Universitas KH. A. Wahab Hasbullah

Category: Berita

Tim PMB Unwaha Jombang Warnai Expo Campus 2026 MA Tahfidh Putri Yanbu’ul Qur’an 2 Muria

Kudus – Tim Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang turut berpartisipasi dalam kegiatan Expo Campus yang diselenggarakan di MA Tahfidh Putri Yanbu’ul Qur’an 2 Muria, Kabupaten Kudus, pada Sabtu (24/1/2026). Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 300 siswi dan menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan Unwaha Jombang sebagai perguruan tinggi pesantren yang unggul dan berdaya saing. Ketua PMB Unwaha Jombang, Septian Ragil Anandita, M.Pd., menyampaikan bahwa keikutsertaan ini merupakan bagian dari komitmen kampus untuk memperluas akses informasi pendidikan tinggi, khususnya bagi santri dan siswa madrasah tahfidh. “Unwaha hadir untuk memberikan gambaran nyata kepada para siswi bahwa pendidikan tinggi berbasis pesantren mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman,” katanya. Ia berharap sosialisasi ini dapat membuka wawasan dan memotivasi mereka untuk melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi. “Alhamdulillah kami diterima baik oleh madrasah, serta antusias siswi yang sangat tinggi. Ini menjadi semangat bagi kami, karena ini baru pertama kalinya PMB Unwaha melakukan penjaringan di luar Jawa Timur,” terangnya. Dalam kesempatan kali ini, Tim PMB memberikan pemaparan komprehensif terkait profil universitas, pilihan program studi, jalur seleksi masuk, serta berbagai peluang pengembangan akademik dan nonakademik bagi lulusan madrasah. Sementara itu, Kepala MA Tahfidh Putri Yanbu’ul Qur’an 2 Muria, H. Nur Khamim, LC., M.Pd., menyambut baik kehadiran Tim PMB Unwaha Jombang dan mengapresiasi kontribusi kampus dalam mendampingi siswi menghadapi masa transisi menuju pendidikan tinggi. “Kami menyampaikan terima kasih atas partisipasi Unwaha dalam kegiatan Expo Campus ini. Kehadiran perguruan tinggi seperti Unwaha sangat penting untuk memberikan inspirasi dan arah bagi siswi kami agar memiliki visi masa depan yang jelas, baik secara akademik maupun spiritual,” ungkapnya. Red: Ibrahim

