Universitas KH. A. Wahab Hasbullah

Author: Humas Unwaha

Mahasiswa KKN-PPM 2025 Perkuat Layanan dan Transparansi Informasi Masyarakat Desa Kendalsari dengan Optimalisasi Web Desa

Jombang – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) 2025 kelompok 12 lakukan penguatan layanan informasi melalui website kepada masyarakat Desa Kendalsari. Hal itu dibuktikan dengan digelarnya kegiatan optimalisasi website desa sebagai media penyajian informasi publik yang dilaksanakan pada Senin, (1/9/202) bertempat di Balai Desa Kendalsari. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Desa Kendalsari, Mulyadi. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa website desa bukan hanya sekadar media informasi, tetapi juga sebagai sarana transparansi dan akuntabilitas pemerintah desa kepada masyarakat. “Website desa adalah jendela informasi bagi masyarakat. Dengan optimalisasi ini, kami berharap seluruh warga dapat memperoleh informasi terbaru mengenai pembangunan, layanan, dan program desa secara cepat dan transparan,” katanya. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari Sekretaris Desa mengenai langkah-langkah teknis yang akan ditempuh dalam pengelolaan website. Beliau menjelaskan mekanisme pembaruan konten, jenis informasi yang akan dipublikasikan, serta penunjukan tim pengelola website yang terdiri dari perangkat desa dan unsur pemuda. “Kami berkomitmen untuk memperbarui konten website secara berkala, agar masyarakat mudah mengakses informasi tanpa harus selalu datang ke balai desa,” ujar Sekretaris Desa, Zulismari Astutik. Selama kegiatan berlangsung, peserta diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan menyampaikan aspirasi. Beberapa masukan yang muncul dari masyarakat antara lain pentingnya memuat informasi tentang layanan administrasi, kegiatan pembangunan, laporan keuangan desa, serta dokumentasi kegiatan sosial. Perwakilan masyarakat juga menekankan perlunya kemudahan akses melalui perangkat telepon pintar agar informasi benar-benar bisa dijangkau oleh semua kalangan. “Kehadiran website desa sangat membantu kami sebagai warga. Kami bisa mengetahui kegiatan dan program desa hanya melalui ponsel, sehingga lebih praktis dan efisien,” kata salah satu warga, Nurokhim. Sementara itu, salah satu mahasiswa anggota kelompok, berharap masyarakat desa dapat memperoleh informasi yang akurat dan up-to-date tentang kegiatan desa dan program pemerintah. Red: Kelompok 12Editor: Ibrahim

KKN-PPM UNWAHA 2025 Kembangkan Energi Alternatif Berbasis Briket Sekam Padi untuk Kemandirian Ekonomi Desa Brudu

Jombang – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) 2025 mendorong lahirnya inovasi energi alternatif melalui pelatihan pembuatan briket sekam padi di Desa Brudu, Jumat (15/8/2025). Program yang digagas oleh Bidang Ekonomi Kelompok 5 Desa Brudu ini menjadi upaya strategis dalam mengubah limbah pertanian menjadi sumber energi alternatif sekaligus peluang kemandirian ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. Pemaparan materi dan praktik pembuatan briket dipimpin oleh mahasiswa yaitu Mochammad Fatikhul Thorik. Ia menjelaskan potensi besar sekam padi sebagai bahan bakar ramah lingkungan dan bernilai jual tinggi. “Sekam padi sering kali dianggap limbah, padahal jika dikelola dengan baik, bisa menjadi sumber pendapatan yang menjanjikan. Melalui pelatihan ini, kami ingin masyarakat mampu mengolahnya menjadi produk briket yang ekonomis dan berkelanjutan,” ungkap Thorik. Dalam sesi praktik, peserta diajak mengenal proses produksi mulai dari pengumpulan dan pengeringan sekam hingga pencetakan briket. Dengan pendampingan mahasiswa, warga berhasil membuat briket berkualitas hanya dalam satu kali pelatihan. “Saya tidak menyangka, dengan sedikit usaha, kami bisa menghasilkan briket yang bisa dijual,” tutur Hamidah, salah satu peserta. Selain teknik produksi, mahasiswa juga memberikan wawasan mengenai strategi pemasaran produk, baik secara offline maupun melalui platform digital. Harapannya, keterampilan ini dapat membuka peluang usaha baru dan meningkatkan pendapatan keluarga. Ketua PKK Desa Brudu, Sriyanti, mengapresiasi inisiatif mahasiswa KKN. “Kami sangat berterima kasih kepada mahasiswa UNWAHA. Ilmu yang dibagikan ini tidak hanya bermanfaat untuk mengurangi limbah, tetapi juga bisa membantu peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya. Program ini mencerminkan komitmen UNWAHA dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan penguatan ekonomi lokal. Melalui pengabdian mahasiswa, universitas berupaya menghadirkan solusi nyata yang berbasis potensi desa sekaligus menanamkan semangat kemandirian pada masyarakat. Red: Kelompok 5Editor: Ibrahim

