Sidoarjo – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang mempelajari penerapan ilmu fisika dalam sistem pengamatan cuaca di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda, Kamis (4/6/2026). Melalui kegiatan ini, mahasiswa memahami bahwa fisika tidak hanya dipelajari melalui persamaan di ruang kelas, tetapi juga diterapkan untuk mendukung keselamatan penerbangan dan pelayanan informasi bagi masyarakat.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh mahasiswa Pendidikan Fisika UNWAHA yang menempuh Mata Kuliah Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa (IPBA). Beberapa dosen yang turut mendampingi di antaranya, Suci Prihatiningtyas, S.Si., M.Pd., Ino Angga Putra, M.Pd., dan Novia Ayu Sekar Pertiwi, S.Si., M.Pd.
Ketua Program Studi Pendidikan Fisika, Suci Prihatiningtyas, S.Si., M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut dirancang sebagai bagian dari pembelajaran yang menghubungkan konsep ilmiah dengan praktik lapangan.
“Melalui kunjungan ke BMKG Juanda, mahasiswa tidak hanya memahami konsep atmosfer, cuaca, dan iklim secara teoritis. Mereka juga melihat secara langsung bagaimana ilmu fisika diterapkan dalam sistem pengamatan dan prediksi cuaca yang sangat penting bagi keselamatan dan kehidupan masyarakat,” ungkapnya.
Memahami Fisika melalui Fenomena Nyata
Dalam sesi pemaparan materi, Shanas Septy Prayuda dari Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda memperkenalkan profil BMKG serta memberikan wawasan mengenai fenomena cuaca, iklim, dan gempa bumi. Sesi ini menjadi landasan bagi mahasiswa sebelum mengamati secara langsung instrumen meteorologi yang digunakan di lapangan.

Diskusi berlangsung interaktif. Mahasiswa mengeksplorasi peran strategis BMKG dalam menyediakan data meteorologi yang akurat, termasuk keterkaitannya dengan kebutuhan masyarakat dan pengambilan keputusan di sektor penerbangan.
Puncak kegiatan berlangsung di Taman Alat Meteorologi. Dengan panduan prakirawan Trya Chandra Meilusiani, mahasiswa mengamati berbagai instrumen yang digunakan untuk membaca kondisi atmosfer. Pengamatan langsung tersebut membantu mahasiswa memahami bahwa setiap informasi cuaca dihasilkan melalui proses ilmiah yang sistematis dan didukung oleh ketelitian pengukuran.
Menguatkan Kompetensi Calon Pendidik Fisika
Lebih lanjut, Kaprodi Pendidikan Fisika mengatakan, kuliah lapang ini merupakan implementasi pembelajaran berbasis Outcome-Based Education (OBE). Pembelajaran tidak hanya diarahkan pada penguasaan materi, tetapi juga pada kemampuan mahasiswa dalam melakukan observasi ilmiah, menganalisis data, dan menghubungkan teori dengan persoalan nyata.
“Selain itu, pengalaman lapangan seperti ini penting untuk menumbuhkan sikap ilmiah, rasa ingin tahu, serta kepedulian terhadap isu-isu kebumian dan lingkungan,” imbuhnya.

Pengalaman tersebut memiliki arti penting bagi mahasiswa sebagai calon pendidik fisika. Guru tidak cukup hanya menjelaskan rumus dan teori. Guru juga perlu menghadirkan pembelajaran yang kontekstual agar peserta didik memahami hubungan antara sains, teknologi, lingkungan, dan kehidupan sehari-hari.
Melalui kuliah lapang ini, Program Studi Pendidikan Fisika UNWAHA memperkuat komitmennya dalam menyiapkan calon pendidik yang mampu mengajarkan fisika secara relevan, bermakna, dan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran abad ke-21.
Red: Ibrahim