Author: Humas Unwaha
Apa yang Salah Dari Generasi Strawberry?
Jombang – Generasi muda merupakan generasi yang memiliki segudang perspektif baru, ide-ide inovatif, kreatif, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan saat ini. Sehingga generasi ini diharapkan menjadi agen perubahan demi kemajuan dan masa depan bangsa. Namun pada kenyataannya, generasi muda saat ini sangat rentan dengan berbagai tekanan, memiliki mentalitas rapuh, dan mudah menyerah . Sehingga tidak sedikit yang mengatakan bahwa generasi yang lahir di antara tahun 1990 an – 2010 an (bervariasi berdasarkan sumber) merupakan generasi yang lembek. Maka timbullah sebutan “Generasi Strawberry”. Layaknya buah strawberry yang memiliki tampilan indah dan menyegarkan, namun buah ini mudah rusak dan lembek. Begitu juga stereotip terhadap generasi muda saat ini, memiliki segudang inovasi dan tingkat kreativitas tinggi, namun rentan terhadap tekanan. Menyikapi kondisi ini, salah satu dosen Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha Jombang) memberikan pandangannya. Rina Dian Rahmawati, M.Pd.I., yang merupakan dosen Pendidikan Bahasa Arab (PBA) sedikit menyinggung apa yang salah dari generasi strawberry tersebut, dan bagaimana pandangan berdasarkan kacamata pendidikan. Rina, sapaan akrabnya, mengungkapkan bahwa generasi strawberry ini merupakan generasi yang harus diperhatikan. Pasalnya, banyak dari kasus-kasus kekerasan dan bunuh diri di dominasi oleh kalangan remaja. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun, selama 1 dekade terakhir tercatat ada 2.112 kasus bunuh diri di Indonesia, dan sebanyak 985 kasus (46 persen) dilakukan oleh anak muda (sumber, Kompas.com). Indonesia berada di posisi keempat dengan tingkat kasus bunuh diri tertinggi di Asia Tenggara dengan jumlah 6.2 (per 100.000 populasi), (Sumber, Kemenkes RI Dirjen Pelayanan Kesehatan). “Generasi sekarang ini memang berani-berani (dalam melakukan hal negatif seperti bunuh diri) atau istilahnya bondo nekat. Banyak dari keberanian untuk bertindak sedemikian memang disebabkan oleh depresi,” kata Rina. Kaprodi PBA ini juga menjelaskan, sebagaimana yang dimaksudkan untuk generasi strawberry, anak muda sekarang cenderung memiliki karakteristik yang dapat mempengaruhi kesehatan mental. “Mereka memang rentan terhadap gangguan mental. Banyak kondisi yang bisa menjadi penyebab, seperti lingkungan sosialnya, pendidikan, bahkan mungkin keluarga,” imbuhnya. Pendidikan Karakter Kaprodi PBA ini juga mengatakan, pokok permasalahan dan penyebab terjadinya fenomena di atas adalah kurangnya pendidikan karakter. “Secara mentalitas dan kepribadian, generasi muda saat ini sudah terbentuk berani bertindak. Tapi semua itu tidak didasari oleh moral yang kuat,” jelas Rina. Ia juga memberikan beberapa kasus percontohan yang disaksikannya sendiri mengenai kemerosotan nilai moral yang terjadi pada generasi strawberry ini. Salah satunya yaitu disebabkan oleh gaya hidup masyarakat yang lebih nyaman dengan penggunaan teknologi. “Di era perkembangan teknologi yang modern ini, kita sebagai orang tua bahkan sebagai pendidik sedikit kecolongan dan tidak bisa mengkontrol. Informasi saat ini dapat menyebar dengan cepat, apa-apa dapat diperoleh dengan instan. Sehingga dampak negatifnya kepada tingkat emosional dan moral yang kurang,” katanya. Berdasarkan landskap pendidikan, degradasi moral ini dapat ditekan dengan pendidikan karakter. Menurut Rina, pendidikan ini sangat penting untuk membentuk moral anak muda di masa depan. “Pendidikan moral atau karakter itu harus disisipi di setiap proses pembelajaran. Tidak hanya di lingkungan kampus saja, melainkan sejak pendidikan dasar, anak-anak kita ini mendapatkannya,” ujar Kaprodi PBA ini. Terlebih pendidikan karakter yang diberikan oleh orang tua. Menurutnya, orang tua memiliki peranan yang sangat penting dalam membentuk moral anak. Dengan demikian, jika moralitas anak muda sudah bagus maka tidak ada lagi sebutan “Generasi Strawberry”. “Sebagai orang tua, kita menjadi pendengar yang baik dan mampu berdialog dengan baik. Sehingga anak-anak kita ini memiliki rasa saling menghormati, menerima perbedaan dan memikirkan dampak yang ditimbulkan akibat perbuatan masing-masing,” pungkasnya. Red : Ibrahim Editor : Septian Ragil **) Ikuti konten kreatif terbaru Unwaha Jombang di Instagram klik link ini dan jangan lupa follow.