Mahasiswa KKN-PPM 2025 Tanam Budaya Menabung Sejak Dini bagi Siswa di Desa Nglele

Jombang – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Kelompok 3 Desa Ngelele melaksanakan program edukasi literasi keuangan dan gemar menabung, Rabu (20/8/2025). Kegiatan yang diinisiasi oleh bidang ekonomi kelompok 3 menyasar siswa kelas 4 dan 5 sekolah dasar di desa setempat. Kegiatan berjalan interaktif dan diiukuti puluhan peserta didik dengan antusias. Salah satu mahasiwa anggota Kelompok 3, Indah Nur Suryani mengatakan, program ini bertujuan untuk mengajarkan pengelolaan uang saku secara bijak bagi peserta didik sejak dini. Tidak hanya pengenalan secara teori, mahasiswa juga mengajak peserta didik dalam pembuatan celengan kreatif. “Dengan pendekatan interaktif, kami berhasil menumbuhkan antusiasme anak-anak. Celengan yang mereka buat sendiri akan menjadi pengingat untuk terus menabung, sekaligus menanamkan nilai kedisiplinan dan tanggung jawab,” ujar Indah. Sebelum pemberian materi, anak-anak terlebih dahulu mengisi angket untuk memetakan kebiasaan mereka dalam menggunakan uang saku. Setelah itu, mahasiswa menyampaikan literasi keuangan sederhana, seperti membedakan kebutuhan dan keinginan, serta pentingnya tujuan menabung. Program ditutup dengan apresiasi terhadap celengan terbaik serta penyerahan seluruh karya kepada masing-masing siswa untuk digunakan di rumah. Kehadiran mahasiswa KKN UNWAHA mendapat respon positif dari guru dan orang tua yang menilai program ini memberi manfaat nyata bagi pembentukan karakter anak. Pada kesempatan yang berbeda, Dosen Pendamping Lapangan Kelompok 3, Bapak M. Farid Nasrulloh, S.Pd.Si., M.Pd., menegaskan pentingnya kegiatan ini sebagai bentuk pengabdian yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. “Edukasi literasi keuangan ini merupakan investasi sosial jangka panjang. Dengan membiasakan anak-anak menabung sejak dini, kita tidak hanya melatih keterampilan mengelola uang, tetapi juga membentuk pola pikir mandiri dan disiplin,” katanya. Red: Kelompok 3Editor: Ibrahim

