Universitas KH. A. Wahab Hasbullah

Category: Berita

Foto: Kunjungan Studi Banding INISA ke UNWAHA

Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang menerima kunjungan studi banding dari Institut Agama Islam Shalahuddin Al-Ayyubi (INISA) Tambun Bekasi. Kunjungan tersebut berlangsung di Aula Kampus UNWAHA Jombang, Selasa (7/7/2026), dalam rangka memperkuat tata kelola dan kolaborasi kelembagaan antarperguruan tinggi. Hadir dalam kegiatan tersebut Rektor INISA, H. Nafiuddin, Lc., MA.Hum., beserta rombongan. Dari pihak UNWAHA hadir Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Dr. M. Wafiyul Ahdi, S.H., M.Pd.I.; Dekan FAI, Waslah, M.Pd.I.; Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Dr. Mohammad Fatchulloh, M.Pd.I.; serta jajaran pengelola akademik, LPPM, dan penjaminan mutu. Kegiatan ini menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai tata kelola organisasi, jurnal ilmiah, sistem kemahasiswaan, serta penguatan mutu kelembagaan kampus. Foto: M. Khoirul Anwar Gholibi, S.Pd., M.Pd. & Ahmad Charisudin Ashar, S.Kom.

Perkuat Tata Kelola dan Kolaborasi Kelembagaan, UNWAHA Terima Studi Banding INISA Tambun Bekasi

Jombang – Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang menerima kunjungan studi banding dari Institut Agama Islam Shalahuddin Al-Ayyubi (INISA) Tambun Bekasi, Selasa (7/7/2026), di Aula Kampus UNWAHA Jombang. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat tata kelola dan kolaborasi kelembagaan antarperguruan tinggi. Rektor INISA, H. Nafiuddin, Lc., MA.Hum., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kunjungan tersebut menjadi ruang silaturahmi akademik sekaligus sarana belajar antarlembaga perguruan tinggi. “Kami berharap studi banding ini dapat memperkuat tata kelola kelembagaan, khususnya dalam bidang akademik, kemahasiswaan, dan pengembangan mutu perguruan tinggi,” ujarnya. Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UNWAHA, Dr. M. Wafiyul Ahdi, S.H., M.Pd.I., menyambut baik kunjungan tersebut. Beliau menegaskan bahwa kerja sama dan pertukaran pengalaman antarkampus menjadi bagian penting dalam memperkuat kualitas layanan pendidikan tinggi. “UNWAHA terbuka untuk berbagi pengalaman. Forum seperti ini penting untuk memperkuat jejaring dan meningkatkan mutu kelembagaan,” ungkapnya. Sharing session dalam kegiatan tersebut dipimpin oleh Dekan Fakultas Agama Islam UNWAHA, Waslah, M.Pd.I. Pada sesi ini, kedua perguruan tinggi berdiskusi mengenai penguatan tata kelola organisasi, sistem kemahasiswaan, pengembangan jurnal ilmiah, serta ekosistem kelembagaan kampus. Selain itu, Wakil Rektor Bidang Kerja Sama UNWAHA, Dr. Mohammad Fatchulloh, M.Pd.I., turut menyampaikan sejarah berdirinya UNWAHA serta perkembangan kampus hingga saat ini. Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyerahan cendera mata, doa, foto bersama, serta campus tour di lingkungan UNWAHA Jombang. Red: Ibrahim

Sosialisasi Pelatihan Administrasi Serdos bagi Dosen Nominasi 2026

Jombang – Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang menggelar Sosialisasi dan Pelatihan Penyusunan Administrasi Sertifikasi Dosen (Serdos) Gelombang I bagi dosen nominasi tahun 2026, Kamis (2/7/2026), di Ruang Rapat Gedung F. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai tindak lanjut atas Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 135/M/KEP/2026 tentang Petunjuk Teknis Sertifikasi Pendidik untuk Dosen. Sebanyak 20 dosen UNWAHA masuk dalam daftar nominasi calon peserta Serdos 2026. Kegiatan pembekalan ini turut dihadiri Wakil Rektor Bidang Akademik, Ino Angga Putra, M.Pd., serta Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Kerumahtanggaan, Prof. Dr. H. Abdul Kholid, M.Ag. Kepala Bagian Kepegawaian, M. Aliyul Wafa, M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan memberi pengarahan teknis kepada dosen nominasi agar lebih siap dalam memenuhi administrasi Serdos. “Acara ini menjadi pembekalan bagi segenap dosen nominasi Serdos tahun 2026,” ujarnya. Dalam kegiatan tersebut, materi disampaikan oleh dua narasumber, yakni Kepala Bagian Kepegawaian dan Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan, M. Farid Nasrulloh, S.Pd.Si., M.Pd. Keduanya memberikan arahan terkait kesiapan dokumen, tahapan administrasi, serta hal-hal teknis yang perlu diperhatikan dosen dalam proses Serdos. Red: Ibrahim