Keutamaan Nisfu Sya’ban: Momentum Spiritual Menyemai Amal Jelang Ramadan

Jombang – Bulan Sya’ban menempati posisi istimewa dalam kalender hijriah sebagai bulan persiapan spiritual menuju Ramadan. Selain disunnahkan untuk memperbanyak puasa, Sya’ban juga dikenal sebagai bulan yang penuh keberkahan, salah satunya melalui peringatan Nisfu Sya’ban yang jatuh pada pertengahan bulan. Dosen PAI Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang, Muhammad Fodhil, S.Pd.I., M.Pd., menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memberikan perhatian khusus pada bulan-bulan yang dimuliakan Allah, di antaranya Muharram, Rajab, dan Sya’ban. “Sya’ban itu disebut sebagai bulan yang tenang. Di masa Rasulullah, bulan ini tidak digunakan untuk peperangan. Karena itu, bulan Sya’ban menjadi waktu yang tepat untuk menata batin dan memperkuat ibadah,” jelas Fodhil. Beliau mengibaratkan hubungan antara Rajab, Sya’ban, dan Ramadan seperti proses bertani. Rajab adalah waktu menanam, Sya’ban menjadi masa merawat dan menyuburkan, sementara Ramadan merupakan masa panen amal. Salah satu momentum penting dalam bulan Sya’ban adalah malam Nisfu Sya’ban. Dalam tradisi keilmuan Islam, para ulama terdahulu mengisi malam tersebut dengan berbagai amalan yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Amalan-amalan ini, menurut Fodhil, tercatat dalam sejumlah kitab klasik, salah satunya Kanzun Najah. Meskipun amalan Nisfu Sya’ban tidak disebutkan secara eksplisit dalam nash Al-Qur’an maupun hadis tertentu, bukan berarti tidak boleh diamalkan. “Dalam sejarah Islam, banyak praktik ibadah yang lahir dari kreativitas spiritual para sahabat dan ulama, dan dibenarkan oleh Rasulullah karena mengandung kebaikan,” ujarnya. Fodhil mencontohkan beberapa praktik ibadah di masa sahabat yang awalnya tidak diajarkan secara langsung oleh Rasulullah SAW, namun kemudian diperkenankan karena diniatkan untuk kebaikan dan mendatangkan kecintaan Allah SWT. “Bid’ah tidak bisa serta-merta dimaknai sebagai sesuatu yang terlarang. Ia bisa menjadi bentuk kreativitas ibadah. Jika substansinya baik dan diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka hal itu juga bernilai kebaikan,” tambahnya. Amalan Malam Nisfu Sya’ban Dalam tradisi yang berkembang di kalangan ulama, malam Nisfu Sya’ban sering diisi dengan pembacaan Surah Yasin sebanyak tiga kali. Bacaan pertama diniatkan untuk memohon panjang umur dalam ketaatan dan keistiqamahan, bacaan kedua untuk memohon perlindungan dari bala serta rezeki yang halal, dan bacaan ketiga untuk memohon keteguhan iman serta husnul khatimah. Fodhil menekankan agar umat Islam tidak menyia-nyiakan momentum Nisfu Sya’ban. Menurutnya, malam tersebut merupakan salah satu waktu yang sarat dengan limpahan pahala dan keberkahan dari Allah SWT. “Jangan sampai Nisfu Sya’ban terlewat begitu saja. Ini adalah karunia besar bagi umat Rasulullah SAW. Sudah sepatutnya kita bersyukur dengan mengisinya melalui amalan-amalan yang mendekatkan diri kepada Allah,” pungkasnya. Red: Ibrahim

Wajib Bersarung Setiap Tanggal 17, Unwaha Tegaskan Identitas Kampus Pesantren bagi Generasi Z

Jombang – Universitas KH. Abdul Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang menetapkan kebijakan wajib bersarung setiap tanggal 17 sebagai penguatan identitas pesantren di lingkungan perguruan tinggi. Kebijakan ini diluncurkan dalam kegiatan Launching Transformasi Tradisi Pesantren bagi Generasi Z dan Peringatan Isra Mi’raj 1447 H, di halam Gedung Jokowi, Sabtu (17/1/2026). Kebijakan tersebut mewajibkan mahasiswa laki-laki mengenakan baju putih dan sarung bermotif kotak-kotak setiap tanggal 17, sementara mahasiswi diarahkan mengenakan busana bernuansa putih dengan kerudung berwarna selain hitam. Aturan ini berlaku secara berkala setiap bulan sebagai simbol internalisasi nilai tradisi pesantren di ruang akademik. Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Tinggi Bahrul Ulum (YPTBU), Dr. KH. Moh. Hasib Wahab, menegaskan bahwa kebijakan bersarung bukan sekadar aturan berpakaian, melainkan media pendidikan karakter. “Sarung yang dikenakan setiap tanggal 17 merupakan simbol warisan KH. Wahab Hasbullah. Ini adalah upaya menghadirkan kembali ruh pesantren dalam kehidupan kampus, agar mahasiswa tidak tercerabut dari akar budayanya,” ujar Gus Hasib. Beliau menambahkan bahwa transformasi tradisi tidak dimaksudkan untuk menghambat kreativitas Generasi Z, tetapi justru menjadi fondasi nilai agar mahasiswa mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas ke-NU-an. Pada kesempatan yang sama, Ketua YPTBU, Ibu Nyai Hj. Hizbiyah Rochim Wahab, M.A., menekankan pentingnya konsistensi pelaksanaan aturan. Beliau berharap seluruh sivitas akademika dapat mematuhi kebijakan ini sebagai bagian dari disiplin dan budaya kampus. “Aturan ini harus dijalankan secara tegas agar menjadi kebiasaan dan membentuk identitas visual serta mental Unwaha,” kata beliau. Sementara itu, Rektor Unwaha Jombang, Prof. Dr. Ir. H. Gatot Ciptadi, DESS, IPU, ASEAN Eng., memandang kewajiban bersarung sebagai bagian dari integrasi nilai spiritual pesantren dengan tata kelola universitas modern. Menurutnya, penguatan identitas kultural menjadi kebutuhan penting bagi Generasi Z yang hidup di tengah arus globalisasi. “Kampus pesantren harus mampu menghadirkan nilai keislaman secara kontekstual. Kewajiban bersarung ini adalah simbol, sekaligus pengingat bahwa keunggulan akademik perlu berjalan seiring dengan adab dan karakter,” jelas Prof. Gatot. Ia juga menambahkan bahwa penguatan budaya kampus tersebut selaras dengan peran Senat Universitas yang baru dilantik dalam menjaga arah kebijakan akademik dan mutu Tridarma Perguruan Tinggi berbasis nilai keislaman. Red: Ibrahim

