Category: Berita
LKNU Siaga Jaga Kesehatan Peserta, Muktamar Lesbumi NU di Jombang Berlangsung Lancar
Jombang – Suasana khidmat dan penuh kebersamaan menyelimuti rangkaian Muktamar Lesbumi NU di Jombang pada Sabtu (13/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi sekaligus menumbuhkan semangat kolaborasi antarseniman dan budayawan Muslim dari berbagai wilayah di Indonesia. Sejak pukul 19.00 WIB, antusiasme peserta terlihat dari padatnya lokasi acara. Kegiatan diawali dengan penampilan Sholawat Emprak yang menghadirkan nuansa hangat dan religius. Acara kemudian dilanjutkan dengan Tari Nusantara yang dibawakan oleh UKM Tari Sanggar Baustra Sandya, serta penampilan seniman dan budayawan dari berbagai daerah yang hadir dalam Muktamar Lesbumi NU. Di tengah padatnya rangkaian kegiatan, Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) turut ambil bagian dengan menghadirkan tim kesehatan yang bersiaga selama acara berlangsung. Kehadiran tim kesehatan tersebut menjadi bentuk dukungan dalam menjaga kelancaran kegiatan sekaligus memastikan kondisi peserta tetap terpantau dengan baik. Keluhan Peserta Masih Tertangani Koordinator Bidang Kesehatan, dr. Hj. Rokhimah Riza, M.Biomed (AAM), menyampaikan bahwa sebagian besar keluhan yang diterima berasal dari peserta yang mengalami kelelahan. Kondisi tersebut umumnya memicu peningkatan tekanan darah atau hipertensi. “Keluhan yang paling banyak kami temui adalah hipertensi akibat kelelahan. Namun, alhamdulillah seluruh peserta yang datang masih dapat ditangani dengan baik dan kondisinya tetap terkontrol,” ujarnya. Ia menambahkan, hingga kegiatan berlangsung belum ditemukan kasus kesehatan yang memerlukan penanganan darurat. Meski demikian, panitia bersama tim kesehatan tetap menyiagakan tiga unit ambulans sebagai langkah antisipasi apabila sewaktu-waktu diperlukan rujukan ke fasilitas kesehatan terdekat. Menurutnya, mayoritas peserta berada dalam kondisi sehat. Banyak peserta hanya melakukan pemeriksaan tekanan darah, dengan hasil yang masih berada dalam kondisi normal. “Saya melihat banyak peserta yang masih muda sehingga kondisi kesehatannya relatif baik. Kebanyakan hanya melakukan pemeriksaan tensi dan hasilnya normal,” tambahnya. Pos Kesehatan Disiapkan di Area Kegiatan Selain membuka pos kesehatan utama, LKNU juga menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan di area bazar. Layanan tersebut meliputi pemeriksaan tekanan darah dan gula darah bagi peserta maupun pengunjung. Hingga kegiatan berlangsung, kondisi peserta secara umum terpantau baik. Tidak ditemukan kasus kesehatan yang membutuhkan penanganan darurat. Kehadiran tim kesehatan yang bersiaga menjadi salah satu faktor pendukung kelancaran rangkaian Muktamar Lesbumi NU di Jombang. Penulis: Selvi Dewi Nur RohfianaEditor: Ibrahim
Pimpinan YPTBU Hadiri Pentas Kolaborasi Lesbumi Nusantara, Rawat Tradisi dan Teguhkan Kebudayaan NU
Jombang – Suasana malam di lingkungan Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang terasa berbeda. Di bawah cahaya lampu panggung yang membingkai layar wayang dan iringan gamelan yang mengalun khidmat, para hadirin larut dalam keindahan Pentas Kolaborasi Lesbumi Nusantara, salah satu rangkaian penting dalam Muktamar Lesbumi NU 2026. Kehadiran sejumlah tokoh penting menambah makna tersendiri bagi perhelatan budaya tersebut. Tampak hadir Pimpinan Yayasan Perguruan Tinggi Bahrul Ulum (YPTBU), Ibu Nyai Hj. Hizbiyah Rochim Wahab, M.A., bersama Dr. K.H. M. Hasib Wahab Chasbullah, yang turut menyaksikan secara langsung pertunjukan seni budaya tersebut. Dari deretan kursi kehormatan, kedua tokoh pesantren itu menikmati setiap sajian pentas yang menampilkan kekayaan ekspresi budaya Nusantara. Iringan gamelan, pagelaran wayang, serta berbagai pertunjukan seni dari para seniman Lesbumi menjadi gambaran nyata bahwa kebudayaan terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat Nahdlatul Ulama. Ruang Perjumpaan Seni, Pesantren, dan Kebangsaan Pentas kolaborasi ini tidak sekadar menjadi hiburan dalam rangkaian muktamar. