Skip to main content

Universitas KH. A. Wahab Hasbullah

Category: Berita

Mahasiswa KKN-PKM UNWAHA Dorong Kreativitas Siswa SDN Kademangan I melalui Pemanfaatan Barang Bekas

Jombang – Dalam rangka mendorong peningkatan kreativitas dan kepedulian lingkungan, mahasiswa KKN-PPM Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang menggelar kegiatan pemanfaatan barang bekas sebagai media pembelajaran, di SDN Kademangan 1, Kecamatan Mojoagung, (3/8/2026). Kegiatan yang mengusung tema “Meningkatkan kreativitas peserta didik melalui pemanfaatan barang bekas di SDN 1 Kademangan” merupakan salah satu program pengabdian di bidang pendidikan. Program tersebut dilatarbelakangi oleh pentingnya pengembangan kreativitas bagi peserta didik sejak dini. Selain kemampuan akademik, siswa perlu dibekali keterampilan, sikap peduli lingkungan, kemampuan bekerja sama, serta kemampuan menemukan solusi kreatif terhadap berbagai permasalahan di sekitarnya. Dalam pelaksanaannya, tim mengenalkan kepada peserta didik bahwa barang bekas tidak selalu harus berakhir sebagai sampah. Berbagai bahan seperti tutup botol, kardus, kertas, kain perca, botol plastik, dan bahan bekas lainnya dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk yang menarik dan memiliki fungsi baru. Salah satu kegiatan utama yang dilakukan adalah pembuatan gantungan kunci dari barang bekas. Dalam kegiatan tersebut, peserta diberikan kesempatan untuk menentukan bentuk, warna, ukuran, dan hiasan sesuai dengan kreativitas masing-masing. Kegiatan ini dirancang agar peserta tidak hanya menerima materi secara teori, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dalam mengolah barang bekas menjadi produk baru. Selain pembuatan kerajinan, tim juga mengenalkan Bank sampah berbahan galon bekas sebagai media untuk mengajarkan pemilahan dan pengelolaan sampah. Galon bekas yang sebelumnya tidak digunakan dimanfaatkan menjadi tempat sampah sehingga dapat menjadi contoh sederhana penerapan kepedulian terhadap lingkungan di sekolah. Kegiatan sosialisasi dan praktik dilaksanakan secara tatap muka. Tim memperkenalkan media pembelajaran pengolahan barang bekas sekaligus memberikan pemahaman mengenai cara memilah dan mengelola sampah dengan baik melalui bank sampah yang telah disiapkan. Kegiatan ini disambut antusias oleh peserta didik dan para guru. Berdasarkan evaluasi program, peserta didik menunjukkan keterlibatan aktif mulai dari pengumpulan barang bekas hingga proses pembuatan produk. Selain itu, kegiatan ini memberikan pengalaman bagi peserta didik dalam hal pentingnya mengolah dan mengurangi sampah. Kesadaran untuk memilah sampah dan tidak membuang barang bekas secara sembarangan menjadi salah satu dampak positif yang diharapkan dapat terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dari sisi pendidik, kegiatan ini memberikan tambahan wawasan mengenai penggunaan media pembelajaran berbasis lingkungan. Guru memperoleh inspirasi untuk memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di sekitar sebagai media pembelajaran yang sederhana, kreatif, dan tidak harus membutuhkan biaya besar. Tim KKN-PKM berharap kegiatan tersebut tidak berhenti setelah program selesai. Pemanfaatan barang bekas dan pengelolaan sampah dapat dikembangkan menjadi kegiatan rutin sekolah. Hasil karya peserta didik juga dapat dipamerkan di lingkungan sekolah untuk meningkatkan motivasi mereka agar terus berkarya sekaligus menjaga kebersihan lingkungan. Melalui kegiatan tersebut, pemanfaatan barang bekas tidak hanya menjadi solusi sederhana dalam mengurangi sampah, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran yang dapat menumbuhkan kreativitas, kemandirian, kerja sama, tanggung jawab, serta kepedulian peserta didik terhadap lingkungan. Program ini sekaligus menunjukkan bahwa pembelajaran yang kreatif dan inovatif dapat dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya sederhana yang tersedia di sekitar sekolah. Red: KKN-PKM KademanganEditor: Ibrahim

Di Desa Kedungbetik, Mahasiswa KKN Edukasi Warga Olah Sampah Organik Jadi Pupuk Cair

