Category: Berita
Bertanya Soal Agama kepada AI, Dosen UNWAHA: Jangan Jadikan Rujukan Utama
Jombang – Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini dapat menjawab pertanyaan dalam hitungan detik. Mulai dari urusan pekerjaan, pendidikan, kesehatan, hingga persoalan agama. Cukup mengetik satu pertanyaan, pengguna dapat memperoleh penjelasan lengkap yang tampak meyakinkan. Kemudahan tersebut perlahan mengubah cara masyarakat mencari informasi keagamaan. Sebagian orang mulai bertanya tentang hukum ibadah, dalil, tafsir, hingga persoalan halal dan haram melalui aplikasi berbasis AI seperti ChatGPT. Namun, jawaban yang cepat belum tentu dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Dosen bidang Pendidikan Agama Islam Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA), Dr. Mochamad Syafiuddin Shobirin, M.Pd.I., menilai penggunaan AI dalam proses belajar agama tidak harus ditolak. Teknologi tersebut dapat membantu pengguna menemukan informasi awal. Namun, AI tidak sepatutnya ditempatkan sebagai rujukan utama dalam menentukan pemahaman maupun hukum agama. “Kita boleh saja menggunakan AI atau ChatGPT, karena AI bisa membantu mengingatkan kembali apa yang pernah kita pelajari. Persoalannya berbeda ketika seseorang belum pernah mengaji atau mempelajari masalah tersebut dengan benar, kemudian menerima jawaban AI dan mengamalkannya,” ujarnya. Keabsahan Ilmu Menjadi Persoalan Utama Menurut pria yang akrab disapa Gus Din itu, persoalan penting dalam penggunaan AI untuk belajar agama terletak pada keabsahan ilmu. Jawaban yang diberikan dapat terlihat runtut dan meyakinkan, tetapi pengguna tetap perlu memeriksa sumber, konteks, serta ketepatan penjelasannya. Karena itu, seseorang yang belum memiliki dasar ilmu berisiko menerima jawaban AI secara mentah. Risiko menjadi lebih besar ketika jawaban tersebut disampaikan kembali kepada keluarga, teman, atau masyarakat sebagai kebenaran agama. “Walaupun kita sering menggunakan AI, tetapi tidak pernah belajar agama secara sungguh-sungguh, hasilnya tetap tidak cukup. Jangan sampai sudah keliru memahami, kemudian ikut membuat orang lain keliru,” kata beliau. Ia menekankan bahwa ilmu agama memerlukan metode belajar, pemahaman terhadap sumber, kemampuan membaca konteks, serta bimbingan dari orang yang memiliki kompetensi. Jangan Memutuskan Hukum Agama Sendiri Pengasuh Ponpes As-Salafiyyah Asy-Syafi’iyyah itu juga mengingatkan risiko ketika seseorang memperlakukan jawaban AI seolah-olah sebagai keputusan hukum agama yang pasti. Menurutnya, sebagian besar masyarakat masih berada pada tahap mengikuti pendapat ulama yang memiliki keahlian dan dasar keilmuan. Ketika seseorang yang belum memahami metode pengambilan hukum menggunakan AI untuk menetapkan halal, haram, wajib, atau tidaknya suatu perkara, ia berisiko mengambil kesimpulan seperti sedang berijtihad sendiri. “Risiko terburuknya perlu dilihat dari siapa yang dirugikan. Kita ini masih berada pada tahap taklid (mengikuti ajaran atau pendapat ulama, red). Ketika hasil AI langsung dijadikan dasar untuk memutuskan hukum, seolah-olah kita sedang berijtihad sendiri, padahal kemampuan dan perangkat ilmunya belum tentu ada,” jelasnya. Dalam tradisi keilmuan Islam, ijtihad tidak sekadar memilih jawaban yang paling masuk akal. Ijtihad membutuhkan penguasaan terhadap Al-Qur’an, hadis, bahasa Arab, usul fikih, kaidah fikih, pendapat para ulama, serta pemahaman yang kuat terhadap keadaan masyarakat. Kesalahan memahami persoalan agama tidak hanya berdampak pada diri sendiri. Informasi yang salah dapat tersebar dengan cepat melalui grup percakapan, media sosial, maupun forum digital. Pada titik tersebut, kesalahan pribadi dapat berkembang menjadi kesalahpahaman bersama. Karena