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan antara tradisi pesantren, dunia seni, dan semangat kebangsaan. Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan zaman, Lesbumi menghadirkan kebudayaan sebagai jalan untuk menjaga akar identitas bangsa sekaligus memperkuat nilai keislaman yang ramah dan membumi. Kehadiran kedua pimpinan YPTBU tersebut menjadi simbol dukungan keluarga besar Pesantren Bahrul Ulum terhadap upaya pelestarian kebudayaan yang selama ini menjadi bagian penting dari perjuangan NU. Pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan dakwah, tetapi juga ruang peradaban yang menjaga warisan seni dan budaya Nusantara agar tetap lestari. Gemuruh tepuk tangan para hadirin beberapa kali memecah malam ketika pertunjukan mencapai bagian-bagian yang memukau. Di hadapan panggung budaya, para seniman, budayawan, kiai, akademisi, dan peserta muktamar seakan dipersatukan dalam satu kesadaran bahwa kebudayaan memiliki peran penting dalam membangun peradaban. Merawat Tradisi, Menghidupkan Kreativitas Melalui Pentas Kolaborasi Lesbumi Nusantara, Muktamar Lesbumi NU 2026 kembali menegaskan bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan kekuatan yang terus hidup dan memberi arah bagi masa depan. Dari Jombang, kota santri yang melahirkan banyak tokoh bangsa, pesan untuk merawat tradisi, menghidupkan kreativitas, dan membangun peradaban yang berakar pada nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah serta kebinekaan Indonesia kembali bergema. Malam itu, panggung budaya menjadi ruang yang mempertemukan seni, pesantren, dan Nahdlatul Ulama. Ketiganya berjalan beriringan dalam menjaga wajah kebudayaan Nusantara untuk generasi yang akan datang. Penulis: M. Haris FirdausEditor: Ibrahim
Pameran Pusaka Lesbumi NU Ajak Generasi Muda Memahami Keris sebagai Warisan Budaya
Jombang – Ada suasana berbeda di lantai 1 Gedung Jokowi Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang selama berlangsungnya Muktamar Lesbumi NU 2026. Di salah satu sudut gedung, puluhan pusaka tertata rapi dalam Pameran Pusaka yang diselenggarakan oleh Lesbumi PCNU Kabupaten Kediri. Pameran tersebut menjadi salah satu agenda budaya yang menarik perhatian peserta muktamar. Tidak hanya menampilkan keris sebagai benda bersejarah, pameran ini juga menjadi ruang edukasi bagi masyarakat untuk memahami pusaka sebagai karya seni, warisan budaya, dan jejak panjang peradaban Nusantara. Perwakilan Lesbumi Kabupaten Kediri, Helmy, mengatakan bahwa pameran pusaka tersebut menjadi bagian dari ikhtiar untuk terus merawat budaya leluhur. Menurutnya, keris perlu dipahami secara tepat, seperti dari nilai seni, sejarah, dan filosofinya. “Pameran pusaka ini menjadi bukti bahwa kita masih nguri-uri (merawat, red) budaya, khususnya budaya keris. Pusaka yang kami tampilkan di sini adalah pusaka-pusaka milik para pengurus. Salah satunya pusaka dari almarhum KH. Agus Sunyoto, Ketua Lesbumi sebelumnya,” ujarnya kepada tim Humas UNWAHA Jombang. Membaca Keris sebagai Pengetahuan Budaya Dalam pameran tersebut, sekitar 30 pusaka ditampilkan kepada peserta muktamar. Jumlah itu hanya