungkapkan bahwa untuk menekan angka kekerasan di lingkungan pesantren dapat dilakukan dengan dua cara. Yaitu upaya preventif dan represif. “Upaya preventif kita lakukan edukasi secara persuasif mengenai pencegahan kekerasan dan bahaya-bahayanya. Santri bisa menjadi pelopor di ranah itu. Selain pelopor, mereka juga bisa menjadi pelapor,” lanjutnya. Tidak kalah penting dari edukasi, keberanian santri untuk melaporkan tindak kekerasan yang terjadi di lingkungan mereka adalah suatu modal utama dalam menekan angka kekerasan di pesantren. “Sehingga dengan adanya laporan ini, kami dari pengasuh atau pengurus bisa segera menangani hal tersebut. Harapannya yaitu agar tidak sampai timbul korban yang mengalami traumatik dan cidera parah,” tutur Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan ini. Kedua yaitu upaya represif, dengan upaya ini beliau mengungkapkan, manakala kekerasan tersebut kepalang terjadi maka perlu penindakan yang tegas bagi pelaku dan pendampingan bagi korban. Ini dilakukan agar kejadian serupa di masa yang akan datang tidak terjadi lagi. “Kita selesaikan kasus itu dengan baik-baik, dan kita komunikasikan langsung dengan keluarga yang bersangkutan. Ketika nanti hingga parah maka satu-satunya jalur yaitu menempuh jalur hukum. Hal ini bertujuan agar semuanya merasa nyaman dan bisa terselesaikan,” katanya. Berdasarkan pengakuannya, di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang sendiri kedua upaya tersebut sudah diterapkan. ”Intinya tidak ada ruang bagi para pelaku kekerasan, bullying, pelecehan di lingkungan Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas,” tegasnya. Referensi: E. Deal, William dan Timothy K. Beal. 2004. Theory for Religious Studies, New York, London: Routledge Classics. Haryatmoko. 2007. Etika Komunikasi: Manipulasi Media, Kekerasan dan Pornografi, Yogyakarta: Kanisius. Red : Ibrahim Editor : Septian Ragil **) Ikuti konten kreatif terbaru Unwaha Jombang di Instagram klik link ini dan jangan lupa follow.

Ilustrasi Hari Perempuan Internasional. (Sumber: Slidesgo.com)
Hari Perempuan Internasional 2024

Jombang – Hari ini, tepat tanggal 8 Maret menjadi suatu momentum penting bagi setiap kaum hawa di dunia. International Women’s Day (IWD) atau Hari Perempuan Internasional menjadi perayaan untuk merefleksikan, dan mengadvokasi segela pemenuhan hak-hak dan menghapus ketimpangan bagi perempuan. Tidak jarang kampanye yang menyerukan hal tersebut terus didengungkan, hinggap di telinga bahkan kita saksikan di berbagai platform media sosial. Gerakan-gerakan mengenai kesetaraan gender (gender equality) hingga kini masih menjadi pembahasan yang seksi untuk diperbincangkan. Bagaimana tidak, jika kehadiran perempuan dan haknya masih jauh dari kata setara. Lebih parahnya, intimidasi dan kekerasan bagi perempuann (verbal dan non-verbal) kini masih subur terjadi. Berdasarkan catatan tahunan yang dirilis oleh Komnas Perempuan sehari sebelum perayaan ini. Menyatakan, terdapat 289.111 kasus kekerasan yang menimpa perempuan selama tahun 2023, 12% lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Kendati pun demikian, layaknya fenomena gunung es, angka hanyalah angka semata. Namun nyatanya masih banyak perempuan dalam hal ini yang menjadi korban kekerasan yang tidak berani bersuara dan melaporkannya, sebab kekerasan terhadap perempuan bisa terjadi dimanapun, di ranah personal bahkan di ranah publik. Hari Perempuan Internasional 2024 Dilansir dari laman UN Women, tema perayaan Hari Perempuan Internasional tahun ini adalah “Invest in Women: Accelerate Progress”. Tema ini dimaksudkan untuk mereflesikan langkah konkret yang perlu dilakukan dalam kesetaraan gender serta ancaman yang terus-menerus menghinggapi perempuan. Terdapat tiga poin utama yang menjadi sorotan dalam tema tersebut; setidaknya sebanyak $360 miliar diperlukan untuk pendidikan dalam pemenuhan kesetaraan gender. Kedua, dengan menghapus kesenjangan gender di dunia pekerjaan dapat meningkatkan PDB sebesar 20%. Ketiga, menciptakan 300 lapangan pekerjaan yang layak hingga tahun 2035. Baca juga artikel lainnya: Kehadiran AI Bagi Industri Kreatif, Peluang atau Ancaman? Dalam pernyataan tertulis di laman tersebut, ketiga poin utama dan tema tersebut merupakan cara terbaik untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan pembangunan masyarakat yang lebih makmur dan adil. “Satu dari sepuluh perempuan di dunia, hidup dalam (ancaman) kemiskinan ekstrem”. Terdapat tiga kondisi yang mengafirmasi pernyataan tersebut: Lebih dari 614 juta perumpuan dan anak perempuan yang terdampak dan tinggal di daerah konflik. Sebanyak 236 juta perempuan dan anak perempuan kelaparan yang disebabkan oleh krisis iklim di tahun 203o mendatang. Hanya 61 persen perempuan yang berada dalam angkatan kerja dibandingkan 90 persen laki-laki. Terlepas dari agenda global dan segala tema yang diusung, menciptakan lingkungan yang bebas terhadap diskriminasi dan aman bagi perempuan dapat dimulai dari setiap individu. Dalam merangkul suatu kesetaraan perlu adanya kepercayaan yang mendalam tentang bagaimana menghargai dan menghadapi suatu perbedaan dalam bingkai positif. Red : Ibrahim Editor : Septian Ragil **) Ikuti konten kreatif terbaru UNWAHA Jombang di Instagram klik link ini dan jangan lupa follow.