itu, beliau mengajak masyarakat untuk tetap bertanya kepada guru, kiai, ustadz, maupun akademisi yang memiliki kompetensi ketika menghadapi persoalan agama yang membutuhkan penjelasan mendalam. AI Sebagai Stimulus dalam Belajar Bagi kalangan pendidik, kehadiran AI dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses pembelajaran. Teknologi ini dapat membantu menemukan kata kunci, menyusun gambaran awal, mencari kemungkinan topik pembahasan, atau memetakan sumber yang perlu ditelusuri. “Sebagai pendidik, kita tetap harus mengaji dan mengaji. Memang, dengan adanya AI, informasi menjadi lebih mudah diakses. AI sebaiknya digunakan sebagai stimulus untuk memulai pencarian dan pendalaman,” ungkapnya. Pendidik juga memiliki tanggung jawab untuk menunjukkan cara menggunakan teknologi secara kritis. Peserta didik perlu memahami bahwa tampilan jawaban yang rapi tidak otomatis menjamin kebenaran isinya. “AI dapat membantu kita memperoleh informasi dengan lebih sederhana. Namun, pendidik tetap harus melakukan verifikasi dan kembali kepada sumber ilmu yang benar,” tambahnya. Belajar Agama Tetap Membutuhkan Guru Syafiuddin menjelaskan bahwa Islam tidak menolak perkembangan teknologi. Umat Islam dapat memanfaatkan perangkat baru selama penggunaannya mengikuti prinsip keilmuan, adab, dan tanggung jawab. Dalam menjelaskan etika menuntut ilmu, beliau merujuk pada syair yang dikenal luas dalam tradisi pendidikan pesantren dan termuat dalam pembahasan kitab Ta’lim al-Muta’allim karangan Syaikh Burhanuddin al-Zarnuji: أَلَا لَا تَنَالُ الْعِلْمَ إِلَّا بِسِتَّةٍسَأُنْبِيْكَ عَنْ مَجْمُوْعِهَا بِبَيَانٍ ذَكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍ وَبُلْغَةٍوَإِرْشَادِ أُسْتَاذٍ وَطُولِ زَمَانٍ Syair tersebut menjelaskan bahwa seseorang tidak akan memperoleh ilmu secara utuh tanpa enam bekal, yaitu kecerdasan, semangat, kesabaran, biaya atau bekal, petunjuk guru, dan waktu yang panjang. Menurut Gus Din, enam prinsip tersebut tetap relevan pada era digital. Teknologi dapat mempercepat pencarian informasi, tetapi tidak dapat menggantikan kesungguhan, kesabaran, proses belajar, maupun bimbingan seorang guru. “Dalam belajar ilmu, terutama ilmu agama, yang penting bukan hanya banyaknya informasi. Kita juga mencari keberkahan. Kehadiran guru menjadi salah satu jalan untuk memperoleh keberkahan tersebut,” tuturnya. Guru tidak hanya menyampaikan isi pelajaran. Guru membantu murid memahami konteks, membenarkan kesalahan, menanamkan adab, serta memberi contoh dalam mengamalkan ilmu. “Hubungan guru dan murid tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh percakapan dengan mesin,” pungkas dosen UNWAHA itu. Penulis: Ibrahim
Mahasiswa KKN UNWAHA Digitalisasi Pembayaran Air Bersih di Desa Asemgede Jombang
Jombang – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas KH. A. Wahab Hasbullah atau UNWAHA Kelompok 24 mengembangkan Aplikasi Struk Pembayaran Air Bersih untuk mendukung pelayanan administrasi di Desa Asemgede, Kecamatan Ngusikan. Pemerintah desa mulai menerapkan aplikasi tersebut pada Sabtu, 25 Juli 2026. Inovasi berbasis teknologi tersebut membantu perangkat desa mencatat pembayaran, mencetak struk, dan menyimpan data pelanggan secara digital. Sistem ini membuat proses administrasi pembayaran air bersih menjadi lebih cepat, tertata, dan akurat. Sebelum aplikasi diterapkan, perangkat desa masih mengelola administrasi pembayaran air bersih secara manual. Proses pendataan membutuhkan waktu lebih lama dan berpotensi menimbulkan antrean warga saat melakukan pembayaran. Berangkat dari Kebutuhan Administrasi Desa Aplikasi tersebut dikembangkan oleh tim pengembang yang terdiri atas Mohammad Roziqin, Alifatul Khikmah Maulidiyah, Damar Yusril Maulanalhadi, dan