sebagian kecil dari pusaka yang dimiliki para pengurus dan pegiat budaya. Helmy menyebut, masih banyak pusaka lain yang belum dipamerkan, mulai dari pusaka era Hindu-Buddha, Singosari, hingga Majapahit. Ia menjelaskan, memahami keris tidak cukup hanya dengan melihat bentuk luarnya. Ada sejumlah istilah penting yang perlu diketahui, seperti dapur, tangguh, warangka, deder, dan pamor. “Dapur itu wajah atau bentuk keris. Jumlahnya sangat banyak, bahkan bisa ribuan. Tangguh adalah perkiraan masa dibuatnya pusaka, misalnya tangguh Majapahit, yang bisa dikenali dari ciri-cirinya,” jelasnya. Sementara itu, warangka dan deder dipahami sebagai bagian luar keris. Helmy menyebut warangka sebagai “pakaian” keris, sedangkan deder merupakan bagian pegangan. Adapun pamor merupakan motif atau gambaran pada bilah keris yang memiliki makna tertentu. Menurut Helmy, pamor pada keris tidak dibuat tanpa tujuan. Di dalamnya terdapat doa, harapan, dan permohonan dari empu yang membuat pusaka tersebut. “Contohnya pamor udan mas. Harapannya, orang yang memegang pusaka itu diberi rezeki oleh Allah. Setiap pamor memiliki arti dan tujuan masing-masing dari empu,” tuturnya. Mengenalkan Keris secara Benar kepada Generasi Muda Pameran pusaka ini juga membawa pesan penting bagi generasi muda. Helmy menilai, salah satu tantangan terbesar dalam pelestarian budaya keris adalah kurangnya pemahaman anak muda terhadap pusaka Nusantara. Karena itu, setiap pameran perlu menjadi ruang dialog dan edukasi. Masyarakat, khususnya generasi muda, perlu diajak memahami bahwa keris adalah benda seni dan budaya yang memiliki nilai sejarah, filosofi, dan spiritualitas, tetapi tidak untuk disalahpahami secara berlebihan. “Harapan kami, keris bisa dipahami secara benar. Keris bukan untuk disembah, tetapi sebagai benda seni dan budaya,” katanya. Red: Ibrahim
Di Muktamar Lesbumi NU 2026, Rektor Tegaskan Kebudayaan Sebagai Fondasi Peradaban Bangsa
Jombang – Di tengah arus globalisasi yang terus bergerak cepat, upaya merawat identitas dan jati diri bangsa menjadi semakin penting. Semangat itulah yang mengemuka dalam sambutan Rektor Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang dalam agenda Sidang Pleno Muktamar Lesbumi NU 2026 , Sabtu (13/6/2026), di Aula UNWAHA . Dalam sambutannya, Rektor UNWAHA menegaskan bahwa tema “Kembali ke Akar” bukan sekadar slogan kebudayaan, melainkan panggilan untuk meneguhkan kembali fondasi peradaban bangsa di tengah perubahan zaman yang semakin kompleks. “Ketika bangsa ini ingin terus maju, kita perlu mengingat dari mana kekuatan peradaban kita berasal,” ungkap Gatot. Menurutnya, akar merupakan sumber kehidupan yang menjaga pohon tetap kokoh menghadapi berbagai tantangan. Begitu pula sebuah bangsa. Kemajuan tidak akan memiliki arah apabila tercerabut dari nilai, tradisi, dan kebudayaan yang menjadi identitasnya. Karena itu, muktamar ini hadir sebagai ruang refleksi sekaligus ikhtiar bersama untuk memperkuat kembali hubungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan Indonesia. Sebagai kampus yang lahir dari rahim Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, UNWAHA memandang kebudayaan bukan hanya warisan yang harus dijaga, tetapi juga energi yang terus dihidupkan dalam proses pendidikan. “Tradisi keilmuan, adab, pengabdian, dan kepedulian sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya membangun generasi yang berakar kuat sekaligus mampu menjawab tantangan zaman,” imbuh Rektor. Beliau juga menilai Muktamar ini memiliki posisi strategis karena menghadirkan beragam ruang dialog dan ekspresi budaya, mulai dari