Kuliah Perdana Pascasarjana: Pendidik Harus Mampu Melakukan Transformasi Digital
Jombang – Kemajuan teknologi saat ini tak ubahnya berkembang begitu pesat. Di era yang terus bertransformasi, tentu berdampak pada pandangan kita dalam memainkan peran di berbagai aspek kehidupan, mengolah informasi, berinteraksi, hingga pada proses pendidikan. Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Keuangan & Kerumahtanggaan, Prof. Dr. H. Abdul Kholid, M. Ag., saat mengisi perkuliahan Program Pascasarjana Pendidikan Agama Islam (PAI), di Ruang Perkuliahan Pasca, Selasa (24/3/2024). Beliau menyampaikan, dunia pendidikan harus siap dalam menghadapi kemajuan teknologi saat ini. Dengan kemajuan ini, akses informasi dapat dengan mudah didapatkan, begitu juga informasi yang digunakan untuk proses pendidikan. “Mustinya kita sebagai pendidik harus menerima dengan antusias perubahan itu. Kita harus memiliki kesadaran untuk terus meng-upgrade wawasan keilmuan yang kita miliki saat ini,” ujar Prof. Abdul Kholid. Tingkat aksesibilitas yang tinggi ini, menjadi peluang bagi para pendidik di masa yang akan datang. Hal ini terbukti ketika pada tahun-tahun sebelumnya, saat dunia dilanda krisis pandemi, sehingga ranah pendidikan pun ikut terdampak. “Saat pandemi, proses belajar-mengajar ikut terdampak. Pembelajaran dialihkan dari metode luring menjadi daring. Buktinya kita bisa menghadapi transisi itu,” imbuhnya. Manfaatkan Media dalam Transformasi Digital Pendidikan Gus Kholid sapaan akrabnya membeberkan, proses belajar-mengajar dengan menggunakan media teknologi tersebut merupakan salah satu transformasi digital dalam dunia pendidikan. “Saat ini, dengan kemajuan teknologi, kita tidak perlu lagi memberikan materi kepada siswa maupun mahasiswa dengan metode yang begitu-begitu saja. Tapi harus dibumbui dengan inovasi, teknologi informasi, agar apa? agar anak didik itu memiliki semangat belajar dan lain sebagainya,” kata Gus Kholid. Selain mudahnya akses, dengan digitalisasi ini maka proses belajar mengajar dapat dilakukan di mana pun dan kapan pun. Menurut Gus Kholid, ini merupakan suatu hal yang dapat diterapkan di segala jenjang pendidikan. “Kita juga tekankan kepada bapak-ibu mahasiswa Pasca ini untuk memanfaatkan media yang ada. Seperti kanal YouTube, dan berbagai platform media sosial lainnya. Sehingga kita dapat memberikan bahan ajar ke anak didik kita lebih flesibel,” terangnya. Di akhir perkulihan, Gus Kholid berharap agar para mahasiswa Pasca Unwaha Jombang ini dapat menjadi pendidik yang melek teknologi. Tidak hanya itu, beliau juga memberikan arahan agar para mahasiswa bisa produktif dengan berbagai macam karya ilmiahnya. “Pendidikan saat ini dan dulu tentu jauh berbeda, maka dari itu jika bapak-ibu sudah lulus S2 nanti, maka metodenya juga harus berbeda. Baik itu pengetahuannya, sumber-sumber yang dijadikan bahan ajar, metodenya, kemudian sikapnya, bagaimana cara mengajak anak didik kita berpikir,” pesan Wakil Rektor Bidang Keuangan & Kerumahtanggan tersebut. Sebagai pembuka di perkuliahan Program Pascasarjana PAI Unwaha Jombang, Gus Kholid sebagai dosen Pengampu mata kuliah Al-Quran dan Hadist melakukan brainstorming untuk proses perkuliahan-perkuliahan selanjutnya. Red : Ibrahim Editor : Septian Ragil **) Ikuti konten kreatif terbaru Unwaha Jombang di Instagram klik link ini dan jangan lupa follow.