Ilustrasi Industri Kreatif (Sumber: Pexels.com)
Kehadiran AI Bagi Industri Kreatif, Peluang atau Ancaman?

Jombang – Perkembangan teknologi saat ini bergerak begitu pesat, beragam inovasi pun banyak lahir dari buah daya kreasi manusia. Salah satunya adalah kehadiran Artifical Intellegence (AI). Singkatnya, AI merupakan sistem di bidang ilmu komputer yang dapat meniru kecerdasan manusia dalam hal pengambilan keputusan dan menganalisis informasi. Sejak awal kemunculannya, AI telah banyak menyita perhatian masyarakat. Sebagian pihak menyambut dengan tangan terbuka atas kemudahan dan manfaat dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Sebagian lagi, malah was-was dengan kehadiran AI yang dapat mengaburkan keberlangsungan sebagian profesi pekerjaan. Salah satunya industri kreatif, banyak dari pelaku di sektor ini yang memandang AI sebagai potensi besar yang memiliki peluang keberlangsungan bisnis (suistainable business) di masa yang akan datang. Namun dari sisi pekerja, kehadiran AI merupakan suatu ancaman yang serius. Pasalnya, AI akan secara perlahan mengikis ketergantungan industri terhadap mereka. Berdasarkan data yang dipublikasi oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI, sektor industri kreatif mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 19,2 juta orang. Tentu angka ini memiliki kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan jumlah ini dimungkinkan akan terus meningkat di masa yang akan datang. Sebab, selama tahun 2018-2021, jumlah tenaga kerja industri kreatif cenderung mengalami peningkatan, dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 5,29 persen per tahun. Menyikapi Kehadiran AI di Industri Kreatif Menyikapi tren dilematis tersebut, Khotim Fadhli, M.Pd selaku dosen dan Ketua Prodi Manajemen Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang menuturkan pandangannya. Menurutnya, pergerakan teknologi dewasa ini acap kali menjadi daya tarik bagi para pelaku bisnis, khususnya industri kreatif. “Era industri sekarang ini pasti memanfaatkan teknologi. Karena teknologi ini dianggap sebagai media yang memudahkan dan meringkas pekerjaan manual seseorang agar lebih mudah dan bisa beralih fokus pada bidang yang lainnya,” katanya. Memanfaatkan teknologi seperti AI ke dalam operasional bisnis tentu dapat mengubah cara industri bekerja.  Dengan demikian, hal tersebut akan berdampak pada perubahan perilaku masyarakat serta dapat meningkatkan permintan yang mengarah pada penciptaan peluang bisnis baru. “Transformasi digital memungkinkan bisnis untuk bertahan dan menjadi lebih efektif dan efisien,” imbuhnya.  Dari hasil penelitiannya yang berjudul “The Influence of Artificial Intelligence and Content Marketing Against Purchase Interest in the Creative Industry” (baca di sini) mengungkapkan, bahwa AI berdampak terhadap suatu proses bisnis yaitu kepada minat beli konsumen. Dengan menampilkan suatu produk di berbagai etalase market place dan media sosial, pemanfaatan AI yang diterapkan dapat membantu dalam hal penggunaan algoritma dan hastag. Sehingga hasilnya, produk yang ditampilkan dan diiklankan dapat dijangkau konsumen. “Terlebih lagi saat ini persaingan bisnis berjalan begitu ketat. Di mana hal tersebut beririsan dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat,” ungkap Khotim. Peluang atau Ancaman? Keterjangkauan dan kemudahan atas kehadiran AI di industri kreatif rupanya tidak perlu diperdebatkan lagi. Menurut Kaprodi Manajemen Unwaha Jombang tersebut, dari segi kebermanfaatan AI sangat jelas dan berdampak ke arah positif terhadap industri kreatif. “Namun kekurangannya di saat ini mungkin masih banyak Sumber Daya Manusia (SDM) yang belum bisa menggunakan, terbiasa atau siap memanfaatkan AI itu,” lanjutnya. Artinya, peningkatan kompetensi SDM menjadi salah satu batu sandungan yang serius untuk menyikapi kehadiran AI bagi industri kreatif. Kendati demikian, kondisi tersebut dapat teratasi dengan bertahap. Misalnya memanfaatkan lembaga-lembaga yang menyediakan sarana pelatihan dalam peningkatan skill penggunaan AI. Meskipun untuk biayanya sendiri terbilang tidak murah, sehingga kehadiran Perguruan Tinggi menjadi solusi atas kondisi ini. Menurutnya, Perguruan Tinggi menjadi salah satu lembaga  yang selalu terbuka untuk menjalin kerjasama dengan berbagai pihak. “Kondisi ini (perkembangan teknologi, red) sudah pasti tidak bisa dihindari lagi. Jadi basisnya harus adaptasi, kemudian penyiapan SDM itu harus ditingkatkan (penguatan skill kompetensi, red),” pungkasnya. Red : Ibrahim Editor : Septian Ragil **) Ikuti konten kreatif terbaru UNWAHA Jombang di Instagram klik link ini dan jangan lupa follow.