sidang komisi, diskusi kebudayaan, pameran pusaka, hingga bazar UMKM. Seluruh rangkaian tersebut menjadi wujud nyata bahwa kebudayaan tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga tentang pembangunan masa depan yang lebih berkarakter dan berkeadaban. Lebih jauh, UNWAHA menyatakan kesiapan untuk terus menjadi mitra dalam pengembangan kebudayaan melalui riset, pendidikan, pengabdian masyarakat, penguatan literasi pesantren, dokumentasi seni tradisi, serta berbagai program kolaboratif yang mempertemukan ilmu pengetahuan, agama, dan budaya dalam satu gerak peradaban. Menutup sambutannya, Rektor mengajak seluruh peserta muktamar untuk bersama-sama menjaga akar kebudayaan Indonesia sebagai sumber kekuatan bangsa. “Sebab, menurutnya, masa depan yang kokoh hanya dapat dibangun oleh masyarakat yang tidak kehilangan ingatan terhadap akar sejarah dan kebudayaannya sendiri,” pungkas beliau. Red: M. Haris FirdausEditor: Ibrahim
Ketua Lesbumi PBNU: “Kembali ke Akar” Berarti Kembali pada Kesadaran Manusia sebagai Subjek Kehidupan
Jombang – Dalam acara pembukaan Muktamar Kebudayaan Lesbumi NU 2026 yang berlangsung di halaman Gedung Jokowi, UNWAHA Jombang, Jumat (12/6/2026) malam, Ketua Umum Lesbumi PBNU KH. Jadul Maulana menyampaikan gagasan mendalam mengenai makna tema besar Mukhtamar tahun ini, yaitu “Kembali Ke Akar”. Dalam sambutan yang beliau sampaikan setelah pembukaan resmi pukul 20.25 WIB, KH. Jadul mengawali dengan menyoroti berbagai problematika dalam negeri serta posisi PBNU yang menurutnya kini berada di “persimpangan jalan”. Menurut KH. Jadul, Muktamar Kebudayaan ini menjadi langkah awal untuk menghadapi tantangan zaman yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Beliau menjelaskan bahwa berdasarkan Theory of Culture, kebudayaan memiliki sekitar 600 makna yang berbeda. Namun pada intinya, kebudayaan adalah jalan untuk menghadapi problematika bangsa yang menurutnya sedang mengalami penurunan. “Seni bukan hanya sebuah keindahan, tapi sebuah alat untuk menghadapi zaman melalui kebudayaan,” tegasnya. Lebih jauh, KH. Jadul menjabarkan bahwa dimensi yang ideal harus memuat tiga unsur utama: rasionalitas dalam pilar ilmu pengetahuan, spiritualitas dalam pilar agama, dan rasa dalam seni yang ketiganya membutuhkan satu kesatuan tubuh untuk bergerak dan merepresentasikan ide-ide abstrak dalam realitas. Dalam kesempatan itu, KH. Jadul juga menyoroti tantangan zaman modern berupa “penyakit jiwa” yang sedang menyebar luas di kehidupan kita seperti sifat korupsi serta rasa yang tidak tersalurkan ketika manusia dihadapkan dengan berbagai problematika kehidupan. Menutup sambutannya, KH. Jadul mengulas makna tema “Kembali Ke Akar” dengan mengajukan pertanyaan reflektif tentang akar dari manusia. Beliau menegaskan bahwa akar dari manusia adalah kesadarannya sendiri. “Kembali ke akar adalah kembali kepada kesadaran kita bahwa manusia itu sebagai subjek dalam kehidupan,” mengutip perkataan beliau. Beliau menegaskan kembali bahwa seni bukan hanya milik para budayawan, akademisi, dan kyai, melainkan milik seluruh umat manusia. Red: Azzam AlaikassalamFoto: Selvi Dewi Nur rofianaEditor: Ibrahim
Muktamar Lesbumi NU 2026 Dibuka di UNWAHA, Teguhkan Peran Budaya dalam Membangun Generasi Muda