Pererat Tali Silaturahmi Lintas Angkatan, HMP PAI Gelar Talkshow dan Buka Bersama
Jombang – Himpunan Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam (HMP PAI) Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang menggelar kegiatan Talkshow dan buka bersama di Aula Gedung F Unwaha Jombang, Sabtu (24/3/2024). Kegiatan Talkshow dan buka bersama yang diselenggarakan HMP PAI ini merupakan sarana silaturahmi antar mahasiswa PAI lintas angkatan. Pada kesempatan ini juga turut dihadiri Ketua Prodi (Kaprodi) PAI, Dr. Didin Sirodjudin, M.Pd.I., Dekan Fakultas Agama Islam, Drs. Waslah, M.Pd.I. dan juga para dosen. “Tujuannya untuk mempererat ukhuwah antara mahasiswa PAI Unwaha Jombang. Biar semua mahasiswa ini saling kenal, adik tingkat dengan kakak tingkatnya, begitu sebaliknya. Jadi ini ajang silaturahmi yang telah difasilitasi oleh HMP PAI,” ujar Kaprodi PAI tersebut. Kegiatan Talkshow ini menghadirkan narasumber tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yaitu Pimpinan Aswaja Center Jawa Timur, Dr. Yusuf Suharto, M.Pd.I yang menjelaskan wawasan ke-Aswajaan. Selanjutnya, kegiatan ditutup dengan buka bersama. “Kita undang beliau untuk mengisi tentang Aswaja, bagaimana kita harus bermadzhab dan seterusnya. Sehingga mahasiswa Unwaha ini khususnya mahasiswa PAI diharapkan dapat meneruskan nilai-nilai yang diperjuangkan para Muassis NU, khususnya KH. A. Wahab Hasbullah,” imbuh Dr. Didin Sirodjudin. Red : Ibrahim Editor : Septian Ragil **) Ikuti konten kreatif terbaru Unwaha Jombang di Instagram klik link ini dan jangan lupa follow.
Tebar Kebaikan, HMP-SI Gandeng HIMA-TLM ITSKes ICME Jombang Bagi-Bagi Takjil
Jombang – Di momentum bulan yang penuh berkah ini, seluruh umat muslim berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan. Tak terkecuali Himpunan Mahasiswa Prodi Sistem Informasi (HMP-SI) Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang. HMP-SI Unwaha Jombang berkolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa Teknologi Laboratorium Medis Institut Teknologi dan Kesehatan Insan Cendekia Medika (HIMA TLM ITSKes ICME) Jombang melaksanakan kegiatan berbagi takjil, Sabtu (23/3/2024). Kegiatan ini digelar di dua titik, yaitu di Jl. KH. Wahid Hasyim tepatnya di sekitar Lapas Kelas IIB Jombang. Kedua, berlokasi di simpang empat Jl. Brigjen Kretarto, atau yang lebih dikenal Perempatan Sambong. “Tujuan kegitan bagi-bagi takjil ini adalah untuk menumbuhkan kebaikan dan menebarkan rahmat kepada sesama. Terutama kepada masyarakat yang masih beraktivitas di jalan menjelang berbuka puasa,” ucap Ketua HMP-SI, A’tini Hidayatika. Tidak hanya itu, kegiatan berbagi takjil ini juga bertujuan untuk menjalin relasi dengan organisasi kemahasiswaan lintas kampus. Dalam hal ini yaitu HIMA-TLM ITSKes ICME Jombang. “Kita juga perlu memperluas relasi dengan pihak-pihak eksternal. Harapannya yaitu dapat berkolaborasi dan melakukan program-program yang memiliki kebermanfaatan nantinya,” kata A’tini sapaan akrabnya. Red : Ibrahim Editor : Septian Ragil **) Ikuti konten kreatif terbaru Unwaha Jombang di Instagram klik link ini dan jangan lupa follow.