Isra Mi’raj: Penghiburan Rasulullah dan Peneguhan Perintah Sholat

Jombang – Peristiwa Isra Mi’raj merupakan salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah Islam. Tidak hanya dipahami sebagai perjalanan fisik Rasulullah SAW, tetapi juga sebagai perjalanan spiritual yang sarat dengan pesan ketauhidan, ibadah, dan pembentukan akhlak umat Islam. Dosen Pendidikan Agama Islam Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang, Bapak Muhammad Fodhil, S.Pd.I., M.Pd., menjelaskan bahwa secara lughowiyah Isra berarti perjalanan, sedangkan Mi’raj bermakna naik. Secara istilah, Isra Mi’raj adalah perjalanan malam hari yang dilakukan Rasulullah SAW bersama Malaikat Jibril dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, kemudian dilanjutkan hingga Sidratul Muntaha. Lebih dari sekadar perjalanan luar biasa, Isra Mi’raj terjadi pada fase kehidupan Rasulullah SAW yang penuh dengan ujian dan kesedihan. Sebelum peristiwa agung tersebut, Rasulullah mengalami kesedihan yang mendalam akibat wafatnya orang-orang terdekat yang selama ini menjadi pelindung dan pembela dakwahnya, mulai dari kedua orang tua, kakek, paman, hingga istri tercinta, Sayidah Khadijah. “Isra Mi’raj memiliki dua sisi penting. Pertama sebagai bentuk penghiburan Allah kepada Rasulullah, dan kedua sebagai jalan turunnya perintah sholat,” ujar beliau. Dalam situasi duka yang beruntun itulah, Allah memberikan kebahagiaan kepada Rasulullah melalui sebuah perjalanan spiritual yang luar biasa. Puncak dari peristiwa Isra’ Mi’raj adalah diterimanya perintah sholat. Terdapat keunikan ketika Rasulullah SAW mencapai Sidratul Muntaha. Pada titik Mustawa, Malaikat Jibril tidak dapat melanjutkan perjalanan dan berhenti. Hal ini menunjukkan kemuliaan Rasulullah SAW, sekaligus menjadi isyarat bahwa manusia yang mampu menundukkan hawa nafsu melalui ibadah memiliki derajat yang sangat tinggi di sisi Allah SWT. Peneguhan Perintah Sholat dan Gambaran Umat Nabi Muhammad SAW Pada awalnya, Rasulullah menerima perintah sholat sebanyak 50 waktu dalam sehari. Namun atas nasihat Nabi Musa AS, Rasulullah kembali menghadap Allah SWT hingga perintah tersebut diringankan (reduksi, red) menjadi lima waktu. “Dalam beberapa kitab, di antaranya Hasyiyah Al-Bajuri, dijelaskan bahwa Rasulullah bolak-balik menghadap Allah SWT hingga sembilan kali sebelum ditetapkan sholat lima waktu,” jelas Fodhil. Selain perintah sholat, dalam perjalanan Isra’ Mi’raj Rasulullah juga diperlihatkan berbagai gambaran tentang keadaan umatnya kelak. Di antaranya adalah seseorang yang kepalanya dihancurkan berulang kali sebagai balasan bagi mereka yang meninggalkan sholat, serta sekelompok orang yang menanam lalu memanen dengan cepat sebagai gambaran pahala sedekah yang dilipatgandakan. “Rasulullah juga diperlihatkan gambaran orang-orang yang lebih memilih makanan busuk daripada yang baik sebagai simbol perbuatan perselingkuhan, serta mereka yang memotong lidah sendiri sebagai balasan bagi orang yang gemar menasihati namun tidak mengamalkan,” imbuhnya. Dosen PAI ini juga menjelaskan bahwa Isra Mi’raj sering dianggap sebagai peristiwa yang tidak masuk akal jika dilihat dengan pemahaman awam. Namun jika dikaji lebih dalam, termasuk melalui pendekatan sains, peristiwa ini justru semakin menguatkan keimanan. “Malaikat Jibril yang diciptakan dari cahaya, dalam perspektif sains memiliki kecepatan luar biasa, sehingga perjalanan tersebut dapat terjadi dalam waktu yang sangat singkat,” terangnya. Peristiwa Isra Mi’raj pada akhirnya menjadi pengingat bahwa sholat adalah fondasi utama ibadah dalam Islam. “Lebih dari itu, Isra Mi’raj mengajarkan bahwa di balik ujian dan kesedihan, selalu ada kasih sayang Allah SWT yang mengangkat derajat hamba-Nya menuju kedekatan spiritual yang lebih tinggi,” pungkasnya. Red: Ibrahim