Jombang – Muktamar Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (Lesbumi NU) tahun 2026 resmi dibuka di Universitas KH. Abdul Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang. Pembukaan kegiatan ditandai dengan pembacaan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang dipimpin oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, KH. Dr. Wafiyul Ahdi. Kegiatan yang digelar di halaman Gedung Jokowi ini, dihadiri oleh berbagai unsur, mulai dari perwakilan pemerintah, jajaran pengurus badan otonom Nahdlatul Ulama, tokoh pesantren, akademisi, hingga peserta muktamar dari berbagai daerah di Indonesia. Kehadiran para peserta menjadi bagian penting dalam memperkuat ruang kebudayaan Islam Nusantara di lingkungan pesantren dan perguruan tinggi. Dalam sambutan pembuka, Ketua Umum Yayasan Perguruan Tinggi Bahrul Ulum (YPTBU), Ibu Nyai Hj. Hizbiyah Rochim Wahab, M.A., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Muktamar Lesbumi NU di UNWAHA. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk merawat nilai keislaman, kebangsaan, dan kebudayaan yang telah lama tumbuh dalam tradisi pesantren. “UNWAHA memiliki tanggung jawab moral untuk meneruskan perjuangan KH. Abdul Wahab Hasbullah sebagai salah satu tokoh besar Nahdlatul Ulama. Nilai perjuangan tersebut perlu terus diwariskan kepada generasi muda melalui pendidikan dan pelestarian budaya,” ungkap beliau. UNWAHA Jadi Simbol Perjuangan KH. A. Wahab Hasbullah Pemilihan UNWAHA sebagai lokasi Muktamar Lesbumi NU memiliki makna penting. Kampus yang berada di lingkungan Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang tersebut tidak dapat dilepaskan dari sejarah perjuangan KH. Abdul Wahab Hasbullah, ulama yang memiliki peran besar dalam perkembangan Nahdlatul Ulama dan kebudayaan Islam Nusantara. Melalui penyelenggaraan muktamar ini, UNWAHA menjadi ruang perjumpaan antara pesantren, perguruan tinggi, seniman, budayawan, dan generasi muda. Forum tersebut diharapkan mampu memperkuat kesadaran bahwa kebudayaan merupakan bagian penting dalam membangun karakter bangsa. Generasi Muda Diajak Lebih Mengenal Budaya Asisten 1 Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Dr. H. Akhmad Jazuli, menyampaikan bahwa Muktamar Lesbumi NU memiliki peran strategis dalam mengajak generasi muda untuk lebih mengenal, memahami, dan mencintai kebudayaan Indonesia. “Harapan kami, Muktamar Lesbumi ini mampu membawa generasi muda untuk lebih melek terhadap pentingnya kebudayaan kita bagi perkembangan bangsa,” ujarnya. Kembali ke Akar dan Kesadaran Manusia Berbudaya Salah satu gagasan penting dalam pembukaan muktamar disampaikan oleh Ketua Lesbumi PBNU, KH. M. Jadul Maulana. Ia menguraikan makna tema besar Muktamar Lesbumi NU, yaitu “Kembali ke Akar”. Menurutnya, akar dalam tema tersebut tidak semata-mata dipahami sebagai warisan masa lalu. Akar juga bermakna kesadaran manusia sebagai subjek kebudayaan. “Manusialah yang menjadi penggerak kebudayaan, yang memutar siklus dari hati, pikiran, dan rasa, lalu bermuara pada ekspresi yang pada akhirnya membawa perubahan sosial di masyarakat,” katanya. Dengan tema tersebut, Muktamar Lesbumi NU di UNWAHA Jombang diharapkan menjadi ruang penguatan kesadaran budaya umat. Kegiatan ini juga mempertegas peran pesantren dan perguruan tinggi Islam dalam menjaga, mengembangkan, serta mewariskan kebudayaan Nusantara kepada generasi berikutnya. Red: Indi Ihda nuriyah & M. Haris FirdausFoto: Selvi dewi Nur rofianaEditor: Ibrahim
Pra-Pembukaan Muktamar Lesbumi NU 2026 Dimeriahkan Kesenian Bantengan