Roni Saputra. Ketiganya merupakan mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi UNWAHA. Aplikasi yang dirancang memiliki fungsi utama untuk mencatat transaksi pembayaran, mengelola data pelanggan, menyimpan riwayat pembayaran, dan mencetak bukti pembayaran secara langsung. Sekretaris Desa Asemgede, Devi Yulianti, S.I.Kom., mengapresiasi inovasi yang dihadirkan mahasiswa KKN UNWAHA. Menurutnya, aplikasi tersebut membantu perangkat desa memberikan pelayanan yang lebih praktis kepada masyarakat. “Dengan adanya aplikasi yang dibuat oleh mahasiswa KKN UNWAHA 2026, perangkat desa menjadi lebih mudah dalam mengelola administrasi pembayaran air bersih. Sebelumnya, proses pendataan membutuhkan waktu cukup lama dan menyebabkan antrean warga. Sekarang, proses pembayaran menjadi lebih praktis, cepat, dan efisien,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa warga tidak perlu menunggu terlalu lama untuk menyelesaikan pembayaran. Petugas dapat mencatat transaksi sekaligus mencetak bukti pembayaran melalui sistem yang sama. Dorong Transformasi Pelayanan Berbasis Digital Salah satu perwakilan tim pengembang, Mohammad Roziqin, menjelaskan bahwa aplikasi tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata Pemerintah Desa Asemgede. Tim berharap aplikasi tidak hanya digunakan selama pelaksanaan KKN, tetapi terus dimanfaatkan setelah program berakhir. “Kami berharap aplikasi ini dapat membantu meningkatkan kualitas pelayanan administrasi desa. Inovasi ini juga dapat menjadi langkah awal digitalisasi pelayanan masyarakat di Desa Asemgede,” ungkapnya. Ia berharap pemerintah desa dapat mengembangkan aplikasi sesuai kebutuhan pelayanan pada masa mendatang. Pengembangan dapat dilakukan melalui penambahan fitur, pembaruan data pelanggan, maupun penyesuaian sistem administrasi desa. Masyarakat juga mulai merasakan manfaat aplikasi tersebut. Sejumlah warga menilai proses pembayaran menjadi lebih mudah karena bukti pembayaran dapat langsung dicetak. Data transaksi juga tersimpan lebih rapi sehingga dapat diperiksa kembali ketika dibutuhkan. Tinggalkan Program yang Berkelanjutan Dosen Pembimbing Lapangan KKN UNWAHA, Ja’far Sodiq, menyampaikan bahwa inovasi tersebut menjadi salah satu bentuk nyata pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Mahasiswa tidak hanya menjalankan program kerja, tetapi juga memberikan solusi yang sesuai dengan kebutuhan desa. “KKN harus menjadi momentum bagi mahasiswa untuk mengasah potensi, membaca peluang di tengah masyarakat, dan menghadirkan solusi yang benar-benar dibutuhkan. Mahasiswa tidak cukup hanya datang melaksanakan program, tetapi harus mampu meninggalkan karya yang bermanfaat dan dapat terus digunakan setelah KKN selesai,” tegasnya. Menurutnya, pemanfaatan teknologi sederhana dapat memberikan dampak besar apabila dikembangkan berdasarkan persoalan yang dihadapi masyarakat. Karena itu, mahasiswa perlu melibatkan pemerintah desa sejak tahap perencanaan, penerapan, hingga evaluasi program. Melalui Aplikasi Struk Pembayaran Air Bersih, mahasiswa KKN UNWAHA Kelompok 24 menunjukkan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah desa dapat menghasilkan solusi digital yang tepat guna. Inovasi tersebut diharapkan terus mendukung peningkatan kualitas pelayanan publik di Desa Asemgede. Penulis: KKN Kelompok 24Editor: IbrahimFoto: Dokumentasi KKN UNWAHA Kelompok 24
Pengajar Qira’ah UKM KHATTIBARI UNWAHA Raih Juara 1 UNESA National Qur’anic Competition 2026