Pelantikan Ormawa Unwaha Jombang 2026: Tegaskan Komitmen Kepemimpinan yang Progresif dan Bekelanjutan

Jombang – Pengurus Organisasi Mahasiswa (Ormawa) di lingkungan Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang resmi dilantik dalam Pelantikan Ormawa Tahun 2026 yang diselenggarakan di Auditorium Unwaha, Minggu (11/1/2026). Kegiatan yang diikuti oleh ratusan pengurus Ormawa ini mengusung tema “Penguatan Kapasitas Kepemimpinan dan Tata Kelola Organisasi Mahasiswa untuk Mewujudkan Ormawa yang Progresif dan Berkelanjutan”. Sebanyak 510 mahasiswa yang merupakan mandataris pengurus Ormawa resmi dilantik dalam kegiatan ini. Mereka terdiri atas pengurus Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP), BEM Fakultas, BEM Universitas, serta Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) untuk masa bakti 2025–2026. Prosesi pelantikan dilakukan secara resmi oleh Kepala Biro Kemahasiswaan, Septian Ragil Anandita, M.Pd. Beliau menegaskan bahwa pelantikan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan penanda dimulainya tanggung jawab organisasi yang harus dijalankan secara sungguh-sungguh. “Kami berharap, seluruh pengurus mampu menjunjung tinggi nilai integritas, profesionalisme, serta menjadikan organisasi mahasiswa sebagai ruang pembelajaran kepemimpinan yang berdampak positif bagi civitas akademika dan masyarakat,” pesan beliau. Sementara itu, Presiden Mahasiswa Unwaha, M. Ridho Danu Muslikhan, menyampaikan harapannya agar seluruh pengurus Ormawa mampu menjalankan amanah organisasi secara profesional dan bertanggung jawab. Ia menegaskan bahwa Ormawa harus menjadi ruang pengabdian sekaligus wadah pengembangan kapasitas kepemimpinan mahasiswa yang berdampak positif bagi kampus dan masyarakat. Pada pelaksanaan pelantikan kali ini, turut diselenggarakan Seminar Keorganisasian yang menghadirkan pemateri dari internal dan eksternal Unwaha. Materi seminar pertama disampaikan oleh Bapak Moh. Ja’far Sodiq Maksum, S.H., M.HI. Dalam pemaparannya, beliau menekankan pentingnya kepemimpinan mahasiswa yang visioner serta tata kelola organisasi yang kolaboratif dan berkelanjutan guna menjawab tantangan sosial dan kemasyarakatan yang semakin kompleks. Dilanjutkan dengan materi keuda yang disampaikan oleh Kapolres Jombang diwakili oleh Kapolsek Jombang. Hal ini mencerminkan upaya awal penguatan sinergi antara organisasi mahasiswa Unwaha Jombang dengan aparat penegak hukum, khususnya dalam mendukung kolaborasi kegiatan sosial kemasyarakatan ke depan. Red: Dion Rizki PratamaEditor: Ibrahim