Fakultas Ekonomi UNWAHA Perkuat Kesiapan Kerja Mahasiswa melalui Uji Kompetensi

Jombang – Fakultas Ekonomi Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang menyelenggarakan Pelatihan dan Uji Kompetensi Tahun 2026 bagi mahasiswa semester delapan. Kegiatan yang berlangsung pada 20–28 Juni 2026 tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkuat kompetensi sekaligus kesiapan mahasiswa menghadapi dunia kerja. Pelatihan dan uji kompetensi itu mencakup tiga skema, yaitu Akuntansi Yunior, Digital Marketing, dan Pelayanan Prima. Dalam pelaksanaannya, Fakultas Ekonomi UNWAHA bekerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Administrasi Bisnis Perkantoran Modern dan Unit Pelaksana Teknis Balai Latihan Kerja (UPT BLK) Jombang. Kegiatan secara resmi dibuka di Auditorium UNWAHA. Pembukaan dihadiri oleh pimpinan fakultas, perwakilan lembaga mitra, tim pelaksana, serta seluruh mahasiswa peserta pelatihan dan uji kompetensi. Tingkatkan Daya Saing Lulusan Dekan Fakultas Ekonomi UNWAHA, Ita Rahmawati, S.E., M.Si., menyampaikan bahwa penguasaan kompetensi menjadi salah satu bekal penting bagi mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja. “Pelatihan dan uji kompetensi ini merupakan bagian dari komitmen Fakultas Ekonomi dalam mempersiapkan lulusan yang kompeten, adaptif, dan memiliki daya saing,” ujarnya. Beliau berharap mahasiswa dapat mengikuti seluruh tahapan dengan sungguh-sungguh serta memanfaatkan kegiatan ini untuk mengukur dan meningkatkan kemampuan masing-masing. Dorong Kompetensi Sesuai Standar Kerja Direktur LSP Administrasi Bisnis Perkantoran Modern, Minan Rohman, mengapresiasi semangat para peserta dalam mengikuti uji kompetensi kali ini. “Tidak semuanya memiliki kesempatan seperti anda. Langkah yang anda pilih ini adalah bagian sejarah untuk masa depan anda,” jelasnya. Red: Ibrahim

Tari Sufi Warnai Penutupan Muktamar Lesbumi NU 2026 di UNWAHA Jombang

Jombang – Penampilan Tari Sufi menjadi salah satu sajian yang menarik perhatian dalam penutupan Muktamar Lesbumi NU 2026 di Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang, Sabtu (14/6/2026). Tidak hanya menampilkan pertunjukan seni, pada kesempatan ini terdapat juga diskusi kebudayaan. Diskusi tersebut mengangkat tema pelestarian tradisi mocopat dan peran generasi muda dalam menjaga warisan budaya Jawa. Dorong Pelestarian Mocopat Dalam pemaparannya, Muhammad Nurluda selaku pelatih Tari Sufi menjelaskan, mocopat merupakan tradisi sastra lisan Jawa yang berisi syair-syair sarat nasihat dan nilai luhur yang diwariskan para wali. Namun, menurutnya, tradisi tersebut kini semakin jarang dikenal oleh generasi muda karena keterbatasan pemahaman terhadap bahasa dan budaya Jawa. “Budaya Jawa memiliki nilai yang sangat tinggi. Minimal generasi muda mau menjaga dan mempelajarinya agar tidak hilang ditelan zaman,” ujarnya. Ia menilai salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga keberlangsungan tradisi mocopat adalah menerjemahkan syair-syair berbahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia. Menurutnya, upaya itu dapat membawa generasi muda untuk lebih memahami makna syair mocopat secara lebih dalam. Media Sosial sebagai Jembatan Budaya Selain penerjemahan, Nurluda juga mendorong pemanfaatan media sosial sebagai sarana pelestarian budaya. Menurutnya, perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendokumentasikan, memperkenalkan, dan menyebarluaskan berbagai tradisi budaya kepada masyarakat yang lebih luas. “Media sosial bisa menjadi jembatan untuk mengenalkan budaya kepada generasi muda. Dengan cara yang kreatif, budaya dapat lebih mudah diterima dan dipahami,” tambahnya. Ia berharap anak muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga ikut mempelajari dan mengenalkan budaya daerahnya kepada lingkungan sekitar. Dengan mengenal dan memahami budaya sendiri, generasi muda dapat berperan dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya di tengah arus modernisasi. Penutupan Muktamar Lesbumi NU 2026 tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga meninggalkan pesan penting bahwa budaya hanya akan tetap hidup apabila diwariskan. Di tangan generasi muda, tradisi seperti mocopat tidak sekadar menjadi peninggalan masa lalu, melainkan sumber nilai yang terus relevan untuk masa depan. Penulis: Selvi & HarisFoto: NaflahEditor: Ibrahim