Jurnal Ilmiah Unwaha Siap Panen Akreditasi Pada Tahun 2024

SURABAYA – Memiliki Jurnal Ilmiah Bereputasi tentu merupakan dambaan seluruh perguruan tinggi di Indonesia tak terkecuali juga Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang. Saat ini Unwaha telah tercatat mempunyai Jurnal Ilmiah yaitu 17 pada bidang penelitian, 5 pada bidang pengabdian dan 2 prosiding ilmiah. Jurnal Ilmiah memiliki manfaat yaitu menyebarkan pengetahuan, memvalidasi hasil penelitian, meningkatkan reputasi institusi, dan mendukung kolaborasi, serta menjadi pilar penting dalam perkembangan akademik dan riset di lingkungan perguruan tinggi. Melalui penerbitan dan partisipasi aktif dalam publikasi, perguruan tinggi dapat memainkan peran sentral dalam memajukan ilmu pengetahuan dan memberikan kontribusi yang berarti bagi masyarakat dan dunia akademik. Salah satu upaya dalam pengembangan SDM maupun pengelolaan jurnal di Unwaha yaitu dengan keikutsertaannya dalam kegiatan bertajuk “Workshop Pendampingan dan Peningkatan Tata Kelola Jurnal Ilmiah”. Direktorat Riset Teknologi dan Pengabdian kepada Masyarakat bekerja sama dengan Universitas Ciputra bertempat di Hotel Movenpick Surabaya City memfasilitasi kegiatan tersebut selama 2 hari (06-07/02/2023). Total 30 peserta terpilih dari Perguruan Tinggi di Indonesia menghadiri acara ini. Pelaksanaan kegiatan ini dalam rangka meningkatan tata kelola Jurnal Ilmiah khususnya pada Pengabdian kepada Masyarakat. Kegiatan diawali dengan pemaparan Narasumber yang dilanjutkan dengan bedah jurnal dari sisi substantif dan manajemen dimana setiap jurnal didampingi langsung oleh pakar/Editor in Chief dari Jurnal Internasional Bereputasi. Dr. Muhammad Kris Yuan Hidayatulloh, M.Pd. (Ketua LPPM sekaligus Chief Editor) menghadiri langsung acara worskhop ini. Beliau mengaku akan segera menindaklanjuti hasil dari workshop tersebut untuk disampaikan kepada seluruh pengelola Jurnal di lingkungan Unwaha. Saat ini, Unwaha telah memiliki 5 Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat yang telah memasuki Volume ke 4 dan proses pengajuan Akreditasi. “Tata kelola dan SDM kita sudah memenuhi. Ini artinya tinggal menunggu panennya saja, insyalloh pada tahun 2024 ini sudah dapat panen raya terhadap Jurnal Jurnal yang ada di Unwaha.” ungkap Ketua LPPM dengan penuh optimis. Prof. Dr. Ir. H. Gatot Ciptadi, DESS. IPU. ASEAN Eng. (Rektor Unwaha Jombang) tak henti-hentinya memberikan motivasi dan arahan kepada para pengelola Jurnal di Unwaha untuk selalu meningkatkan kualitas artikel yang akan diterbitkan. Artikel ilmiah tidak hanya sekedar suatu kewajiban dosen, namun lebih luas harus dapat bermanfaat bagi masyarakat. “Artikel Ilmiah yang telah diterbitkan di Jurnal Unwaha dapat menjadi rujukan sekaligus solusi bagi masyarakat dalam setiap problem yang dihadapi.” pesan Prof. Gatot Ciptadi. Red : M. Kris Yuan Editor : Septian Ragil **) Ikuti konten kreatif terbaru UNWAHA Jombang di Instagram klik link ini dan jangan lupa follow.