Ramadan in Campus 2024: Pentingnya Bersedekah
Jombang – Sedekah merupakan ibadah yang memiliki nilai pahala besar. Secara esensi, amalan sedekah mencakup hubungan dengan sang Pencipta (hablumminallah) dan sesama makhluk-Nya (hablumminannas). Begitulah yang disampaikan oleh Dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Agama Islam (PAI), Muhammad Fodhil, S.Pd.I., M.Pd. dalam kuliah ramadan kali ini yang dilaksanakan di Masjid Al-Haromain, Kamis (21/3/2024). “Sedekah memiliki peranan yang paling penting. Amalan ini juga termasuk ibadah yang dicintai Allah SWT,” seru Fodhil mengawali kuliahnya. Ia juga menyampaikan beberapa hikmah dan keutamaan bersedekah. Menurutnya, bersedakah tidak bertujuan untuk kepentingan diri sendiri (di sisi ibadah). Melainkan juga memiliki kebermanfaatan bagi sesama. “Manfaat dari bersedekah ini bermacam-macam, baik di dalam dunia maupun di akhirat nanti. Yang jelas, manfaat duniawinya tentu dirasakan oleh saudara-saudara kita yang membutuhkan. Sedekah ini juga menjadi amal yang terus mengalir (jariyah) hingga nanti di akhirat,” terang dosen PAI tersebut. Lanjut Fodhil, bersedekah tidak dibatasi oleh seberapa besar dan kapan. Sebab bersedekah merupakan salah satu amalan yang berat untuk dilakukan. “Bersedekah itu berat, tidak semua bisa melakukannya, sekalipun mereka yang kaya raya. Karena ibadah ini memerlukan keikhlasan dan tanpa adanya paksaan,” pungkasnya. Red : Ibrahim Editor : Septian Ragil **) Ikuti konten kreatif terbaru Unwaha Jombang di Instagram klik link ini dan jangan lupa follow.
Marak Praktik Kekerasan di Lingkungan Pesantren: Begini Tanggapan Ketua Umum YPPBU Tambakberas
Jombang – Akhir-akhir ini kasus perundungan (bullying) di kalangan pemuda marak terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Perundungan yang mengakibatkan terjadinya praktik kekerasan ini dapat terjadi di mana saja, seperti di lingkungan bermain, sekolah bahkan di lingkungan pondok pesantren. Selama lima tahun terakhir, setidaknya sebanyak 10 kasus kekerasan di lingkungan pesantren yang mencuat di permukaan publik. Terakhir yaitu di salah satu pesantren di Jawa Timur tepatnya di Kabupaten Kediri yang menyebabkan hilangnya nyawa santri yang menjadi korban perundang (sumber: CNN Indonesia). Kondisi demikian, membuat pandangan terhadap kehidupan pesantren kini dikenal sangat mengerikan. Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum (YPPBU) Tambakberas Jombang, Dr. H. M. Wafiyul Ahdi, M.Pd.I mengungkapkan pandangannya menanggapi fenomena tersebut. Apa penyebab terjadinya praktik kekerasan di lingkungan pesantren?, mengapa kasus ini terus bermunculan? lantas bagaimana solusinya?. Kekerasan Simbolik di Lingkungan Pesantren. Menurut Ketua Umum YPPBU tersebut, kekerasan yang akhir-akhir ini viral di berbagai media, layaknya fenomena gunung es. Pasalnya, penyebab terjadinya perundungan di kalangan santri dapat terjadi kapanpun dan di manapun. Kendati demikian, beliau sangat menyayangkan atas maraknya kekerasan yang terjadi hingga kini. “Fenomena ini menjadi keprihatinan kita, yang jelas itu bukan sesuatu yang kita harapkan bersama. Sebenarnya kultur pesantren yang penghuninya selalu berkumpul, itu memang berpotensi terjadi kesalah pahaman antar sesama,” kata Ketua Umum YPPBU tersebut saat