Jombang – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan sivitas Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang. Pengajar Divisi Qira’ah UKM KHATTIBARI, Muchammad Anas berhasil meraih Juara 1 Cabang Tilawatil Qur’an Putra dalam ajang UNESA National Qur’anic Competition (UNQC) 2026, kompetisi Al-Qur’an tingkat nasional yang diikuti mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) itu mengungkapkan, raihan prestasi tersebut merupakan buah kerja keras yang ia tekuni selama ini. “Bagi saya, MTQ adalah cara untuk mensyiarkan Al-Qur’an melalui bacaan tilawah dan ilmu qira’ah. Juara hanyalah bonus dari proses tersebut,” kata Anas. Persiapan menuju perlombaan dilakukan jauh hari sebelum tampil. Selama kurang lebih satu bulan, ia membiasakan diri berlatih secara konsisten setiap pagi maupun malam agar semakin matang dalam membawakan maqra‘ yang telah ditentukan. Meski demikian, perjalanan menuju prestasi tidak selalu berjalan mulus. Salah satu tantangan yang paling sering dihadapi adalah menjaga kualitas suara. Perubahan cuaca dan kondisi fisik kerap memengaruhi performanya saat berlomba. Namun ia percaya bahwa latihan yang istiqomah mampu menjadi bekal terbaik ketika tampil di hadapan dewan hakim. “Kunci keberhasilan saya adalah doa orang tua, keluarga, guru, dan teman-teman. Selain itu, istiqomah dalam latihan. Jangan hanya berlatih ketika menjelang lomba,” katanya. Menariknya, perjalanan menjadi juara tidak ia raih secara instan. Ia mengaku pernah berkali-kali gagal saat mengikuti MTQ sejak tingkat kecamatan. Bahkan, setiap kekalahan pernah membuatnya pulang dengan air mata. “Orang hanya melihat saya menang sekarang, tetapi tidak melihat proses saya dulu yang sering kalah. Dari setiap kegagalan saya belajar memperbaiki bacaan dan terus mencoba lagi,” ungkapnya. Selain menjadi ajang kompetisi, MTQ juga menjadi ruang untuk memperluas silaturahmi dengan para pecinta Al-Qur’an dari berbagai daerah di Indonesia. Baginya, pengalaman bertemu dan belajar bersama peserta lain menjadi nilai yang sama berharganya dengan sebuah piala. Kini, sebagai pengajar Divisi Qira’ah UKM KHATTIBARI UNWAHA, ia ingin prestasi tersebut menjadi motivasi bagi mahasiswa agar tidak takut memulai dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan. “Tidak ada orang yang langsung menjadi juara. Semua membutuhkan proses. Teruslah belajar, istiqomah dalam latihan, dan jadikan setiap kegagalan sebagai langkah untuk menjadi lebih baik,” pesannya. Prestasi Juara 1 UNESA National Qur’anic Competition 2026 ini semakin mengukuhkan kiprah UKM KHATTIBARI UNWAHA sebagai wadah pengembangan seni religi yang tidak hanya aktif membina mahasiswa, tetapi juga mampu melahirkan prestasi di tingkat nasional. Dengan semangat syiar Al-Qur’an, UKM KHATTIBARI terus berkomitmen mencetak generasi Qur’ani yang berprestasi, berkarakter, dan menginspirasi. Penulis: Muhammad Abdul Qadir Al JailaniEditor: Ibrahim
UNWAHA Siap Sukseskan Muktamar NU ke-35 di PP. Bahrul Ulum Tambakberas
Jombang – Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang menyatakan kesiapan penuh dalam menyambut gelaran akbar Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang akan dilaksanakan pada 27-31 Agustus mendatang di PP. Bahrul Ulum Tambakberas. Hal ini disampaikan langsung oleh Ketua Yayasan Pendidikan Tinggi Bahrul Ulum (YPTBU), Ibu Hj. Hizbiyah Rochim Wahab, M.A., dalam tayangan eksklusif TV9 Nusantara, Sabtu (18/7/2026). Beliau menegaskan bahwa seluruh elemen di lingkungan Bahrul Ulum berkomitmen memberikan pelayanan terbaik dalam keberlangsungan Muktamar kali ini. “Insyaallah persiapannya sudah yakin bahwa kita ini akan memberikan pelayanan atau bantuan kepada para muktamirin dengan yang sebaik-baiknya dalam segala segi, baik sarana prasarana, transportasi, konsumsi, hingga sekretariatan,” tegas beliau. Beliau juga menambahkan bahwa koordinasi dengan panitia pusat PBNU telah berjalan dengan baik untuk memastikan kenyamanan bagi sekitar 3.000 peserta