Seminar Kewirausahaan FAI 2025: Tekankan Pentingnya Mentalitas sebagai Fondasi Bisnis Berkelanjutan

Jombang – Fakultas Agama Islam (FAI) Unwaha Jombang menyelenggarakan Seminar Kewirausahaan bertema “Membangun Mentalitas Wirausaha: Strategi Psikologi untuk Sukses” di Auditorium Unwaha, Sabtu (27/12/2025). Kegiatan yang diikuti oleh lebih dari 100 peserta ini diharapkan memberikan pemahaman kewirausahaan secara komprehensif. Pelaksanaan seminar kewirausahaan ini merupakan bagian dari implementasi mata kuliah Kewirausahaan yang diampu oleh Ibu Ashlihah, S.E., M.M. Kegiatan ini juga dirancang sebagai bentuk evaluasi pembelajaran akhir semester dengan pendekatan yang lebih aplikatif dan kontekstual. Dalam sambutannya, Ibu Ashlihah menyampaikan bahwa seminar ini diharapkan mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih relevan dan inspiratif bagi mahasiswa. Seperti yang disebutkan sebelumnya, seminar ini merupakan bagian dari pendekatan pembelajaran kewirausahaan yang dikemas secara lebih aplikatif. “Kegiatan ini dirancang sebagai bentuk UAS yang tidak konvensional, dengan tujuan memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual, relevan, dan inspiratif bagi mahasiswa,” kata beliau. Hadir sebagai pemateri, M. Fithr Alfin Niam menekankan bahwa kewirausahaan tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan teknis bisnis, tetapi bertumpu pada kekuatan mentalitas wirausaha. Kewirausahaan dipahami sebagai proses penciptaan nilai yang lahir dari kreativitas, inovasi, keberanian mengambil risiko, serta kemampuan membaca dan memanfaatkan peluang. Selain itu, peserta dibekali strategi praktis pengelolaan bisnis di era digital, meliputi penguatan personal branding, pemasaran berbasis konten dan data, pengelolaan keuangan yang tertib, serta pemanfaatan teknologi untuk pengembangan dan perluasan usaha. Seluruh strategi tersebut ditegaskan harus ditopang oleh growth mindset, resiliensi, dan kemampuan beradaptasi, sehingga mahasiswa siap menghadapi tantangan sekaligus menangkap peluang kewirausahaan di masa depan. Red: Achmad Fauzi AliEditor: Ibrahim

Sembilan Dosen UNWAHA Berhasil Naik Jabatan Fungsional, Cerminkan Sistem Pembinaan Karier yang Konsisten

Jombang – Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) kembali mencatatkan capaian penting dalam pengembangan sumber daya manusia akademik. Sebanyak sembilan dosen dinyatakan berhasil memperoleh kenaikan jabatan fungsional pada Gelombang II Tahun 2025, yang terdiri atas satu dosen Asisten Ahli dan delapan dosen Lektor. Berdasarkan surat pemberitahuan resmi Bagian Kepegawaian Unwaha tertanggal 4 Januari 2026, seluruh pengajuan jabatan fungsional tersebut telah disetujui oleh LLDIKTI dan saat ini memasuki tahap menunggu penerbitan Surat Keputusan (SK) melalui proses Tanda Tangan Elektronik (TTE). Capaian sembilan dosen dalam satu periode ini menjadi indikator kuat efektivitas sistem pembinaan dan pengelolaan karier dosen yang dijalankan UNWAHA secara terstruktur. Kepala Bagian Kepegawaian Unwaha, M. Aliyul Wafa, M.Pd., menyampaikan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil dari perencanaan jangka panjang yang telah dibangun institusi. “Kami bersyukur atas capaian ini. Sejak awal, kami telah menyusun road map pengembangan karier dosen, mulai dari dosen baru, dengan memberikan arahan terkait persiapan jabatan fungsional dan penguatan kinerja tridarma,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa Bagian Kepegawaian secara rutin melakukan monitoring, kontrol, serta penerapan early warning system bagi dosen yang telah memasuki masa pengajuan jabatan fungsional. “Dengan sistem tersebut, dosen dapat mempersiapkan seluruh persyaratan secara lebih terencana dan tepat waktu,” imbuhnya. Selain penguatan sistem internal, Bagian Kepegawaian Unwaha juga membangun koordinasi terhadap pemangku kepentingan internal sebagai bentuk dukungan kelembagaan. “Pendekatan ini bertujuan menciptakan ekosistem akademik yang kondusif, sehingga proses pengembangan karier dosen tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga didukung secara institusional,” tutupnya. Red: Ibrahim