KKN-PPM UNWAHA 2025 Dorong Penguatan Pendidikan Keagamaan di Desa Plemahan

Jombang – Kontribusi nyata dalam penguatan pendidikan keagamaan di lingkungan masyarakat ditunjukkan oleh Mahasiswa Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) di Desa Plemahan. Melalui program Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Tahun 2025 bidang keagamaan, mahasiwa melaksanakan kegiatan pendidikan di TPQ desa setempat selama program KKN-PPM berlangsung. Salah satu anggota Kelompok 7 KKN-PPM UNWAHA 2025 Desa Plemahan, Afwa Elfira Zulfa mengatakan, program ini bukan sekedar ajang pengabdian mahasiswa saja, melainkan juga bagian dari ikhtiar kampus dalam membumikan nilai keilmuan dan keagamaan di tengah masyarakat. “Melalui kegiatan ini, kami terlibat langsung dalam proses pembelajaran Al-Qur’an, mulai dari pengenalan huruf hijaiyah hingga pembenahan tajwid,” ungkapnya. Ia juga menyampaikan bahwa misi mereka adalah memotivasi anak-anak agar tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga mengamalkannya dalam perilaku sehari-hari. “Kami berharap apa yang kami tanamkan menjadi langkah kecil yang menumbuhkan generasi berakhlak mulia sekaligus mencintai ilmu,” ujarnya. Sementara itu, salah satu Tokoh Agama Desa Plemahan menyambut baik atas kehadiran mahasiswa UNWAHA. Kehadiran mereka bukan hanya sekadar membantu proses belajar mengajar, tetapi juga membawa semangat baru bagi anak-anak dan masyarakat. “Dengan ilmu yang mereka miliki, teman-teman mahasiswa bisa memberikan tambahan wawasan, metode pembelajaran yang lebih kreatif, serta membangun motivasi bagi anak-anak untuk lebih giat belajar membaca Al-Qur’an dan memperdalam ilmu agama,” katanya. Selain pembelajaran Al-Qur’an, mahasiswa juga menyampaikan materi tentang doa-doa harian dan akhlak mulia sebagai bekal anak-anak dalam kehidupan sehari-hari. Kehadiran mahasiswa KKN UNWAHA mendapat apresiasi dari pengurus TPQ dan wali santri, yang menilai program ini berhasil mempererat sinergi antara dunia kampus dengan masyarakat desa. Red: Kelompok 7Editor: Ibrahim