Jombang – Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang menjadi pusat perhatian kalangan budayawan dan masyarakat pada Jumat (12/6/2026), dengan dibukanya Muktamar Lesbumi NU 2026. Acara nasional yang berlangsung selama tiga hari ini, dibuka dan disambut meriah dengan kesenian Bantengan. Sejak siang, lingkungan UNWAHA sudah ramai oleh pengunjung stand bazar UMKM. Meski sempat gerimis, cuaca kembali cerah tak lama berselang, seolah mendukung kelancaran rangkaian acara pembukaan. Puncak antusiasme penonton terjadi pukul 14.43 WIB, ketika pertunjukan seni Bantengan tampil sebagai pra-pembukaan Muktamar Lesbumi NU 2026. Penampilan dibuka dengan seni kembang pencak silat yang diiringi irama Pasundan, serta lantunan kidung-kidung sholawat. Aksi pra pembuka ini dibawakan oleh kelompok Pencak Silat Putra Nusantara, yang berhasil menyita perhatian penonton. Penampilan inti seni Bantengan digelar dengan penuh semangat. Suasana semakin meriah bahkan sedikit menegangkan, ketika para penampil mengajak penonton untuk turut serta dalam pertunjukan, menciptakan interaksi langsung antara seniman dan penonton yang hadir. Salah satu penonton, Nur Khabib, mengungkapkan kekagumannya terhadap pertunjukan tersebut. Ia menilai penampilan kesenian khas Jawa Timur ini dalam pra pembukaan Mukhtamar Lesbumi NU ini sangat inspiratif dan menjadi cara yang menarik untuk menelusuri kebudayaan tradisional Indonesia. Pertunjukan Bantengan dalam pra pembukaan Mukhtamar kali ini juga dinilai sebagai representasi nyata dari akulturasi budaya memadukan tradisi kesenian lokal Indonesia dengan nuansa keislaman, sejalan dengan tema besar “Kembali Ke Akar” yang diusung dalam Mukhtamar tahun ini. Red: Azzam AlaikassalamFoto: M. Haris FirdausEditor: Ibrahim
Fakultas Ekonomi UNWAHA Siapkan Uji Kompetensi bagi Calon Lulusan
Fakultas Ekonomi UNWAHA Jombang menyiapkan pelaksanaan Uji Kompetensi bagi mahasiswa semester 8 melalui koordinasi dengan UPT BLK Jombang. Jombang – Fakultas Ekonomi Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang melakukan koordinasi dengan Unit Pelaksana Teknis UPT Balai Latihan Kerja ( UPT BLK) Jombang pada Rabu (10/6/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari persiapan pelaksanaan Uji Kompetensi bagi mahasiswa semester 8 sebagai calon lulusan. Kedatangan perwakilan Fakultas Ekonomi UNWAHA diterima oleh Kepala Seksi Pelatihan dan Sertifikasi UPT BLK Jombang, Eko Putro Harpiy, S.H., yang mewakili Kepala UPT BLK Jombang. Dalam kesempatan tersebut, Eko menyampaikan apresiasi kepada Fakultas Ekonomi UNWAHA atas langkah yang dilakukan dalam menyiapkan sertifikasi kompetensi bagi mahasiswa. Beliau juga menyambut baik rencana kerja sama tersebut. “Kami menyambut baik kerja sama ini dan berharap dapat terus berlanjut, khususnya dalam pemberian sertifikasi kompetensi,” ungkapnya. Uji Kompetensi Fakultas Ekonomi UNWAHA dijadwalkan berlangsung dalam beberapa tahap. Pelatihan akan dilaksanakan pada 20 sampai 21 Juni 2026, sedangkan ujian akan dilaksanakan pada 28 Juni 2026. Kegiatan ini wajib diikuti oleh mahasiswa semester delapan sebagai salah satu bentuk penguatan kesiapan lulusan sebelum memasuki dunia kerja. Adapun skema yang disiapkan meliputi Digital Marketing, Akuntansi Yunior, dan Pelayanan Prima. Kaprodi Manajemen, Khotim Fadhli, M.Pd., menyampaikan bahwa Uji Kompetensi ini menjadi bagian penting dalam meningkatkan daya saing lulusan. “Mahasiswa perlu memiliki bekal akademik sekaligus pengakuan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Melalui skema yang tersedia, kami berharap calon lulusan Fakultas Ekonomi UNWAHA memiliki nilai tambah saat memasuki dunia profesional,” jelasnya. Beliau menambahkan, kerja sama dengan UPT BLK Jombang diharapkan dapat terus dikembangkan untuk mendukung peningkatan kompetensi mahasiswa secara berkelanjutan. “Fakultas Ekonomi berkomitmen untuk menghadirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan praktis sesuai kebutuhan dunia kerja,” pungkas Kaprodi Manajemen itu. Red: Ibrahim