Gagasan Literasi Perempuan dalam Muktamar Kebudayaan Lesbumi NU

Jombang – Penulis dan tokoh perempuan muda asal Blora, Ning Welda Sanavero, S.Hum., M.A., turut menghadiri pembukaan Muktamar Kebudayaan Indonesia Lesbumi NU 2026 di Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang. Kehadirannya memberi warna tersendiri dalam forum kebudayaan yang mempertemukan budayawan, akademisi, seniman, tokoh pesantren, dan kader Nahdlatul Ulama dari berbagai daerah di Indonesia. Muktamar yang berlangsung pada 12 hingga 14 Juni 2026 tersebut mengusung tema “Kembali ke Akar”. Tema itu menjadi ajakan untuk membaca kembali tradisi, nilai pesantren, dan warisan kebudayaan Nusantara sebagai dasar menghadapi perubahan zaman. Ning Vero dikenal dalam dunia sastra dengan nama pena W. Sanavero. Sebagai penulis prosa, ia memiliki perhatian kuat terhadap pengalaman perempuan, kehidupan sosial, dan pergulatan manusia dalam ruang kebudayaan. Latar akademiknya di bidang sastra dunia juga membuat pandangannya tentang kebudayaan tidak berhenti pada romantisme masa lalu, tetapi bergerak pada pertanyaan tentang bagaimana tradisi dapat tetap hidup dalam realitas hari ini. Menurut Ning Vero, gagasan “Kembali ke Akar” perlu dipahami sebagai upaya menemukan kembali nilai dasar yang membentuk jati diri masyarakat. “Kembali ke akar bukan berarti menolak perubahan. Justru dari akar itulah kita bisa memahami siapa diri kita, nilai apa yang harus dijaga, dan bagaimana kebudayaan dapat memberi arah bagi generasi muda,” ujarnya. Ia menilai, kebudayaan perlu hadir dalam ruang yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat, termasuk melalui sastra, pendidikan, pesantren, keluarga, dan karya kreatif. Menurutnya, generasi muda tidak cukup hanya dikenalkan pada simbol budaya, tetapi juga perlu diajak memahami makna, nilai, dan pengalaman hidup yang membentuk budaya tersebut. Ning Vero juga menekankan pentingnya keterlibatan perempuan dalam ruang kebudayaan. Ia memandang perempuan memiliki peran besar dalam menjaga bahasa, ingatan keluarga, tradisi lokal, serta nilai kemanusiaan yang hidup dalam masyarakat. “Perempuan tidak hanya menjadi penjaga tradisi di ruang domestik. Perempuan juga dapat menjadi pemikir, penulis, penggerak, dan pencipta ruang kebudayaan yang memberi manfaat bagi masyarakat,” tuturnya. Pembukaan Muktamar Kebudayaan Indonesia Lesbumi NU 2026 berlangsung khidmat. Forum ini menjadi ruang refleksi bersama untuk meneguhkan kembali peran kebudayaan sebagai fondasi peradaban. Melalui pertemuan tersebut, Lesbumi NU diharapkan mampu merumuskan langkah kebudayaan yang lebih membumi, relevan, dan tetap berakar pada nilai keislaman Nusantara. Red: Erlina Duwi AisahFoto: Naflah NajjiyahEditor: Ibrahim

UKM Tari Baustrasandia Tampil di Muktamar Lesbumi NU, Ajak Generasi Z Dekat dengan Seni Budaya