Di Balik Amuk yang Berbaju Demo Massa: Mengungkap Kepentingan yang Tersembunyi

Oleh : Moh. Ja’far Sodiq Maksum, M.H.Dosen Universitas KH. A. Wahab Hasbullah Pendahuluan: Api yang Menyala dari Jalanan “Demo adalah hak rakyat, tapi amuk adalah musibah”. Kalimat itu berulang kali terdengar dari mulut warga yang menyaksikan betapa cepatnya sebuah aksi protes berubah menjadi kerusuhan. Pemandangan jalanan dipenuhi asap ban terbakar, batu beterbangan, aparat berhadapan dengan massa, hingga gedung-gedung pemerintahan dilalap api, sudah terlalu sering kita lihat. Demo massa sejatinya merupakan salah satu pilar demokrasi. Ia memberi ruang bagi rakyat untuk menyuarakan aspirasi, mengingatkan penguasa bahwa mandat yang diberikan bukan tanpa batas. Namun, dalam praktiknya, demo kerap berbelok dari jalur. Dari sekadar orasi lantang di atas mobil komando, suasana bisa berubah menjadi amuk yang tak terkendali. Pertanyaannya: mengapa dan siapa yang diuntungkan? Tulisan ini mencoba membongkar fenomena amuk berbaju demo massa yang dalam beberapa hari terakhir mengoyak wajah kota-kota di Indonesia. Data dan catatan lapangan menunjukkan bahwa ada pola dan kepentingan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Babak Api: Dari Senen ke Makassar Dalam waktu yang relatif singkat, hampir setiap waktu muncul kabar tentang fasilitas publik atau gedung pemerintahan yang dibakar massa. Daftarnya panjang; Halte Busway Senen dan SCBD dibakar, Gedung DPRD Bandung, Gorontalo, Brebes, Pekalongan, hingga Solo luluh lantah, Kantor Mapolda Jogja dan Solo diserang api, Pospol di Medan dan Senen dibakar, DPRD Semarang hangus, dan Mako Brimob Depok tak luput dari amuk. Fenomena ini bukan sekadar insiden terpisah. Pola serupa muncul: amuk diarahkan pada simbol negara (gedung DPRD, kantor polisi, markas Brimob) dan fasilitas publik vital (halte busway). Pertanyaan kritis muncul: mungkinkah semua itu murni spontanitas rakyat marah? Atau ada “tangan tak terlihat” yang sengaja mengarahkan?. Ketika Demo Berubah Menjadi Amuk Secara teoritis, demo massa bisa dianalisis melalui dua kacamata: Pertama dari sisi sosiologis, kerumunan besar cenderung kehilangan rasionalitas individu. Emosi kolektif lebih mudah tersulut sehingga aksi protes mudah menjelma kerusuhan. Gustave Le Bon dalam The Crowd: A Study of the Popular Mind menulis bahwa dalam kerumunan, individu sering kehilangan kontrol dan terdorong melakukan tindakan ekstrem. Kedua adalah politik-institusional, demo sering ditunggangi aktor berkepentingan. Mereka bisa berasal dari oposisi politik, oligarki ekonomi, bahkan jaringan kriminal. Isu rakyat dijadikan “bahan bakar”, sementara arah kerusuhan ditentukan oleh kepentingan elite. Fakta bahwa gedung-gedung negara menjadi sasaran utama, memperkuat dugaan bahwa ada agenda untuk mengguncang simbol kekuasaan. Sebab, merusak halte busway bisa dimaknai sebagai luapan emosi spontan, tapi membakar gedung DPRD di banyak kota sekaligus sulit dijelaskan tanpa koordinasi. Pola Terstruktur: Bukan Kebetulan Dalam setiap aksi, ada pola yang hampir sama. Dimulai massa awalnya damai dengan berorasi, menyanyikan yel-yel, dan mengibarkan spanduk. Lalu provokasi, entah lemparan batu, dorongan terhadap barikade polisi, atau teriakan “bakar!”. Dilanjut dengan massa terpecah, sebagian mencoba menahan dan yang lain tersulut emosi. Terakhir, kerusuhan pecah, massa menyerang gedung, fasilitas dibakar, dan aparat balik menekan. Kejadian ini berulang di Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta hingga Makasar. Ada “tangan” yang tahu persis kapan dan bagaimana menyalakan api di tengah lautan manusia. Olah infiltrasi semacam ini bukan fenomena baru, melainkan telah tercatat luas dalam berbagai literatur gerakan sosial. Melalui kerangka political opportunity structure, dapat dipahami bahwa setiap momen protes rakyat kerap dijadikan ruang strategis bagi pihak tertentu untuk menyusup, memprovokasi, dan mengarahkan arus gerakan, sehingga tujuan awal massa sering terdistorsi oleh agenda tersembunyi. Kepentingan Tersembunyi: Siapa yang Bermain? Siapa di balik amuk berbaju demo ini?. Dugaan bisa mengarah ke beberapa kategori. Pertama adalah kelompok politik, di mana demo merupakan panggung yang efektif untuk menggerus legitimasi rezim. Ketika gedung DPRD terbakar di banyak kota, pesan yang muncul bukan lagi soal aspirasi rakyat, melainkan ketidakmampuan pemerintah menjaga stabilitas. Oposisi politik bisa memetik keuntungan dari citra “pemerintah gagal”. Kedua adalah kelompok oligarki ekonomi, dalam situasi kacau terdapat pihak yang diuntungkan secara ekonomi. Kontrak pemulihan, proyek rekonstruksi, hingga peluang bisnis keamanan bisa menjadi “rejeki” tersendiri. Ketiga yaitu kelompok kriminal, kerusuhan adalah peluang emas bagi jaringan kriminal. Di tengah kekacauan, penjarahan mudah dilakukan, narkotika beredar tanpa pengawasan, dan konflik dengan aparat bisa dimanfaatkan untuk memperlemah hukum. Terakhir yaitu jaringan internasional, tak menutup kemungkinan dibalik situasi semacam ini terdapat agenda yang lebih besar. Seperti, destabilisasi negara untuk melemahkan posisi Indonesia secara geopolitik. Pengalaman negara lain menunjukkan bahwa kekacauan domestik kerap dimanfaatkan oleh aktor asing. Disinformasi Digital: Bahan Bakar Baru Di era media sosial, provokasi tak lagi butuh pengeras suara di lapangan. Cukup dengan video pendek, foto yang dipotong, atau narasi bombastis “aparat brutal”, amarah bisa menjalar lebih cepat daripada api yang melalap gedung. Analisis percakapan daring selama demo besar terakhir menunjukkan lonjakan drastis tagar provokatif. Banyak akun anonim yang menyebarkan informasi tidak terverifikasi, mendorong emosi massa untuk turun ke jalan. Di sinilah ruang digital memainkan peran sebagai amplifier kerusuhan. Amuk yang bermula di jalanan segera direkam, disebarkan, lalu diviralkan melalui berbagai platform media sosial. Narasi provokatif dan potongan video emosional mempercepat resonansi amarah kolektif, meluas dari satu kota ke kota lain, hingga menciptakan efek domino yang membuat kerusuhan tak lagi bersifat lokal, melainkan nasional. Rakyat di Antara Aspirasi dan Provokasi Kenyataannya, mayoritas rakyat yang turun ke jalan sejatinya ingin menyuarakan keresahan. Mereka menuntut kebijakan yang adil, menolak keputusan yang dianggap merugikan, atau sekadar mengekspresikan hak konstitusional. Namun, suara itu kerap tenggelam oleh kobaran api. Di hadapan publik luas, citra demo bukan lagi tentang “aspirasi rakyat”, melainkan “kerusuhan massa”. Akibatnya, pesan substantif yang seharusnya didengar pemerintah justru terdistorsi. Ironisnya, korban paling nyata selalu rakyat sendiri: pedagang kecil yang lapaknya terbakar, pekerja yang terjebak macet berjam-jam, hingga warga kota yang kehilangan fasilitas publik. Pertanyaan Kunci yang Harus Dijawab Siapa dalang sesungguhnya di balik pola pembakaran serentak di banyak kota?. Mengapa target hampir selalu gedung DPRD dan kantor kepolisian?. Apakah kerusuhan ini hanya efek spontan rakyat marah, atau ada skenario politik-ekonomi lebih besar?.Bagaimana peran media sosial dalam mempercepat eskalasi amuk? Pertanyaan-pertanyaan ini menuntut jawaban serius, bukan sekadar retorika. Kesimpulan: Antara Hak dan Tanggung Jawab Demo massa adalah hak konstitusional yang harus dijaga. Namun, ketika ia berubah menjadi amuk, nilai demokrasi justru runtuh. Amuk yang berbaju demo massa hanya melahirkan luka sosial, kerugian ekonomi, dan citra negatif bangsa. Karena itu, perlu dipahami: demo bukanlah ruang melampiaskan emosi, melainkan ruang menyampaikan aspirasi dengan