Jombang – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 21 Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) menggelar edukasi pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) sekaligus pembagian bibit tanaman kepada masyarakat Desa Kedungbetik, Kecamatan Kesamben, Kamis (6/8/2026). Kegiatan berlangsung di kediaman Bapak Putra, Ketua Kelompok Tani, Dusun Dero. Di bawah bimbingan dosen lapangan, Moh. Faridl Darmawan, S.P., M.Si., program tersebut melibatkan kelompok tani dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Kegiatan diarahkan untuk mengenalkan pemanfaatan sampah organik menjadi pupuk yang dapat digunakan dalam kegiatan pertanian sehari-hari. Dorong Pertanian Lebih Berkelanjutan Melalui penyuluhan dan sosialisasi, mahasiswa KKN memberikan pemahaman mengenai manfaat POC, bahan yang diperlukan, tahapan pembuatan, hingga cara pengaplikasiannya pada tanaman. Pemanfaatan bahan organik tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat mengurangi ketergantungan terhadap pupuk berbahan kimia sekaligus menekan penumpukan sampah organik di lingkungan. Program ini juga dilengkapi dengan pembagian bibit tanaman sebagai upaya mendorong penghijauan serta praktik pemanfaatan POC secara berkelanjutan. Ketua Kelompok Tani, Bapak Putra, mengapresiasi edukasi yang diberikan mahasiswa. Menurutnya, pengolahan sampah menjadi pupuk dapat memberikan manfaat secara langsung bagi masyarakat. “Program ini sangat membantu dalam memahami cara mengolah sampah organik menjadi Pupuk Organik Cair. Selain dapat mengurangi sampah, POC juga bisa dimanfaatkan untuk tanaman sehingga membantu menghemat biaya pembelian pupuk,” ujarnya. Penulis: Mohammad Azwar HanafiEditor: Ibrahim

Mahasiswa KKN di Desa Klitih Berdayakan Warga melalui Paving Block dari Limbah Plastik

Jombang – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 27 Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) melaksanakan program pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan limbah plastik menjadi paving block ramah lingkungan. Kegiatan berlangsung di Dusun Nampu, Desa Klitih, Kecamatan Plandaan, Sabtu (1/8/2026). Didampingi Dosen Pembimbing Lapangan Fitri Umardiyah, M.Pd., program tersebut berangkat dari persoalan limbah plastik yang belum dikelola secara optimal serta masih adanya akses jalan makadam di Dusun Nampu. Mahasiswa KKN kemudian mengenalkan pengolahan limbah plastik sebagai bahan paving block. Inovasi tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus menjadi alternatif material yang berpotensi dimanfaatkan untuk perbaikan jalan lingkungan secara bertahap. Libatkan Masyarakat dalam Praktik Pelaksanaan program diawali dengan koordinasi bersama kepala desa dan kepala dusun serta observasi kondisi lingkungan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi dan praktik langsung pembuatan paving block bersama masyarakat Dusun Nampu. Dalam praktik tersebut, mahasiswa mendampingi masyarakat selama proses pengolahan limbah plastik hingga menjadi paving block. Pendekatan langsung dipilih agar masyarakat tidak hanya memperoleh pemahaman, tetapi juga memiliki pengalaman dalam proses pembuatannya. Program tersebut turut meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan sampah plastik menjadi produk yang memiliki nilai guna. Salah seorang warga Dusun Nampu mengapresiasi kegiatan tersebut dan berharap praktik pengolahan sampah dapat dilanjutkan secara mandiri. “Program ini sangat bermanfaat. Walaupun masih ada kekurangan, manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat. Praktik ini insyaallah bisa dilakukan sendiri oleh masyarakat dan kami berharap ke depan sampah dapat diolah menjadi paving block dalam jumlah yang lebih banyak,” ujarnya. Penulis: Mohammad Yusril BaihaqiEditor: Ibrahim

Silaturahmi Dzurriyah Muassis Pendiri NU dan Bedah Buku KH. Abdul Wahab Hasbullah di UNWAHA