ditemui, Minggu (17/3/2024). Pria yang akrab disapa Gus Wafi ini juga menjelaskan, kesalah pahaman atau ketidak cocokan tersebut menjadi akar permasalahan kekerasan di kalangan santri. Sehingga tidak jarang kesalah pahaman lantas diekspresikan ke dalam bentuk sikap kekerasan atau perundungan. Secara terminologi, kekerasan merupakan perbuatan seseorang/kelompok yang menyebabkan cedera, mati, cacat fisik atau barang orang lain. Kekeerasan yang muncul di pesantren juga dapat terjadi di kalangan antar santri, pengurus dengan santri bahkan guru atau pengasuh dengan santri. Beragam macam kekerasan juga bisa terjadi di pesantren, baik yang nyata maupun laten, baik disadari maupun tidak. “Yang sangat berbahaya ini adalah kekerasan yang bersifat laten. Yaitu pelaku bahkan korban pun tidak menyadari,” lanjut Gus Wafi. Realitas kekerasan ini sulit terdeteksi, kondisi tersebut beroperasi di bawah ketidaksadaran pelaku maupun korban sehingga bersifat nirsadar. Meminjam istilah yang dikemukakan oleh sosiolog, filsuf kritis asal Prancis, Pierre Bourdieu (1994) yaitu kekerasan simbolik. Prinsip simbolis sendiri diakibatkan adanya pihak dominan yang menguasai dan pihak sub-dominan yang dikuasasi. Prinsip ini menyerang dan menentukan cara berpikir, melihat, merasakan, dan bertindak suatu individu (Haryatmoko, 2007). Seperti yang dijelaskan oleh Gus Wafi sebelumnya, jika kekerasan bisa terjadi antar individu di pesantren berdasarkan jenisnya (pengasuh, pengurus, dan santri). Hal ini senada dengan teori yang diusulkan oleh Bourdieu tersebut, yaitu kekerasan simbolik mencul dari adanya struktur kelas dalam kelompok masyarakat, dalam hal ini yaitu lingkungan pesantren. Sehingga mengakibatkan adanya perbedaan, pemisahan, ketidaksamaan, ketidaksetaraan atau ketidakseimbangan (William & Thimoty, 2004). “Terlebih santri-santri saat ini yaitu mereka yang bisa saya katakan gen-Z. Bahwasanya perubahan sosial masyarakat yang keras seperti ini ternyata juga mempengaruhi input pesantren. Santri yang masuk itu sudah terbawa suasana lingkungan masyarakat yang seperti itu (disrupsi moralitas),” ujarnya. Tekan Angka Kekerasan di Lingkungan pesantren Pria yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang ini juga mengungkapkan bahwa untuk menekan angka kekerasan di lingkungan pesantren dapat dilakukan dengan dua cara. Yaitu upaya preventif dan represif. “Upaya preventif kita lakukan edukasi secara persuasif mengenai pencegahan kekerasan dan bahaya-bahayanya. Santri bisa menjadi pelopor di ranah itu. Selain pelopor, mereka juga bisa menjadi pelapor,” lanjutnya. Tidak kalah penting dari edukasi, keberanian santri untuk melaporkan tindak kekerasan yang terjadi di lingkungan mereka adalah suatu modal utama dalam menekan angka kekerasan di pesantren. “Sehingga dengan adanya laporan ini, kami dari pengasuh atau pengurus bisa segera menangani hal tersebut. Harapannya yaitu agar tidak sampai timbul korban yang mengalami traumatik dan cidera parah,” tutur Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan ini. Kedua yaitu upaya represif, dengan upaya ini beliau mengungkapkan, manakala kekerasan tersebut kepalang terjadi maka perlu penindakan yang tegas bagi pelaku dan pendampingan bagi korban. Ini dilakukan agar kejadian serupa di masa yang akan