Dorong Digitalisasi, Mahasiswa KKN-PPM UNWAHA 2025 Kembangkan Website Profil Desa Plosokerep

Jombang – Transformasi digital tidak hanya terjadi di kota besar, tetapi juga mulai menyentuh desa. Hal ini ditunjukkan oleh mahasiswa Kelompok 1 Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) yang mengembangkan Website Profil Desa Plosokerep, Senin (18/8/2025), di Kantor Desa Plosokerep. Salah satu anggota Bidang IT Kelompok 1, Samsudin mengungkapkan, dengan memanfaatkan framework Laravel, website ini memiliki keamanan yang lebih baik, performa optimal, serta fleksibilitas tinggi dalam pengembangan fitur. “Website ini dapat meningkatkan pelayanan publik, memperkuat identitas digital Desa Plosokerep, dan mendukung terwujudnya tata kelola pemerintahan desa yang lebih efektif dan transparan,” katanya. Kehadiran website resmi ini, diharapkan menjadi sarana resmi pemerintah desa dalam menyampaikan informasi publik, mempromosikan UMKM, hingga memperkenalkan sejarah dan potensi lokal secara luas. Kepala Desa Plosokerep, Syahbihan Alam Saputro, S.H., menyampaikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa Kelompok 1 KKN-PPM UNWAHA 2025 tersebut. “Penyerahan website ini merupakan bagian dari upaya kami untuk membawa Desa Plosokerep lebih dikenal di dunia maya. Dengan adanya website, masyarakat bisa lebih mudah mengakses informasi tentang desa, termasuk UMKM yang ada di sini,” ujarnya. Terpisah, Dosen Pendamping Lapangan Kelompok 1 KKN-PPM, Ibu Dyah Ayu Sri Hartanti, S.Si., M.Si., menyampaikan bahwa langkah ini menjadi bukti bahwa pengabdian mahasiswa tidak hanya berorientasi pada pendidikan, tetapi juga memberi dampak nyata bagi pembangunan desa. “Semoga website dan program pelatihan pendukung lainnya, dapat memberikan kebermanfaatan berkelanjutan bagi pemerintah desa serta masyarakat Desa Plosokerep,” harapnya. Red: Kelompok 1Editor: Ibrahim