Ketua Umum PBNU: Berdirinya NU adalah Peristiwa Peradaban Jombang – Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) menjadi tempat berlangsungnya Istighotsah dan Silaturahmi Dzurriyah Muassis Nahdlatul Ulama serta Bedah Buku KH. Abdul Wahab Hasbullah, Sabtu (15/8/2026). Bertempat di Auditorium UNWAHA, kegiatan mengusung semangat “Merawat Warisan Muassis, Meneguhkan Khidmah Nahdlatul Ulama bagi Agama, Bangsa, dan Peradaban.” Rangkaian kegiatan diawali istighotsah untuk kesuksesan Muktamar NU ke-35, dilanjutkan silaturahmi dzurriyah muassis, sambutan Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf, bedah buku KH. Abdul Wahab Hasbullah, serta penyerahan penghargaan kepada para muassis NU. Ketua Panitia, Gus Syaifuddin, M.E., menyampaikan apresiasi kepada UNWAHA dan Yayasan Pendidikan Tinggi Bahrul Ulum (YPTBU) yang telah memfasilitasi kegiatan tersebut. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para dzurriyah muassis yang hadir, termasuk dzurriyah KH. Kholil Bangkalan. “Kami berharap kegiatan ini tidak hanya berhenti malam ini. Silaturahmi antara dzurriyah muassis NU dengan PBNU diharapkan dapat berlanjut dalam kegiatan yang lebih besar,” ujarnya. Shohibul Bait, KH. M. Hasib Wahab Hasbullah, turut menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kehadiran para undangan serta dzurriyah muassis NU yang berkumpul dalam majelis tersebut. Warisan Peradaban Para Muassis Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf, menyoroti kiprah KH. Abdul Wahab Hasbullah dalam membaca dinamika dunia Islam dan membangun berbagai gerakan sebelum lahirnya Nahdlatul Ulama. Menurutnya, pengalaman Mbah Wahab selama belajar di Makkah menjadi bagian penting dalam membentuk keluasan cara pandang dan inisiatifnya. Ia menyinggung keterlibatan KH. Abdul Wahab Hasbullah dalam berbagai gerakan, mulai dari Tashwirul Afkar, Nahdlatut Tujjar, Nahdlatul Wathan, hingga proses berdirinya Nahdlatul Ulama. “Kalau kita perhatikan ikhtiar-ikhtiar Mbah Wahab, skalanya adalah peradaban. Berdirinya NU itu merupakan peristiwa peradaban,” ungkapnya. Gus Yahya menilai terdapat keunikan dalam sejarah NU. Di tengah perubahan politik dan sosial dunia pada masa itu, para ulama justru tampil mengambil peran dalam membangun rintisan peradaban. “Di Indonesia, Mbah Wahab mengajak ulama untuk membuat inisiasi rintisan peradaban. Karena itu, warisan para muassis harus dimaknai sebagai tanggung jawab untuk terus membesarkan dan berkhidmat kepada jam’iyah Nahdlatul Ulama,” pesannya. Bedah Buku dan Penghargaan untuk Muassis Kegiatan dilanjutkan dengan bedah buku KH. Abdul Wahab Hasbullah bersama penulis KH. Abdul Mun’im DZ. dan dimoderatori M. Farid Nasrulloh, S.Pd.Si., M.Pd. Forum tersebut menjadi ruang untuk menggali kembali pemikiran, perjuangan, dan kontribusi KH. Abdul Wahab Hasbullah dalam perjalanan NU serta kehidupan kebangsaan. Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum PBNU menyerahkan plakat penghargaan secara simbolis untuk 20 muassis NU, yakni KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab Chasbullah, KH. Bisri Syansuri, KH. Raden Asnawi, KH. Mas Nawawi, KH. Ridwan Abdullah, KH. Maksum Lasem, KH. Na Nachrowi Thohir, KH. Abdul Halim, KH. Mas Alwi, KH. Hasan Gipo, KH. Dahlan Achjat, KH. Mas Mansur, KH. Zubair Gresik, KH. Burhan Surabaya, KH. Ndoro Muntaha, KH. Abdullah Ubaid, KH. Abdul Hamid Faqih, KH. Abdul Hamid Tambakberas, dan KH. Dahlan Abdul Qohar. Silaturahmi tersebut belum mencakup seluruh dzurriyah muassis Nahdlatul Ulama. Panitia berencana melanjutkan sarasehan setelah Muktamar dengan melibatkan pakar sejarah agar pendataan dan kajian mengenai para muassis dapat disusun secara lebih komprehensif. Red: Ibrahim

Yudisium FIP 2026, Cetak Lulusan Adaptif dan Berdampak bagi Pendidikan di Era Global