Implementasikan Kerja Sama antar Perguruan Tinggi, PBA Unwaha Gelar Webinar Internasional

Jombang – Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) menyelenggarakan Webinar Internasional sebagai wujud implementasi kerja sama (MoU) dengan sejumlah perguruan tinggi dan lembaga mitra, pada Senin (29/12/2025) lalu, secara daring. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari peringatan Hari Bahasa Arab Sedunia 2025. Webinar internasional tersebut merupakan tindak lanjut nyata dari nota kesepahaman antara Prodi PBA Unwaha dengan beberapa institusi, di antaranya Pusat Bahasa Riyadlul Ulum Tasikmalaya, Prodi PBA UIN Prof. Dr. KH. Saifudin Zuhri Purwokerto, serta Prodi PBA Universitas KH. Ruhiat Cipasung Tasikmalaya. Melalui kolaborasi ini, seluruh pihak berkomitmen untuk memperkuat kerja sama akademik dalam pengembangan pendidikan dan kajian bahasa Arab di tingkat nasional dan internasional. Kegiatan yang diikuti oleh sekitar 160 peserta dari berbagai latar belakang akademik ini menghadirkan para akademisi dan pakar bahasa Arab dari dalam dan luar negeri. Webinar berlangsung secara interaktif dengan pembahasan yang menyoroti peran strategis bahasa Arab sebagai bahasa ilmu pengetahuan, budaya, dan peradaban Islam di tengah dinamika global. Dalam keterangannya Kaprodi PBA Unwaha, Rina Dian Rahmawati, M.Pd., menyampaikan bahwa penyelenggaraan webinar internasional ini menjadi bukti konkret komitmen Prodi PBA Unwaha dalam merealisasikan kerja sama yang telah terjalin. “Kami berharap kolaborasi ini dapat terus berlanjut dalam berbagai program akademik lainnya, seperti riset bersama, pertukaran dosen, dan pengembangan kurikulum pendidikan bahasa Arab,” ungkapnya. Beliau menambahkan, momentum Hari Bahasa Arab Sedunia menjadi sarana strategis untuk memperkuat eksistensi bahasa Arab di lingkungan akademik sekaligus memperluas jejaring keilmuan antarperguruan tinggi. Salah satu pembicara dalam webinar ini adalah Dr. M. Dzikrul Hakim Al Ghozali, M.Pd.I., merupakan dosen PBA Unwaha. Melalui kegiatan ini, Prodi PBA Unwaha menegaskan perannya dalam mendukung internasionalisasi program studi, penguatan kolaborasi kelembagaan, serta peningkatan kualitas pendidikan bahasa Arab yang adaptif terhadap tantangan global. Red: Ibrahim