Jombang – Hari kedua rangkaian Muktamar Kebudayaan Indonesia Lesbumi NU 2026 berlangsung semakin meriah. Berbagai pertunjukan seni dari sejumlah daerah turut menghidupkan suasana melalui gerak, irama, busana, dan ciri khas budaya masing-masing, di Lapangan UNWAHA, Sabtu (13/6/2026). Salah satu penampilan yang menarik perhatian peserta adalah persembahan dari UKM Tari Baustrasandia. Kelompok tari tersebut menyajikan rangkaian tarian yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga memuat nilai kebersamaan dan kekayaan budaya Nusantara. Gerakan yang dibawakan para penari tampak rapi dan penuh semangat. Iringan musik, tata busana, serta ekspresi para penampil menjadi bagian penting yang memperkuat pesan budaya dalam pertunjukan tersebut. Penampilan itu pun mendapat sambutan hangat dari penonton yang hadir. Lesbumi Jadi Ruang Ekspresi Budaya Anak Muda Dalam kesempatan tersebut, Pembina UKM Tari Baustrasandia, Ulfa Wulan Agustina, M.Pd., menyampaikan bahwa seni tari perlu terus dikenalkan kepada generasi muda dengan cara yang lebih dekat dengan karakter mereka. “Supaya seni tari dan budaya kita tidak hilang atau luntur, cara penyampaiannya perlu disesuaikan dengan selera Generasi Z. Anak muda lebih menyukai hal-hal yang menarik, segar, dan menantang. Karena itu, dibutuhkan wadah yang tepat seperti Lesbumi,” ujarnya. Dosen Pendidikan Bahasa Inggris ini juga mengatakan, panggung kebudayaan seperti Muktamar Lesbumi NU dapat menjadi ruang penting untuk memperkenalkan kembali seni tradisi kepada generasi muda. Melalui ruang tersebut, budaya tidak hanya ditampilkan, tetapi juga diwariskan dengan cara yang lebih hidup dan relevan. Kehadiran UKM Tari Baustrasandia dalam agenda tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan aktif anak muda. “Seni tari tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga dapat tumbuh sebagai ruang kreativitas, identitas, dan kebanggaan generasi hari ini,” jelas Dosen yang akrab disapa Miss Ulfa ini kepada tim. Penulis: Naflah NajiyahFoto: M. Haris FirdausEditor: Ibrahim