Jombang – Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) sukses menyelenggarakan Yudisium Tahun 2026 di Auditorium UNWAHA, Rabu (12/8/2026). Kegiatan tersebut diikuti calon lulusan dari Program Studi Sarjana (S-1) Pendidikan Matematika, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Biologi, dan Pendidikan Fisika. Mengusung tema “Mencetak Lulusan yang Adaptif, Berintegritas, Inovatif, dan Berdampak bagi Pendidikan di Era Global”, yudisium menjadi penanda selesainya satu tahapan akademik sekaligus awal perjalanan baru bagi para lulusan untuk mengaktualisasikan ilmu di tengah masyarakat. Dekan FIP, M. Farid Nasrulloh, S.Pd.Si., M.Pd., menyampaikan apresiasi kepada seluruh sivitas akademika, orang tua, dan keluarga yang telah mendampingi mahasiswa hingga menyelesaikan pendidikan. Menurutnya, keberhasilan tersebut lahir dari proses panjang yang melibatkan kerja keras, doa, pendampingan, dan komitmen bersama. Terus Berikhtiar dan Belajar Dalam sambutannya, Dekan FIP itu mengutip Surat An-Najm ayat 39, “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” Pesan tersebut, menurutnya, relevan dengan perjalanan akademik mahasiswa maupun tantangan yang akan dihadapi setelah meninggalkan kampus. “Gelar akademik yang saudara raih bukanlah hasil yang datang secara tiba-tiba. Di dalamnya terdapat proses, kerja keras, doa, kesabaran, bahkan mungkin kegagalan yang pernah dilalui,” ujarnya. Beliau menekankan bahwa dunia profesional tidak hanya membutuhkan ijazah. Lulusan juga perlu memiliki kemampuan belajar sepanjang hayat, beradaptasi dengan perkembangan teknologi, menjaga integritas, serta mampu memberikan solusi terhadap kebutuhan masyarakat dan dunia pendidikan. “Jangan berhenti belajar, jangan berhenti berkarya, dan jangan berhenti memberikan manfaat,” pesannya. Perkuat Jejaring Alumni Beliau juga mengingatkan bahwa yudisium bukan akhir hubungan lulusan dengan kampus. Alumni justru memiliki peran strategis dalam memperkuat jejaring, membuka ruang kolaborasi, serta menghubungkan perguruan tinggi dengan sekolah, lembaga pendidikan, dunia profesi, pemerintahan, dan masyarakat. Dekan berharap para lulusan tetap menjaga hubungan dengan almamater dan berkontribusi melalui pengalaman, karya, maupun jejaring profesional yang dimiliki. “Jaga integritas, bangun jejaring, dan tetaplah menjadi bagian dari keluarga besar Fakultas Ilmu Pendidikan. Kami berharap Saudara menjadi alumni yang membanggakan serta ikut menguatkan nama almamater di mana pun Saudara berada,” pungkasnya. Red: Ibrahim

Yudisium FAI dan Pascasarjana 2026, Rektor Tekankan Integritas dan Semangat Belajar

Jombang – Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang menggelar Yudisium Program Sarjana (S-1) Fakultas Agama Islam (FAI) dan Program Pascasarjana Pendidikan Agama Islam Tahun 2026, Sabtu (15/8/2026). Bertempat di Halaman Gedung Jokowi, kegiatan mengusung tema “Mengukuhkan Integritas Keilmuan, Profesional, dan Kepemimpinan Islami dalam Mewujudkan Lulusan yang Unggul, Adaptif, dan Berdampak.” Rektor, Prof. Dr. Ir. Gatot Ciptadi, DESS., IPU., ASEAN Eng., mengingatkan para yudisiawan agar tidak berhenti belajar setelah meraih gelar. Menurutnya, lulusan perlu terus memperluas wawasan, meningkatkan kompetensi, serta memanfaatkan teknologi secara bijak tanpa meninggalkan nilai moral dan keislaman. “Jangan berhenti belajar setelah memperoleh gelar. Perluas wawasan, tingkatkan kompetensi, manfaatkan teknologi secara cerdas, dan tetap jaga nilai-nilai moral serta keislaman,” pesannya. Rektor menegaskan bahwa UNWAHA tumbuh dari tradisi pesantren dan membawa nilai perjuangan KH. Abdul Wahab Hasbullah. “Sehingga para lulusan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kematangan spiritual, kepedulian sosial, wawasan kebangsaan, dan kemampuan menghadirkan solusi di tengah masyarakat,” pungkasnya. Adaptif tanpa Meninggalkan Nilai Dekan FAI UNWAHA, Drs. Waslah, M.Pd.I., menyampaikan bahwa gelar akademik merupakan kebanggaan sekaligus tanggung jawab. Para lulusan akan menghadapi persaingan yang semakin dinamis pada era digital. “Semoga bekal yang diperoleh di Fakultas Agama Islam dapat digunakan untuk mengarungi kehidupan berikutnya. Jaga nama baik almamater tercinta kita ini,” ujarnya. Senada dengan itu, Direktur Pascasarjana UNWAHA, Dr. Saihul Atho Alaul Huda, M.Pd.I., mengajak lulusan memegang prinsip al-muhafazhatu ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah, yakni menjaga tradisi yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik. “Kita tidak anti terhadap modernitas, tetapi modernitas harus dipandu oleh nilai. Kita menerima inovasi, tetapi inovasi tidak boleh mencabut moral dan spiritual,” tegasnya. Jaga Nilai ASWAJA An-Nahdliyah Ketua YPTBU, Ibu Ny. Hj. Hizbiyah Rochim, M.A., turut berpesan agar para lulusan tetap menjaga keimanan, ketakwaan, dan nilai ASWAJA An-Nahdliyah dalam setiap ruang pengabdian. “Di mana pun anak-anakku nanti mengabdi, jangan lupa dengan apa yang telah dipelajari selama di UNWAHA. Jaga dan perjuangkan ideologi ASWAJA di tengah perkembangan yang begitu pesat ini,” tuturnya. Beliau juga menyampaikan apresiasi kepada para dosen dan pimpinan yang telah mendampingi mahasiswa hingga berhasil meraih gelar Sarjana dan Magister. Red: Ibrahim