resmi serta ribuan penggembira (muhibbin) yang diperkirakan akan hadir. Senada dengan hal tersebut, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UNWAHA, Dr. Muhammad Wafiul Ahdi, S.H., M.Pd.I., merinci peran strategis kampus dalam menyukseskan Muktamar kali ini. Ia memaparkan bahwa fasilitas akademik UNWAHA akan dialihfungsikan sementara untuk mendukung kelancaran agenda persidangan dan akomodasi. “Kami di UNWAHA sangat antusias menyambut dan menyiapkan segala fasilitas yang dibutuhkan. Kebetulan (UNWAHA) menjadi salah satu lokasi penginapan dari peserta muktamar dan juga menjadi salah satu tempat untuk melaksanakan sidang komisi,” jelas pria yang akrab disapa Gus Wafi itu. Lebih lanjut, Gus Wafi menjelaskan bahwa Aula UNWAHA akan digunakan sebagai lokasi sidang komisi, sementara ruang kelas perkuliahan akan disiapkan menjadi tempat penginapan yang layak bagi para muktamirin. Semangat pelayanan ini didasari oleh prinsip ikramul duyuf atau memuliakan tamu. “Kami menganggap para muktamirin adalah tamu-tamunya para muassis Nahdatul Ulama. Mereka datang diundang para muassis untuk meramaikan, maka kami di UNWAHA sangat antusias menyiapkan segala fasilitas,” pungkasnya. Red: Ibrahim
UNWAHA Jombang Berangkatkan 600 Mahasiswa KKN-PPM Tahun 2026
Jombang – Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang memberangkatkan 600 mahasiswa peserta KKN-PPM Tahun 2026, Minggu (12/7/2026). Kegiatan pelepasan berlangsung di Halaman Gedung Jokowi UNWAHA Jombang. Sebanyak 600 mahasiswa tersebut akan melaksanakan KKN-PPM selama 40 hari dan tersebar di 27 desa. Program ini menjadi bagian dari komitmen UNWAHA dalam memperkuat peran perguruan tinggi melalui pengabdian kepada masyarakat. Wakil Rektor Bidang Kerja Sama UNWAHA, Dr. Fatkhullah, M.Pd.I., dalam sambutannya menyampaikan bahwa KKN ini merupakan implementasi nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Di dalamnya ada pokok pendidikan dan pengajaran, pengabdian kepada masyarakat, serta penelitian. Saat ini menjadi pembuktian bahwa kalian bermanfaat bagi masyarakat yang ditempati KKN,” ujarnya. Beliau juga meminta mahasiswa agar menjaga sikap, memahami kebutuhan lingkungan, serta menjalankan program yang memiliki nilai manfaat bagi masyarakat. “Pengabdian masyarakat ini sangat diperhatikan oleh masyarakat. Sejauh mana nilai manfaat kalian terhadap lingkungan akan menjadi ukuran penting selama pelaksanaan KKN,” tambahnya. Selain pengabdian, Dr. Fatkhullah juga mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan pelaksanaan KKN sebagai ruang penguatan akademik. Menurutnya, mahasiswa dapat memperoleh data dan pengalaman lapangan yang relevan untuk pengembangan penelitian maupun karya tulis ilmiah. Red: Ibrahim
Foto: Kunjungan Studi Banding INISA ke UNWAHA
Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang menerima kunjungan studi banding dari Institut Agama Islam Shalahuddin Al-Ayyubi (INISA) Tambun Bekasi. Kunjungan tersebut berlangsung di Aula Kampus UNWAHA Jombang, Selasa (7/7/2026), dalam rangka memperkuat tata kelola dan kolaborasi kelembagaan antarperguruan tinggi. Hadir dalam kegiatan tersebut Rektor INISA, H. Nafiuddin, Lc., MA.Hum., beserta rombongan. Dari pihak UNWAHA hadir Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Dr. M. Wafiyul Ahdi, S.H., M.Pd.I.; Dekan FAI, Waslah, M.Pd.I.; Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Dr. Mohammad Fatchulloh, M.Pd.I.; serta jajaran pengelola akademik, LPPM, dan penjaminan mutu. Kegiatan ini menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai tata kelola organisasi, jurnal ilmiah, sistem kemahasiswaan, serta penguatan mutu kelembagaan kampus. Foto: M. Khoirul Anwar Gholibi, S.Pd., M.Pd. & Ahmad Charisudin Ashar, S.Kom.