Bazar Muktamar Lesbumi NU Jadi Ruang Promosi Budaya dan Produk Kreatif

Jombang – Hari kedua Muktamar Lesbumi NU di Universitas KH. Abdul Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang berlangsung meriah dengan berbagai penampilan seni budaya dari peserta yang hadir. Panggung hiburan yang berada di halaman Gedung Jokowi tampak dipadati masyarakat sekitar yang ingin menyaksikan rangkaian pertunjukan. Di balik suasana tersebut, sejumlah stan bazar juga tetap konsisten berpartisipasi sejak hari pertama kegiatan. Para peserta bazar berasal dari beragam latar belakang, mulai dari badan otonom (Banom) NU, UKM UNWAHA, HMP, hingga pelaku usaha umum. Salah satu peserta bazar dari PC Ansor Bandung menyampaikan bahwa pelaksanaan bazar masih memiliki tantangan, terutama dari sisi jumlah pengunjung. “Untuk skala nasional, Muktamar Lesbumi ini termasuk sepi pengunjung. Hal itu cukup berdampak pada penjualan kami,” ujarnya. Meski demikian, sejumlah peserta bazar dari UKM dan HMP UNWAHA menilai kegiatan tersebut tetap berjalan sesuai perkiraan. Beberapa produk yang mereka tampilkan mendapat perhatian dari peserta muktamar, terutama merchandise yang identik dengan Muktamar Lesbumi NU. Merchandise Muktamar Banyak Diminati Mahasiswa Fakultas Ekonomi UNWAHA, Mochammad Dicky Nur Rayhan, menyampaikan bahwa produk yang ditawarkan oleh timnya mendapat respons cukup baik dari peserta. Bahkan, beberapa produk hampir terjual habis. “Produk bestseller kami adalah merchandise berupa kaos yang berkolaborasi dengan konveksi GasGus. Produk ini banyak diminati oleh para peserta,” ungkapnya. Namun, ia mengakui masih ada hal yang menjadi bahan evaluasi, terutama dalam membaca kebutuhan pasar. Sebelumnya, pihaknya memperkirakan kaos tidak terlalu banyak diminati. Akan tetapi, produk tersebut justru menjadi salah satu barang yang paling dicari oleh peserta muktamar. Selain itu, sejumlah kendala teknis juga dirasakan oleh peserta bazar. Beberapa di antaranya adalah listrik yang beberapa kali padam, kondisi area parkir yang cukup sulit, serta jumlah pengunjung yang relatif sepi pada pagi hingga sore hari. Buka Ruang Relasi dan Pertukaran Budaya Di sisi lain, kegiatan bazar juga membuka ruang pertemuan dan relasi baru bagi mahasiswa maupun peserta. Ketua UKM Khattibari, Muhammad Abdul Qadir, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberi pengalaman menarik karena mempertemukan mereka dengan pengunjung dari berbagai latar belakang. “Acara ini membuka banyak peluang relasi baru. Kami bahkan sempat berinteraksi dengan wisatawan mancanegara yang tertarik pada budaya dan keislaman di Indonesia. Salah seorang warga asing berdiskusi tentang Islam, termasuk perbedaan praktik budaya Islam di Bali dan Jawa,” jelasnya kepada tim. Ia juga mengapresiasi penyelenggaraan Muktamar Lesbumi NU 2026 ini karena dinilai mampu menjadi wadah untuk memperkenalkan kembali kesenian dan kebudayaan yang mulai jarang dikenal generasi muda. Beberapa di antaranya adalah kesenian bantengan, besutan, serta berbagai tradisi budaya Nusantara lainnya. Sementara itu, Ketua Pelaksana Muktamar Kebudayaan Lesbumi NU, yang akrab disapa Ki Wasis, menyampaikan bahwa kegiatan tahun ini memiliki warna berbeda dibanding agenda Lesbumi sebelumnya. Menurutnya, Lesbumi biasanya menggelar Rapat Koordinasi Nasional atau Rakornas yang tidak banyak melibatkan masyarakat umum. “Acara ini termasuk meriah karena Lesbumi biasanya melaksanakan Rakornas yang tidak melibatkan masyarakat. Tahun ini kami mencoba menunjukkan eksistensi Lesbumi kepada masyarakat sekitar,” ujarnya. Ki Wasis berharap Muktamar Kebudayaan Lesbumi NU dapat semakin dikenal oleh masyarakat luas. Ia juga berharap kegiatan tersebut mampu mengenalkan kembali gagasan dan semangat perjuangan KH. Abdul Wahab Hasbullah, terutama dalam merawat budaya, kebangsaan, dan nilai keislaman yang hidup di tengah masyarakat. Penulis: IndiFoto: Erlina Duwi AisahEditor: Ibrahim

LKNU Siaga Jaga Kesehatan Peserta, Muktamar Lesbumi NU di Jombang Berlangsung Lancar

Jombang – Suasana khidmat dan penuh kebersamaan menyelimuti rangkaian Muktamar Lesbumi NU di Jombang pada Sabtu (13/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi sekaligus menumbuhkan semangat kolaborasi antarseniman dan budayawan Muslim dari berbagai wilayah di Indonesia. Sejak pukul 19.00 WIB, antusiasme peserta terlihat dari padatnya lokasi acara. Kegiatan diawali dengan penampilan Sholawat Emprak yang menghadirkan nuansa hangat dan religius. Acara kemudian dilanjutkan dengan Tari Nusantara yang dibawakan oleh UKM Tari Sanggar Baustra Sandya, serta penampilan seniman dan budayawan dari berbagai daerah yang hadir dalam Muktamar Lesbumi NU. Di tengah padatnya rangkaian kegiatan, Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) turut ambil bagian dengan menghadirkan tim kesehatan yang bersiaga selama acara berlangsung. Kehadiran tim kesehatan tersebut menjadi bentuk dukungan dalam menjaga kelancaran kegiatan sekaligus memastikan kondisi peserta tetap terpantau dengan baik. Keluhan Peserta Masih Tertangani Koordinator Bidang Kesehatan, dr. Hj. Rokhimah Riza, M.Biomed (AAM), menyampaikan bahwa sebagian besar keluhan yang diterima berasal dari peserta yang mengalami kelelahan. Kondisi tersebut umumnya memicu peningkatan tekanan darah atau hipertensi. “Keluhan yang paling banyak kami temui adalah hipertensi akibat kelelahan. Namun, alhamdulillah seluruh peserta yang datang masih dapat ditangani dengan baik dan kondisinya tetap terkontrol,” ujarnya. Ia menambahkan, hingga kegiatan berlangsung belum ditemukan kasus kesehatan yang memerlukan penanganan darurat. Meski demikian, panitia bersama tim kesehatan tetap menyiagakan tiga unit ambulans sebagai langkah antisipasi apabila sewaktu-waktu diperlukan rujukan ke fasilitas kesehatan terdekat. Menurutnya, mayoritas peserta berada dalam kondisi sehat. Banyak peserta hanya melakukan pemeriksaan tekanan darah, dengan hasil yang masih berada dalam kondisi normal. “Saya melihat banyak peserta yang masih muda sehingga kondisi kesehatannya relatif baik. Kebanyakan hanya melakukan pemeriksaan tensi dan hasilnya normal,” tambahnya. Pos Kesehatan Disiapkan di Area Kegiatan Selain membuka pos kesehatan utama, LKNU juga menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan di area bazar. Layanan tersebut meliputi pemeriksaan tekanan darah dan gula darah bagi peserta maupun pengunjung. Hingga kegiatan berlangsung, kondisi peserta secara umum terpantau baik. Tidak ditemukan kasus kesehatan yang membutuhkan penanganan darurat. Kehadiran tim kesehatan yang bersiaga menjadi salah satu faktor pendukung kelancaran rangkaian Muktamar Lesbumi NU di Jombang. Penulis: Selvi Dewi Nur RohfianaEditor: Ibrahim