datang tidak terjadi lagi. “Kita selesaikan kasus itu dengan baik-baik, dan kita komunikasikan langsung dengan keluarga yang bersangkutan. Ketika nanti hingga parah maka satu-satunya jalur yaitu menempuh jalur hukum. Hal ini bertujuan agar semuanya merasa nyaman dan bisa terselesaikan,” katanya. Berdasarkan pengakuannya, di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang sendiri kedua upaya tersebut sudah diterapkan. ”Intinya tidak ada ruang bagi para pelaku kekerasan, bullying, pelecehan di lingkungan Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas,” tegasnya. Referensi: E. Deal, William dan Timothy K. Beal. 2004. Theory for Religious Studies, New York, London: Routledge Classics. Haryatmoko. 2007. Etika Komunikasi: Manipulasi Media, Kekerasan dan Pornografi, Yogyakarta: Kanisius. Red : Ibrahim Editor : Septian Ragil **) Ikuti konten kreatif terbaru Unwaha Jombang di Instagram klik link ini dan jangan lupa follow.
Ramadan in Campus 2024: Tujuh Amalan Penyebab Malaikat Jibril Ingin Menjadi Manusia
Jombang – Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang mulia dibandingkan makhluk lainnya. Manusia diciptkan dan diberikan berbagai kelebihan seperti akal, panca indera dan hati nurani. Dengan berbagai macam anugerah itu, hidup manusia tidak ada yang sia-sia. Tergantung bagaimana manusia itu sendiri yang merupakan seorang hamba dapat menggunakan dan memelihara anugerah tersebut. Begitulah kira-kira pengantar yang diberikan oleh Muhammad Fodhil, S.Pd.I., M.Pd. dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Agama Islam (PAI) Unwaha Jombang dalam menyampaikan kuliah ramadan di Masjid Al-Haromain, Rabu (20/3/2024). Di dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW pernah berkata kepada Sahabat Ali bin Abi Thalib. يَا عَلِيُّ، تَمَنَّى جِبْرِيْلُ أَنْ يَكُوْنَ مِنْ بَنِيْ آدَمَ لِسَبْعِ خِصَالٍ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ مَعَ الْإِمَامِ وَمُجَالَسَةِ الْعُلَمَاءِ وَعِيَادَةِ الْمَرِيْضِ وَتَشْيِيْعِ الْجَنَازَةِ وَسَقْيِ الْمَاءِ وَالصُّلْحِ بَيْنَ الْإِثْنَيْنِ وَإِكْرَامِ الْجَارِ وَالْيَتِيْمِ فَاحْرِصْ عَلَى ذَلِكَ Berdasarkan riwayat ini, Muhammad Fodhil menjelaskan, malaikat Jibril pada suatu hari pernah berharap untuk menjadi manusia (anak adam) dan umat Nabi Muhammad SAW. Keinginan Jibril tersebut, disebabkan dengan adanya tujuh amalan yang sering dilakukan manusia. “Pertama adalah salat berjamaah, fadilah salat berjamaah ini sudah kita ketahui bersama yaitu lebih utama dua puluh tujuh derajat dibandingkan salat sendirian,” ungkap dosen prodi PAI tersebut. Amalan kedua, yaitu bermujalasah dengan para ulama. Menurutnya bercengkerama dengan para ulama ini merupakan suatu amalan yang sangat mulia. Ini dikarenakan seorang ulama memiliki keistimewaan baik di hadapan manusia maupun di hadapan sang Pencipta. Sebagaimana yang pernah disabdakan oleh sahabat Ibnu Abbas. “Para ulama mempunyai derajat yang lebih tinggi daripada orang-orang mukmin pada umumnya dengan selisih 700 derajat dan di antara dua derajat terpaut selisih 500 tahun.” Amalan selanjutnya yang membuat Jibril ingin menjadi umat Nabi Muhammad yaitu menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, memberi minum kepada orang lain. Selanjutnya mendamaikan dua orang yang sedang