Jelang Muktamar ke-35 NU, Gus Ipul Tinjau Kesiapan di UNWAHA

Jombang – Tujuh belas hari menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), persiapan penyambutan muktamirin terus dimatangkan. Sekretaris Jenderal PBNU sekaligus Ketua Panitia Muktamar ke-35 NU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, meninjau langsung kesiapan ruang penginapan peserta di Tower 5 Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA), Senin (10/8/2026). Dalam peninjauan tersebut, Gus Ipul didampingi Ketua Panitia Lokal Muktamar, KH Abdurrozaq Sholeh atau Gus Rozaq. Keduanya memeriksa sejumlah ruang yang akan digunakan peserta, mulai dari pembagian kamar hingga kesiapan perlengkapan istirahat. Menariknya, peninjauan tidak hanya dilakukan secara simbolis. Gus Ipul bersama Gus Rozaq ikut merapikan kasur yang telah disiapkan di sejumlah ruangan, memasang cover kasur dan sarung bantal, hingga menempelkan penanda pembagian lokasi bagi muktamirin. Optimistis Sambut Muktamirin Usai meninjau sejumlah kamar, Gus Ipul memimpin apel panitia yang akan bertugas melayani peserta di Tower 5 UNWAHA. Ia juga melakukan koordinasi bersama panitia lokal untuk memastikan setiap kebutuhan teknis dapat diselesaikan sebelum Muktamar berlangsung. Menurut Gus Ipul, pelaksanaan Muktamar kali ini memiliki nilai tersendiri karena berlangsung di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas yang memiliki hubungan erat dengan sejarah para pendiri NU. “Kita kembali ke pangkuan muassis. Karena itu, mari kerahkan seluruh kemampuan kita. Kita berharap dari Muktamar ini mendapatkan keberkahan,” ujarnya. Meski waktu persiapan relatif singkat, Gus Ipul mengapresiasi kerja panitia lokal. Ia menyebut kesiapan lokasi terus menunjukkan perkembangan positif menjelang pelaksanaan Muktamar pada 27 sampai 31 Agustus 2026. “Sekarang tinggal 17 hari lagi. Tetapi karena kerja sama dan kerja keras seluruh panitia, hari ini kita optimistis, insyaallah kita sangat siap,” katanya. Momentum Khidmat di Tambakberas Ketua Panitia Lokal Muktamar ke-35 NU KH Abdurrozaq Sholeh mengajak seluruh panitia memaknai kesempatan menjadi tuan rumah sebagai momentum untuk memberikan pelayanan terbaik kepada para kiai, ulama, dan seluruh peserta Muktamar. “Seratus tahun lagi belum tentu Muktamar kembali ke Tambakberas. Maka dari itu, mari kita serius melayani para ulama. Niatnya ditata, niat yang ikhlas,” pesannya. Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada 27 sampai 31 Agustus 2026 di kawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Selain peserta resmi, kegiatan tersebut diperkirakan akan menarik kedatangan warga Nahdliyin dari berbagai daerah. Gus Ipul turut menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah, kepolisian, masyarakat sekitar, serta seluruh pihak yang terlibat dalam persiapan. Ia juga memohon pengertian masyarakat apabila selama pelaksanaan Muktamar terjadi peningkatan mobilitas maupun pengaturan lalu lintas di sekitar lokasi. Bagi UNWAHA, kesiapan Tower 5 menjadi bagian dari dukungan terhadap penyelenggaraan Muktamar sekaligus bentuk pelayanan kepada para muktamirin yang akan hadir di Tambakberas. Red: Ibrahim