Pimpinan YPTBU Hadiri Pentas Kolaborasi Lesbumi Nusantara, Rawat Tradisi dan Teguhkan Kebudayaan NU

Jombang – Suasana malam di lingkungan Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang terasa berbeda. Di bawah cahaya lampu panggung yang membingkai layar wayang dan iringan gamelan yang mengalun khidmat, para hadirin larut dalam keindahan Pentas Kolaborasi Lesbumi Nusantara, salah satu rangkaian penting dalam Muktamar Lesbumi NU 2026. Kehadiran sejumlah tokoh penting menambah makna tersendiri bagi perhelatan budaya tersebut. Tampak hadir Pimpinan Yayasan Perguruan Tinggi Bahrul Ulum (YPTBU), Ibu Nyai Hj. Hizbiyah Rochim Wahab, M.A., bersama Dr. K.H. M. Hasib Wahab Chasbullah, yang turut menyaksikan secara langsung pertunjukan seni budaya tersebut. Dari deretan kursi kehormatan, kedua tokoh pesantren itu menikmati setiap sajian pentas yang menampilkan kekayaan ekspresi budaya Nusantara. Iringan gamelan, pagelaran wayang, serta berbagai pertunjukan seni dari para seniman Lesbumi menjadi gambaran nyata bahwa kebudayaan terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat Nahdlatul Ulama. Ruang Perjumpaan Seni, Pesantren, dan Kebangsaan Pentas kolaborasi ini tidak sekadar menjadi hiburan dalam rangkaian muktamar. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan antara tradisi pesantren, dunia seni, dan semangat kebangsaan. Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan zaman, Lesbumi menghadirkan kebudayaan sebagai jalan untuk menjaga akar identitas bangsa sekaligus memperkuat nilai keislaman yang ramah dan membumi. Kehadiran kedua pimpinan YPTBU tersebut menjadi simbol dukungan keluarga besar Pesantren Bahrul Ulum terhadap upaya pelestarian kebudayaan yang selama ini menjadi bagian penting dari perjuangan NU. Pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan dakwah, tetapi juga ruang peradaban yang menjaga warisan seni dan budaya Nusantara agar tetap lestari. Gemuruh tepuk tangan para hadirin beberapa kali memecah malam ketika pertunjukan mencapai bagian-bagian yang memukau. Di hadapan panggung budaya, para seniman, budayawan, kiai, akademisi, dan peserta muktamar seakan dipersatukan dalam satu kesadaran bahwa kebudayaan memiliki peran penting dalam membangun peradaban. Merawat Tradisi, Menghidupkan Kreativitas Melalui Pentas Kolaborasi Lesbumi Nusantara, Muktamar Lesbumi NU 2026 kembali menegaskan bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan kekuatan yang terus hidup dan memberi arah bagi masa depan. Dari Jombang, kota santri yang melahirkan banyak tokoh bangsa, pesan untuk merawat tradisi, menghidupkan kreativitas, dan membangun peradaban yang berakar pada nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah serta kebinekaan Indonesia kembali bergema. Malam itu, panggung budaya menjadi ruang yang mempertemukan seni, pesantren, dan Nahdlatul Ulama. Ketiganya berjalan beriringan dalam menjaga wajah kebudayaan Nusantara untuk generasi yang akan datang. Penulis: M. Haris FirdausEditor: Ibrahim