KKN-PPM UNWAHA 2025 Sulap Limbah Kulit Semangka Jadi Mie Inovatif di Desa Sumobito

Jombang – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Tahun 2025 menghadirkan terobosan kreatif dengan memanfaatkan potensi lokal. Melalui program kerja Bidang Pertanian, Kelompok 15 KKN-PPM berhasil mengolah limbah kulit semangka (Citrullus lanatus) menjadi produk mie sehat bernilai ekonomi bersama warga Desa Sumobito. Program yang dilaksanakan pada Selasa (19/8/2025), di rumah Ketua RW, Ibu Kurotin, disambut antusias oleh warga Desa Sumobito, khususnya para ibu rumah tangga. Antusiasme itu terlihat dari partisipasi aktif mereka dalam setiap tahap kegiatan, mulai dari persiapan bahan, pembuatan adonan, hingga pengolahan mie siap konsumsi. Dosen Pendaming Lapangan Kelompok 15, ibu Ashlihah, SE, M.M, mengatakan bahwa program inovatif ini merupakan hasil analisa kebutuhan serta potensi masyarakat lokal di desa tersebut. Beliau juga menyampaikan pentingnya kolaborasi mahasiswa dengan masyarakat dalam setiap proses kegiatan. “Mahasiswa tidak hanya belajar, tetapi juga membersamai warga mulai dari sosialisasi, percobaan, hingga praktik langsung mengolah kulit semangka menjadi mie sehat,” ujarnya. Salah satu anggota tim Bidang Pertanian, Ragil Andri Setiawan menuturkan, program ini memiliki manfaat ganda. Selain mengurangi limbah organik, juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat pedesaan. “Kulit semangka yang biasanya dibuang, ternyata mengandung serat dan antioksidan yang baik. Jika diolah dengan benar, bisa menjadi mie sehat sekaligus menambah pemasukan keluarga,” ungkapnya. Adapun tim Bidang Pertanian Kelompok 15 KKN-PPM UNWAHA Tahun 2025 terdiri dari Fitrotul Khasanah (Pendidikan Biologi), Ragil Andri Setiawan (Agribisnis), Khabib Akbar (Manajemen), dan Anik Nur Fahriyati (Pendidikan Agama Islam). Respon positif datang dari warga yang mengikuti praktik pembuatan mie. Beberapa di antaranya bahkan berencana melanjutkan produksi secara mandiri setelah program KKN berakhir. Red: Fitrotul khasanahEditor: Ibrahim

Yudisium FE 2025: 82 Lulusan Resmi Dikukuhkan, Siap Hadapi Tantangan Indonesia Emas 2045

Jombang – Fakultas Ekonomi (FE) Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) resmi melaksanakan prosesi yudisium bagi 82 mahasiswa Program Studi S-1 Manajemen, Selasa (26/8/2025). Kegiatan yang berlangsung di Auditorium UNWAHA tersebut mengusung tema “Manifestasi Generasi Ekonomi Kreatif dan Inovatif Menuju Indonesia Emas 2045”. Dekan FE, Ita Rahmawati, S.E., M.Si., dalam sambutannya menekankan bahwa yudisium bukan sekadar agenda administratif, melainkan momentum bersejarah yang menandai awal perjalanan baru para lulusan. Menurut beliau, tantangan yang akan dihadapi generasi muda semakin kompleks di era revolusi industri 5.0, perkembangan kecerdasan buatan, serta dinamika ekonomi global. “Jagalah integritas, karena itu adalah modal yang paling berharga. Berani berinovasi, jangan takut gagal, dan jadikan ilmu yang diperoleh sebagai kebermanfaatan bagi masyarakat. Tunjukkan bahwa lulusan UNWAHA adalah pribadi unggul, beretika, dan siap memimpin,” imbuh Dekan FE tersebut. Senada dengan itu, Wakil Rektor Bidang Akademik, Ino Angga Putra, M.Pd., menyoroti tantangan bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045. Beliua menjelaskan, pemerintah telah melakukan berbagai penyesuaian, termasuk transformasi kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE), yang menekankan pada profil lulusan sesuai kebutuhan zaman. “Di Prodi Manajemen, profil lulusan diarahkan menjadi ekonom, entrepreneur, dan manajer yang berkualitas. Melalui uji kompetensi tahunan, mahasiswa dibekali keterampilan praktis sehingga mampu bersaing di dunia kerja. Jangan pernah berhenti belajar, sebab kehidupan tidak akan pernah berhenti mengajar,” kata Wakil Rektor Bidang Akademik itu. Sementara itu, salah satu perwakilan peserta yudisium, Famung Gangga juga menyampaikan apresiasi kepada dosen dan civitas akademika yang telah membimbing selama masa studi. Ia menegaskan komitmen seluruh lulusan untuk menjaga nama baik almamater serta memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat. Prosesi yudisium kemudian ditutup dengan momen salam perpisahan antara peserta yudisium dengan para dosen serta civitas akademika FE. Suasana berlangsung penuh keharuan, sekaligus menjadi penanda eratnya ikatan emosional antara mahasiswa dan para pendidik yang telah mendampingi mereka selama masa studi. Dokumentasi Yudisium FE 2025 Red: Ibrahim