UNWAHA Jombang Jadi Ruang Temu Kebudayaan Indonesia dalam Muktamar Lesbumi NU 2026
Jombang – Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang akan menjadi tuan rumah Muktamar Kebudayaan Indonesia Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU 2026 pada Jumat hingga Minggu (12–14/6/2026). Kegiatan bertema “Kembali ke Akar” ini menjadi ruang perjumpaan antara tokoh, pelaku budaya, akademisi, mahasiswa, dan masyarakat. Muktamar tersebut tidak hanya menghadirkan agenda seremonial. Beragam kegiatan dirancang untuk mempertemukan gagasan kebudayaan dengan seni pertunjukan, tradisi, ekonomi kreatif, dan kehidupan masyarakat. Kepala Bagian Hubungan Masyarakat UNWAHA, Rohmat Hidayat, S.S., M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan akan berlangsung selama tiga hari di lingkungan kampus UNWAHA Jombang. “Muktamar Kebudayaan Indonesia Lesbumi NU 2026 akan dilaksanakan pada 12 hingga 14 Juni 2026. Kegiatan ini terbuka sebagai ruang bersama untuk mengenal, menikmati, dan memaknai kembali kekayaan budaya Indonesia,” jelas Rohmat. Menghadirkan Tokoh Nasional dan Ulama Agenda ini akan menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan ulama. Tokoh yang dijadwalkan hadir di antaranya Dr. Ahmad Muzani, KH. Yahya C. Staquf, KH. Afifuddin Muhajir, KH. Yusuf Chudlori, KH. Ulil Abshar Abdalla, KH. Imam Jazuli, dan Sabrang M. Damar Panuluh. Kehadiran berbagai tokoh tersebut memperkuat posisi muktamar sebagai forum kebudayaan yang tidak hanya berisi pertunjukan seni. Kebudayaan dibahas sebagai bagian penting dari kehidupan sosial, pendidikan, tradisi keagamaan, dan penguatan identitas kebangsaan. Tema “Kembali ke Akar” mengajak masyarakat untuk melihat kembali nilai-nilai budaya yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari. Akar budaya tidak ditempatkan sebagai peninggalan masa lalu semata, tetapi sebagai pijakan untuk menghadapi perkembangan zaman. Dari Pameran Pusaka hingga Pertunjukan Seni Rangkaian kegiatan akan dimeriahkan oleh pameran pusaka, kaligrafi, kerajinan, bazar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kuliner, serta multiproduk. Menurut Rohmat, pameran dan bazar tersebut menjadi bagian penting dari muktamar karena kebudayaan juga hidup melalui kreativitas masyarakat dan aktivitas ekonomi lokal. “Kami ingin menghadirkan kebudayaan dalam bentuk yang dekat dengan masyarakat,” ujarnya. Beragam seni pertunjukan juga akan ditampilkan selama kegiatan. Agenda tersebut meliputi sholawat, banjari, parade puisi, Tari Songket, Tari Sufi, Tari Topeng Kaliwungu, besut, kentrung, pertunjukan band, seni pencak silat bantengan, wayang orang, dan wayang kulit. Penampilan Cak Sodiq turut dijadwalkan untuk memeriahkan rangkaian kegiatan. Kehadiran seni tradisional dan hiburan populer dalam satu ruang menunjukkan luasnya ekspresi budaya Indonesia. Kampus sebagai Ruang Kebudayaan Penyelenggaraan muktamar di UNWAHA menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam pelestarian budaya. Kampus tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan akademik, tetapi juga ruang dialog antara pengetahuan, tradisi, dan masyarakat. Mahasiswa dapat melihat kebudayaan secara lebih dekat melalui pameran, diskusi, dan pertunjukan seni. Pengalaman tersebut penting agar generasi muda tidak hanya mengenal budaya sebagai teori, tetapi juga memahami nilai dan praktiknya dalam kehidupan nyata. “UNWAHA menyambut baik penyelenggaraan kegiatan ini. Kami berharap muktamar dapat menjadi ruang perjumpaan yang memperkuat kepedulian masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap kekayaan budaya Indonesia,” tambah Rohmat. Red: Ibrahim