Yudisium Fakultas Ekonomi 2026, Angkat Semangat Manajerial dan Budaya Nusantara

Jombang – Fakultas Ekonomi Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang menggelar Yudisium Tahun 2026 pada Minggu (9/8/2026) di Aula UNWAHA. Kegiatan mengusung tema “Membangun Jiwa Manajerial yang Tangguh, Berdaya Saing Global, Berbudaya Nusantara.” Dekan Fakultas Ekonomi UNWAHA, Ita Rahmawati, S.E., M.Si., dalam sambutannya berpesan agar para lulusan tidak berhenti belajar setelah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Menurutnya, yudisium bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat. “Kelulusan bukan akhir dari proses belajar. Para lulusan perlu terus mengembangkan kompetensi, menjaga integritas, dan mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan,” pesannya. Turut hadir Wakil Rektor Bidang Akademik Ino Angga Putra, M.Pd. yang turut memberikan sambutan dan motivasi kepada para peserta yudisium. Nuansa Budaya Warnai Yudisium Berbeda dari pelaksanaan yudisium pada umumnya, peserta, dosen, dan tenaga kependidikan Fakultas Ekonomi mengenakan busana daerah bernuansa Betawi dan Jawa. Peserta perempuan tampil dengan busana encim, sedangkan peserta laki-laki mengenakan beskap. Nuansa budaya tersebut selaras dengan tema yudisium yang mendorong lulusan memiliki daya saing global tanpa meninggalkan identitas budaya Nusantara. Acara semakin semarak dengan penampilan band dosen Fakultas Ekonomi. Seluruh rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Kerumahtanggaan Prof. Dr. KH. Kholid, M.Ag.