berselisih, kemudian memuliakan tetangga dan menjaga anak yatim. “Inilah beberapa keistimewan yang dimiliki oleh manusia, dimiliki oleh umat Nabi Muhammad SAW. Sampai-sampai Malaikat Jibril berharap untuk menjadi manusia,” tuturnya. Muhammad Fodhil juga menjelaskan kepada para mahasiswa tentang keutamaan dan hikmah masing-masing ketujuh poin tersebut. Salah satunya yaitu bercengkerama dengan para ulama. Menurutnya, dalam poin ini dapat juga diartikan dengan menuntut ilmu. “Kita ini jangan sampai putus belajar, belajar ilmu apapun itu tidak hanya tentang agama. Karena Allah SWT menciptakan kita dengan berbeda-beda dan kelebihan berbeda-beda. Lalu kita harus saling melengkapi itu, dan inilah makanya ada Hadis yang berbunyi, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain,” pesannya. Red : Ibrahim Editor : Septian Ragil **) Ikuti konten kreatif terbaru Unwaha Jombang di Instagram klik link ini dan jangan lupa follow.
Pengumuman Perubahan Jadwal Pelaksanaan UTS (Semester Genap) dan Libur Hari Raya Idul Fitri 2024
Berikut pengumuman mengenai perubahan jadwal pelaksanaan Ujian Tengah Semester (UTS) dan Libur Hari Raya Idul Fitri Tahun 2024: [pdfjs-viewer url=”https://unwaha.ac.id/wp-content/uploads/2024/03/PENGUMUMAN_PELAKSANAAN_UTS_GENAP__2023_2024_dan_Pengumuman_Libur_Hari_Raya_Iduo_Fitri_1445_H1.pdf” attachment_id=”3873″ viewer_width=100% viewer_height=800px fullscreen=false download=true print=true] Download file pengumuman, klik di sini Red : Ibrahim Editor : Septian Ragil **) Ikuti konten kreatif terbaru Unwaha Jombang di Instagram klik link ini dan jangan lupa follow.
Ramadan in Campus 2024: Salat Malam dalam Bulan Ramadan
Jombang – Suasana perkuliahan di Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang saat Ramadan berjalan dengan tenang. Masih sama dengan hari-hari sebelumnya, yaitu Ramadan in Campus yang secara rutin dilaksanakan di Masjid Al-Haromain. Kali ini, Selasa (19/3/2024) yang bertugas untuk mengisi Kuliah Ramadan yaitu Dr. M. Dzikrul Hakim Al Ghozali, M.Pd.I. Adapun materi yang beliau bawa yaitu mengenai Salat Malam dalam Bulan Ramadan. Landasan Hukum Dzikrul Hakim mengungkapkan, mengerjakan salat malam di bulan Ramadan (Tarawih dan Witir), hukumnya sunnah muakkad (sunnah yang sangat dianjurkan, red). Baik dikerjakan secara berjamaah atau sendiri-sendiri. “Waktunya dikerjakan sesudah salat Isya sampai akhir malam. Salat malam bulan Ramadan dinamai Salat Tarawih. Diambil dari kata “Tarwihah” yang artinya rileks atau bersenang-senang. Sebagaimana hadis sahih yang diriwayatkan oleh Bukhari:36 dan Muslim;1267. teks hadis riwayat Al-Bukhari: Rasulullah s.a.w menganjurkan agar mengerjakan salat malam pada bulan Ramadan, akan tetapi tidak mewajibkannya. Beliau berdabda “siapa yang mengerjakan salat malam pada bulan Ramadan dengan iman dan ikhlas, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu,”. Tata Cara Beliau juga mengungkapkan cara-cara dalam mengerjakan salat tarawh. Dalam penjelasannya, yaitu mengenai tata cara dan jumlah rakaat berdasarkan hadis yang banyak dijumpai dari berbagai riwayat. Adapun tata caranya yaitu seperti mengerjakan salat-salat malam lainnya. Di mana setiap dua rakaat satu salam dan kemudian ditutup dengan salat witir. “Banyak dijumpai riwayat yang menjelaskan mengenai