Perkuat Tata Kelola dan Kolaborasi Kelembagaan, UNWAHA Terima Studi Banding INISA Tambun Bekasi
Jombang – Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang menerima kunjungan studi banding dari Institut Agama Islam Shalahuddin Al-Ayyubi (INISA) Tambun Bekasi, Selasa (7/7/2026), di Aula Kampus UNWAHA Jombang. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat tata kelola dan kolaborasi kelembagaan antarperguruan tinggi. Rektor INISA, H. Nafiuddin, Lc., MA.Hum., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kunjungan tersebut menjadi ruang silaturahmi akademik sekaligus sarana belajar antarlembaga perguruan tinggi. “Kami berharap studi banding ini dapat memperkuat tata kelola kelembagaan, khususnya dalam bidang akademik, kemahasiswaan, dan pengembangan mutu perguruan tinggi,” ujarnya. Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UNWAHA, Dr. M. Wafiyul Ahdi, S.H., M.Pd.I., menyambut baik kunjungan tersebut. Beliau menegaskan bahwa kerja sama dan pertukaran pengalaman antarkampus menjadi bagian penting dalam memperkuat kualitas layanan pendidikan tinggi. “UNWAHA terbuka untuk berbagi pengalaman. Forum seperti ini penting untuk memperkuat jejaring dan meningkatkan mutu kelembagaan,” ungkapnya. Sharing session dalam kegiatan tersebut dipimpin oleh Dekan Fakultas Agama Islam UNWAHA, Waslah, M.Pd.I. Pada sesi ini, kedua perguruan tinggi berdiskusi mengenai penguatan tata kelola organisasi, sistem kemahasiswaan, pengembangan jurnal ilmiah, serta ekosistem kelembagaan kampus. Selain itu, Wakil Rektor Bidang Kerja Sama UNWAHA, Dr. Mohammad Fatchulloh, M.Pd.I., turut menyampaikan sejarah berdirinya UNWAHA serta perkembangan kampus hingga saat ini. Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyerahan cendera mata, doa, foto bersama, serta campus tour di lingkungan UNWAHA Jombang. Red: Ibrahim
Sosialisasi Pelatihan Administrasi Serdos bagi Dosen Nominasi 2026
Jombang – Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang menggelar Sosialisasi dan Pelatihan Penyusunan Administrasi Sertifikasi Dosen (Serdos) Gelombang I bagi dosen nominasi tahun 2026, Kamis (2/7/2026), di Ruang Rapat Gedung F. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai tindak lanjut atas Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 135/M/KEP/2026 tentang Petunjuk Teknis Sertifikasi Pendidik untuk Dosen. Sebanyak 20 dosen UNWAHA masuk dalam daftar nominasi calon peserta Serdos 2026. Kegiatan pembekalan ini turut dihadiri Wakil Rektor Bidang Akademik, Ino Angga Putra, M.Pd., serta Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Kerumahtanggaan, Prof. Dr. H. Abdul Kholid, M.Ag. Kepala Bagian Kepegawaian, M. Aliyul Wafa, M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan memberi pengarahan teknis kepada dosen nominasi agar lebih siap dalam memenuhi administrasi Serdos. “Acara ini menjadi pembekalan bagi segenap dosen nominasi Serdos tahun 2026,” ujarnya. Dalam kegiatan tersebut, materi disampaikan oleh dua narasumber, yakni Kepala Bagian Kepegawaian dan Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan, M. Farid Nasrulloh, S.Pd.Si., M.Pd. Keduanya memberikan arahan terkait kesiapan dokumen, tahapan administrasi, serta hal-hal teknis yang perlu diperhatikan dosen dalam proses Serdos. Red: Ibrahim
Fakultas Ekonomi UNWAHA Perkuat Kesiapan Kerja Mahasiswa melalui Uji Kompetensi