Bertanya Soal Agama kepada AI, Dosen UNWAHA: Jangan Jadikan Rujukan Utama

Jombang – Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini dapat menjawab pertanyaan dalam hitungan detik. Mulai dari urusan pekerjaan, pendidikan, kesehatan, hingga persoalan agama. Cukup mengetik satu pertanyaan, pengguna dapat memperoleh penjelasan lengkap yang tampak meyakinkan. Kemudahan tersebut perlahan mengubah cara masyarakat mencari informasi keagamaan. Sebagian orang mulai bertanya tentang hukum ibadah, dalil, tafsir, hingga persoalan halal dan haram melalui aplikasi berbasis AI seperti ChatGPT. Namun, jawaban yang cepat belum tentu dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Dosen bidang Pendidikan Agama Islam Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA), Dr. Mochamad Syafiuddin Shobirin, M.Pd.I., menilai penggunaan AI dalam proses belajar agama tidak harus ditolak. Teknologi tersebut dapat membantu pengguna menemukan informasi awal. Namun, AI tidak sepatutnya ditempatkan sebagai rujukan utama dalam menentukan pemahaman maupun hukum agama. “Kita boleh saja menggunakan AI atau ChatGPT, karena AI bisa membantu mengingatkan kembali apa yang pernah kita pelajari. Persoalannya berbeda ketika seseorang belum pernah mengaji atau mempelajari masalah tersebut dengan benar, kemudian menerima jawaban AI dan mengamalkannya,” ujarnya. Keabsahan Ilmu Menjadi Persoalan Utama Menurut pria yang akrab disapa Gus Din itu, persoalan penting dalam penggunaan AI untuk belajar agama terletak pada keabsahan ilmu. Jawaban yang diberikan dapat terlihat runtut dan meyakinkan, tetapi pengguna tetap perlu memeriksa sumber, konteks, serta ketepatan penjelasannya. Karena itu, seseorang yang belum memiliki dasar ilmu berisiko menerima jawaban AI secara mentah. Risiko menjadi lebih besar ketika jawaban tersebut disampaikan kembali kepada keluarga, teman, atau masyarakat sebagai kebenaran agama. “Walaupun kita sering menggunakan AI, tetapi tidak pernah belajar agama secara sungguh-sungguh, hasilnya tetap tidak cukup. Jangan sampai sudah keliru memahami, kemudian ikut membuat orang lain keliru,” kata beliau. Ia menekankan bahwa ilmu agama memerlukan metode belajar, pemahaman terhadap sumber, kemampuan membaca konteks, serta bimbingan dari orang yang memiliki kompetensi. Jangan Memutuskan Hukum Agama Sendiri Pengasuh Ponpes As-Salafiyyah Asy-Syafi’iyyah itu juga mengingatkan risiko ketika seseorang memperlakukan jawaban AI seolah-olah sebagai keputusan hukum agama yang pasti. Menurutnya, sebagian besar masyarakat masih berada pada tahap mengikuti pendapat ulama yang memiliki keahlian dan dasar keilmuan. Ketika seseorang yang belum memahami metode pengambilan hukum menggunakan AI untuk menetapkan halal, haram, wajib, atau tidaknya suatu perkara, ia berisiko mengambil kesimpulan seperti sedang berijtihad sendiri. “Risiko terburuknya perlu dilihat dari siapa yang dirugikan. Kita ini masih berada pada tahap taklid (mengikuti ajaran atau pendapat ulama, red). Ketika hasil AI langsung dijadikan dasar untuk memutuskan hukum, seolah-olah kita sedang berijtihad sendiri, padahal kemampuan dan perangkat ilmunya belum tentu ada,” jelasnya. Dalam tradisi keilmuan Islam, ijtihad tidak sekadar memilih jawaban yang paling masuk akal. Ijtihad membutuhkan penguasaan terhadap Al-Qur’an, hadis, bahasa Arab, usul fikih, kaidah fikih, pendapat para ulama, serta pemahaman yang kuat terhadap keadaan masyarakat. Kesalahan memahami persoalan agama tidak hanya berdampak pada diri sendiri. Informasi yang salah dapat tersebar dengan cepat melalui grup percakapan, media sosial, maupun forum digital. Pada titik tersebut, kesalahan pribadi dapat berkembang menjadi kesalahpahaman bersama. Karena itu, beliau mengajak masyarakat untuk tetap bertanya kepada guru, kiai, ustadz, maupun akademisi yang memiliki kompetensi ketika menghadapi persoalan agama yang membutuhkan penjelasan mendalam. AI Sebagai Stimulus dalam Belajar Bagi kalangan pendidik, kehadiran AI dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses pembelajaran. Teknologi ini dapat membantu menemukan kata kunci, menyusun gambaran awal, mencari kemungkinan topik pembahasan, atau memetakan sumber yang perlu ditelusuri. “Sebagai pendidik, kita tetap harus mengaji dan mengaji. Memang, dengan adanya AI, informasi menjadi lebih mudah diakses. AI sebaiknya digunakan sebagai stimulus untuk memulai pencarian dan pendalaman,” ungkapnya. Pendidik juga memiliki tanggung jawab untuk menunjukkan cara menggunakan teknologi secara kritis. Peserta didik perlu memahami bahwa tampilan jawaban yang rapi tidak otomatis menjamin kebenaran isinya. “AI dapat membantu kita memperoleh informasi dengan lebih sederhana. Namun, pendidik tetap harus melakukan verifikasi dan kembali kepada sumber ilmu yang benar,” tambahnya. Belajar Agama Tetap Membutuhkan Guru Syafiuddin menjelaskan bahwa Islam tidak menolak perkembangan teknologi. Umat Islam dapat memanfaatkan perangkat baru selama penggunaannya mengikuti prinsip keilmuan, adab, dan tanggung jawab. Dalam menjelaskan etika menuntut ilmu, beliau merujuk pada syair yang dikenal luas dalam tradisi pendidikan pesantren dan termuat dalam pembahasan kitab Ta’lim al-Muta’allim karangan Syaikh Burhanuddin al-Zarnuji: أَلَا لَا تَنَالُ الْعِلْمَ إِلَّا بِسِتَّةٍسَأُنْبِيْكَ عَنْ مَجْمُوْعِهَا بِبَيَانٍ ذَكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍ وَبُلْغَةٍوَإِرْشَادِ أُسْتَاذٍ وَطُولِ زَمَانٍ Syair tersebut menjelaskan bahwa seseorang tidak akan memperoleh ilmu secara utuh tanpa enam bekal, yaitu kecerdasan, semangat, kesabaran, biaya atau bekal, petunjuk guru, dan waktu yang panjang. Menurut Gus Din, enam prinsip tersebut tetap relevan pada era digital. Teknologi dapat mempercepat pencarian informasi, tetapi tidak dapat menggantikan kesungguhan, kesabaran, proses belajar, maupun bimbingan seorang guru. “Dalam belajar ilmu, terutama ilmu agama, yang penting bukan hanya banyaknya informasi. Kita juga mencari keberkahan. Kehadiran guru menjadi salah satu jalan untuk memperoleh keberkahan tersebut,” tuturnya. Guru tidak hanya menyampaikan isi pelajaran. Guru membantu murid memahami konteks, membenarkan kesalahan, menanamkan adab, serta memberi contoh dalam mengamalkan ilmu. “Hubungan guru dan murid tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh percakapan dengan mesin,” pungkas dosen UNWAHA itu. Penulis: Ibrahim