Mahasiswa Pendidikan Fisika UNWAHA Dalami Sains Atmosfer dan Meteorologi Penerbangan di BMKG Juanda
Sidoarjo – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang mempelajari penerapan ilmu fisika dalam sistem pengamatan cuaca di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda, Kamis (4/6/2026). Melalui kegiatan ini, mahasiswa memahami bahwa fisika tidak hanya dipelajari melalui persamaan di ruang kelas, tetapi juga diterapkan untuk mendukung keselamatan penerbangan dan pelayanan informasi bagi masyarakat. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh mahasiswa Pendidikan Fisika UNWAHA yang menempuh Mata Kuliah Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa (IPBA). Beberapa dosen yang turut mendampingi di antaranya, Suci Prihatiningtyas, S.Si., M.Pd., Ino Angga Putra, M.Pd., dan Novia Ayu Sekar Pertiwi, S.Si., M.Pd. Ketua Program Studi Pendidikan Fisika, Suci Prihatiningtyas, S.Si., M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut dirancang sebagai bagian dari pembelajaran yang menghubungkan konsep ilmiah dengan praktik lapangan. “Melalui kunjungan ke BMKG Juanda, mahasiswa tidak hanya memahami konsep atmosfer, cuaca, dan iklim secara teoritis. Mereka juga melihat secara langsung bagaimana ilmu fisika diterapkan dalam sistem pengamatan dan prediksi cuaca yang sangat penting bagi keselamatan dan kehidupan masyarakat,” ungkapnya. Memahami Fisika melalui Fenomena Nyata Dalam sesi pemaparan materi, Shanas Septy Prayuda dari Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda memperkenalkan profil BMKG serta memberikan wawasan mengenai fenomena cuaca, iklim, dan gempa bumi. Sesi ini menjadi landasan bagi mahasiswa sebelum mengamati secara langsung instrumen meteorologi yang digunakan di lapangan. Diskusi berlangsung interaktif. Mahasiswa mengeksplorasi peran strategis BMKG dalam menyediakan data meteorologi yang akurat, termasuk keterkaitannya dengan kebutuhan masyarakat dan pengambilan keputusan di sektor penerbangan. Puncak kegiatan berlangsung di Taman Alat Meteorologi. Dengan panduan prakirawan Trya Chandra Meilusiani, mahasiswa mengamati berbagai instrumen yang digunakan untuk membaca kondisi atmosfer. Pengamatan langsung tersebut membantu mahasiswa memahami bahwa setiap informasi cuaca dihasilkan melalui proses ilmiah yang sistematis dan didukung oleh ketelitian pengukuran. Menguatkan Kompetensi Calon Pendidik Fisika Lebih lanjut, Kaprodi Pendidikan Fisika mengatakan, kuliah lapang ini merupakan implementasi pembelajaran berbasis Outcome-Based Education (OBE). Pembelajaran tidak hanya diarahkan pada penguasaan materi, tetapi juga pada kemampuan mahasiswa dalam melakukan observasi ilmiah, menganalisis data, dan menghubungkan teori dengan persoalan nyata. “Selain itu, pengalaman lapangan seperti ini penting untuk menumbuhkan sikap ilmiah, rasa ingin tahu, serta kepedulian terhadap isu-isu kebumian dan lingkungan,” imbuhnya. Pengalaman tersebut memiliki arti penting bagi mahasiswa sebagai calon pendidik fisika. Guru tidak cukup hanya menjelaskan rumus dan teori. Guru juga perlu menghadirkan pembelajaran yang kontekstual agar peserta didik memahami hubungan antara sains, teknologi, lingkungan, dan kehidupan sehari-hari. Melalui kuliah lapang ini, Program Studi Pendidikan Fisika UNWAHA memperkuat komitmennya dalam menyiapkan calon pendidik yang mampu mengajarkan fisika secara relevan, bermakna, dan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran abad ke-21. Red: Ibrahim