Jombang – Fakultas Ekonomi Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang menyelenggarakan Pelatihan dan Uji Kompetensi Tahun 2026 bagi mahasiswa semester delapan. Kegiatan yang berlangsung pada 20–28 Juni 2026 tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkuat kompetensi sekaligus kesiapan mahasiswa menghadapi dunia kerja. Pelatihan dan uji kompetensi itu mencakup tiga skema, yaitu Akuntansi Yunior, Digital Marketing, dan Pelayanan Prima. Dalam pelaksanaannya, Fakultas Ekonomi UNWAHA bekerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Administrasi Bisnis Perkantoran Modern dan Unit Pelaksana Teknis Balai Latihan Kerja (UPT BLK) Jombang. Kegiatan secara resmi dibuka di Auditorium UNWAHA. Pembukaan dihadiri oleh pimpinan fakultas, perwakilan lembaga mitra, tim pelaksana, serta seluruh mahasiswa peserta pelatihan dan uji kompetensi. Tingkatkan Daya Saing Lulusan Dekan Fakultas Ekonomi UNWAHA, Ita Rahmawati, S.E., M.Si., menyampaikan bahwa penguasaan kompetensi menjadi salah satu bekal penting bagi mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja. “Pelatihan dan uji kompetensi ini merupakan bagian dari komitmen Fakultas Ekonomi dalam mempersiapkan lulusan yang kompeten, adaptif, dan memiliki daya saing,” ujarnya. Beliau berharap mahasiswa dapat mengikuti seluruh tahapan dengan sungguh-sungguh serta memanfaatkan kegiatan ini untuk mengukur dan meningkatkan kemampuan masing-masing. Dorong Kompetensi Sesuai Standar Kerja Direktur LSP Administrasi Bisnis Perkantoran Modern, Minan Rohman, mengapresiasi semangat para peserta dalam mengikuti uji kompetensi kali ini. “Tidak semuanya memiliki kesempatan seperti anda. Langkah yang anda pilih ini adalah bagian sejarah untuk masa depan anda,” jelasnya. Red: Ibrahim
Tari Sufi Warnai Penutupan Muktamar Lesbumi NU 2026 di UNWAHA Jombang
Jombang – Penampilan Tari Sufi menjadi salah satu sajian yang menarik perhatian dalam penutupan Muktamar Lesbumi NU 2026 di Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang, Sabtu (14/6/2026). Tidak hanya menampilkan pertunjukan seni, pada kesempatan ini terdapat juga diskusi kebudayaan. Diskusi tersebut mengangkat tema pelestarian tradisi mocopat dan peran generasi muda dalam menjaga warisan budaya Jawa. Dorong Pelestarian Mocopat Dalam pemaparannya, Muhammad Nurluda selaku pelatih Tari Sufi menjelaskan, mocopat merupakan tradisi sastra lisan Jawa yang berisi syair-syair sarat nasihat dan nilai luhur yang diwariskan para wali. Namun, menurutnya, tradisi tersebut kini semakin jarang dikenal oleh generasi muda karena keterbatasan pemahaman terhadap bahasa dan budaya Jawa. “Budaya Jawa memiliki nilai yang sangat tinggi. Minimal generasi muda mau menjaga dan mempelajarinya agar tidak hilang ditelan zaman,” ujarnya. Ia menilai salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga keberlangsungan tradisi mocopat adalah menerjemahkan syair-syair berbahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia. Menurutnya, upaya itu dapat membawa generasi muda untuk lebih memahami makna syair mocopat secara lebih dalam. Media Sosial sebagai Jembatan Budaya Selain penerjemahan, Nurluda juga mendorong pemanfaatan media sosial sebagai sarana pelestarian budaya. Menurutnya, perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendokumentasikan, memperkenalkan, dan menyebarluaskan berbagai tradisi budaya kepada masyarakat yang lebih luas. “Media sosial bisa menjadi jembatan untuk mengenalkan budaya kepada generasi muda. Dengan cara yang kreatif, budaya dapat lebih mudah diterima dan dipahami,” tambahnya. Ia berharap anak muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga ikut mempelajari dan mengenalkan budaya daerahnya kepada lingkungan sekitar. Dengan mengenal dan memahami budaya sendiri, generasi muda dapat berperan dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya di tengah arus modernisasi. Penutupan Muktamar Lesbumi NU 2026 tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga meninggalkan pesan penting bahwa budaya hanya akan tetap hidup apabila diwariskan. Di tangan generasi muda, tradisi seperti mocopat tidak sekadar menjadi peninggalan masa lalu, melainkan sumber nilai yang terus relevan untuk masa depan. Penulis: Selvi & HarisFoto: NaflahEditor: Ibrahim