bilangan-bilangan rakaat yang harus dilakukan. Perbedaaan pendapat yang ada di masyarakat saat ini semuanya benar, sudah berdasarkan sunnah,” imbuhnya. Meniru Sifat Salat Nabi Kendati jumlah rakaat yang dilaksanakan berbeda-beda, yang perlu digaris bawahi yaitu tiga sifat salat nabi. Menurutnya, ketiga sifat ini perlu dilakukan untuk mendapatkan pahala salat tarawih secara utuh dan salat yang telah kita laksanakan tidak sia-sia. “Sifat pertama adalah rileks atau istirahat sejenak, sebagaimana arti secara filosofis salat tarawih itu sendiri. Kedua adalah memperbanyak ayat bacaan saat salat, dan ketiga adalah pelaksanaannya dilakukan dengan tidak adanya paksaan dan (niat) bermuhasabah diri,” ucapnya. Terakhir, beliau berpesan kepada mahasiswa untuk mengamalkan sifat-sifat salat nabi tersebut. “Ini sebagai bekal kita masing-masing, bagaimana kita mengetahui tentang keutamaan sunnah di bulan Ramadan ini serta dapat mengamalkannya,” pesannya. Red : Ibrahim Editor : Septian Ragil **) Ikuti konten kreatif terbaru Unwaha Jombang di Instagram klik link ini dan jangan lupa follow
Ramadan in Campus 2024: Hikmah di Balik Tiga Fase Ramadan
Jombang – ‘Ramadan in Campus’ Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang di Masjid Al-Haromain, Senin (18/3/2024) disampaikan oleh H. Mochammad Syafiuddin Shobirin, M.Pd.I. Dalam kuliah Ramadan kali ini, beliau menyampaikan tiga fase di bulan suci Ramadan dan keutamaannya. Gus Din sapaan akrabnya, menyampaikan beberapa keutamaan dan hikmah dari masing-masing ketiga fase tersebut. Tiga fase itu adalah 10 hari pertama, 10 hari kedua, dan 10 hari terakhir di bulan Ramadan. “Fase pertama adalah fase rahmat. Rahmat itu adalah belas kasih, kasih sayang, karunia dari Allah SWT. Jika kita ingin memperoleh kasih sayang lebih dari Allah SWT, maka beribadah dan bertakwalah kepada-Nya,” seru dosen Fakultas Pertanian tersebut. Menurutnya, sebagaimana yang telah di firmankan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah 183, yang berbunyi: يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا كُتِبَ عَلَيۡکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَۙ Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman. Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”. Kemudian, beliau mengutip dari kitab Bidayatul Hidayah karangan Imam Al-Ghazali mengenai ciri orang yang bertambah tingkat ketaqwaannya. “Yaitu sesorang yang bisa ngempet (mempertahankan, red) nafsu untuk kepentingan diri sendiri. Namun lebih mementingkan keperluan orang lain,” ujarnya. Lanjut Gus Din, fase kedua adalah fase maghfirah (ampunan, red). Pintu ampunan pada 10 hari kedua di bulan Ramadan akan dibukakan seluas-luasnya. “10 hari ketiga di bulan Ramadan adalah fase yang disebut sebagai itqun minan nar (terbebas dari neraka, red). Fase ini merupakan akhir di bulan Ramadan, hendaknya untuk menutup Ramadan dengan memperbanyak amalan-amalan baik,” lanjutnya. Di akhir, beliau berharap agar senantiasa memanfaatkan segala keutamaan dan hikmah tersebut dengan memperbanyak amal-amal baik. Seperti bersedekah, memperbanyak membaca Al-Quran, berdzikir, dan melakukan kesunahan lainnya. Red : Ibrahim Editor : Septian Ragil **) Ikuti konten kreatif terbaru Unwaha Jombang di Instagram klik link ini dan jangan lupa follow