Dosen Unwaha Raih Insentif Artikel Jurnal Internasional Bereputasi 2025

Jombang – Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) kembali menorehkan prestasi akademik di tingkat nasional. Salah satu dosen Unwaha berhasil meraih Program Insentif Artikel Berkualitas pada Jurnal Internasional Bereputasi Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Berdasarkan Surat Pengumuman Nomor 1741/C3/DT.05.00/2025 tanggal 14 Desember 2025, dosen Unwaha atas nama Suci Prihatiningtyas ditetapkan sebagai penerima program insentif tersebut. Insentif diberikan atas artikel ilmiah berjudul “Enhancing Science Literacy Through Flipbook-Based STEM Qur’an E-Modules: A Case Study in Islamic Boarding Schools” yang dipublikasikan pada jurnal internasional bereputasi Humanities and Social Sciences Communications. Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unwaha, Dr. Zulfikar, S.P., M.Si., menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Ia menegaskan bahwa prestasi ini mencerminkan meningkatnya kualitas riset dan publikasi dosen Unwaha di level internasional. “Capaian ini menjadi indikator bahwa dosen Unwaha mampu bersaing pada level jurnal internasional bereputasi. LPPM akan terus berkomitmen mendampingi dan memfasilitasi dosen agar produktivitas riset dan publikasi semakin meningkat,” ujar Dr. Zulfikar. Sementara itu, Suci Prihatiningtyas selaku penerima insentif menyampaikan rasa syukur dan harapannya agar capaian ini dapat memberikan manfaat yang lebih luas. “Penghargaan ini menjadi motivasi untuk terus mengembangkan riset yang berdampak, khususnya dalam penguatan literasi sains berbasis nilai keislaman di lingkungan pendidikan pesantren. Saya berharap hasil penelitian ini dapat menginspirasi pengembangan inovasi pembelajaran di madrasah dan pesantren,” ungkapnya. Red: Ibrahim

Expo FIP 2025, Dorong Mahasiswa Jadi Edupreneur Berbasis Kearifan Lokal

Jombang – Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) menggelar Exposition Pengembangan Media Pembelajaran dan Kewirausahaan sebagai ajang diseminasi karya mahasiswa, Selasa (16/12/2025), di Halaman Gedung Jokowi. Kegiatan ini menampilkan beragam media pembelajaran dan produk kewirausahaan hasil karya mahasiswa yang mengusung tema kearifan lokal. Expo tersebut diikuti oleh 129 mahasiswa, yang terdiri atas 74 mahasiswa semester 5 mata kuliah Pengembangan Media Pembelajaran dan 55 mahasiswa semester 7 mata kuliah Kewirausahaan. Dari kegiatan ini, dipamerkan sebanyak 41 media pembelajaran fisik, 11 media digital, serta 39 jenis produk kewirausahaan dengan variasi inovasi dan konsep yang beragam. Dekan FIP, M. Farid Nasrulloh, S.Pd.Si., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin fakultas yang telah dilaksanakan sejak sebelum penerapan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan kini tetap relevan dalam kerangka Outcome-Based Education (OBE). “Kegiatan ini merupakan bentuk diseminasi dari mata kuliah Kewirausahaan dan Pengembangan Media Pembelajaran. Fakultas memfasilitasi mahasiswa agar kompetensinya berkembang secara komprehensif, sehingga lulusan FIP tidak hanya dipersiapkan menjadi guru, tetapi juga memiliki jiwa edupreneur,” ujar beliau. Lebih lanjut, Bapak Farid menegaskan bahwa fakultas berharap pengembangan produk dan media yang dihasilkan mahasiswa tidak berhenti pada pemenuhan tugas mata kuliah semata. “Harapan kami, mahasiswa dapat terus mengembangkan karya-karya ini setelah lulus dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkas Dekan FIP itu. Ketua Pelaksana kegiatan, Anggun Wulandari, S.Si., M.Pd., menyampaikan bahwa Expo FIP di tahun ini mengalami peningkatan kualitas, baik dari sisi teknis pelaksanaan maupun ragam karya yang dipamerkan. “Setiap tahun kegiatan ini kami evaluasi dan perbaiki. Untuk exposition kali ini, jumlah media dan produk yang ditampilkan sangat beragam, baik media pembelajaran maupun produk kewirausahaan,” jelasnya. Beliau menambahkan bahwa tema kearifan lokal dipilih untuk mendorong mahasiswa mengintegrasikan nilai budaya dan potensi lokal ke dalam inovasi pembelajaran serta produk kreatif. “Melalui kegiatan ini, kami berharap kreativitas mahasiswa semakin berkembang, mutu pembelajaran di kelas meningkat, dan inovasi tersebut dapat diaplikasikan menjadi produk yang bernilai guna,” pungkas dosen Prodi Pendidikan Biologi ini. Red: Ibrahim