UNWAHA Serahkan SK Jabatan Fungsional kepada 25 Dosen

Jombang – Setelah sebelumnya 25 dosen UNWAHA memperoleh persetujuan kenaikan jabatan fungsional akademik Gelombang I Tahun 2025, kini proses tersebut resmi ditindaklanjuti dengan penyerahan Surat Keputusan (SK), di ruang Rapat UNWAHA, Minggu (24/8/2025). SK diserahkan secara langsung oleh Rektor UNWAHA, Prof. Dr. Ir. H. Gatot Ciptadi, DESS, IPU, ASEAN Eng., didampingi Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Kerumahtanggaan, Prof. Dr. H. Abdul Kholid, M.Ag. Dalam kesempatan tersebut, Rektor menegaskan kembali bahwa penyerahan SK ini bukan sekadar formalitas administratif, melainkan bentuk pengakuan atas dedikasi dan prestasi akademik para dosen. “Dengan diterimanya SK jabatan fungsional ini, saya berharap Bapak-Ibu dosen dapat semakin termotivasi untuk meningkatkan kualitas tridharma perguruan tinggi. Kenaikan jabatan adalah amanah sekaligus tantangan baru untuk berkontribusi lebih besar bagi UNWAHA,” pesan Rektor. Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Kerumahtanggaan, Prof. Dr. H. Abdul Kholid, M.Ag., juga menyampaikan apresiasi dan dorongan agar para dosen dapat menjadikan momentum ini sebagai pijakan untuk menorehkan karya yang lebih luas, baik dalam bentuk publikasi ilmiah, riset kolaboratif, maupun pengabdian masyarakat yang berdampak nyata. Acara penyerahan SK berlangsung khidmat dengan dihadiri para dosen penerima SK serta jajaran pimpinan universitas. Para dosen yang menerima SK menyampaikan rasa syukur dan berkomitmen untuk terus mengembangkan diri, serta memperkuat reputasi akademik UNWAHA di tingkat regional maupun nasional. Momentum ini sekaligus menandai langkah penting universitas dalam mendorong penguatan sumber daya manusia (SDM) akademik yang berdaya saing, sejalan dengan visi UNWAHA untuk menjadi perguruan tinggi yang unggul dalam inovasi dan bertaraf internasional dengan berbasis nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

The 3 rd Announcement – Multidicipline International Conference 2025

Universitas KH. A. Wahab Hasbullah mengumumkan penyelenggaraan Multidiscipline International Conference 2025 yang akan dilaksanakan pada: 📅 Kamis, 13 November 2025📍 Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Hybrid Conference) ✨ Tema “Collaboration of Science and Technology for Sustainable Innovation Transformation” 📌 Fokus dan Ruang Lingkup Konferensi ini membuka peluang kontribusi artikel ilmiah dari berbagai disiplin ilmu, meliputi: 📚 Publikasi Artikel yang masuk akan melalui proses seleksi oleh panitia. Artikel terbaik akan diterbitkan di jurnal Sinta-accredited, sedangkan lainnya akan dipublikasikan dalam prosiding konferensi. Daftar Jurnal Tujuan Publikasi: 📅 Tanggal Penting