Mahasiswa KKN UNWAHA Digitalisasi Pembayaran Air Bersih di Desa Asemgede Jombang

Jombang – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas KH. A. Wahab Hasbullah atau UNWAHA Kelompok 24 mengembangkan Aplikasi Struk Pembayaran Air Bersih untuk mendukung pelayanan administrasi di Desa Asemgede, Kecamatan Ngusikan. Pemerintah desa mulai menerapkan aplikasi tersebut pada Sabtu, 25 Juli 2026. Inovasi berbasis teknologi tersebut membantu perangkat desa mencatat pembayaran, mencetak struk, dan menyimpan data pelanggan secara digital. Sistem ini membuat proses administrasi pembayaran air bersih menjadi lebih cepat, tertata, dan akurat. Sebelum aplikasi diterapkan, perangkat desa masih mengelola administrasi pembayaran air bersih secara manual. Proses pendataan membutuhkan waktu lebih lama dan berpotensi menimbulkan antrean warga saat melakukan pembayaran. Berangkat dari Kebutuhan Administrasi Desa Aplikasi tersebut dikembangkan oleh tim pengembang yang terdiri atas Mohammad Roziqin, Alifatul Khikmah Maulidiyah, Damar Yusril Maulanalhadi, dan Roni Saputra. Ketiganya merupakan mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi UNWAHA. Aplikasi yang dirancang memiliki fungsi utama untuk mencatat transaksi pembayaran, mengelola data pelanggan, menyimpan riwayat pembayaran, dan mencetak bukti pembayaran secara langsung. Sekretaris Desa Asemgede, Devi Yulianti, S.I.Kom., mengapresiasi inovasi yang dihadirkan mahasiswa KKN UNWAHA. Menurutnya, aplikasi tersebut membantu perangkat desa memberikan pelayanan yang lebih praktis kepada masyarakat. “Dengan adanya aplikasi yang dibuat oleh mahasiswa KKN UNWAHA 2026, perangkat desa menjadi lebih mudah dalam mengelola administrasi pembayaran air bersih. Sebelumnya, proses pendataan membutuhkan waktu cukup lama dan menyebabkan antrean warga. Sekarang, proses pembayaran menjadi lebih praktis, cepat, dan efisien,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa warga tidak perlu menunggu terlalu lama untuk menyelesaikan pembayaran. Petugas dapat mencatat transaksi sekaligus mencetak bukti pembayaran melalui sistem yang sama. Dorong Transformasi Pelayanan Berbasis Digital Salah satu perwakilan tim pengembang, Mohammad Roziqin, menjelaskan bahwa aplikasi tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata Pemerintah Desa Asemgede. Tim berharap aplikasi tidak hanya digunakan selama pelaksanaan KKN, tetapi terus dimanfaatkan setelah program berakhir. “Kami berharap aplikasi ini dapat membantu meningkatkan kualitas pelayanan administrasi desa. Inovasi ini juga dapat menjadi langkah awal digitalisasi pelayanan masyarakat di Desa Asemgede,” ungkapnya. Ia berharap pemerintah desa dapat mengembangkan aplikasi sesuai kebutuhan pelayanan pada masa mendatang. Pengembangan dapat dilakukan melalui penambahan fitur, pembaruan data pelanggan, maupun penyesuaian sistem administrasi desa. Masyarakat juga mulai merasakan manfaat aplikasi tersebut. Sejumlah warga menilai proses pembayaran menjadi lebih mudah karena bukti pembayaran dapat langsung dicetak. Data transaksi juga tersimpan lebih rapi sehingga dapat diperiksa kembali ketika dibutuhkan. Tinggalkan Program yang Berkelanjutan Dosen Pembimbing Lapangan KKN UNWAHA, Ja’far Sodiq, menyampaikan bahwa inovasi tersebut menjadi salah satu bentuk nyata pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Mahasiswa tidak hanya menjalankan program kerja, tetapi juga memberikan solusi yang sesuai dengan kebutuhan desa. “KKN harus menjadi momentum bagi mahasiswa untuk mengasah potensi, membaca peluang di tengah masyarakat, dan menghadirkan solusi yang benar-benar dibutuhkan. Mahasiswa tidak cukup hanya datang melaksanakan program, tetapi harus mampu meninggalkan karya yang bermanfaat dan dapat terus digunakan setelah KKN selesai,” tegasnya. Menurutnya, pemanfaatan teknologi sederhana dapat memberikan dampak besar apabila dikembangkan berdasarkan persoalan yang dihadapi masyarakat. Karena itu, mahasiswa perlu melibatkan pemerintah desa sejak tahap perencanaan, penerapan, hingga evaluasi program. Melalui Aplikasi Struk Pembayaran Air Bersih, mahasiswa KKN UNWAHA Kelompok 24 menunjukkan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah desa dapat menghasilkan solusi digital yang tepat guna. Inovasi tersebut diharapkan terus mendukung peningkatan kualitas pelayanan publik di Desa Asemgede. Penulis: KKN Kelompok 24Editor: IbrahimFoto: Dokumentasi KKN UNWAHA Kelompok 24